Skip to main content

Posts

Showing posts from 2016

Never FEAR The Unknown

Sebentar lagi hari-hari di tahun 2016 akan berakhir. 2017 pun akan tiba namun dengan mendatangkan rasa khawatir. Khawatir bila ternyata saya tidak bisa menjalaninya dengan baik dan  penuh antisipasi. Bagi saya, 2016 seperti menaiki rollercoaster. Sebentar diluncurkan kebawah dengan keras, sebentar dinaikkan secara perlahan dan sebentar bisa dinaikkan dengan laju kecepatan spektakuler. Begitu banyak hal yang terjadi dalam kurun waktu 1 tahun ini. Ah, jangan kan 1 tahun! Dalam tempo beberapa bulan saja, begitu banyak kejadian yang sulit dipahami oleh nalar yang terbatas ini. Di satu sisi saya bersyukur, begitu banyak hal indah dan baik yang Tuhan izin kan boleh terjadi. Namun, di sisi lain ada banyak pula kejadian yang membuat saya menangis banyak di tahun 2016 silam. Saya tidak mau membahas 2016 terlalu lekat karena kemelekatan sesungguhnya membuat saya susah melaju ke depan. Yang sudah berlalu, berlalulah... (Tapi bukan berarti saya tidak boleh mengenang, bukan?) Tahu...

Menjadi Master of Ceremony di Acara Natal

Saya dimintai tolong untuk menjadi MC di kegiatan ibadah Natal sekitar 2 minggu yang lalu. Saya tidak langsung mengiyakan, cuma tertawa saja. Saya? MC? Di ibadah Natal lagi?! Gila aja! Respon saya begitu karena saya menyadari bahwa hidup saya masih jauh-jauhnya dari relijius. Kalau boleh dibilang, saya masih sekuler abis lah. Rupa-rupanya Ibu Pendeta tersebut membujuk saya begitu rupa dengan embel-embel berkat Tuhan yang melimpah dalam hidup karena melayani. Saya hanya tergelak. Bagi saya bukan masalah berkat Tuhan, tapi saya tidak cukup pede berbicara di depan orang ditambah lagi ini membawakan acara Natal. Namun, entah kenapa suami saya tidak menunjukkan respon apa-apa, seakan menyodorkan sambil berkata: "Ini, Bu. Pake aja istri saya." Saya pun akhirnya mengiyakan dengan berat hati. Hati saya langsung berat mengingat dosa-dosa dan kekurangan saya yang segudang itu.

Mengheningkan Cipta Bersama

Untuk korban bom molotov yang bergelimpangan di Samarinda, terkhusus bagi keluarga yang ditinggalkan. Untuk Bapak Ahok, yang meski Saya menyayangkan kata-kata tak penting keluar dari lidah Bapak. Untuk korban gempa di Pidie Jaya, Aceh. Saya turut merasakan kesedihan yang mendalam.  Untuk peserta KKR di Sabuga, Bandung, yang harus mengalah karena kebaktiannya diusik. Untuk masyarakat UKDW di Yogyakarta yang menghadapi tantangan hanya karena menggunakan perempuan berhijab sebagai model. Untuk diriku sendiri dan (barangkali) saudara-saudaraku seiman yang tengah mengalami kesedihan yang sama, kekecewaan yang sama di penghujung tahun 2016 ini dimana ketidakadilan terjadi dan DIAM serta BERPURA-PURA baik-baik saja menjadi satu-satunya cara untuk hidup, ayat firman ini yang menguatkan dan menyejukkan serta memberikan damai sejahtera di kala penderitaan mendera. Semoga.

Menjadi SEMPURNA

Masih seputar tentang Ahok namun dalam sudut pandang Saya yang lain. Saya tahu pemahaman saya dangkal dan barangkali pendapat saya akan didebat, namun silahkan saja. Saya menerima didebat tapi bukan untuk dihujat. Jadi begini... Saya pikir pengalaman yang dialami Ahok sebenarnya adalah pelajaran bagi kita semua, TERKHUSUS untuk umat Kristiani HARUS memiliki hidup sempurna. Sempurna? Ya. Sempurna disini tidak hanya secara lahiriah, namun juga batiniah. Sempurna = utuh, lengkap, tidak kurang. HARUS 100%, bukan 99,9999% apalagi cuma 35%. Memiliki hidup sempurna berarti hidup yang seutuhnya 100%. Dunia tempat kita tinggal ini BERHASIL membuat kita berpikir bahwa ya... tidak ada yang sempurna, selain Tuhan, Sang Pencipta Langit dan Bumi. Tapi sepengetahuan saya yang suka memaksakan diri membaca seluruh isi alkitab berulangkali menemukan sebuat ayat menarik yang ditulis di Matius 5:48, isinya: "Karena itu haruslah kamu sempurna, sama sepert Bapamu yang di Surga adalah semp...

We Age Not By Years, But By Stories

Kemarin Saya teleponan dengan adik perempuan Saya, ABS. Lumayan panjang dan banyak topik yang kami bicarakan, mulai dari kehamilan yang telah memasuki trimester ke III, pekerjaan, keluarga, dan angan-angan. Nyaris tiga jam lamanya kami berbincang. Hingga kami lompat ke suatu topik yang bahkan saya pun lupa kok bisa-bisanya sampai adik saya ngomong gini, "Kalau ga nikah sama Abang, mana mungkin dirimu bisa tertata seperti ini." Saya terdiam ketika celetukan adik saya itu keluar tanpa merasa terbebani. "Aku aja sampe bilang ke Mama kalau aku takjub dengan perubahan Kak Yoan yang sekarang. Kalau ngingat dirimu yang dulu lalu dibandingkan dengan sekarang yang bahkan mau beranak 2, salutlah aku." Tambahnya lagi.

Mental Keroyokan

Berita akhir-akhir ini bikin muak, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Khusus dari dalam negeri, kasus Ahok seperti tiada habis-habisnya. Kelompok grup seberang ingin Ahok ditahan biar ga kabur sehingga tanggal 2 Des nanti demo lanjutan yang diwacanakan akan berjalan baik dan tertib. [Batin saya, ini kelompok kok sak penak udele dewe?! Sudah tukang provokator, menghina simbol dan ideologi negara, eh malah ngancem lagi? Situ ngerasa oke?!] Lalu, ada kabar jelek lagi hanya gara-gara hutang Rp 75,000; yang dipiutangi kesal lalu menuliskan curhatannya... eh malah doi yang dihajar rame-rame. Astaga, ini kok jadi terbalik ya? Yang ngutang kok yang ngamuk? Keroyokan lagi?! Tapi... jangan-jangan memang seperti ini potret kepribadian bangsa kita? Berani bukan karena benar. Berani karena BANYAK.

No Longer SIAP... nor MOHON IZIN...

Sebuah kabar menggembirakan dari teman saya terdengar hari ini, tepatnya malam tadi. Sembari cerita-cerita di kala makan malam bersama dengan para senior Navigator yang masih aktif di Lanud Abdulrachman Saleh, sebuah celetukan terdengar bahwa hasil jumpa kuker dengan Ketua Daerah PIA AG, salah satunya mengumumkan sosialisasi untuk tidak MEMBERLAKUKAN lagi pengunaan kata : Siap, Mohon Izin... karena kosakata tersebut laiknya diucapkan di kalangan kedinasan saja. Namun, penggunaannya di kalangan para istri sudah tidak diwajibkan lagi, meski penggunaan bahasa baku hukumnya masih bersifat wajib. Senang? Banget!

Merayakan Kehilangan

Ada yang ikut hilang dalam bagian diri ini ketika mendapati sebuah pagiku yang indah ternyata tak turut dialami oleh saudara sebangsaku di tanah lain. Sepertinya baru tanggal 28 Oktober kemarin Hari Sumpah Pemuda diperingati. Baru tanggal 10 November kemarin pula, peringatan Hari Pahlawan didengungkan. Apa bangsaku ini memang bangsa pelupa? Semua hari peringatan sejarah negeri ini bisa ada cuma sekedar seremonial belaka? Lalu lupa bahwa kenikmatan yang kita alami ini adalah hasil kerjasama. Kerjasama, Kawan!

Tenangkan Dirimu, Kawan. SEMUA Ini Murni Politik.

Beberapa waktu yang lalu terjadi demonstrasi di Negara ini, tepatnya di Jakarta. Ratusan ribu orang yang mengaku muslim yang tidak terima akan pernyataan Ahok yang seakan menista agama Islam terkait ucapannya yang menyinggung Surat Al-Maidah, turun berdemonstrasi minta agar Ahok dihukum. Saya menyikapinya bukan dari segi Ahok salah atau benar. Ya, bagi Ahok yang tidak bermaksud menyinggung seperti yang dituduhkan, pasti merasa benar. Namun, bagi orang yang keburu jengkel dan mrungkel dengan gayanya Ahok, ditambah lagi provokasi sana-sini pasti beranggapan Ahok salah. Terserahlah. Itu hanya masalah perspektif. Sayangnya, lagi-lagi Negara harus direpotkan sehingga mesti turun tangan memediasi masyarakat yang tengah terbagi menjadi 2 gelombang: PRO dan KONTRA. Saya kalau jadi pihak ketiga bakalan cuma ketawa dalam hati, betapa tak bergunanya logika yang Tuhan beri kalau kita hanya repot mengurus masalah perspektif.

"Nak, jangan bercita-cita jadi presiden, tentara, dokter yah! Jadilah pribadi seperti Pak Jokowi."

Halo, Anak-anakku sayang... Ello dan Gio. Mami engga tau usia kalian sudah berapa ketika membaca tulisan Mami ini. Perlu kalian ketahui, Mami menuliskan tulisan ini pada hari Sabtu, 5 Nopember 2016 di komplek rumah Lanud ABD Saleh. Iya, rumah dinas gratisan milik Negara yang diberi secara cuma-cuma oleh senior Papimu, Navigator letting 1996 sekaligus rumah yang belum pernah kita betulkan sama sekali Jadi harap maklum, di Sore hari ini hujan deras, beberapa spot rumah tergenang air karena atap bocor. Ello sudah tidur setelah dimandiin dan disuapin Mba Fitri, rewang kita yang baik hati.  Mami masih dengan Gio di dalam perut, sehingga Mami kewalahan jika merawatmu seorang diri. Jadi, mohon maaf bila sebagian besar waktumu bersama Mbak Fitri.

Bhinneka [yang tidak] Tunggal Ika

Saya lahir di Medan, kemudian karena pekerjaan Ayah, kami sekeluarga pindah ke Pontianak. Pontianak sebuah kota kecil saat itu dan masih rimbun dengan hutan seingat saya. Semasa saya kecil, orangtua -seingat saya tidak pernah memisahkan saya dengan lingkungan pertemanan Saya. Tidak pernah orangtua saya melarang berteman dengan A yang muslim, B yang Cina, atau silahkan berteman dengan yang Kristen saja. Saya cuma ingat ketika Ayah sedang menonton acara tv lalu pada saat adzan maghrib berkumandang, Ayah minta volume tv dikecilkan atau channelnya saja diganti. Seingat saya juga dulu banget ketika logat saya berubah karena sekolah yang mayoritas muridnya Tionghoa, Ayah memarahi saya. Ayah mau saya tetap menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Ketika saya sekolah di SMA Negeri, Ayah masih memarahi saya ketika ditemuinya saya berlogat melayu. Buat Ayah, menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar itu harga mati. Maka wajar saja jika kami anak-anaknya tidak ada yang fasih...

Tidak Lekas Tersinggung

Saya pikir saya orang yang ga gampang lekas tersinggung, dan itu MENJENGKELKAN bagi orang yang memang sengaja membuat saya beremosi. Setelah saya renung-renungi perkataan-perkataan sadis yang pernah diucapkan orang ke saya, bahkan amarah, even candaan seperti sindiran-sindiran halus dengan maksud membuat saya down tidak pernah tinggal lama di benak saya. Dan itu karena orang-orang berikut ini yang akan saya bahas.

Kaki Rusa & Bukit

Tadi malam sebelum tidur saya iseng-iseng membuka aplikasi nametests.com di facebook. Itu aplikasi isinya beribu pertanyaan lucu-lucu hasil olahan mesin yang memberi kita jawaban berdasar hasil deskripsi profil kita. Saat itu pertanyaannya: Apa Ayat Alkitabmu d Bulan Oktober? Eng...ing...eng... hasil analisa muncul dan keluarlah Mazmur 18:33 yang isinya: IA membuat kakiku seperti kaki rusa dan membuat aku berdiri di bukit. Pernyataan tersebut menggelitik saya sehingga saya menuliskan hasil pemikiran saya di laman facebook begini: Hasil iseng sebelum menutup mata untuk tidur. Tapi... apa maksudnya membuat kakiku seperti kaki rusa? Ada apa dengan kaki rusa? Kenapa bukan kaki kuda? Kaki singa? Dan kenapa harus berdiri di bukit? Kenapa bukan gunung? Atau singgasana? "Ah, sudah tidurlah. Anakmu sudah sejam yang lalu terpejam dalam pelukmu," perintah mataku. ***

Respect Is Earned, Not Given

Seharian ini saya nyari bacaan bermutu, Coco Chanel: An Intimate Life by Lisa Chaney belum rampung juga saya baca. Memang mood tidak bisa saya paksakan. *sigh* Yasudahlah, lalu saya buka aplikasi pinterest. Saya baca-baca sekilas dan... something instantly popped up: pengin cari quotes tentang respect. Dan voila... ada ribuan quotes tentang respect/respek yang akan jadi bahan tulisan saya saat ini. Namun 4 quotes dibawah ini menarik untuk saya bahas. Yuk mari.

Sahabat Dalam Banyak Kategori

"If you're a true friend, you tell what's wrong. Keeping secrets to your best friend means that you aren't really worth befriending." I quoted it from someone's tweet I just read. Setelah saya renungi, eh iya juga ya. Sahabat bukankah seharusnya adalah orang yang kita akan ceritaian apapun itu tentang diri kita? Gebetan lah. Sekolah. Ortu. Cita-cita. Even sex. Err, wait! Sex? Menurut saya, iya. Sex! Tapi disini Saya takkan membahas tentang sex, saya akan bercerita tentang diri saya sebagai manusia yang ternyata boleh dibilang memiliki sahabat yang jumlahnya bisa dihitung dengan jari tangan kiri. Saya renung-renungi ternyata sedari kecil orang itu susah deket sama saya secara pribadi, harus saya duluan yang mulai kasih sinyal untuk memberitahu dirinya bahwa saya tertarik untuk berteman dengannya. Kalau mereka sendiri cenderung apatis atau mungkin sudah takut duluan liat wajah judes saya.

No PHP, No Dusta, No Tipu, No Abal-abal, & No Hit - Run

Ternyata belum cukup postingan berisi keluh kesah saya menghadapi customer nakal plus iseng kemarin [baca postingan : PHP Oh PHP], ehh... sekarang ada aja lagi customer yang bikin sesek dengan janji dustanya. Hihi. Mungkin manusia zaman sekarang sudah mulai luntur penghargaannya terhadap diri sendiri sehingga sulit untuk menghargai apa yang telah dikatakannya pada orang lain. Bingung? Begini... begini... ada customer yang ikut arisan, kesepakatan awal adalah membayar sejumlah nominal uang setiap bulannya yang apabila gilirannya kemudian akan menggunakan uang tersebut untuk belanja di galeri Kanahaya. Mendekati gilirannya itu, customer tersebut memesan sejumlah barang namun entah kenapa esoknya ia membatalkannya. Kemudian meminta untuk menarik semua uang arisannya. Umm... bukannya apa yah, saya juga tahu kita semua punya kebutuhan. Harusnya ketika kita memilih bermain mengikuti suatu sistem tertentu, kita sudah menghitung untung dan ruginya. Namun, dikarenakan kalkulasi yang tidak a...

Kosakata Ello

Saya memang boleh dibilang jarang menceritakan aktifitas Ello di blog. Soalnya sebagai ibu RT yang selalu melihat kesehariannya, saya berpikir ah buat apa didokumentasikan. Padahal sebenarnya ya engga apa-apa juga dituliskan untuk diingat kembali nantinya ketika Ello sudah gede, dan sudah engga bersama Mami-Papi nya lagi. Hihi. Ello tumbuh menjadi anak yang menggemaskan. Lucu puoool! Tingkahnya sanggup menggelitik perut. Belum lagi senyumnya yang menawan, siapapun yang memandang hatinya akan tertawan. Okelah. Akhir-akhir ini Ello sudah mulai bisa melafalkan beberapa kosakata, seperti: Ami = Mami Api = Papi Ahpung = Opung Ngeong = kucing Ayah = Ayam [ini kesalahan, tapi pelan-pelan nanti kami perbaiki] Tutup = tutup Duduk = duduk Beth' = Bird, burung Mana = mana No,no,no [sambil goyangin jari telunjuknya] = tidak, tidak, tidak Mbak = Mbak/rewang di rumah Apa tu? (Bersama dengan ekspresi kaget kalau mendengar sesuatu yang baru) = Apa itu? Enyak = Enak Saya terkagum de...

Merdeka Itu...

Hari ini genap negara saya, Indonesia, berusia 71 tahun. Sebuah usia yang boleh dikatakan tidak muda lagi alias sepuh. Usia sepuh bagi saya itu artinya matang dan bijak. Namun, sepertinya usia dan kematangan saat ini selecting berbanding terbalik. Semakin bertambahnya usia, semakin seperti anak-anak. Saya katakan demikian karena melihat kenyataan orang-orang yang saya kategorikan berusia tambah, malah banyak yang memposisikan dirinya seperti kanak-kanak yang egois, mau menang sendiri, dan minta diperhatikan. Semuanya terpusat pada diri sendiri saja. Berbicara tentang ulang tahun negara artinya lahirnya negara tersebut berawal ketika negara tersebut diklaim merdeka. Saya tak berbicara mengenai kemerdekaan negara. Saya mau bicara tentang pola pikir yang merdeka dan jiwa yang merdeka. Tadi saya sempat melihat sekilas Ahok tengah diwawancarai presenter TV. Beliau ditanyai tentang makna kemerdekaan. Menarik bahwa ketika beliau mengutarakan pendapatnya tentang merdeka. Merdeka baginya ad...

M.A.N.T.A.N

Beberapa malam yang lalu, ketika kami masih saling terjaga, suami di samping saya tengah terbaring sambil mengelus-ngelus kulit tangan saya. Saya menatapnya dan mulai membuka pembicaraan sebelum ia benar-benar pulas tertidur. "Pi, beberapa malam ini mimpiku aneh..." Saya terdiam untuk mendengar reaksinya. "Mimpi apa, Sayang?" Tanyanya lembut. "Mantan." Jawab saya. Saya berusaha menelisik reaksi dari raut wajahnya. Suami tidak bereaksi yang bagaimana-bagaimana. "Mantan yang mana, Sayang" tanyanya lagi. "Mantan yang paling banyak dosanya Mami ke dia, padahal dia ga pernah jahat ke Mami." Jawab saya sendu. "Oh, si anu..." Suami saya tetap mengelus tubuh saya. [ saya bilang anu aja, kalau saya sebut nama atau inisial bisa hancur dunia persilatan . Hehe.] "Kalau tentang mantan, aku juga sering kayak gitu. Mimpiin mantan, terutama mantan yang terakhir dan keluarganya. Aku juga banyak salahnya dulu ke dia. Tapi yah me...

Untuk Semua (Memang) Ada Waktunya

Kemarin saya enggak bisa menyembunyikan isak tangis saya ketika salah satu istri senior suami memberikan sepatah dua patah kata perpisahan karena SKEP suami sudah tidak lagi di kedinasan Skadron Udara 32. Isi daripada kata-kata perpisahan tersebut terdengar sangat alami, tidak dibuat-buat, apa adanya, sederhana, dan sangat emosional. Meski pada awalnya terdengar jenaka namun menyimpan ketulusan dan keikhlasan yang saya kagumi. Saya belum tentu bisa sejujur dan seapa-adanya beliau. Selisih saya dan beliau bergabung di Skadron 32 hanya terpaut 4 bulan. Beliau 4 bulan lebih awal bergabunh di tahun 2013, sementara saya baru Pebruari 2014-nya. Selama awal bergabung, saya banyak minta arahan ke beliau. Dikarenakan istri dari teman-teman letting suami yang sudah menikah belum banyak yang bergabung di Malang karena urusan pekerjaan yang belum selesai, maka saya lebih banyak bertukar pikiran ke beliau. Kalaupun dikatakan dekat seperti sahabat rasanya tidak juga, mungkin lebih seperti saudara...

Catatan Hari Ini.

Kesalahan membuat kita belajar. Tapi, seringkali kesalahan menghantarkan kita pada nikmat dan hikmat yang lebih baik. Pagi ini saya bangun lebih pagi. Mandi lalu siap-siap menghadiri acara rutin mingguan di kantor suami, yakni kegiatan olahraga Ibu-ibu anggota dan perwira. Ketika tiba di sana lah kok sepi? Ibu-ibu nya engga ada yang datangkah? Kok kursi plastik juga belum standby? Walah! Perasaan saya ga enak. Tiba-tiba datang Ny. Kristin Jhan Hotlan, istri daripada senior suami. Beliau berpakaian dinas polisi karena profesi beliau demikian. "Dek, ngapain?" Tanyanya. "Bukannya olahraga ya, Kak?" Tanya saya balik. "Besok, Dek. Bukan sekarang." Sambil senyum-senyum beliau menjawab. Dalam hati mungkin bertanya geli, apakah hamil membuat saya lupa ingatan? Hehehe. Saya pun salah tingkah. Hihi. Malu dan akhirnya kami berpisah pulang. Beliau ada urusan di kantor suami untuk mengurusi penyaluran dana PPAA, semacam agenda kegiatan untuk memberikan dana san...

Namanya Juga Usaha

Serius. Ga pernah kepikir sama sekali bakal jadi pebisnis. Ceileh... pebisnis! Iya. Dari dulu saya berpikir hanya jadi pekerja kerah putih: duduk-duduk ga pake keringetan lalu ngasilin duit tetap perbulannya. Alhasil saya malah jadi ibu RT dengan 1 anak plus 1 janin di kandungan, ngurusin suami, rumah tangga, dan usaha yang saya rintis sejak 2012. [Standing ovation... prok...prok] Awal 2016 saya mulai memberi atensi khusus terhadap usaha yang saya namai: Kanahaya Gallery. Why Kanahaya? Karena saya tinggal di Malang. Hubungannya? Kanahaya kalau dibalik jadi "Anakayah". Arek Malang terkenal suka membolak-balikkan kata. Dan... kenapa Anakayah? Simpel dan rada ga nyambung jawabannya, karena Anak Mama sering didenger ketimbang Anak Ayah. [Haha... garing!] Jawaban lainnya selain terkesan etnik & sound mystical, the idea of giving that name comes from my dearly good friend. She is nice & she inspires me a lot that even an evil one can change to be a saint. [Hahaha......

Bahagia itu Sederhana, Bahagia Itu Bila Bersama

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1437 H. Finally, the winning day of the majority arrived! Wish you nothing but may you all be blessed through this year, get purified in heart & soul, and may we all can meet each other in the next ramadhan! Amen. Hari ini tanggal 6 Juli 2016, namun karena postingan draft kemarin tanggal 27 Juni belum saya rampungkan, makanya yaudalah sekalian aja dirampungin alias disatuin dengan postingan ini. Hihi. Bahagia... itu yang bisa saya rasakan selama awal Juni kemarin hingga awal Juli ini.

Karena Jodoh, Rezeki, Ridho Takkan Kemana... Jika Memang Mau Berusaha Mencari.

Kemarin anting-anting saya letakkan sembarangan. Saking malasnya mengangkat tubuh untuk menaruhnya kembali di kotak perhiasan. Saya letakkan saja di dekat jendela, dekat tempat saya tidur. Saya lupa kalau anak saya akan dengan mudahnya meraihnya, memainkannya, dan mungkin menghilangkannya. Persis! Paginya saya bangun, mandi, menyiapkan sarapan Ello, lalu berkemas-kemas. Saya lupa dengan anting-anting saya. Siangnya saya bermain-main dengan Ello, lalu sesuatu yang menusuk di telapak kaki saya membuat saya berhenti bermain. Ketika saya mengetahui benda apa yang menusuk tersebut, spontan saya kaget luar biasa. Anting-anting saya! Saya mulai panik. Saya cari di tempat tidur. Tidak ada. Saya cari setiap lapisan bantal, seprai, selimut. Tidak ada! Saya mulai keringat dingin. Saya mulai memaki diri sendiri. Betapa cerobohnya saya. Saya mulai berdoa, berharap anting-anting saya ditemukan. Bukan apa, anting pemberian Mama itu sudah lama sekali saya miliki. Apalagi kisah yang melatar...

Monitoring

Sudah Juni! Wow. Luar biasa! Tak terasa sudah di pertengahan tahun 2016.  Apa kabar resolusi 2016? Hehehe. Banyak hal yang saya syukuri di tahun 2016 ini yang Tuhan berikan secara cuma-cuma kepada saya: mata dan hati yang dicelikkan, rezeki yang berkelimpahan, dan jiwa yang dibesarkan. 1) Ulang Tahun yang Luar Biasa Mei kemarin, tepatnya tanggal 26 kemarin. Saya genap berusia 28 tahun. Untuk pertama kalinya setelah saya menikah, suami saya menghadiahi saya nasi tumpeng. Tak mewah kami merayakan acara tersebut. Hanya dengan pasangan suami istri pendeta kami berdoa bersama, lalu makan dan bercengkerama.  Lalu, orangtua saya masih memberikan ucapan selamat, adik-adik dan sahabat-sahabat terkasih masih mengingat dan mengucapkan selamat ulangtahun sembari mengirimkan video-video lucu mereka.  Di usia saya yang ke 28 ini, saya masih bisa menikmati momen-momen bersyukur yang luar biasa. Tidak semua orang bisa menikmati momen seperti saya ini. 2) Menjadi ...

Everything I Said is Gone Viral

"Silent is Gold," I must agree with it as sage people often said. As you get older, you will very hard to meet people you can trust to. You think you have found people you can trust. Fact is... you will never find them just in a very short time. It takes years to classify them as trusted friends. I find it very difficult to find people I can trust to in a zona where people seem love to compete and try to be always number one. No, I don't hate competition. I love it in a soft kind of way. Perhaps, people I meet, love to show it in a frontal way. So, I choose to shut my mouth. To keep it closed in front of people who are still in the circle. We never know that people we are discussing with are people who get us wrong in every word we say. It's more way lovely to find no words has spilled out than to find it went viral and fatal. The impacts is always hurting... *** I am feeling like an outcast now. Too bad, huh? Feeling before thinking is always a bad thing. ...

Tujuh Orang Terdekat...

Aplikasi tersohor Line tengah menyelenggarakan event per tanggal 12 - 21 Mei 2016 akan menghadiahkan 30,000 credit gratis setara 100 koin kepada siapapun yang menggunakan aplikasi Line Call untuk menghubungi 7 orang terdekat mereka. Saya kemudian mengecek jumlah orang yang ada dalam kontak Line saya. 333 orang banyaknya. Seharusnya tidak akan begitu sulit bukan menghubungi 7 orang? Ya, seharusnya. Tapi jujur... ternyata tidak mudah. Saya mencoba menghubungi keluarga saya: Ayah, ABS, & GTS. Mama tidak bisa saya hubungi karena beliau tidak menggunakan aplikasi tersebut. Ayah, ABS, & GTS belum bisa berhasil saya kontak. Karena masalah jaringan. ABS ketika saya hubungi sedang di Perth, GTS di Abu Dhabi. Mungkin untuk layanan free call tidak bisa di negara asing. Entahlah. Akhirnya, saya dan suami saling mencobai layanan tersebut padahal kami sedang duduk bersampingan. Suami telepon saya. Saya gantian telepon suami. Yay! 1 sudah. Yang ke 2 adalah salah seorang sahabat saya: ...

Izinkanlah Aku Untuk Pulang Lagi

Tadi siang saya dan para kakak yang notabene adalah istri suami senior memutuskan untuk membawakan lagu berjudul Yogyakarta-nya Kla Project untuk acara sertijab-an Danskadron kami nanti. Jujur, saya langsung baper, istilah anak muda sekarang. Dari baper langsung galau ceritanya. Lha, emange ngopo e karo lagu Jogja? Apa ya... itu lagu memang sudah sering saya denger sejak kecil. Zaman-zamannya saya masih berseragam putih merah menuju putih biru, lagu tersebut sudah sering saya dengarkan dan nyanyikan. Tapi.. berhubung saya belum pernah ke Jogja kala itu, jadi lagunya terdengar biasa wae. DESEMBER 2004. Saya dan rombongan SMA Negeri 1 Pontianak study tour ke Bali & Yogyakarta. Pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Jogja. Hanya 2 hari. Belum ada kesan yang bagaimana-bagaimana. Cuma lesehan... lesehan... bahasa jawa... pengemis... pemusik jalanan... sekian.

Buku

Saya sedang mengepaki buku-buku yang sudah saya baca, lalu kemudian terbersit hasrat ingin menuliskan sedikit tentang buku. Buku-buku yang saya kemas ini ingin saya bawa kembali ke rumah orangtua saya di Pontianak. Di sana, di kamar saya ada sebuah lemari besar. Dulu saya sering meletakkan pakaian di dalamnya, lama kelamaan ia berubah fungsi menjadi tempat tumpukan buku. Dari buki beraliran  filsafat, materi kuliah, roman, komik ecek-ecek, hingga koleksi buku dari dalam maupun luar negeri.

Emotional Management

Saya akui kelemahan terbesar saya adalah kesulitan mengendalikan emosi. Mau senang, marah, sedih, dan sebagainya akan tergambar gamblang di wajah saya. Itu menyebalkan! Saya tidak pandai berpura-pura, jika memang saya sedang tidak mood, saya memilih mengasingkan diri dengan membaca, mendengarkan musik, tidur, nonton, atau bahkan mencari pengalihan lain seperti menulis, sibuk dengan online shop, atau berkreasi dengan hal lainnya. Saya merasa bodoh sekali ketika saya mengizinkan faktor lingkungan mempengaruhi mood saya, tapi itulah kekurangan saya. Saya agaknya masih sangat sulit mengelola emosi saya. Saya khawatir sebenarnya dalam mengeluarkan emosi. Kalau dulu, saya gamblang-gamblang saja mengeluarkan emosi toh hidup ya hidup saya sendiri. Tapi sekarang? Susah. Saya sudah bersuami yang notabene suami saya adalah prajurit TNI. Bukannya sok ngartis, tapi menjadi istri daripada seorang aparat negara itu kehidupannya akan selalu disorot: apakah tutur bahasanya baik? Cara berbusananya...

Sedih itu... sederhana.

Saya sedih sekali ketika Ello sakit panas kemarin engga mau makan, minum susu, dan setiap tengah malam menjerit menangis karena enggak enak badan. Saya sedih ketika Ello sudah tidak mau minum asi lagi karena keteledoran saya dan saya juga meremehkan betapa pentingnya asi tersebut. Saya sedih sekali ketika kesabaran saya tipis sekali sehingga saya pun mencubit Ello ketika dia merengek-rengek. Saya sedih sekali ketika Ello lebih doyan makan dengan Mbak Fitri, rewang kami ketimbang dengan saya pas saya suapin. Sedihnya saya sekarang itu bukan lagi sedih karena telepon tidak diangkat, sms tidak segera dibalas Papi Ello, atau mungkin dicuekin karena pekerjaannya yang memang bejibun itu. Sedihnya saya itu sekarang cuma tentang Ello... Perkara yang lain mah sudah masa bodoh. Ini saya nulis sambil nangis. Lucu kan? Saya nangis karena saya menyesali ketidaksabaran saya dalam merawat Ello, putra kami padahal dia lagi sakit. Saya menulis ini untuk mengingatkan diri saya lagi agar bisa mem...

Ketika Ello Sakit Panas

Menjadi istri tentara, saya dituntut tidak boleh manja! Iya, bener. Tapi... kalau suami sedang standby di rumah alias ga disetting terbang, yah bolelah menggelendot terus terusan. Hehehe. Cuma beberapa hari ini, saya benar-benar kewalahan. Ello sakit panas, batuk, dan mencret-mencret. Saya perhatikan, Ello selalu berulah setiap kali Papi nya pergi tugas berhari-hari. Kali ini Papi nya disetting ikut kegiatan survival. Ello jatuh sakit. Saya bingung dan pusing tujuh keliling. Hanya berdua di rumah saja membuat saya harap-harap cemas. Pengetahuan saya merawat anak sangat minim, jadi lah saya merawat sekadarnya. 1. Memastikan asupan makanan dan minuman Ello tercukupi. Anak saya rewel minta ampun. Makan enggak mau. Tapi saya enggak boleh panik. Meski cuma 2-3 suap makanan, yang penting ada yang masuk ke dalam perutnya. Susu maupun air putih hangat selalu saya standby kan. Jadi saya pastikan cairan selalu masuk ke dalam tubuhnya. 2. Obat-obatan selalu tersedia. Pengalaman selalu m...

Kopi VS Cangkir

Dalam sebuah acara reuni, beberapa alumni menjumpai guru sekolah mereka dulu. Melihat para alumni tersebut ramai-ramai membicarakan kesuksesan mereka, guru tersebut segera ke dapur dan mengambil seteko kopi panas dan beberapa cangkir kopi yang berbeda-beda. Mulai dari cangkir yang terbuat dari kristal, kaca, melamin dan plastik. Guru tersebut menyuruh para alumni untuk mengambil cangkir dan mengisinya dengan kopi. Setelah masing-masing alumni sudah mengisi cangkirnya dengan kopi, guru berkata, "Perhatikanlah bahwa kalian semua memilih cangkir yang bagus dan kini yang tersisa hanyalah cangkir yang murah dan tidak menarik. Memilih hal yang terbaik adalah wajar dan manusiawi. Namun persoalannya, ketika kalian tidak mendapatkan cangkir yang bagus perasaan kalian mulai terganggu. Kalian secara otomatis melihat cangkir yang dipegang orang lain dan mulai membandingkannya. Pikiran kalian terfokus pada cangkir, padahal yang kalian nikmati bukanlah cangkirnya melainkan kopinya." Hid...

Alkitab...Tempat Curhat Saya.

Menyambung postingan sebelumnya, saya masih mau berbicara tentang alkitab saya. Dari sekian alkitab milik saya, saudara, suami bahkan keluarga. Alkitab saya adalah yang paling lecek, ueleeek, kumuh, kumal, dan ga enak dipandang karena uda kelupas bagian luarnya. Tapi tetap saya jinjing kalau ke gereja. Bodo amat kata orang! Alkitab saya ini kalau orang buka pasti geleng-geleng kepala, karena isinya coretan semua. Isi coretan tersebut sebagian besar tentang cita-cita, do's-and-don'ts, self-reminders, dan mostly curhatan. Eaaaak! Jujur, sejak tahun 2005 saya menerima alkitab tersebut, baru saya utak-utik saya baca dan saya coret-coret dengan serius sejak akhir 2011 yang coretannya makin bertambah saja kian hari. Saya bukan...dan memang bukan seorang relijius karena saya baca alkitab. Saya membaca alkitab karena itu menenangkan. Bagi saya, alkitab saya itu serupa candu, terutama di kala saya emosi dan hampir depresi. Pernah saya dihujat, dihina, difitnah secara kasar. Aduh, se...

Kasih Karunia itu ANUGERAH

Pagi ini saya bangun lebih awal dari biasanya karena suami membangunkan untuk pergi duty pilot. Duty pilot itu tugas yang yang cukup menguras tenaga dan pikiran, kata suami saya. Siapapun yang duty pilot biasanya keningnya akan berkerut, apalagi jika pada hari itu lalu lintas pesawat skadron 32 maupun pesawat sipil lalu lalang. Intinya ruwet karena pekerjaannya memonitor dari hal-hal yang berkenaan dengan tugas tanggung jawab yang tertera pada desk job hingga yang tidak tertera. Kembali lagi ke saya yang baru bangun untuk mengunci pintu depan rumah, saya kemudian memutuskan untuk tidak tidur lagi. Saya ambil alkitab saya untuk bersaat teduh. Lalu, saya ambil telepon selular saya untuk membuka aplikasi renungan harian. Saya akui saya tidak bisa total lepas pada gadget, ada bagian diri saya yang masih konvensional alias jadul. Saya masih lebih suka membaca ayat firman Tuhan langsung di alkitab dan bukan di gawai (baca: gadget) saya. Ketika membaca firman Tuhan tersebut, ternyata ada p...

10+1 Kiat Mengurangi Kebencian Tanpa Membenci Kebencian | Qureta

10+1 Kiat Mengurangi Kebencian Tanpa Membenci Kebencian | Qureta Tulisannya bagus dan inspiratif. Pengin komentar dan cerita panjang, tapi mata sudah mengantuk. Bener deh 24 jam itu ternyata waktu yang sangat sedikit... Anyway, silahkan dibaca link di atas. Seperti biasa, tulisan Ayu Utami, pengarang favorit saya memang selalu membuat otak saya berolahraga. Hehehe...

Selamat Tinggal... Kenangan!

AB 3163 UQ adalah no plat motor saya merk Honda Suprafit velg racing dengan tahun pembuatan tahun 2007. Saya ingat persis waktu itu orangtua saya cuma kasih saya uang Rp 9,000,000-an untuk beli motor sebagai  moda saya selama kuliah di Yogyakarta. Uang tersebut hanya cukup membeli motor suprafit 2007 dengan velg jari-jari biasa sementara saya naksirnya velg racing. Saking naksirnya saya waktu itu, saya rela enggak makan yang enak-enak dan mulai menabung sehingga saya akhirnya bisa membeli motor keinginan saya yang waktu itu dibanderol Rp 12,600,000 harganya.

Harus Punya Mobile Banking Biar Tidak Merepotkan!

Adik saya ngomel-ngomel jika saya minta tolong mendahulukan transfer sekian rupiah ke manapun, ke siapapun, dan kapanpun. Bukan karena saya enggak bayar nantinya, tapi persoalannya adalah saya ini MEREPOTKAN!!! Sesekali dimintai tolong, okelah. Lha ini kok ngelunjak , minta tolong kok terus-terusan? Alhasil, saya dicereweti duo adik (bukan 1 lagi, melainkan duaa) di line grup kami: Cakep-cakep Simamora. Hehehe. Saya diomongi gimana mau berhasil usahanya, transaksi aja nebeng?! Bikin mobile banking kek, internet banking kek, sms banking kek... kakek-kakek kek. Jadilah akhirnya saya buat 2 mobile banking app di hape murahan saya. Saya punya 4 akun Bank: Mandiri, BRI, BCA, dan Niaga. Baru 2 yang saya buat, yakni BRI dan Mandiri. Eitts, bukan karena saya kaya raya ya punya 4 akun Bank, tapi semata-mata karena tuntutan usaha. Mau enggak mau memang harus punya banyak. Akhirnya...jadilah saya memiliki 2 aplikasi mobile banking di hape saya. Ternyata oh ternyata... UENAAAK tenan! Guam...

2 Tahun Menikah Itu Rasanya...

LUAR BIASA! Luar biasa masalahnya... Luar biasa mengalahnya... Luar biasa kelakuannya... Luar biasa pokoknya... 22 Pebruari 2016 kemarin, pernikahan kami genap berusia dua tahun. Rasa cinta saya terhadap suami sudah berubah. Tidak lagi seperti dahulu ketika kami masih pacaran. Ketika pacaran dahulu, rasa cinta kami sarat dengan ungkapan dan sentuhan mesra yang membuat kami langsung mabuk kepayang. Pacaran yang identik dengan bbm, sms, telepon, makan bareng, kencan, bunga, cokelat, dan aneka hadiah yang membuat pipi sering merona merah. Ketika itu semua terpenuhi, cukup. Lalu ketika kami dilanda masalah atau salah satu berulah, kata-kata mesra dan semua yang kami lakukan ketika kami sedang romantis-romantisnya berubah menjadi amarah. Ya, sedangkal itulah cinta kami di kala masih pacaran. Memasuki bahtera rumah tangga, hal-hal semacam itu menjadi menggelikan. Maka wajar jika Mama saya tidak terbiasa dan menganggap Ayah saya aneh ketika Ayah menyanyikan lagu mesra dan member...

Ketika Lulusan UGM yang Cuma Menjadi Ibu RT... Ngrumpi

"Aku aja ga nyangka jo kamu yg pinter dan cantik jadi emak2 momong anak gini..walopun kegiatan mu ibu2 jg segudang, tetep aja statusnya di rumah wkwkwkwk..sumpah deh aku ga nyangka lho dl hi hi.. " aku seorang kawan saya yang lulusan HI UGM juga. Sebut saja Wulandari yang memang nama aslinya. Saya biasa memanggilnya Wulan. Wulan ini ibu RT juga, sudah punya anak 1 berikut anak yang di dalam perutnya. Suaminya dinas di Kalimantan di sebuah perusahaan tambang. Wulan ini juga punya usaha tas dan sepatu rajut sehingga kami pun bekerjasama satu sama lain dalam rangka upaya mencukupi dan bahkan meningkatkan kemampuan belanja kami terhadap kebutuhan maupun keinginan nafsu kami. Singkat cerita, kami ber BBm-an di suatu malam, mulai membahas orderan-orderan berlanjut gosip seputar HI, hingga Wulan mengomentari hidup saya. Saya lho, Pemirsaah!

Tentang Kehilangan

"Jaga diri, bawa diri, tingkatkan kualitas..." Kalimat tersebut dahulu sering didengung-dengungkan suami saya di setiap akhir pembicaraan kami, di setiap surat yang dia tulis di waktu kami pacaran. Bahkan menjadi penghias sekaligus penyemangat di dalam buku hariannya di tahun 2011 silam. Kalimat tersebut menjadi favorit quotes kami, selain "bertahap, bertingkat, berlanjut."; "selama itu baik, kenapa tidak?", dan sebagainya... Dan betapa terkejutnya saya bahwa penggagas kalimat bagus tersebut adalah seorang Mayor Penerbang yang gugur dalam melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya sebagai abdi negara pada hari ini tadi. Mayor Penerbang Ivy. Kata-katanya lah yang terus menggema dalam hati pikiran suami manakala dia merasa kesusahan atau kepayahan dalam berbagai hal. ***

Harus SERBA BISA!

Jadi... beberapa waktu belakangan ini saya sering dipakai. Eitss, jangan negative thinking dulu! Mungkin bahasa tepatnya bukan dipakai, tapi diberdayakan karena dianggap mampu. Berawal dari menang lomba vocal group yang melibatkan ibu-ibu perwira dan bapak-bapak anggota yang memainkan alat musik dari barang-barang daur ulang, kami keluar menjadi juara 1 pada HUT PIA yang ke 59 se Lanud Abd Saleh. Setelah menang, tawaran job pun mulai mendera... (Tsaaah!) Mulai dari tampil pada HUT PIA puncak, berlanjut sebagai pengisi acara pada saat kuker KASAU kemarin, daaan... akan tampil lagi di acara Dharma Pertiwi di Surabaya nanti. Lelah? Pasti. Bangga?! Otomatis. Terlepas dari pemberdayaan saya tadi, saya juga mau berbagi cerita dan pengalaman bagaimana saya yang biasa ini kemudian dituntut jadi serba bisa.

Resolusi 2016...dan untuk tahun-tahun mendatang yang Tuhan percayakan kelak.

1. "JANGAN MENUNGGU” yg perlu dihindari: ********************** 1. Jangan menunggu bahagia baru tersenyum, tapi tersenyumlah, maka kamu akan bahagia. 2. Jangan menunggu kaya baru bersedekah, tapi bersedekahlah, maka kamu semakin kaya. 3. Jangan menunggu termotivasi baru bergerak, tapi bergeraklah, maka kamu akan termotivasi. 4. Jangan menunggu dipedulikan orang baru kamu peduli, tapi pedulilah dengan org lain! Maka kamu akan dipedulikan …. 5. Jangan menunggu org memahami kamu baru kamu memahami dia, tapi pahamilah org itu, maka org itu akan paham dgn kamu. 6. Jangan menunggu terinspirasi baru menulis, tapi menulislah, maka inspirasi akan hadir dlm tulisanmu. 7. Jangan menunggu proyek baru bekerja, tapi bekerjalah, maka proyek akan menunggumu. 8. Jangan menunggu dicintai baru mencintai, tapi belajarlah mencintai, maka kamu akan dicintai. 9. Jangan menunggu banyak uang baru hidup tenang, tapi hiduplah dgn tenang. Percayalah bukan sekadar uang yg datang tapi juga r...