Skip to main content

Tidak Lekas Tersinggung

Saya pikir saya orang yang ga gampang lekas tersinggung, dan itu MENJENGKELKAN bagi orang yang memang sengaja membuat saya beremosi.
Setelah saya renung-renungi perkataan-perkataan sadis yang pernah diucapkan orang ke saya, bahkan amarah, even candaan seperti sindiran-sindiran halus dengan maksud membuat saya down tidak pernah tinggal lama di benak saya.
Dan itu karena orang-orang berikut ini yang akan saya bahas.


1. Papi Ello alias Suami
Suami saya bukanlah orang perasa untuk hal-hal negatif yang ditudingkan terang-terangan kepadanya. Maksud saya begini, suami saya sensitif untuk hal yang sepele tapi untuk hal yang besar seperti diejek terang-terangan, dihina, dimaki, dan dipukul sekalipun -suami cenderung tidak ambil perduli.
Jadi ketika saya marah besar dan kata-kata ga laik keluar, beliau malah memilih diam dan tidak menyimpannya dalam hati.
Di satu sisi, suami sadar betul perangai saya. Membahasnya kembali hanya akan membuat saya semakin mengamuk. Hehehe.
2. Mama & Ayah
Ayah saya adalah seorang karyawan PTPN dulu. Berawal dari seorang karyawan kemudian dipercayai menjabat posisi tertentu membuat beliau kebal terhadap hinaan dan cacian orang-orang. Bahkan hal tersebut semakin membuatnya tegas, menunjukkan integritas, dan berprinsip.
Mama juga demikian.
Sepasang kekasih yang TUHAN berikan menjadi orangtua saya sepemahaman dalam memandang sesuatu: yang benar dan yang adil, pegang dan camkan!
Cuma pendekatannnya berbeda. Kalau Ayah terkesan Ahok banget,sementara Mama itu Jokowi banget.
Ketika saya datang ke orangtua menceritakan pengalaman kami yang pernah dihina, diremehkan, dicaci - Mama dan Ayah hanya tertawa. Bagi mereka fase tersebut tlah terlewati. Prinsip mereka cuma 1: biasanya si penghina takkan kemana-mana dan takkan gimana-gimana juga hidupnya. Semua akan berlalu: kecantikan, kekayaan, jabatan, dll. Jadi, biarlah waktu yang akan menjawab bagaimana akhirnya nanti.
3. Mertua Perempuan
Jika ada satu orang yang paling tidak tahu malu di dunia ini, itu mertua perempuan saya. Eits, saya bukan menghina. Tapi justru memuji.
Ketika beliau disepelekan, dihina terang-terangan, bahkan mungkin dikatai kata-kata tidak laik, yang beliau lakukan memang menangis. Menangis meraung-raung. Tapi untuk menyerah? Takkan pernah ada di kamusnya.
Beliau bisa bangkit, menjadi pede [keterlaluan] kembali, dan tetap melakukan tugasnya dengan baik.
4. Godvin & Amzyella
Mereka ini adik-adik saya yang... ampun deh cueknya dan memilih masa bodoh terhadap hal-hal lebay.
Namun, dukungan mereka sangat tinggi terhadap saya.
Ketika saya menceritakan dan bahkan melihat sendiri bukti bahwa saya pernah dihina dan dikata-katai, mereka malah tertawa.
TERTAWA dan berkata:
"Kau ngapain sampe orang sebegitu bencinya sama kau?"
Saya diam.
Iya juga ya, memangnya saya ngapain sampai saya dibenci sebegitunya. Masalahnya saya enggak ngapa-ngapain saja dibenci, apalagi kalau ngapa-ngapain? Hehehe.
Respon adik-adik saya lebih kepada dukungan moril dan kata-kata bijak ala mereka. Kalaupun kata-kata tidak mempan, mereka akan melemparkan guyonan yang membuat saya tertawa.
Iya, tertawa.
Mereka adalah adik-adik juga sahabat yang tak mau membuat emosi satu sama lain semakin parah.
Jadi... selama saya memiliki panutan orang-orang tersebut dalam hidup saya, dan selama saya yakin apa yang saya lakukan sesuai dengan peraturan dan apa yang agama ajarkan...
Maka pertanyaannya adalah: Bagaimana bisa saya lekas tersinggung dengan kalimat2 yang sengaja membuat saya down dan bersedih dalam menjalani hidup?

Comments

Popular posts from this blog

It’s Always God: Through Change and Growth

Unstoppable gratitude, these are the two words that define 2025, and probably 2026 and many years ahead. When I look back at early 2025, so many meaningful things happened. The second semester at UNHAN began. My children turned 10 and 8. We celebrated our 11th wedding anniversary, and my husband and I both turned 37. Many beautiful moments filled our days. Besides the ups, we also faced some downs. As a couple, we learned how to reconcile and find our rhythm again. We are constantly learning to manage our shortcomings so that the system we have built—our family—can keep working and growing. The second half of 2025 brought quite drastic changes. My husband moved to a different division at work, and we moved into our panggon , our new home in Halim Perdanakusuma. Our children advanced to years 5 and 3. I was no longer in my second semester at UNHAN, but I was trusted to serve as a Master of Ceremony and moderator for several UNHAN events. I also traveled to Pontianak for a few days with ...

The House That Carried Us Forward

I don’t think I’ve ever written about the government housing provided by the Air Force where we’re currently living. We’ve been here for almost half a year now—since June, to be exact. I still remember the day we left Malang for Jakarta: the kids and I ended up crying together. Strangely enough, that move also happened in December, as if the month itself always carries a bittersweet turning of seasons for our family. But life moves forward, and so must we. Our first home in Jakarta was in Lubang Buaya—a small house, roughly 108 square metres, with three bedrooms and two bathrooms. My mother-in-law had lived there ever since I married her son in 2014. My husband and I bought the house using a mix of our parents’ support. Technically, we still owe my parents the remaining balance. Lol. After living in Jakarta for about two and a half years, we decided to move into what we call the Panggon , or rumah dinas—a service house provided by TNI AU. Since it isn’t a Rumah Jabatan < Official Re...

Pilih(an)

Konon, menulis jurnal adalah bagian dari proses penyembuhan. Saya mengangguk setuju. Menulis jurnal , bukan menumpahkan emosi lewat status WhatsApp sambil berharap semesta ikut marah hanya karena hati kita sedang seret. Ada jurang lebar antara refleksi batin dan pamer luka di ruang publik, meski banyak yang mengacaukannya. Awalnya saya enggan menyinggung hal ini. Namun, hidup sering bercanda—niat saya membahas hal lain langsung terpelintir hanya karena saya menanggapi sebuah status WA. Rupanya respons saya tidak bertaut dengan ekspektasinya. Jadilah ia bereaksi—riuh, garang, seperti hendak menerkam sesuatu yang bahkan bukan ancaman. Saya hanya tersenyum tipis. Mungkin saya memang salah frekuensi. Ternyata, memberi perhatian pun bisa dianggap provokasi oleh orang yang sedang tidak selaras gelombang batinnya. Dan ya, mungkin energi saya sedang terlalu lincah; spontanitas saya memercik, lalu memicu dinamika yang membuat saya menghela napas dan membatin, “Ya ampun… ups .” Saya tak henda...