Skip to main content

Ketika Ello Sakit Panas

Menjadi istri tentara, saya dituntut tidak boleh manja!
Iya, bener.
Tapi... kalau suami sedang standby di rumah alias ga disetting terbang, yah bolelah menggelendot terus terusan. Hehehe.

Cuma beberapa hari ini, saya benar-benar kewalahan. Ello sakit panas, batuk, dan mencret-mencret. Saya perhatikan, Ello selalu berulah setiap kali Papi nya pergi tugas berhari-hari. Kali ini Papi nya disetting ikut kegiatan survival. Ello jatuh sakit. Saya bingung dan pusing tujuh keliling.
Hanya berdua di rumah saja membuat saya harap-harap cemas. Pengetahuan saya merawat anak sangat minim, jadi lah saya merawat sekadarnya.

1. Memastikan asupan makanan dan minuman Ello tercukupi.
Anak saya rewel minta ampun. Makan enggak mau. Tapi saya enggak boleh panik. Meski cuma 2-3 suap makanan, yang penting ada yang masuk ke dalam perutnya.
Susu maupun air putih hangat selalu saya standby kan. Jadi saya pastikan cairan selalu masuk ke dalam tubuhnya.

2. Obat-obatan selalu tersedia.
Pengalaman selalu menjadi guru yang baik. Maka dari itu, yang namanya: obat batuk pilek(saya pakai pim-tra-kol), obat demam(sanmol), obat sakit perut(lacto B), imboost force, termometer, serta byebye fever selalu saya standby kan in case of emergency.

3. Sedia pakaian bersih.
Ello bawaannya berkeringat terus setelah saya beri makanan dan minum obat, jadi di tempat tidur selalu saya sediakan beberapa stel pakaiannya agar setiap kali lembab karena keringat bisa langsung diganti.

4. Sedia Minyak Kayu Putih dan Parutan Bawang Merah.
Resep orangtua tapi manjur sekali. Setiap kali badan Ello panas, pasti segera turun setelah dibaluri dengan minyak kayu putih dengan parutan bawang merah.
Hal ini guna mencegah masuk angib jg ke dalam tubuhnya.

5. Saya harus sehat!
Tak pernah orang sakit merawat orang sakit. Apa jadinya jika itu terjadi? Salah-salah bisa jatuh sakit semua!
Maka dari itu saya pastikan kondisi saya sehat bugar meski baru saja saya habis donor darah.
Saya makan makanan yang banyak, minum vitamin, dan istirahat cukup di siang hari karena malam harinya saya standby menjaga putra saya.

Puji Tuhan, setelah melewati 1 malam yang penuh ujian, Ello sudah bisa tertawa lagi dan cerewet lagi.

Comments

Popular posts from this blog

It’s Always God: Through Change and Growth

Unstoppable gratitude, these are the two words that define 2025, and probably 2026 and many years ahead. When I look back at early 2025, so many meaningful things happened. The second semester at UNHAN began. My children turned 10 and 8. We celebrated our 11th wedding anniversary, and my husband and I both turned 37. Many beautiful moments filled our days. Besides the ups, we also faced some downs. As a couple, we learned how to reconcile and find our rhythm again. We are constantly learning to manage our shortcomings so that the system we have built—our family—can keep working and growing. The second half of 2025 brought quite drastic changes. My husband moved to a different division at work, and we moved into our panggon , our new home in Halim Perdanakusuma. Our children advanced to years 5 and 3. I was no longer in my second semester at UNHAN, but I was trusted to serve as a Master of Ceremony and moderator for several UNHAN events. I also traveled to Pontianak for a few days with ...

The House That Carried Us Forward

I don’t think I’ve ever written about the government housing provided by the Air Force where we’re currently living. We’ve been here for almost half a year now—since June, to be exact. I still remember the day we left Malang for Jakarta: the kids and I ended up crying together. Strangely enough, that move also happened in December, as if the month itself always carries a bittersweet turning of seasons for our family. But life moves forward, and so must we. Our first home in Jakarta was in Lubang Buaya—a small house, roughly 108 square metres, with three bedrooms and two bathrooms. My mother-in-law had lived there ever since I married her son in 2014. My husband and I bought the house using a mix of our parents’ support. Technically, we still owe my parents the remaining balance. Lol. After living in Jakarta for about two and a half years, we decided to move into what we call the Panggon , or rumah dinas—a service house provided by TNI AU. Since it isn’t a Rumah Jabatan < Official Re...

Pilih(an)

Konon, menulis jurnal adalah bagian dari proses penyembuhan. Saya mengangguk setuju. Menulis jurnal , bukan menumpahkan emosi lewat status WhatsApp sambil berharap semesta ikut marah hanya karena hati kita sedang seret. Ada jurang lebar antara refleksi batin dan pamer luka di ruang publik, meski banyak yang mengacaukannya. Awalnya saya enggan menyinggung hal ini. Namun, hidup sering bercanda—niat saya membahas hal lain langsung terpelintir hanya karena saya menanggapi sebuah status WA. Rupanya respons saya tidak bertaut dengan ekspektasinya. Jadilah ia bereaksi—riuh, garang, seperti hendak menerkam sesuatu yang bahkan bukan ancaman. Saya hanya tersenyum tipis. Mungkin saya memang salah frekuensi. Ternyata, memberi perhatian pun bisa dianggap provokasi oleh orang yang sedang tidak selaras gelombang batinnya. Dan ya, mungkin energi saya sedang terlalu lincah; spontanitas saya memercik, lalu memicu dinamika yang membuat saya menghela napas dan membatin, “Ya ampun… ups .” Saya tak henda...