Skip to main content

Alkitab...Tempat Curhat Saya.

Menyambung postingan sebelumnya, saya masih mau berbicara tentang alkitab saya. Dari sekian alkitab milik saya, saudara, suami bahkan keluarga. Alkitab saya adalah yang paling lecek, ueleeek, kumuh, kumal, dan ga enak dipandang karena uda kelupas bagian luarnya. Tapi tetap saya jinjing kalau ke gereja. Bodo amat kata orang!

Alkitab saya ini kalau orang buka pasti geleng-geleng kepala, karena isinya coretan semua. Isi coretan tersebut sebagian besar tentang cita-cita, do's-and-don'ts, self-reminders, dan mostly curhatan. Eaaaak!
Jujur, sejak tahun 2005 saya menerima alkitab tersebut, baru saya utak-utik saya baca dan saya coret-coret dengan serius sejak akhir 2011 yang coretannya makin bertambah saja kian hari.

Saya bukan...dan memang bukan seorang relijius karena saya baca alkitab. Saya membaca alkitab karena itu menenangkan. Bagi saya, alkitab saya itu serupa candu, terutama di kala saya emosi dan hampir depresi.

Pernah saya dihujat, dihina, difitnah secara kasar. Aduh, seumur hidup saya, saya belum pernah ngomong sejahat itu ke orang lain apalagi orang yang enggak saya kenal. Jangan sampai lah. Karena enggak apik kedengarannya.
Saya wajar dong sedih. Tapi saya bukan tipe pengadu yang dikit-dikit cerita ke suami, ortu, dll. Saya tulis di dalam alkitab saya nama-nama orang yang pernah menyakiti hati saya agar saya diberi kekuatan untuk berubah menjadi biasa kembali jika mereka tak berubah.
Bahkan ada kata-kata pahit terlontar dari mereka yang saya tulis di alkitab. Saya lambat laun mengamini kata-kata tersebut dengan suatu semangat dan harapan positif agar kami bisa menjadi pelayan Tuhan dan negara yang bertanggungjawab dan memiliki kasih.

Lalu, ada masa dimana suami mengeluarkan sifat-sifat menjengkelkannya, saya menulis di alkitab agar saya tetap diberi kemampuan melayani suami dan keluarga saya semata-mata untuk Tuhan saya saja sehingga di suatu kala suami memuji dan makin mencintai saya itu sekedar bonus dari Tuhan Allah ke saya.

Tentang anak, waah... saya berdoa lho agar Tuhan beri keturunan. Lalu saya tulis di alkitab saya:
"Nanti Yoan ketika engkau merepet karena betapa repotnya mengurus anak-anakmu yang masih kecil, ingatlah bahwa engkau pernah begitu mendoakannya agar hadir dalam hidupmu dan ingatlah bahwa ada waktunya ia tak kan lagi bersamamu."

Saya banyak menuliskan kata-kata yang menjadi nasehat bagi saya dari orangtua saya, suami, bahkan yang saya kutip dari bacaan lain.

Saya juga telah membaca keseluruhan isi alkitab baru sebanyak 1x, ini saya hendak mengulang membacanya kembali karena... rasanya menyenangkan.
Saya seperti mendapat sosok yang tidak kelihatan tapi mengayomi saya, memberikan pundaknya menjadi sandaran saya, memeluk saya, menasehati saya, memarahi saya, mencintai saya dan memberikan semua jawaban terhadap pertanyaan maupun bagaimana saya harus berperilaku dan semuanya secara bersamaan.

Rasanya menenangkan...menyenangkan...

Comments

Popular posts from this blog

It’s Always God: Through Change and Growth

Unstoppable gratitude, these are the two words that define 2025, and probably 2026 and many years ahead. When I look back at early 2025, so many meaningful things happened. The second semester at UNHAN began. My children turned 10 and 8. We celebrated our 11th wedding anniversary, and my husband and I both turned 37. Many beautiful moments filled our days. Besides the ups, we also faced some downs. As a couple, we learned how to reconcile and find our rhythm again. We are constantly learning to manage our shortcomings so that the system we have built—our family—can keep working and growing. The second half of 2025 brought quite drastic changes. My husband moved to a different division at work, and we moved into our panggon , our new home in Halim Perdanakusuma. Our children advanced to years 5 and 3. I was no longer in my second semester at UNHAN, but I was trusted to serve as a Master of Ceremony and moderator for several UNHAN events. I also traveled to Pontianak for a few days with ...

The House That Carried Us Forward

I don’t think I’ve ever written about the government housing provided by the Air Force where we’re currently living. We’ve been here for almost half a year now—since June, to be exact. I still remember the day we left Malang for Jakarta: the kids and I ended up crying together. Strangely enough, that move also happened in December, as if the month itself always carries a bittersweet turning of seasons for our family. But life moves forward, and so must we. Our first home in Jakarta was in Lubang Buaya—a small house, roughly 108 square metres, with three bedrooms and two bathrooms. My mother-in-law had lived there ever since I married her son in 2014. My husband and I bought the house using a mix of our parents’ support. Technically, we still owe my parents the remaining balance. Lol. After living in Jakarta for about two and a half years, we decided to move into what we call the Panggon , or rumah dinas—a service house provided by TNI AU. Since it isn’t a Rumah Jabatan < Official Re...

Pilih(an)

Konon, menulis jurnal adalah bagian dari proses penyembuhan. Saya mengangguk setuju. Menulis jurnal , bukan menumpahkan emosi lewat status WhatsApp sambil berharap semesta ikut marah hanya karena hati kita sedang seret. Ada jurang lebar antara refleksi batin dan pamer luka di ruang publik, meski banyak yang mengacaukannya. Awalnya saya enggan menyinggung hal ini. Namun, hidup sering bercanda—niat saya membahas hal lain langsung terpelintir hanya karena saya menanggapi sebuah status WA. Rupanya respons saya tidak bertaut dengan ekspektasinya. Jadilah ia bereaksi—riuh, garang, seperti hendak menerkam sesuatu yang bahkan bukan ancaman. Saya hanya tersenyum tipis. Mungkin saya memang salah frekuensi. Ternyata, memberi perhatian pun bisa dianggap provokasi oleh orang yang sedang tidak selaras gelombang batinnya. Dan ya, mungkin energi saya sedang terlalu lincah; spontanitas saya memercik, lalu memicu dinamika yang membuat saya menghela napas dan membatin, “Ya ampun… ups .” Saya tak henda...