Skip to main content

Merdeka Itu...

Hari ini genap negara saya, Indonesia, berusia 71 tahun. Sebuah usia yang boleh dikatakan tidak muda lagi alias sepuh.
Usia sepuh bagi saya itu artinya matang dan bijak. Namun, sepertinya usia dan kematangan saat ini selecting berbanding terbalik. Semakin bertambahnya usia, semakin seperti anak-anak. Saya katakan demikian karena melihat kenyataan orang-orang yang saya kategorikan berusia tambah, malah banyak yang memposisikan dirinya seperti kanak-kanak yang egois, mau menang sendiri, dan minta diperhatikan. Semuanya terpusat pada diri sendiri saja.

Berbicara tentang ulang tahun negara artinya lahirnya negara tersebut berawal ketika negara tersebut diklaim merdeka.
Saya tak berbicara mengenai kemerdekaan negara. Saya mau bicara tentang pola pikir yang merdeka dan jiwa yang merdeka.

Tadi saya sempat melihat sekilas Ahok tengah diwawancarai presenter TV. Beliau ditanyai tentang makna kemerdekaan. Menarik bahwa ketika beliau mengutarakan pendapatnya tentang merdeka. Merdeka baginya adalah berani mengutarakan pendapat dan pikiran sendiri. Selama kita belum mampu mengutarakan hal tersebut karena menjaga perasaan orang lain agar tidak tersinggung, artinya kita belum menjadi pribadi yang merdeka.

Luar biasa, Pak Ahok! Tanpa anda sadari, anda telah menjadi inspirasi saya dalam berpendapat --meski tidak setuju dengan cara Bapak berpendapat tentunya.
***

Sebagai seorang istri dari prajurit, jujur saya dibatasi oleh banyak tembok. Sebenarnya tembok tersebut cuma 1 namun dengan berbagai macam topeng. Kalau boleh saya kupas satu-satu topengnya, tembok tersebut pada dasarnya cuma berwajahkan para komentator.

Saya jadi teringat omongan Ayah saya suatu waktu dalam pertandingan tinju di TV. Sang komentator mengomentari harusnya jab dan hook yang diberikan begini dan begitu, Ayah cuma bilang,"Cobak  yang ngomentari ini di ring, uda babak belur pasti dibuat."
Saya hanya menggeleng heran karena bisa Ayah sebegitu emosinya mendengar sang komentator. Tapi saya sampai pada suatu kesimpulan: komentator itu penting. Mereka berfungsi sebagai penarik perhatian dan menjadi fungsi kontrol bagi yang mau mengambil hikmahnya.

Sebagai seorang istri dari suami yang masih tergolong junior, dikomentari bukanlah sesuatu yang luar biasa. Biasa saja. Prinsip di kalangan istri prajurit yang masih junior (terjadi di kalangan militer pada umumnya), junior tetap salah. Senior pasti benar. Mau alasan sebenar apapun tetap saja salah.

Namun, akhir-akhir ini saya belajar berani mengemukakan pendapat saya. Yang saya pikir benar, selamanya akan benar setelah saya cross check dahulu apa memang yang saya pikir benar. Bingung? Semoga enggak. Hehe.

Intinya, meskipun saya masih tergolong junior, selama teguran disampaikan dan saya sadari saya salah, saya tidak akan segan-segan bilang minta maaf dan menerima tentunya masukan tersebut untuk memacu saya lebih baik lagi.
Namun, jika saya pikir dan saya rasa teguran tersebut tidak laik ditujukan dan terkesan mencari-cari alasan untuk menegur, saya akan jelaskan duduk persoalannya. Apabila beliau tetap tidak bisa terima, saya tetap akan jawab terimakasih untuk segala masukannya. Cukup tahu saja bahwa alasan apapun yang saya kemukakan tidak akan pernah bisa beliau terima karena sentimen pribadi. Jelas saya katakan sentimen pribadi, orang yang tak punya sentimen pribadi tentunya berusaha memaklumi namun tetap mengingatkan sembari memberi solusi bagaimana baiknya agar sisem berjalan dengan baik dan enak bagi kedua belah pihak.

Saya tentunya pun akan tetap melakukan yang terbaik sesuai kemampuan saya. Jika sudah tidak mampu, ya mohon maaf lahir batin saja.
***

Buat saya merdeka itu menjadi berani...bukan karena sok-sokan, tapi karena memang benar dan bukan dibuat-buat merasa benar. Itu prinsip.

Semoga ini juga bisa menjadi cambuk bagi saya kedepannya untuk pribadi yang lebih baik.

Dirgahayu Indonesia-ku.
Mari jadilah perempuan yang berani karena apa yang benar dan apa yang adil!


Comments

Popular posts from this blog

It’s Always God: Through Change and Growth

Unstoppable gratitude, these are the two words that define 2025, and probably 2026 and many years ahead. When I look back at early 2025, so many meaningful things happened. The second semester at UNHAN began. My children turned 10 and 8. We celebrated our 11th wedding anniversary, and my husband and I both turned 37. Many beautiful moments filled our days. Besides the ups, we also faced some downs. As a couple, we learned how to reconcile and find our rhythm again. We are constantly learning to manage our shortcomings so that the system we have built—our family—can keep working and growing. The second half of 2025 brought quite drastic changes. My husband moved to a different division at work, and we moved into our panggon , our new home in Halim Perdanakusuma. Our children advanced to years 5 and 3. I was no longer in my second semester at UNHAN, but I was trusted to serve as a Master of Ceremony and moderator for several UNHAN events. I also traveled to Pontianak for a few days with ...

The House That Carried Us Forward

I don’t think I’ve ever written about the government housing provided by the Air Force where we’re currently living. We’ve been here for almost half a year now—since June, to be exact. I still remember the day we left Malang for Jakarta: the kids and I ended up crying together. Strangely enough, that move also happened in December, as if the month itself always carries a bittersweet turning of seasons for our family. But life moves forward, and so must we. Our first home in Jakarta was in Lubang Buaya—a small house, roughly 108 square metres, with three bedrooms and two bathrooms. My mother-in-law had lived there ever since I married her son in 2014. My husband and I bought the house using a mix of our parents’ support. Technically, we still owe my parents the remaining balance. Lol. After living in Jakarta for about two and a half years, we decided to move into what we call the Panggon , or rumah dinas—a service house provided by TNI AU. Since it isn’t a Rumah Jabatan < Official Re...

Pilih(an)

Konon, menulis jurnal adalah bagian dari proses penyembuhan. Saya mengangguk setuju. Menulis jurnal , bukan menumpahkan emosi lewat status WhatsApp sambil berharap semesta ikut marah hanya karena hati kita sedang seret. Ada jurang lebar antara refleksi batin dan pamer luka di ruang publik, meski banyak yang mengacaukannya. Awalnya saya enggan menyinggung hal ini. Namun, hidup sering bercanda—niat saya membahas hal lain langsung terpelintir hanya karena saya menanggapi sebuah status WA. Rupanya respons saya tidak bertaut dengan ekspektasinya. Jadilah ia bereaksi—riuh, garang, seperti hendak menerkam sesuatu yang bahkan bukan ancaman. Saya hanya tersenyum tipis. Mungkin saya memang salah frekuensi. Ternyata, memberi perhatian pun bisa dianggap provokasi oleh orang yang sedang tidak selaras gelombang batinnya. Dan ya, mungkin energi saya sedang terlalu lincah; spontanitas saya memercik, lalu memicu dinamika yang membuat saya menghela napas dan membatin, “Ya ampun… ups .” Saya tak henda...