Skip to main content

Posts

Showing posts from December, 2016

Never FEAR The Unknown

Sebentar lagi hari-hari di tahun 2016 akan berakhir. 2017 pun akan tiba namun dengan mendatangkan rasa khawatir. Khawatir bila ternyata saya tidak bisa menjalaninya dengan baik dan  penuh antisipasi. Bagi saya, 2016 seperti menaiki rollercoaster. Sebentar diluncurkan kebawah dengan keras, sebentar dinaikkan secara perlahan dan sebentar bisa dinaikkan dengan laju kecepatan spektakuler. Begitu banyak hal yang terjadi dalam kurun waktu 1 tahun ini. Ah, jangan kan 1 tahun! Dalam tempo beberapa bulan saja, begitu banyak kejadian yang sulit dipahami oleh nalar yang terbatas ini. Di satu sisi saya bersyukur, begitu banyak hal indah dan baik yang Tuhan izin kan boleh terjadi. Namun, di sisi lain ada banyak pula kejadian yang membuat saya menangis banyak di tahun 2016 silam. Saya tidak mau membahas 2016 terlalu lekat karena kemelekatan sesungguhnya membuat saya susah melaju ke depan. Yang sudah berlalu, berlalulah... (Tapi bukan berarti saya tidak boleh mengenang, bukan?) Tahu...

Menjadi Master of Ceremony di Acara Natal

Saya dimintai tolong untuk menjadi MC di kegiatan ibadah Natal sekitar 2 minggu yang lalu. Saya tidak langsung mengiyakan, cuma tertawa saja. Saya? MC? Di ibadah Natal lagi?! Gila aja! Respon saya begitu karena saya menyadari bahwa hidup saya masih jauh-jauhnya dari relijius. Kalau boleh dibilang, saya masih sekuler abis lah. Rupa-rupanya Ibu Pendeta tersebut membujuk saya begitu rupa dengan embel-embel berkat Tuhan yang melimpah dalam hidup karena melayani. Saya hanya tergelak. Bagi saya bukan masalah berkat Tuhan, tapi saya tidak cukup pede berbicara di depan orang ditambah lagi ini membawakan acara Natal. Namun, entah kenapa suami saya tidak menunjukkan respon apa-apa, seakan menyodorkan sambil berkata: "Ini, Bu. Pake aja istri saya." Saya pun akhirnya mengiyakan dengan berat hati. Hati saya langsung berat mengingat dosa-dosa dan kekurangan saya yang segudang itu.

Mengheningkan Cipta Bersama

Untuk korban bom molotov yang bergelimpangan di Samarinda, terkhusus bagi keluarga yang ditinggalkan. Untuk Bapak Ahok, yang meski Saya menyayangkan kata-kata tak penting keluar dari lidah Bapak. Untuk korban gempa di Pidie Jaya, Aceh. Saya turut merasakan kesedihan yang mendalam.  Untuk peserta KKR di Sabuga, Bandung, yang harus mengalah karena kebaktiannya diusik. Untuk masyarakat UKDW di Yogyakarta yang menghadapi tantangan hanya karena menggunakan perempuan berhijab sebagai model. Untuk diriku sendiri dan (barangkali) saudara-saudaraku seiman yang tengah mengalami kesedihan yang sama, kekecewaan yang sama di penghujung tahun 2016 ini dimana ketidakadilan terjadi dan DIAM serta BERPURA-PURA baik-baik saja menjadi satu-satunya cara untuk hidup, ayat firman ini yang menguatkan dan menyejukkan serta memberikan damai sejahtera di kala penderitaan mendera. Semoga.

Menjadi SEMPURNA

Masih seputar tentang Ahok namun dalam sudut pandang Saya yang lain. Saya tahu pemahaman saya dangkal dan barangkali pendapat saya akan didebat, namun silahkan saja. Saya menerima didebat tapi bukan untuk dihujat. Jadi begini... Saya pikir pengalaman yang dialami Ahok sebenarnya adalah pelajaran bagi kita semua, TERKHUSUS untuk umat Kristiani HARUS memiliki hidup sempurna. Sempurna? Ya. Sempurna disini tidak hanya secara lahiriah, namun juga batiniah. Sempurna = utuh, lengkap, tidak kurang. HARUS 100%, bukan 99,9999% apalagi cuma 35%. Memiliki hidup sempurna berarti hidup yang seutuhnya 100%. Dunia tempat kita tinggal ini BERHASIL membuat kita berpikir bahwa ya... tidak ada yang sempurna, selain Tuhan, Sang Pencipta Langit dan Bumi. Tapi sepengetahuan saya yang suka memaksakan diri membaca seluruh isi alkitab berulangkali menemukan sebuat ayat menarik yang ditulis di Matius 5:48, isinya: "Karena itu haruslah kamu sempurna, sama sepert Bapamu yang di Surga adalah semp...

We Age Not By Years, But By Stories

Kemarin Saya teleponan dengan adik perempuan Saya, ABS. Lumayan panjang dan banyak topik yang kami bicarakan, mulai dari kehamilan yang telah memasuki trimester ke III, pekerjaan, keluarga, dan angan-angan. Nyaris tiga jam lamanya kami berbincang. Hingga kami lompat ke suatu topik yang bahkan saya pun lupa kok bisa-bisanya sampai adik saya ngomong gini, "Kalau ga nikah sama Abang, mana mungkin dirimu bisa tertata seperti ini." Saya terdiam ketika celetukan adik saya itu keluar tanpa merasa terbebani. "Aku aja sampe bilang ke Mama kalau aku takjub dengan perubahan Kak Yoan yang sekarang. Kalau ngingat dirimu yang dulu lalu dibandingkan dengan sekarang yang bahkan mau beranak 2, salutlah aku." Tambahnya lagi.