Skip to main content

Menjadi SEMPURNA

Masih seputar tentang Ahok namun dalam sudut pandang Saya yang lain. Saya tahu pemahaman saya dangkal dan barangkali pendapat saya akan didebat, namun silahkan saja. Saya menerima didebat tapi bukan untuk dihujat.
Jadi begini...
Saya pikir pengalaman yang dialami Ahok sebenarnya adalah pelajaran bagi kita semua, TERKHUSUS untuk umat Kristiani HARUS memiliki hidup sempurna.
Sempurna? Ya.
Sempurna disini tidak hanya secara lahiriah, namun juga batiniah.
Sempurna = utuh, lengkap, tidak kurang. HARUS 100%, bukan 99,9999% apalagi cuma 35%.
Memiliki hidup sempurna berarti hidup yang seutuhnya 100%.
Dunia tempat kita tinggal ini BERHASIL membuat kita berpikir bahwa ya... tidak ada yang sempurna, selain Tuhan, Sang Pencipta Langit dan Bumi.
Tapi sepengetahuan saya yang suka memaksakan diri membaca seluruh isi alkitab berulangkali menemukan sebuat ayat menarik yang ditulis di Matius 5:48, isinya:
"Karena itu haruslah kamu sempurna, sama sepert Bapamu yang di Surga adalah sempurna."
Kalimat tersebut dikeluarkan oleh Yesus Kristus, yang Saya imani sebagai Tuhan, Anak Allah yang mati di kayu salib lalu bangkit pada hari ke-3.

[Ya, saya tahu bahwa lucu dan terkesan konyol ketika Tuhan Allah kok bisa beranak pinak? Lalu pake acara mati segala? Dia kan Tuhan? Tapi kok gembel? Kok kayak orang susah? Hehe. Ini nanti kita bahasnya kalau saya ingat ya.]
Tuhan Yesus jelas mengingini saya sempurna agar saya dan saudara-saudara saya yang Nasrani dapat mewarisi kerajaan Surga. 
Kita juga pasti mau. Tapi sekedar mau takkan cukup. Ada harga yang harus dibayar, yakni:

1. Menurut dan melakukan setiap rencana dan kehendak Tuhan lewat Roh Kudus yang memimpin hidup kita.
2. Berdoa dan Berpuasa kepada Tuhan.
3. Belajar mengenal pribadi Tuhan Yesus lewat Firman Tuhan.
4. Menyembah Tuhan senantiasa (Yohanes 4:24)
5. Belajar, membaca, memahami dan melakukan Firman Tuhan
6. Belajar berharap/bergantung pada Tuhan saja.

Tapi... apa itu semua cukup? Bagi saya, tidak. Ada 1 kondisi lagi dimana kita diwajibkan untuk tidak serupa dengan dunia ini. Dunia ini penuh dengan kata-kata sinis, makian, cacian, dan hinaan. Tuhan Yesus tak suka itu.
Bahkan sepanjang Tuhan Yesus hidup menurut Firman di dalam Alkitab pun, semarah-marahnya Tuhan Yesus, tak pernah IA mengumpat. Yang keluar dari mulut-Nya justru alasan rasional mengapa IA marah dengan gaya bahasa yang membuat kaum Farisi maupun Saduki terdiam saat itu. Bukan terdiam terpukau, tapi terdiam marah. Mau marah tidak bisa karena yang dikatakan Tuhan Yesus adalah benar. [Kalau penasaran, baca sendiri ya mulai dari Perjanjian Baru.]
Hubungannya dengan Ahok?
Sebagai seorang manusia, Ahok memang manusia biasa. Gaya kepemimpinannya seringkali menjadi polemik: nyablak. Tapi saya pikir seharusnya beliau lebih bijak ketika mengeluarkan kata-kata apalagi di tengah kaum masyarakat yang kebanyakan mudah terprovokasinya ketimbang memiliki pendirian teguh sendiri.
Ahok seringkali kedapatan menyebutkan kata-kata yang tak laik dengar, yang seringkali menyakitkan hati dan telinga pendengarnya. Meskipun konteksnya adalah benar namun tidak sepatutnya kata-kata tersebut keluar semarah apapun dirinya. 

Yakobus 3:11 mengatakan: Adakah sumber memancarkan air tawar dan air pahit dari mata air yang sama?
Artinya, kita takkan mungkin bisa mengatakan hal baik jika yang keluar dalam perbendaharaan kita adalah kata-kata yang tak laik didengar, kata-kata yang kasar, kata-kata yang dapat menimbulkan akar pahit.
Jika ada orang yang mengatakan: Sudah karakter beliau seperti itu. Kita bisa apa? 
Ya, kita tidak bisa apa-apa. Tapi Ahok bisa berbuat apa-apa, dengan menata kata-katanya. Dengan jumlah bangsa ini yang didominasi mayoritas, yang sebagian oknum tentu merasa berada di atas angin, gaya bicara Ahok meski nyablak tapi positif akan selalu dinilai negatif. 

Kita dituntut menjadi sempurna. Sekali lagi, menjadi sempurna itu artinya TIDAK SAMA dengan DUNIA ini. 100% berbeda dengan dunia ini. 
Kalau kita membaca dan meresapi firman demi firman Tuhan di dalam Alkitab, banyak kita temui hal yang tidak masuk akal sesuai standar dunia ini.Namun, itulah yang dimaksudkan Tuhan Allah kita, yakni agar kita menjadi berbeda. Sempurna dan tidak sama dengan dunia ini.
Kita diminta untuk menjadi garam dan terang bagi dunia.(Matius 5:13-16)

Kebiasaan Ahok dalam berkata-kata apa adanya menjadi batu sandungan baginya, namun meskipun itu terjadi, saya percaya Tuhan pun takkan meninggalkan anak yang kepadanya IA berkenan.

Mari kita sama-sama belajar menjadi sempurna, karena Tuhan Allah kita sudah lebih dahulu mencontohkan hidup sempurna. Amin.




Comments

Popular posts from this blog

It’s Always God: Through Change and Growth

Unstoppable gratitude, these are the two words that define 2025, and probably 2026 and many years ahead. When I look back at early 2025, so many meaningful things happened. The second semester at UNHAN began. My children turned 10 and 8. We celebrated our 11th wedding anniversary, and my husband and I both turned 37. Many beautiful moments filled our days. Besides the ups, we also faced some downs. As a couple, we learned how to reconcile and find our rhythm again. We are constantly learning to manage our shortcomings so that the system we have built—our family—can keep working and growing. The second half of 2025 brought quite drastic changes. My husband moved to a different division at work, and we moved into our panggon , our new home in Halim Perdanakusuma. Our children advanced to years 5 and 3. I was no longer in my second semester at UNHAN, but I was trusted to serve as a Master of Ceremony and moderator for several UNHAN events. I also traveled to Pontianak for a few days with ...

The House That Carried Us Forward

I don’t think I’ve ever written about the government housing provided by the Air Force where we’re currently living. We’ve been here for almost half a year now—since June, to be exact. I still remember the day we left Malang for Jakarta: the kids and I ended up crying together. Strangely enough, that move also happened in December, as if the month itself always carries a bittersweet turning of seasons for our family. But life moves forward, and so must we. Our first home in Jakarta was in Lubang Buaya—a small house, roughly 108 square metres, with three bedrooms and two bathrooms. My mother-in-law had lived there ever since I married her son in 2014. My husband and I bought the house using a mix of our parents’ support. Technically, we still owe my parents the remaining balance. Lol. After living in Jakarta for about two and a half years, we decided to move into what we call the Panggon , or rumah dinas—a service house provided by TNI AU. Since it isn’t a Rumah Jabatan < Official Re...

Pilih(an)

Konon, menulis jurnal adalah bagian dari proses penyembuhan. Saya mengangguk setuju. Menulis jurnal , bukan menumpahkan emosi lewat status WhatsApp sambil berharap semesta ikut marah hanya karena hati kita sedang seret. Ada jurang lebar antara refleksi batin dan pamer luka di ruang publik, meski banyak yang mengacaukannya. Awalnya saya enggan menyinggung hal ini. Namun, hidup sering bercanda—niat saya membahas hal lain langsung terpelintir hanya karena saya menanggapi sebuah status WA. Rupanya respons saya tidak bertaut dengan ekspektasinya. Jadilah ia bereaksi—riuh, garang, seperti hendak menerkam sesuatu yang bahkan bukan ancaman. Saya hanya tersenyum tipis. Mungkin saya memang salah frekuensi. Ternyata, memberi perhatian pun bisa dianggap provokasi oleh orang yang sedang tidak selaras gelombang batinnya. Dan ya, mungkin energi saya sedang terlalu lincah; spontanitas saya memercik, lalu memicu dinamika yang membuat saya menghela napas dan membatin, “Ya ampun… ups .” Saya tak henda...