Skip to main content

Tentang Kehilangan

"Jaga diri, bawa diri, tingkatkan kualitas..."
Kalimat tersebut dahulu sering didengung-dengungkan suami saya di setiap akhir pembicaraan kami, di setiap surat yang dia tulis di waktu kami pacaran. Bahkan menjadi penghias sekaligus penyemangat di dalam buku hariannya di tahun 2011 silam.
Kalimat tersebut menjadi favorit quotes kami, selain "bertahap, bertingkat, berlanjut."; "selama itu baik, kenapa tidak?", dan sebagainya...
Dan betapa terkejutnya saya bahwa penggagas kalimat bagus tersebut adalah seorang Mayor Penerbang yang gugur dalam melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya sebagai abdi negara pada hari ini tadi.
Mayor Penerbang Ivy.
Kata-katanya lah yang terus menggema dalam hati pikiran suami manakala dia merasa kesusahan atau kepayahan dalam berbagai hal.
***


Pagi tadi, tiba-tiba saya ditelepon Mbak yang sudah saya anggap kakak sendiri. Ny. Stafianita Tunjung Prastowo. Beliau menelepon saya dengan suara kacau.
Barulah saya tahu bahwa rekan letting suaminya, Abang kami, Abang TJ tersebut yang menerbangkan super tucano dan jatuh di pemukiman penduduk di daerah Belimbing, Malang.
Saya tidak bisa membayangkan wajah isak tangis anak dan istri yang kehilangan suaminya hari ini, orangtua yang telah menyekolahkan para putranya sehingga bisa menjadi perwira penerbang Angkatan Udara, para kerabat, dan sahabat-sahabat mereka.
Ternyata... tidak cukup pula air mata saya jatuh mengetahui bahwa seluruh penumpang dan air crew dari jatuhnya pesawat TNI AU Hercules 30 Juni 2015 yang lalu, saya diingatkan kembali oleh Sang Khalik dengan jatuhnya pesawat T-50i di Yogyakarta di penghujung tahun 2015 kemarin. Dua pilot meninggal. Letting 1996 dan 2005.
Ingin menangis tapi tidak bisa... air mata saya seakan habis. 2015 ditutup dengan berita yang memilukan dari TNI AU.
Awal 2016.
Hari ini... 10 Pebruari 2016. Kecelakaan pesawat kembali terjadi. Pesawat latih Tuccano jatuh. Dipastikan Mayor Pnb Ivy meninggal dunia bersama Serma Saeful.
Langit Malang penuh dengan doa-doa membayangkan doa dan harapan dari orang-orang terkasih dari pihak korban adalah sama, yakni berharap akan adanya sebuah keajaiban terjadi: mereka semua selamat...
Tapi Tuhan Yang Maha Kuasa berkata lain...
IA tengah mengajari kita tentang kehilangan lagi... entah sampai kapan barulah akhirnya kita sadar diri... bahwa ada banyak sisi yang harus dibenahi.
Selamat jalan Abang kami... sang elang yang tangguh.
Meski pengabdianmu harus berhenti disini pada negara ini, tetapi kobaran semangatmu senantiasa menginspirasi sanubari kami.
Sekali lagi..
Jaga diri...
Bawa diri...
Tingkatkan kualitas!
Tuhan memberkati.

Comments

Popular posts from this blog

It’s Always God: Through Change and Growth

Unstoppable gratitude, these are the two words that define 2025, and probably 2026 and many years ahead. When I look back at early 2025, so many meaningful things happened. The second semester at UNHAN began. My children turned 10 and 8. We celebrated our 11th wedding anniversary, and my husband and I both turned 37. Many beautiful moments filled our days. Besides the ups, we also faced some downs. As a couple, we learned how to reconcile and find our rhythm again. We are constantly learning to manage our shortcomings so that the system we have built—our family—can keep working and growing. The second half of 2025 brought quite drastic changes. My husband moved to a different division at work, and we moved into our panggon , our new home in Halim Perdanakusuma. Our children advanced to years 5 and 3. I was no longer in my second semester at UNHAN, but I was trusted to serve as a Master of Ceremony and moderator for several UNHAN events. I also traveled to Pontianak for a few days with ...

The House That Carried Us Forward

I don’t think I’ve ever written about the government housing provided by the Air Force where we’re currently living. We’ve been here for almost half a year now—since June, to be exact. I still remember the day we left Malang for Jakarta: the kids and I ended up crying together. Strangely enough, that move also happened in December, as if the month itself always carries a bittersweet turning of seasons for our family. But life moves forward, and so must we. Our first home in Jakarta was in Lubang Buaya—a small house, roughly 108 square metres, with three bedrooms and two bathrooms. My mother-in-law had lived there ever since I married her son in 2014. My husband and I bought the house using a mix of our parents’ support. Technically, we still owe my parents the remaining balance. Lol. After living in Jakarta for about two and a half years, we decided to move into what we call the Panggon , or rumah dinas—a service house provided by TNI AU. Since it isn’t a Rumah Jabatan < Official Re...

Pilih(an)

Konon, menulis jurnal adalah bagian dari proses penyembuhan. Saya mengangguk setuju. Menulis jurnal , bukan menumpahkan emosi lewat status WhatsApp sambil berharap semesta ikut marah hanya karena hati kita sedang seret. Ada jurang lebar antara refleksi batin dan pamer luka di ruang publik, meski banyak yang mengacaukannya. Awalnya saya enggan menyinggung hal ini. Namun, hidup sering bercanda—niat saya membahas hal lain langsung terpelintir hanya karena saya menanggapi sebuah status WA. Rupanya respons saya tidak bertaut dengan ekspektasinya. Jadilah ia bereaksi—riuh, garang, seperti hendak menerkam sesuatu yang bahkan bukan ancaman. Saya hanya tersenyum tipis. Mungkin saya memang salah frekuensi. Ternyata, memberi perhatian pun bisa dianggap provokasi oleh orang yang sedang tidak selaras gelombang batinnya. Dan ya, mungkin energi saya sedang terlalu lincah; spontanitas saya memercik, lalu memicu dinamika yang membuat saya menghela napas dan membatin, “Ya ampun… ups .” Saya tak henda...