Skip to main content

Tujuh Orang Terdekat...

Aplikasi tersohor Line tengah menyelenggarakan event per tanggal 12 - 21 Mei 2016 akan menghadiahkan 30,000 credit gratis setara 100 koin kepada siapapun yang menggunakan aplikasi Line Call untuk menghubungi 7 orang terdekat mereka.

Saya kemudian mengecek jumlah orang yang ada dalam kontak Line saya.
333 orang banyaknya. Seharusnya tidak akan begitu sulit bukan menghubungi 7 orang?
Ya, seharusnya. Tapi jujur... ternyata tidak mudah.
Saya mencoba menghubungi keluarga saya: Ayah, ABS, & GTS. Mama tidak bisa saya hubungi karena beliau tidak menggunakan aplikasi tersebut.
Ayah, ABS, & GTS belum bisa berhasil saya kontak. Karena masalah jaringan. ABS ketika saya hubungi sedang di Perth, GTS di Abu Dhabi. Mungkin untuk layanan free call tidak bisa di negara asing. Entahlah.

Akhirnya, saya dan suami saling mencobai layanan tersebut padahal kami sedang duduk bersampingan.
Suami telepon saya. Saya gantian telepon suami.
Yay! 1 sudah. Yang ke 2 adalah salah seorang sahabat saya: SCK. Ketika saya menelepon, Budhe Tia sedang mengunyah snack.
Reaksinya adalah: "tumben nelpon?"
Saya dengan jujur langsung bilang nelpon karena mau dapetin line credit. Budhe Tia langsung ber-ooo panjang. Sebenarnya saya malu juga, ini baru nelpon karena sesuatu. Duh!
Orang ke 3 yang saya telepon adalah adik ipar saya, Kian Aldy. Kian Aldy ini adik kandung suami saya. Kian Aldy ini memang lagi kangen-kangennya dengan Ello, jadilah mereka berdua ber-video call an.
Orang ke 4 yang saya telepon adalah anak dari guru tari saya dulu. Namanya HMR. Itu pun saya telepon karena dia order barang di saya. Karena malas ngetik pesan, yasud saya telepon saja. Gratis sih... cuma kena biaya data internet yang digunakan.

Oke sudah 4 orang. 3 orang lagi berarti!
Umm... rencananya sih GTS, VYS, & 1 lagi belum tahu...

Kamu mau saya telepon?
Hehehe...

Comments

Popular posts from this blog

It’s Always God: Through Change and Growth

Unstoppable gratitude, these are the two words that define 2025, and probably 2026 and many years ahead. When I look back at early 2025, so many meaningful things happened. The second semester at UNHAN began. My children turned 10 and 8. We celebrated our 11th wedding anniversary, and my husband and I both turned 37. Many beautiful moments filled our days. Besides the ups, we also faced some downs. As a couple, we learned how to reconcile and find our rhythm again. We are constantly learning to manage our shortcomings so that the system we have built—our family—can keep working and growing. The second half of 2025 brought quite drastic changes. My husband moved to a different division at work, and we moved into our panggon , our new home in Halim Perdanakusuma. Our children advanced to years 5 and 3. I was no longer in my second semester at UNHAN, but I was trusted to serve as a Master of Ceremony and moderator for several UNHAN events. I also traveled to Pontianak for a few days with ...

The House That Carried Us Forward

I don’t think I’ve ever written about the government housing provided by the Air Force where we’re currently living. We’ve been here for almost half a year now—since June, to be exact. I still remember the day we left Malang for Jakarta: the kids and I ended up crying together. Strangely enough, that move also happened in December, as if the month itself always carries a bittersweet turning of seasons for our family. But life moves forward, and so must we. Our first home in Jakarta was in Lubang Buaya—a small house, roughly 108 square metres, with three bedrooms and two bathrooms. My mother-in-law had lived there ever since I married her son in 2014. My husband and I bought the house using a mix of our parents’ support. Technically, we still owe my parents the remaining balance. Lol. After living in Jakarta for about two and a half years, we decided to move into what we call the Panggon , or rumah dinas—a service house provided by TNI AU. Since it isn’t a Rumah Jabatan < Official Re...

Pilih(an)

Konon, menulis jurnal adalah bagian dari proses penyembuhan. Saya mengangguk setuju. Menulis jurnal , bukan menumpahkan emosi lewat status WhatsApp sambil berharap semesta ikut marah hanya karena hati kita sedang seret. Ada jurang lebar antara refleksi batin dan pamer luka di ruang publik, meski banyak yang mengacaukannya. Awalnya saya enggan menyinggung hal ini. Namun, hidup sering bercanda—niat saya membahas hal lain langsung terpelintir hanya karena saya menanggapi sebuah status WA. Rupanya respons saya tidak bertaut dengan ekspektasinya. Jadilah ia bereaksi—riuh, garang, seperti hendak menerkam sesuatu yang bahkan bukan ancaman. Saya hanya tersenyum tipis. Mungkin saya memang salah frekuensi. Ternyata, memberi perhatian pun bisa dianggap provokasi oleh orang yang sedang tidak selaras gelombang batinnya. Dan ya, mungkin energi saya sedang terlalu lincah; spontanitas saya memercik, lalu memicu dinamika yang membuat saya menghela napas dan membatin, “Ya ampun… ups .” Saya tak henda...