Skip to main content

"Nak, jangan bercita-cita jadi presiden, tentara, dokter yah! Jadilah pribadi seperti Pak Jokowi."

Halo, Anak-anakku sayang... Ello dan Gio. Mami engga tau usia kalian sudah berapa ketika membaca tulisan Mami ini. Perlu kalian ketahui, Mami menuliskan tulisan ini pada hari Sabtu, 5 Nopember 2016 di komplek rumah Lanud ABD Saleh. Iya, rumah dinas gratisan milik Negara yang diberi secara cuma-cuma oleh senior Papimu, Navigator letting 1996 sekaligus rumah yang belum pernah kita betulkan sama sekali
Jadi harap maklum, di Sore hari ini hujan deras, beberapa spot rumah tergenang air karena atap bocor.
Ello sudah tidur setelah dimandiin dan disuapin Mba Fitri, rewang kita yang baik hati.  Mami masih dengan Gio di dalam perut, sehingga Mami kewalahan jika merawatmu seorang diri. Jadi, mohon maaf bila sebagian besar waktumu bersama Mbak Fitri.


Baiklah, Anak-anakku sayang. Engkau tahu selera pria seperti apa yang membuat Mami bisa jatuh cinta bukan? Secara fisik, Mami suka sekali dengan profil pria Channing Tatum, kalau tidak tahu... google ya, Nak. Kalau di Indonesia, Mami suka sekali dengan Arifin Putra. Ini juga kalau tidak tahu, google juga ya.
Selain pria yang enerjik, berbodi bagus, Mami juga suka pria pintar. Nanti kapan-kapan Mami ceritain pria-pria yang pernah cerdas dan pintar yang pernah menjadi "teman" Mami.
Selain fisik oke, cerdas... Mami suka satu jenis pria lagi yaitu sederhana dan apa adanya. Makanya Mami pilih Papi mu menjadi suami Mami. Papimu punya ketiganya.
Tapi Mami tidak akan bercerita tentang Papi, Mami akan bercerita tentang seseorang fenomenal di zaman Mami, beliau bernama Pak Jokowi. Beliau itu Presiden kita sekarang ini. Tapi, Mami tidak meminta kalian menjadi presiden kelak. Mami cuma minta, CONTOH beliau!
Mami suka sekali profil beliau. Ceking alias cungkring, wajahnya polos, dan terkesan konyol namun beliau punya semacam wibawa yang sulit dikatakan dengan kata-kata. Cuma Mami akan berusaha menguraikannya satu demi satu agar kalian mengerti mengapa Mami mengidolakan beliau.

1. Berbhinneka alias Negarawan
Beliau dari dulu menjabat sebagai walikota di Solo selalu mengajarkan dalam ruang publik dan tata pemerintahab yang rasional , bahwa tidak baik dan bijak bila mengedepankan sentimen identitas seperti agama, suku, status sosial.
Beliau mengangkat wakilnya di Solo seorang Katholik, dan ketika menjabat sebagai Gubernur DKI, beliau pun menyetujui Ahok, seorang Tionghoa dan Kristen untuk mendampinginya.
Beliau ingin mengajarkan kita untuk mengedepankan prestasi, nilai-nilai kejujuran, etika, dan rasionalitas dalam tatanan kepemerintahan agar negara kita ini pun bisa semakin maju tentunya.

2. Taktis
Cara berpikir beliau membuat Mami terkagum-kagum. Beliau dulunya adalah seorang pebisnis, dan itu bukan bisnis-bisnisan. Beliau sudah memegang bisnis meubel tersebut puluhan tahun, sudah sering menghadapi orang, jadi sudah bisa membaca mana yang menguntungkan dan mana yang merugikan.
Menjadi pengusaha itu tak gampang, Nak. Berani, mau, dan tekun. Apalagi menghadapi pasar yang selalu tak dapat ditebak juga bagaimana mendapat kepercayaan dari orang itu sulit, Nak. Tak semua orang punya mental seperti itu.

3. Komunikatif
Kalau kamu bisa berbicara dengan orang selevelmu, Mami tidak bangga Nak. Menurut Mami biasa. Kamu mampu berkomunikasi dengan orang-orang yang levelnya dibawahmu, sama denganmu atau diatasmu, itu yang membuat Mami bangga.
Bapak Jokowi rupanya sangat memahami ilmu komunikasi, cara bicara beliau ini sangat akrab dan tidak tampak asing seperti pemimpin-pemimpin pada umumnya. 
Mami salut beliau bisa menyatu dengan alami kepada rakyatnya. Selama ini stigmatisasi yang muncul adalah pemimpin itu bak raja tak terjamah.

4. Pekerja Keras
Beliau itu cepet dan tanggap dalam mematerialkan sesuatu, dari yang enggak ada menjadi ada.
Banyak hal yang beliau lakukan yang membuat Mami terkagum-kagum, sebagai contoh BPJS. BPJS sudah dibuat pada era Presiden sebelumnya, namun dalam realisasinya lama dan sangat birokratis. Sama saja seperti kartu askes zaman baheula. Barulah di zaman Jokowi ini semuanya serba cepat. Lalu, urusan birokratis lainnya bisa ditangani lebih cepat dan tidak makan waktu lama seperti era-era sebelumnya. Dan satu lagi, Inanguda kalian berhasil masuk PNS Kota Pontianak tanpa bayar serupiahpun karena transparansi di era beliau.

5. Tidak Pendendam
Ini satu karakter yang Mami sukai dan berusaha Mami aplikasi dalam hidup ini. Beliau adalah orang yang sama sekali tidak pendendam.
Ia tidak pernah membalas ucapan-ucapan yang merendahkan dirinya bahkan ia merasa setiap ucapan yang merendahkan adalah berkah Tuhan yang ‘harus’ ia terima saja.
Dibilang goblok, dia tidak marah. Mami salut dan mau belajar dari pribadinya. Sementara Mami, baru dihina dan dimaki sedikit bawaannya sudah mau marah dan balas dendam saja. Hihi.
Mami jadi malu.

6. Sederhana dalam Tingkah dan Bicara
Karakter yang paling disukai dari Jokowi bagi jutaan rakyat Indonesia adalah sikapnya yang ‘sederhana dalam tingkah dan bicara’. Ia tidak berlebihan, ia tidak sok Nginggris, tidak memakai baju yang amat mahal, ia pakai pakaian sederhana, sepatunya sederhana, tidak pernah pamer kekayaan.
Kalau kalian, Anak-anakku sayang nanti berpunya dan berkelebihan... selalu INGAT dengan orang lain, terutama yang secara finansial maupun intelektual kurang dari kalian. Mereka justru yang paling membutuhkan kalian.

7. Rendah Hati.
Dari seluruh sifat Jokowi yang paling disenangi adalah sikapnya yang rendah hati, ia terlihat tidak pernah bicara sinis, ia selalu membungkuk bila bertemu orang, ia menyalami siapa saja, dan ia menghormati siapapun.
Ingat, Anak-anakku sayang. Hidup kita ini untuk melayani orang lain. Jangan sedih bila ada yang menganggap kalian nanti kacung/pelayan, memang itulah kita. Kita harus saling melayani.

8. Tulus
Sikap yang tulus dari seseorang adalah dilihat saja dari caranya bicara, caranya bekerja, biasanya orang yang tulus bekerja tanpa beban dan tidak direpotkan pada hal-hal yang artifisial, orang yang tulus tidak pernah berpikir macam-macam ‘kerja ya kerja’ ndak usah ada hidden agenda, trik-trik dan segala apapun yang membuat dirinya diuntungkan dan merugikan banyak orang.

Beliau -sepengetahuan Mami- adalah sosok seperti itu. Jadi, Ello dan Gio tercinta. Tuluslah! Ikhlas.
Kalau ditanya, Mami tau darimana? Mami memang tahu cuma dari TV, Nak. Bertemu langsung dengan beliau belum pernah, Nak.
Namun, karakter beliau itu dapat Mami simpulkan dari cara beliau berbicara dan menanggapi respon negatif yang sering ditujukan padanya.
Tak pernah kata-kata kasar keluar, amarah pun tak pernah...
Baginya, kerja... kerja dan kerja...
Bagi beliau, anjing menggonggong kafilah berlalu.
Itu yang Mami mau karakternya ada pada kalian, Anak-anakku sayang.
Peluk cium sayang...
Mami.

Comments

Popular posts from this blog

It’s Always God: Through Change and Growth

Unstoppable gratitude, these are the two words that define 2025, and probably 2026 and many years ahead. When I look back at early 2025, so many meaningful things happened. The second semester at UNHAN began. My children turned 10 and 8. We celebrated our 11th wedding anniversary, and my husband and I both turned 37. Many beautiful moments filled our days. Besides the ups, we also faced some downs. As a couple, we learned how to reconcile and find our rhythm again. We are constantly learning to manage our shortcomings so that the system we have built—our family—can keep working and growing. The second half of 2025 brought quite drastic changes. My husband moved to a different division at work, and we moved into our panggon , our new home in Halim Perdanakusuma. Our children advanced to years 5 and 3. I was no longer in my second semester at UNHAN, but I was trusted to serve as a Master of Ceremony and moderator for several UNHAN events. I also traveled to Pontianak for a few days with ...

The House That Carried Us Forward

I don’t think I’ve ever written about the government housing provided by the Air Force where we’re currently living. We’ve been here for almost half a year now—since June, to be exact. I still remember the day we left Malang for Jakarta: the kids and I ended up crying together. Strangely enough, that move also happened in December, as if the month itself always carries a bittersweet turning of seasons for our family. But life moves forward, and so must we. Our first home in Jakarta was in Lubang Buaya—a small house, roughly 108 square metres, with three bedrooms and two bathrooms. My mother-in-law had lived there ever since I married her son in 2014. My husband and I bought the house using a mix of our parents’ support. Technically, we still owe my parents the remaining balance. Lol. After living in Jakarta for about two and a half years, we decided to move into what we call the Panggon , or rumah dinas—a service house provided by TNI AU. Since it isn’t a Rumah Jabatan < Official Re...

Pilih(an)

Konon, menulis jurnal adalah bagian dari proses penyembuhan. Saya mengangguk setuju. Menulis jurnal , bukan menumpahkan emosi lewat status WhatsApp sambil berharap semesta ikut marah hanya karena hati kita sedang seret. Ada jurang lebar antara refleksi batin dan pamer luka di ruang publik, meski banyak yang mengacaukannya. Awalnya saya enggan menyinggung hal ini. Namun, hidup sering bercanda—niat saya membahas hal lain langsung terpelintir hanya karena saya menanggapi sebuah status WA. Rupanya respons saya tidak bertaut dengan ekspektasinya. Jadilah ia bereaksi—riuh, garang, seperti hendak menerkam sesuatu yang bahkan bukan ancaman. Saya hanya tersenyum tipis. Mungkin saya memang salah frekuensi. Ternyata, memberi perhatian pun bisa dianggap provokasi oleh orang yang sedang tidak selaras gelombang batinnya. Dan ya, mungkin energi saya sedang terlalu lincah; spontanitas saya memercik, lalu memicu dinamika yang membuat saya menghela napas dan membatin, “Ya ampun… ups .” Saya tak henda...