Skip to main content

Kosakata Ello

Saya memang boleh dibilang jarang menceritakan aktifitas Ello di blog. Soalnya sebagai ibu RT yang selalu melihat kesehariannya, saya berpikir ah buat apa didokumentasikan. Padahal sebenarnya ya engga apa-apa juga dituliskan untuk diingat kembali nantinya ketika Ello sudah gede, dan sudah engga bersama Mami-Papi nya lagi. Hihi.

Ello tumbuh menjadi anak yang menggemaskan. Lucu puoool! Tingkahnya sanggup menggelitik perut. Belum lagi senyumnya yang menawan, siapapun yang memandang hatinya akan tertawan.
Okelah. Akhir-akhir ini Ello sudah mulai bisa melafalkan beberapa kosakata, seperti:
Ami = Mami
Api = Papi
Ahpung = Opung
Ngeong = kucing
Ayah = Ayam [ini kesalahan, tapi pelan-pelan nanti kami perbaiki]
Tutup = tutup
Duduk = duduk
Beth' = Bird, burung
Mana = mana
No,no,no [sambil goyangin jari telunjuknya] = tidak, tidak, tidak
Mbak = Mbak/rewang di rumah
Apa tu? (Bersama dengan ekspresi kaget kalau mendengar sesuatu yang baru) = Apa itu?
Enyak = Enak

Saya terkagum dengan perkembangannya yang cepet sekali rasanya. Memang saya sebagai orangtua belum pernah mengajarinya secara intens tentang hewan, alam, atau apapun itu. Saya pengin Ello happy. Belajar tanpa tekanan. Meski belum bisa pup sendiri di toilet mininya, tapi untuk pup, Ello ud mau ambil posisi jongkok dan ngeden sesekali di pampersnya.

Saya suka tergelak setiap kali anak sulung tercinta kami itu berteriak Yey, lalu bernyanyi sambil mengayunkan kedua tangan ala-ala dirigen/conductor. Ya, ya... ini karena hampir 2,5 bulan lamanya Ello ikut latian paduan suara dalam rangka pesparani TNI AU kemarin. Alhasil inilah implikasinya. Dia suka menyanyi dan bergaya ala conductor tersohor.

Lucunya lagi, ia mulai suka bergaya ala-ala tentara.
Tegap grak! Dia akan tegap.
Hormat grak! Dia akan beri hormat dengan posisi tegap.
Ini dikarenakan kami menonton acara 17 Agustus di tivi kemarin yang memunculkan baris berbaris.

Sebenarnya saya ingin sekali memasukkan foto2 lucu Ello ke dalam blog, namun karena selama ini saya aktif menulis melalui handphone, dan sementara itu handphone ini tidak memungkinkan saya untuk mengunggah dari galeri jadi ya sudahlah... lagipula saya mulai parno sendiri dengan yang namanya cyber crime. Jadi untuk foto2 akan saya kunci rapat2, termasuk akun instagram pribadi saya. Jadi kalau tidak kenal-kenal banget, saya minta maaf jika tidak saya terima permintaan pertemanannya. Mohon maaf ya. ^^

Comments

Popular posts from this blog

It’s Always God: Through Change and Growth

Unstoppable gratitude, these are the two words that define 2025, and probably 2026 and many years ahead. When I look back at early 2025, so many meaningful things happened. The second semester at UNHAN began. My children turned 10 and 8. We celebrated our 11th wedding anniversary, and my husband and I both turned 37. Many beautiful moments filled our days. Besides the ups, we also faced some downs. As a couple, we learned how to reconcile and find our rhythm again. We are constantly learning to manage our shortcomings so that the system we have built—our family—can keep working and growing. The second half of 2025 brought quite drastic changes. My husband moved to a different division at work, and we moved into our panggon , our new home in Halim Perdanakusuma. Our children advanced to years 5 and 3. I was no longer in my second semester at UNHAN, but I was trusted to serve as a Master of Ceremony and moderator for several UNHAN events. I also traveled to Pontianak for a few days with ...

The House That Carried Us Forward

I don’t think I’ve ever written about the government housing provided by the Air Force where we’re currently living. We’ve been here for almost half a year now—since June, to be exact. I still remember the day we left Malang for Jakarta: the kids and I ended up crying together. Strangely enough, that move also happened in December, as if the month itself always carries a bittersweet turning of seasons for our family. But life moves forward, and so must we. Our first home in Jakarta was in Lubang Buaya—a small house, roughly 108 square metres, with three bedrooms and two bathrooms. My mother-in-law had lived there ever since I married her son in 2014. My husband and I bought the house using a mix of our parents’ support. Technically, we still owe my parents the remaining balance. Lol. After living in Jakarta for about two and a half years, we decided to move into what we call the Panggon , or rumah dinas—a service house provided by TNI AU. Since it isn’t a Rumah Jabatan < Official Re...

Pilih(an)

Konon, menulis jurnal adalah bagian dari proses penyembuhan. Saya mengangguk setuju. Menulis jurnal , bukan menumpahkan emosi lewat status WhatsApp sambil berharap semesta ikut marah hanya karena hati kita sedang seret. Ada jurang lebar antara refleksi batin dan pamer luka di ruang publik, meski banyak yang mengacaukannya. Awalnya saya enggan menyinggung hal ini. Namun, hidup sering bercanda—niat saya membahas hal lain langsung terpelintir hanya karena saya menanggapi sebuah status WA. Rupanya respons saya tidak bertaut dengan ekspektasinya. Jadilah ia bereaksi—riuh, garang, seperti hendak menerkam sesuatu yang bahkan bukan ancaman. Saya hanya tersenyum tipis. Mungkin saya memang salah frekuensi. Ternyata, memberi perhatian pun bisa dianggap provokasi oleh orang yang sedang tidak selaras gelombang batinnya. Dan ya, mungkin energi saya sedang terlalu lincah; spontanitas saya memercik, lalu memicu dinamika yang membuat saya menghela napas dan membatin, “Ya ampun… ups .” Saya tak henda...