"If you're a true friend, you tell what's wrong. Keeping secrets to your best friend means that you aren't really worth befriending."
I quoted it from someone's tweet I just read. Setelah saya renungi, eh iya juga ya. Sahabat bukankah seharusnya adalah orang yang kita akan ceritaian apapun itu tentang diri kita? Gebetan lah. Sekolah. Ortu. Cita-cita. Even sex.
Err, wait! Sex?
Menurut saya, iya. Sex!
Tapi disini Saya takkan membahas tentang sex, saya akan bercerita tentang diri saya sebagai manusia yang ternyata boleh dibilang memiliki sahabat yang jumlahnya bisa dihitung dengan jari tangan kiri.
Err, wait! Sex?
Menurut saya, iya. Sex!
Tapi disini Saya takkan membahas tentang sex, saya akan bercerita tentang diri saya sebagai manusia yang ternyata boleh dibilang memiliki sahabat yang jumlahnya bisa dihitung dengan jari tangan kiri.
Saya renung-renungi ternyata sedari kecil orang itu susah deket sama saya secara pribadi, harus saya duluan yang mulai kasih sinyal untuk memberitahu dirinya bahwa saya tertarik untuk berteman dengannya. Kalau mereka sendiri cenderung apatis atau mungkin sudah takut duluan liat wajah judes saya.
Tidak hanya orang yang mau kenalan, cowok yang mau pedekate ternyata juga begitu.
Gosh! Saya inget ketika pertamakali berkenalan dengan SCK waktu usia saya masih berusia 6 tahun. Saya yang pertama kali menyapanya dan kemudian menjabat tangannya. Sejak itu kami bersahabat... dalam kategori level tertentu. Seiring bertambahnya usia, pengalaman, dan pendidikan, ternyata pola pikir kita pun mulai berbeda. Kami bersahabat akrab hanya hingga semasa SMA. Lepas SMA, saya merantau kuliah di Jogja, dan SCK tetap di Pontianak.
Tentu pengalaman kami masing-masing membuat pola pikir kami berkembang dan berbeda.
Gosh! Saya inget ketika pertamakali berkenalan dengan SCK waktu usia saya masih berusia 6 tahun. Saya yang pertama kali menyapanya dan kemudian menjabat tangannya. Sejak itu kami bersahabat... dalam kategori level tertentu. Seiring bertambahnya usia, pengalaman, dan pendidikan, ternyata pola pikir kita pun mulai berbeda. Kami bersahabat akrab hanya hingga semasa SMA. Lepas SMA, saya merantau kuliah di Jogja, dan SCK tetap di Pontianak.
Tentu pengalaman kami masing-masing membuat pola pikir kami berkembang dan berbeda.
Sesekali libur semester saya masih pulang ke Pontianak, bertemu dengannya. Kami masih sering bercerita dan bergurau, namun jujur saja lama kelamaan ada yang berbeda. Saya tidak bisa menceritakan secara detail. Contoh kecilnya, ketika dia bercerita tentang kesalnya ia dengan ibunya yang masih menganggapnya masih kecil sehingga pulang jam 9 malam saja sudah ditelponin padahal sudah kuliah, saya tidak bisa memberi komentar apa-apa. Saya jujur aja semasa kuliah jam 3 pagi malah pergi dengan temen-temen nongkrong di angkringan atau malah hunting gudeg.
Dan itu baru 1 kasus. Selebihnya yah begitu. Saya merasa ga nyambung.
We were bestfriends at our young age...
***
We were bestfriends at our young age...
***
Ada beberapa teman yang saya kenal semasa SMA dulu yang masih akrab. VOEM & DP. Kami masih sering bertemu dan kebetulan domisilinya sama tinggal di Pontianak. Untuk kumpul-kumpul, kami tidak masalah. We are bestfriends for hanging out kayaknya.
Tapi kalau TYD, we are bestfriends for hobby and experience. Secara doi suka membaca, dan kebetulan ibu Bhayangka*i Ya organisasi yang kurang lebih lah Bhayangka*i dengan PI*. Hehehe. Jadi bisa sekalian sharing pengalaman. TYD ini juga temen yang kenalnya sejak SMA.
Sebenarnya, ada beberapa sahabat lain yang agak unik pengkategoriannya. Satu orang yang sudah saya kenal sejak zaman TK, SD, SMP sampai SMA, inisialnya PSU. Hubungan kami unik. Pernah deket, lalu berantem heboh, eh... deket lagi namun karena jarak yang memisahkan, kami palingan cuma bertegur sapa via WA atau sosmed yang lain.
Melihat dari rekam jejak dan keberlangsungan hubungan kami, saya mengkategorikannya sebagai we are bestfriend for being just the way we are.
Saya bisa jujur ke dia dan rasanya relieving, dia bisa negur saya dengan caranya sesuka hati namun tulus.
Kami juga sempat sharing beberapa pengalaman yang mungkin agak aneh bagi pendengaran sebagian orang, namun yah itulah kami. Meski sulit bertemu karena beda benua, bukan berarti kehangatan tak terjalin ketika kami bertemu.
Melihat dari rekam jejak dan keberlangsungan hubungan kami, saya mengkategorikannya sebagai we are bestfriend for being just the way we are.
Saya bisa jujur ke dia dan rasanya relieving, dia bisa negur saya dengan caranya sesuka hati namun tulus.
Kami juga sempat sharing beberapa pengalaman yang mungkin agak aneh bagi pendengaran sebagian orang, namun yah itulah kami. Meski sulit bertemu karena beda benua, bukan berarti kehangatan tak terjalin ketika kami bertemu.
Finally, two persons I met di zaman kampus. EKN dan NGI.
EKN sudah sangat sulit untuk kontak lagi. Doi lagi sibuk di negara oz. Meski kami boleh dibilang pernah mengalami suatu situasi yang agak pelik, bagi saya we are still bestfriends for intelectual. Dia smart dan you know an A-type-of-blood-person which makes her so perfectious.
Kami masih sering berkabar, namun untuk membincangkan apa yang saya alami saat ini mungkin baginya adalah sesuatu yang diluar nalarnya.
EKN sudah sangat sulit untuk kontak lagi. Doi lagi sibuk di negara oz. Meski kami boleh dibilang pernah mengalami suatu situasi yang agak pelik, bagi saya we are still bestfriends for intelectual. Dia smart dan you know an A-type-of-blood-person which makes her so perfectious.
Kami masih sering berkabar, namun untuk membincangkan apa yang saya alami saat ini mungkin baginya adalah sesuatu yang diluar nalarnya.
NGI. We are bestfriends for business. Hahaha. Lucu sih. Dia ini tinggal dimana, saya dimana. Tapi intensitas berhubungan kami sangat intens. There is no day passed w/o whatsapp-ing and calling. Yep! Kita membicarakan bisnis. Kebetulan passion kita sama, pengalaman kita kurang lebih sama... dan bintang kita sama: GEMINI. [Apadaaah...]
Last but not least. My own sister. We are bestfriends for... life.
Kalau ngomongin doi ga akan abis. ABS. Jadi ga akan saya ceritain disini panjang lebar. Nanti kita buat forum sendiri buat ngebahas doi.
Kalau ngomongin doi ga akan abis. ABS. Jadi ga akan saya ceritain disini panjang lebar. Nanti kita buat forum sendiri buat ngebahas doi.
Jadi kalau diitung-itung, I only have 8 female bestfriends! Sedikit banget yah?
Saya suka iri sama orang-orang yang bisa bertemannya bergerombol seperti geng dalam film Ada Apa Dengan Cinta. Tapi saya sadar saya enggak terlahir dengan bakat seperti itu.
Saya juga iri bagi mereka yang bisa sahabatan dengan cowok karena saya ga pernah bisa. Semua berawal dan berakhir dengan ketertarikan fisik yang... begitulah.
Saya suka iri sama orang-orang yang bisa bertemannya bergerombol seperti geng dalam film Ada Apa Dengan Cinta. Tapi saya sadar saya enggak terlahir dengan bakat seperti itu.
Saya juga iri bagi mereka yang bisa sahabatan dengan cowok karena saya ga pernah bisa. Semua berawal dan berakhir dengan ketertarikan fisik yang... begitulah.
Tapi saya memang orangnya tidak pernah merasa sedih berlebihan juga sih ya. Jadi, meskipun cuma 8 sahabat yang mana kalau mereka ngumpul pun bakal ga nyambung sama sekali, saya merasa sangat diberkati karena membuat hidup saya jauh lebih hidup.
Untuk para sahabat saya yang pernah dan sering saya kecewakan, saya memang ga pernah luput dari namanya dosa khilaf dan salah... tapi postingan saya ini buat kalian. Kalian punya masing-masing tempat di hati dan ga ada yang bisa ngegeser itu sampai kapanpun. Terimakasih buat kebaikan, buat pengalaman luar biasa, buat teguran, buat sharing hobi bersama, bercanda yang menjurus ke menghina tapi tetep tulus. I wish you all the best...
Salam satu jiwa... (lhoo kok jadi aremania?!)
Comments
Post a Comment