Skip to main content

Respect Is Earned, Not Given

Seharian ini saya nyari bacaan bermutu, Coco Chanel: An Intimate Life by Lisa Chaney belum rampung juga saya baca. Memang mood tidak bisa saya paksakan. *sigh*
Yasudahlah, lalu saya buka aplikasi pinterest. Saya baca-baca sekilas dan... something instantly popped up: pengin cari quotes tentang respect. Dan voila... ada ribuan quotes tentang respect/respek yang akan jadi bahan tulisan saya saat ini.
Namun 4 quotes dibawah ini menarik untuk saya bahas. Yuk mari.


  1.  Treat people you want to be treated. Talk to people you want to be talked to. Respect is earned not given. Hussein NishahMembaca kalimat diatas membuat saya mengangguk-angguk cukup lama setelah merenungi kejadian kemarin.Kemarin saya disemprot, diteriaki, diomongin yang menurut saya kok jadi out of the topic? Ya, saya dikuliahi didepan umum tentang ketidak respek-an saya sebagai junior di mata senior saya yang sangat spesial itu.Saya tidak marah. Kesal pun tidak. Hanya lucu. Mengapa harus marah-marah dan beremosi ketika semua bisa dibicarakan baik-baik? Namun, barangkali beliau sudah terlanjur geram, meradang, dan memiliki dendam personal terhadap saya sehingga kemarin itu meledak membuat mbak-mbak senior yang lain terhenyak.Saya tidak akan mengklarifikasi duduk persoalannya seperti apa. Soalnya saya males. Hukum yang berlaku disini dalam hubungan antar junior dan senior yaa... junior sudah pasti salah. Jadi, enggak akan saya bahas rinciannya, kronologis dan akar permasalahannya apa. Yang pasti, kami kurang duduk bersama sambil ngopi-ngopi saja makanya kesalahpahaman terjadi. Tapi yah sudahlah. Life must go on, rite?Back to the topic. Back to "respect". Dalam kehidupan militer, saya ini termasuk dalam kategori manusia yang suam-suam kuku alias setengah-setengah. Sebenarnya tidak jelas, saya ini sipil atau militer. Karena namanya saja sipil, tapi kehidupan saya disini nyaris seperti militer minus tindakan fisik, cuma tindakan batin dan mental saja.Disini kami diwajibkan untuk menghormati dan menghargai khususnya senior kami atau yang lebih duluan daripada kami.Menghormati adalah sesuatu yang baik dalam beretika, bersikap dan menunjukkan bahwa kita ini berbudaya. Namun, kalau gila hormat juga menurut saya menunjukkan kita ini jumawa, masih hidup dalam zaman feodal dan bermentalkan penjajah.Saya heran saja kalau masih ada orang yang suka membahasakan begini: zaman dulu itu sadis-sadis begini begini... zaman sekarang itu udah enak dan malah ga tau aturan bla...bla...Rasanya pengin saya balas ngomong: zaman dulu pengetahuan orang tentang HAM itu terbatas, sekarang pengetahuan orang meluas. Orang sudah tahu apa hak nya. Dulu zaman saya SD saja saya masih nerima dipukul pake penggaris kayu atau rotan, bahkan ditampar. Dan ketika mengadu ke orangtua, orangtua bilang salah saya karena enggak ngerjain pe-er atau ganggu temen lain.Sekarang? Kalau anak anda dipukul ditampar sama guru? Yang ada anda akan balas menghajar guru tersebut, bukan?Artinya apa?! Dunia berubah. Terjadi pergeseran nilai. Tanpa anda sadari anda pun turut berubah. Namun, anda masih membawa bahasa "zaman dulu begini begitu" untuk kepentingan anda sendiri. Kepentingan apa? Itu silahkan dijawab sendiri.Tentang respek menurut saya yang memang masih harus belajar ini, satu hal yang saya tahu. Saya harus memberikan contoh yang baik. Namun, contoh yang baik itu juga bersifat relatif. Jangan baik di saya, ga baik di orang lain. Atau sebaliknya. Saya harus bisa memainkan peran secara proporsional alias seimbang. Bagi saya, respek itu pun tidak perlu sampai merugikan diri sendiri atau orang lain. Jangan enak di kita, ga enak di orang lain. Dan sebaliknya. Saya ingin misalkan si A ramah terhadap saya, saya pun harus duluan lebih ramah. Saya ingin nanti si B mau menolong membantu saya, saya harus LEBIH dulu mau menolong membantu si B. Hidup bagi saya sesederhana itu. Namun, karena adanya jenjang hirarki, kita lantas mengartikannya salah. Respek adalah suatu keharusan! Namanya adik harus ngertiin kakaknya maunya apa. Titik! Padahal idealnya memahami dan mengerti adalah sebuah proses dan proses tersebut tidak cepat, butuh waktu.
  2. Truly powerful women don't explain why they want respect. They simply don't engage those who don't give it to them. Sherry Argov."Saya tidak mengharapkan respek atau hubungan kesenioritasan, tapi disini saya minta... bla...bla...bla."[Typically saying. Period.]Membaca kalimat diatas saya melihat betapa beliau memandang dan merasa dirinya sangat tinggi. Bagi saya, itu menunjukkan kelemahan. Karena zaman sekarang ini, tanpa anda berkoar-koar, orang yang melihat kinerja anda, akan salut dan menghormati anda dengan sendirinya.
  3.  Knowledge will give you power, but good character will give you respect. (I quoted it somewhere). Pertanyaannya: apakah karakter kita sudah baik?Apakah karakter kita di mata senior baik, sedangkan di mata rekan maupun junior jelek? Saya pun tidak bisa menjawab sudah sebaik apa diri saya. Tapi saya berjanji tidak akan mengandalkan emosi dalam menyelesaikan masalah. Emosi hanya membuat masalah semakin besar. Bukan memberi solusi.
  4. Respect my own self enough to say: "I deserve peace." and walk away from people or things that prevent me from attaining it. Jerico Silvers. Last but not least. Bagaimana mungkin kita bisa respek terhadap orang lain, sementara terhadap diri kita sendiri, kita tidak bisa?
So I choose to respect myself 1st, to give priority to the ones I love & vice versa.
Kita seringkali lupa bahwa diri kita juga membutuhkan respek kita.
Karena respek terhadap orang lain tak berarti kita harus menjatuhkan respek kita terhadap diri kita.

Comments

Popular posts from this blog

It’s Always God: Through Change and Growth

Unstoppable gratitude, these are the two words that define 2025, and probably 2026 and many years ahead. When I look back at early 2025, so many meaningful things happened. The second semester at UNHAN began. My children turned 10 and 8. We celebrated our 11th wedding anniversary, and my husband and I both turned 37. Many beautiful moments filled our days. Besides the ups, we also faced some downs. As a couple, we learned how to reconcile and find our rhythm again. We are constantly learning to manage our shortcomings so that the system we have built—our family—can keep working and growing. The second half of 2025 brought quite drastic changes. My husband moved to a different division at work, and we moved into our panggon , our new home in Halim Perdanakusuma. Our children advanced to years 5 and 3. I was no longer in my second semester at UNHAN, but I was trusted to serve as a Master of Ceremony and moderator for several UNHAN events. I also traveled to Pontianak for a few days with ...

The House That Carried Us Forward

I don’t think I’ve ever written about the government housing provided by the Air Force where we’re currently living. We’ve been here for almost half a year now—since June, to be exact. I still remember the day we left Malang for Jakarta: the kids and I ended up crying together. Strangely enough, that move also happened in December, as if the month itself always carries a bittersweet turning of seasons for our family. But life moves forward, and so must we. Our first home in Jakarta was in Lubang Buaya—a small house, roughly 108 square metres, with three bedrooms and two bathrooms. My mother-in-law had lived there ever since I married her son in 2014. My husband and I bought the house using a mix of our parents’ support. Technically, we still owe my parents the remaining balance. Lol. After living in Jakarta for about two and a half years, we decided to move into what we call the Panggon , or rumah dinas—a service house provided by TNI AU. Since it isn’t a Rumah Jabatan < Official Re...

Pilih(an)

Konon, menulis jurnal adalah bagian dari proses penyembuhan. Saya mengangguk setuju. Menulis jurnal , bukan menumpahkan emosi lewat status WhatsApp sambil berharap semesta ikut marah hanya karena hati kita sedang seret. Ada jurang lebar antara refleksi batin dan pamer luka di ruang publik, meski banyak yang mengacaukannya. Awalnya saya enggan menyinggung hal ini. Namun, hidup sering bercanda—niat saya membahas hal lain langsung terpelintir hanya karena saya menanggapi sebuah status WA. Rupanya respons saya tidak bertaut dengan ekspektasinya. Jadilah ia bereaksi—riuh, garang, seperti hendak menerkam sesuatu yang bahkan bukan ancaman. Saya hanya tersenyum tipis. Mungkin saya memang salah frekuensi. Ternyata, memberi perhatian pun bisa dianggap provokasi oleh orang yang sedang tidak selaras gelombang batinnya. Dan ya, mungkin energi saya sedang terlalu lincah; spontanitas saya memercik, lalu memicu dinamika yang membuat saya menghela napas dan membatin, “Ya ampun… ups .” Saya tak henda...