Skip to main content

Ketika TUHAN Tak Sulit Dipahami.

Pukul dua pulu dua lewat tiga puluh empat.
Sebelum mataku menutup dan besok ide menulis terhambat.
Saya hendak menuliskan sebuah pencerahan berupa hikmat.
Yang tidak dapat dikecap namun terasa nikmat.
Ini sebuah cerita tentang apa yang disebut berkat...


Kawanku sayang, di pikiran kita yang serba terbatas ini berkat selalu cuma tentang materi.
Tentang rezeki.
Tak apa.
Mari mewajarinya karena kita cuma manusia biasa. Hanya mereka yang sudah mencapai makrifat saja yang paham betul bahwa berkat itu punya berbagai bentuk dan versi.
Namun saya takkan membahas tentang kemakrifatan maupun berkat dalam berbagai versi tersebut.
Saya cuma mau menceritakan apa yang saya alami di bulan ini.
Oktober 2016.
Awal bulan ini saya didera kesulitan finansial, sebenarnya tak pula sulit-sulit amat. Cuma banyaknya pengeluaran memaksa saya harus banyak bersanar dan berdoa.
Seperti biasa kami menyisihkan sebahagian [10%] gaji suami untuk Tuhan. Jujur saja, kali ini itu terasa berat. Godaan berkompromi pun datang.
Meski hati kecil saya bilang Tuhan benci berkompromi, saya masih ragu untuk melepaskan sejumlah uang tersebut karena kami sangat membutuhkannya.
Tapi akhirnya saya merelakannya dengan ikhlas karena saya sadari begitu banyak Tuhan campur tangan dalam hidup kami, terutama saya. Bahkan ketika saya tidak mampu mengelola keuangan rumah tangga sehingga pernah kami mengalami defisit besar-besaran, toh Tuhan dengan rencananya-Nya yang ajaib memampukan kami tegak berdiri kembali.
Saya hitung kembali pembagian gaji suami. Sekian untuk bayar listrik, bensin mobil, galon + gas, belanja RT, sembako, dan sebagainya. Lalu cicilan-cicilan lainnya. Huff! Berat rasanya. Akhirnya dengan uang yang tersedia sekian rupiah, saya berlutut berdoa meminta bantuan Sang Khalik.
"TUHAN, mampukan hamba mengelola dana yang sekian ini untuk keperluan rumah tangga kami hingga akhir bulan ini. Amin."
Doa sederhana yang polos keluar dari bibir saya.
Tuhan tak lantas bekerja dengan cara yang bagaimana-bagaimana, IA bekerja dengan caraNya sendiri.
Mendadak orderan mulai ramai.
Usaha kebun orangtua menghasilkan, kami dikirimi sejumlah rezeki.
Bahkan suami kesana kemari mendapat tambahan uang saku.
Puji Tuhan!
Saya mulai merenungi firman-Nya.
Berkat Tuhan lah yang menjadikan kaya, susah payah takkan menambahinya.
Sederhana! Susah payah kita artinya kita mengandalkan diri sendiri, kita tak mau Tuhan terlibat.
Namun, tidak bergerak bekerja juga salah. Tuhan tidak suka kita berpangku tangan.
...oooOOOooo...
Mulai di kepala saya bermunculan aneka firman Tuhan.
Apa yang tanganmu temui untuk dikerjakan, kerjakanlah itu dengan sungguh-sungguh...
Atau
Ketuklah maka akan dibukakan, mintalah maka akan diberikan.
Dan.
Carilah dahulu Kerajaan Allah maka semua akan ditambahkanNya kepadamu
Kemudian.
Lakukanlah semuanya itu bukan untuk manusia, namun untuk Tuhan Allahmu.
FOKUS kita diminta hanya untuk Tuhan. Ditengah begitu padatnya manusia sibuk berorientasi pada diri sendiri, mereka jadi  lupa pada hal-hal sederhana untuk mendapatkan berkat-berkat tersebut.
Fokus kita bukanlah pada hadiah/berkat. Tapi pada pemberi berkat itu sendiri.
Saya terdiam dan lama merenungi.
Tuhan itu tidak sulit dipahami.
Cuma manusia saja yang tak mau mengambil waktu untuk mengerti.
Padahal hatiNya terbuka untuk diselami.
Bahkan, sering IA mengundang untuk kita datangi.
Namun kita terlalu sibuk pada diri sendiri.
Lupa pada permintaan sederhana Sang Illahi: tolong libatkan Tuhan-mu ini...

Comments

Popular posts from this blog

It’s Always God: Through Change and Growth

Unstoppable gratitude, these are the two words that define 2025, and probably 2026 and many years ahead. When I look back at early 2025, so many meaningful things happened. The second semester at UNHAN began. My children turned 10 and 8. We celebrated our 11th wedding anniversary, and my husband and I both turned 37. Many beautiful moments filled our days. Besides the ups, we also faced some downs. As a couple, we learned how to reconcile and find our rhythm again. We are constantly learning to manage our shortcomings so that the system we have built—our family—can keep working and growing. The second half of 2025 brought quite drastic changes. My husband moved to a different division at work, and we moved into our panggon , our new home in Halim Perdanakusuma. Our children advanced to years 5 and 3. I was no longer in my second semester at UNHAN, but I was trusted to serve as a Master of Ceremony and moderator for several UNHAN events. I also traveled to Pontianak for a few days with ...

The House That Carried Us Forward

I don’t think I’ve ever written about the government housing provided by the Air Force where we’re currently living. We’ve been here for almost half a year now—since June, to be exact. I still remember the day we left Malang for Jakarta: the kids and I ended up crying together. Strangely enough, that move also happened in December, as if the month itself always carries a bittersweet turning of seasons for our family. But life moves forward, and so must we. Our first home in Jakarta was in Lubang Buaya—a small house, roughly 108 square metres, with three bedrooms and two bathrooms. My mother-in-law had lived there ever since I married her son in 2014. My husband and I bought the house using a mix of our parents’ support. Technically, we still owe my parents the remaining balance. Lol. After living in Jakarta for about two and a half years, we decided to move into what we call the Panggon , or rumah dinas—a service house provided by TNI AU. Since it isn’t a Rumah Jabatan < Official Re...

Pilih(an)

Konon, menulis jurnal adalah bagian dari proses penyembuhan. Saya mengangguk setuju. Menulis jurnal , bukan menumpahkan emosi lewat status WhatsApp sambil berharap semesta ikut marah hanya karena hati kita sedang seret. Ada jurang lebar antara refleksi batin dan pamer luka di ruang publik, meski banyak yang mengacaukannya. Awalnya saya enggan menyinggung hal ini. Namun, hidup sering bercanda—niat saya membahas hal lain langsung terpelintir hanya karena saya menanggapi sebuah status WA. Rupanya respons saya tidak bertaut dengan ekspektasinya. Jadilah ia bereaksi—riuh, garang, seperti hendak menerkam sesuatu yang bahkan bukan ancaman. Saya hanya tersenyum tipis. Mungkin saya memang salah frekuensi. Ternyata, memberi perhatian pun bisa dianggap provokasi oleh orang yang sedang tidak selaras gelombang batinnya. Dan ya, mungkin energi saya sedang terlalu lincah; spontanitas saya memercik, lalu memicu dinamika yang membuat saya menghela napas dan membatin, “Ya ampun… ups .” Saya tak henda...