Skip to main content

Mental Keroyokan

Berita akhir-akhir ini bikin muak, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Khusus dari dalam negeri, kasus Ahok seperti tiada habis-habisnya. Kelompok grup seberang ingin Ahok ditahan biar ga kabur sehingga tanggal 2 Des nanti demo lanjutan yang diwacanakan akan berjalan baik dan tertib. [Batin saya, ini kelompok kok sak penak udele dewe?! Sudah tukang provokator, menghina simbol dan ideologi negara, eh malah ngancem lagi? Situ ngerasa oke?!]
Lalu, ada kabar jelek lagi hanya gara-gara hutang Rp 75,000; yang dipiutangi kesal lalu menuliskan curhatannya... eh malah doi yang dihajar rame-rame.
Astaga, ini kok jadi terbalik ya? Yang ngutang kok yang ngamuk? Keroyokan lagi?!
Tapi... jangan-jangan memang seperti ini potret kepribadian bangsa kita?
Berani bukan karena benar.
Berani karena BANYAK.

Sehingga yang salah ya jadi benar, karena orang BANYAK bilang gitu.
Yang benar jadi salah, karena orang BANYAK bilang gitu.
Saya bukan tipe orang suka ikut arus. Tapi bukan maksudnya juga ekstrimis yang ga mau dikatain mainstream.
Kalau itu saya rasa baik dan benar, ya ikut. Manut.
Kalau itu enggak benar ya ga ikutlah saya. Ngapain? Kayak enggak punya prinsip saja.
Saya ingat waktu masih zaman SMA, saya masih kelas X (setara kelas 1). Masih imut. Saya waktu itu diprovokatori oleh senior saya untuk tidak suka sama seorang cewek yang juga kakak kelas saya.
"Dia itu sombong. Sok kecakepan. Macam t**..." umpat senior saya kasar.
Saya enggak begitu kenal dengan senior yang dibenci senior saya yang lain itu. Yang saya tahu doi emang cantik, pinter, jago musik, anak gedongan, tapi judes. Saya pernah sekali berkomunikasi dengan doi, menanyakan arah ruangan. Responnya saat itu cuma diam sambil menunjuk dengan dagunya. Memang, sopan sekali kakak senior saya kala itu. Tapi untuk membenci dan mengata-ngatainya? Tidak, terimakasih. Saya masih punya kerjaan lain.
Ketika saya diajak untuk membenci, saya heran. Alasannya:
1) Saya merasa tidak pernah punya masalah dengan kakak senior saya yang dibenci itu.
2) Senior saya ini sedang sakit jiwa sehingga membutuhkan dukungan orang lain untuk turut menyukai maupun tidak menyukai yang ia sukai atau tidak sukai.
Entah sakit jiwa atau dungunya keterlaluan, sehingga saya saat itu lantas frontal karena tidak suka mendengar makiannya di sebuah tempat yang tidak tepat. Selasar gereja, Kawan.
Saya bilang begini,"ini rumah ibadah, kamu malah maki-maki. Kalau ga suka, ya ga suka aja. Jangan ajak-ajak saya membenci." Lalu saya pergi meninggalkannya sendiri. Entah sesudah itu kakak senior saya waktu SMA itu kian membenci atau bagaimana, saya pun tak perduli. Tapi jujur waktu itu saya kehilangan simpati.
Kembali ke judul awal: Mental Keroyokan. Saya suka tertawa geli melihat orang merasa benar sendiri karena banyak yang mendukung. Jujur saja, orang yang kita kenal dan mengenal kita serta mendukung kita itu kebanyakan sifatnya imparsial. Alias berat sebelah. Jelaslah mendukung, wong satu klik.
Yang salut itu adalah, orang tidak kenal kita maupun mengenal kita dengan baik, tanpa kita ceritain macam-macam tetep mendukung kita. Tanpa syarat. Nah itu baru bukan gombal.
Mental keroyokan ini sebab musababnya cuma 1: ga punya keberanian alias takut dibilang ga populer jadinya milih ikut-ikutan saja.
Coba aja si pemimpin kelompok seberang yang disuruh berdiri sendiri tanpa gerombolannya, menghadapi Ahok dengan gagah berani. Saya mau lihat.
Lalu, coba aja si penghutang berani datang dan bilang maaf atau menyatakan ketidaksukaannya karena status hutangnya diumbar di Facebook, saya yakin masalah takkan sepanjang ini.
Tapi inilah kita. Manusia. Demennya keroyokan. Demennya gerombolan. Kalau disuruh sendiri, langsung kayak cacing kepanasan.
Saya bukan manusia yang penyendiri, tapi saya suka berdiri di kaki sendiri. Saya suka bekerjasama, tapi tidak untuk rusuh bersama.
Kalau bisa dikerjakan sendiri saat ini, kenapa harus menunggu besok dengan harapan ada orang lain yang akan menemani.
Tapi jangan juga mau menang sendiri. Ikuti kesepakatan aturan main bersama.
Kalau masih ngeyel, pindah negara. Bikin aturan sendiri. 
Sekali lagi, ini negara yah negara hukum. Kalau mau memperjuangkan sesuatu juga ada aturan mainnya. Biar ga salah kaprah. Jangan dikira keroyokan bisa menjadi solusi. Salah-salah bisa jadi masalah lagi.
Sekian dan terimakasih.

Comments

Popular posts from this blog

It’s Always God: Through Change and Growth

Unstoppable gratitude, these are the two words that define 2025, and probably 2026 and many years ahead. When I look back at early 2025, so many meaningful things happened. The second semester at UNHAN began. My children turned 10 and 8. We celebrated our 11th wedding anniversary, and my husband and I both turned 37. Many beautiful moments filled our days. Besides the ups, we also faced some downs. As a couple, we learned how to reconcile and find our rhythm again. We are constantly learning to manage our shortcomings so that the system we have built—our family—can keep working and growing. The second half of 2025 brought quite drastic changes. My husband moved to a different division at work, and we moved into our panggon , our new home in Halim Perdanakusuma. Our children advanced to years 5 and 3. I was no longer in my second semester at UNHAN, but I was trusted to serve as a Master of Ceremony and moderator for several UNHAN events. I also traveled to Pontianak for a few days with ...

The House That Carried Us Forward

I don’t think I’ve ever written about the government housing provided by the Air Force where we’re currently living. We’ve been here for almost half a year now—since June, to be exact. I still remember the day we left Malang for Jakarta: the kids and I ended up crying together. Strangely enough, that move also happened in December, as if the month itself always carries a bittersweet turning of seasons for our family. But life moves forward, and so must we. Our first home in Jakarta was in Lubang Buaya—a small house, roughly 108 square metres, with three bedrooms and two bathrooms. My mother-in-law had lived there ever since I married her son in 2014. My husband and I bought the house using a mix of our parents’ support. Technically, we still owe my parents the remaining balance. Lol. After living in Jakarta for about two and a half years, we decided to move into what we call the Panggon , or rumah dinas—a service house provided by TNI AU. Since it isn’t a Rumah Jabatan < Official Re...

Pilih(an)

Konon, menulis jurnal adalah bagian dari proses penyembuhan. Saya mengangguk setuju. Menulis jurnal , bukan menumpahkan emosi lewat status WhatsApp sambil berharap semesta ikut marah hanya karena hati kita sedang seret. Ada jurang lebar antara refleksi batin dan pamer luka di ruang publik, meski banyak yang mengacaukannya. Awalnya saya enggan menyinggung hal ini. Namun, hidup sering bercanda—niat saya membahas hal lain langsung terpelintir hanya karena saya menanggapi sebuah status WA. Rupanya respons saya tidak bertaut dengan ekspektasinya. Jadilah ia bereaksi—riuh, garang, seperti hendak menerkam sesuatu yang bahkan bukan ancaman. Saya hanya tersenyum tipis. Mungkin saya memang salah frekuensi. Ternyata, memberi perhatian pun bisa dianggap provokasi oleh orang yang sedang tidak selaras gelombang batinnya. Dan ya, mungkin energi saya sedang terlalu lincah; spontanitas saya memercik, lalu memicu dinamika yang membuat saya menghela napas dan membatin, “Ya ampun… ups .” Saya tak henda...