Skip to main content

Namanya Juga Usaha

Serius. Ga pernah kepikir sama sekali bakal jadi pebisnis. Ceileh... pebisnis!
Iya. Dari dulu saya berpikir hanya jadi pekerja kerah putih: duduk-duduk ga pake keringetan lalu ngasilin duit tetap perbulannya.
Alhasil saya malah jadi ibu RT dengan 1 anak plus 1 janin di kandungan, ngurusin suami, rumah tangga, dan usaha yang saya rintis sejak 2012. [Standing ovation... prok...prok]
Awal 2016 saya mulai memberi atensi khusus terhadap usaha yang saya namai: Kanahaya Gallery. Why Kanahaya? Karena saya tinggal di Malang. Hubungannya? Kanahaya kalau dibalik jadi "Anakayah". Arek Malang terkenal suka membolak-balikkan kata.
Dan... kenapa Anakayah? Simpel dan rada ga nyambung jawabannya, karena Anak Mama sering didenger ketimbang Anak Ayah. [Haha... garing!]
Jawaban lainnya selain terkesan etnik & sound mystical, the idea of giving that name comes from my dearly good friend. She is nice & she inspires me a lot that even an evil one can change to be a saint. [Hahaha...]
Oke. Balik ke topik awal. Saya akhirnya mulai menggeluti kembali galeri kecil-kecilan saya ini. Usaha yang saya dan Mama inisiasi bersama sejak tahun 2012 sempat mandeg dan kemudian kembali saya gerakkan lagi. 4 tahun vakum bukan berarti tidak jalan sama sekali. Tetap jalan, namun dengan cara yang marketing yang masih manual: omongan dari mulut ke mulut, pembeli datang ke rumah, dan masih sebatas rekanan kerja atau relasi Mama dan saya.
Puji Tuhan memang, meski masih sebatas itu namun kami berkesempatan dipertemukan kepada pengusaha di Pulo Gadung, Jakarta Timur yang kemudian memborong batik kalbar sehingga kami mendapat profit yang bisa dijadikan DP uang beli rumah kecil-kecialan lah di Lubang Buaya, Jakarta Timur. Sembari habis itu kami yang sudah suami istri ini kemudian mencicil sedikit demi sedikit ke orangtua untuk pelunasannya. Harap dimaklumi lah ya. Hehe.
Oke, 2016 ini bener-bener saya tancap gas dalam menggerakkan galeri saya ini. Saya udah ga bisa ngandalin semuanya ke Mama lagi, selain usia Mama juga udah ga muda lagi, fokus Mama sudah ke usaha yang lain. Memang Mama masih membantu dari segi pemasaran dan masih sering koordinasi khususnya untuk manajemen distribusi Batik khas Kalbar kami. Intinya, saya enggak bisa lah terus-terusan ke Mama. Sudah waktunya saya berdikari: berdiri di kaki sendiri.
Saya mulai menggerakkan galeri secara online dan barang-barang saya bikin bervariasi dari seluruh nusantara: tas kulit etnik, songket, mutiara, sepatu, kain batik/tenun, dll.


Januari 2016, profit nett saya dapat 1,000,000.
Pebruari 2016, naik jadi 1,365,000.
Maret 2016: 1,210,000.
April 2016: 1,810,000.
Mei 2016: 5,599,250.
Juni 2016: 1,516,250.
Juli 2016: 2,127,750.
Puji Tuhan banget! Hanya dengan menggerakkan usaha online dari rumah sambil menjagai Ello dan mengurus RT, saya bisa mendapatkan uang. Memang pemakaian kuota internet dan pulsa juga meningkat, tapi daripada saya habiskan cuma sekedar surfing ga jelas sana sini dan buka youtube, kan lebih sayang lagi. Kalau sambil running bisnis kan bisa sekalian. Hehehe.
Memang namanya usaha ga terus-terusan saya dapat untung banyak, tapi yang pasti ada dan bisa buat beli bedak dan beli-beli yang lain yang enggak ngeganggu gaji suami.
Tapi dari semuanya... saya harus makasi banget ama suami saya tercinta mmuach...mmuach. Suami saya belikan saya handphone Asus zenfone 2 ini secara nyicil selama 10 bulan dengan cicilan perbulan 397,200 karena dilihatnya hape saya rusak. Membeli secara kontan, gaji suami ga mampu. Memang ada yang lebih murah, tapi waktu itu mata saya naksir yang itu. Suami tau. Jadilah kami nyicil...
Cuma saat itu saya berjanji. Saya cuma akan membeli sesuatu yang berguna dan menghasilkan!
Untuk hal-hal yang ga berguna dan ga menghasilkan, saya berusaha tahan diri!
Kanahaya Gallery uda jadi anak saya sendiri yang saya berusaha ketimbang dan tumbuhkan.
Jadi... apapun pekerjaan anda, sekaya apapun anda... please...please... milikilah usaha yang memang anda sukai. Jangan yang anda ga sukai dan ga ketahui, malah anda lakukan karena berdasarkan pada omongan orang. Percayalah, usaha macam itu memang hidup tapi cepet juga redup.
Oke deh, salam super selalu!

Comments

Popular posts from this blog

It’s Always God: Through Change and Growth

Unstoppable gratitude, these are the two words that define 2025, and probably 2026 and many years ahead. When I look back at early 2025, so many meaningful things happened. The second semester at UNHAN began. My children turned 10 and 8. We celebrated our 11th wedding anniversary, and my husband and I both turned 37. Many beautiful moments filled our days. Besides the ups, we also faced some downs. As a couple, we learned how to reconcile and find our rhythm again. We are constantly learning to manage our shortcomings so that the system we have built—our family—can keep working and growing. The second half of 2025 brought quite drastic changes. My husband moved to a different division at work, and we moved into our panggon , our new home in Halim Perdanakusuma. Our children advanced to years 5 and 3. I was no longer in my second semester at UNHAN, but I was trusted to serve as a Master of Ceremony and moderator for several UNHAN events. I also traveled to Pontianak for a few days with ...

The House That Carried Us Forward

I don’t think I’ve ever written about the government housing provided by the Air Force where we’re currently living. We’ve been here for almost half a year now—since June, to be exact. I still remember the day we left Malang for Jakarta: the kids and I ended up crying together. Strangely enough, that move also happened in December, as if the month itself always carries a bittersweet turning of seasons for our family. But life moves forward, and so must we. Our first home in Jakarta was in Lubang Buaya—a small house, roughly 108 square metres, with three bedrooms and two bathrooms. My mother-in-law had lived there ever since I married her son in 2014. My husband and I bought the house using a mix of our parents’ support. Technically, we still owe my parents the remaining balance. Lol. After living in Jakarta for about two and a half years, we decided to move into what we call the Panggon , or rumah dinas—a service house provided by TNI AU. Since it isn’t a Rumah Jabatan < Official Re...

Pilih(an)

Konon, menulis jurnal adalah bagian dari proses penyembuhan. Saya mengangguk setuju. Menulis jurnal , bukan menumpahkan emosi lewat status WhatsApp sambil berharap semesta ikut marah hanya karena hati kita sedang seret. Ada jurang lebar antara refleksi batin dan pamer luka di ruang publik, meski banyak yang mengacaukannya. Awalnya saya enggan menyinggung hal ini. Namun, hidup sering bercanda—niat saya membahas hal lain langsung terpelintir hanya karena saya menanggapi sebuah status WA. Rupanya respons saya tidak bertaut dengan ekspektasinya. Jadilah ia bereaksi—riuh, garang, seperti hendak menerkam sesuatu yang bahkan bukan ancaman. Saya hanya tersenyum tipis. Mungkin saya memang salah frekuensi. Ternyata, memberi perhatian pun bisa dianggap provokasi oleh orang yang sedang tidak selaras gelombang batinnya. Dan ya, mungkin energi saya sedang terlalu lincah; spontanitas saya memercik, lalu memicu dinamika yang membuat saya menghela napas dan membatin, “Ya ampun… ups .” Saya tak henda...