Skip to main content

Harus Punya Mobile Banking Biar Tidak Merepotkan!

Adik saya ngomel-ngomel jika saya minta tolong mendahulukan transfer sekian rupiah ke manapun, ke siapapun, dan kapanpun. Bukan karena saya enggak bayar nantinya, tapi persoalannya adalah saya ini MEREPOTKAN!!!

Sesekali dimintai tolong, okelah. Lha ini kok ngelunjak, minta tolong kok terus-terusan?
Alhasil, saya dicereweti duo adik (bukan 1 lagi, melainkan duaa) di line grup kami: Cakep-cakep Simamora.

Hehehe.

Saya diomongi gimana mau berhasil usahanya, transaksi aja nebeng?! Bikin mobile banking kek, internet banking kek, sms banking kek... kakek-kakek kek.
Jadilah akhirnya saya buat 2 mobile banking app di hape murahan saya.
Saya punya 4 akun Bank: Mandiri, BRI, BCA, dan Niaga. Baru 2 yang saya buat, yakni BRI dan Mandiri.

Eitts, bukan karena saya kaya raya ya punya 4 akun Bank, tapi semata-mata karena tuntutan usaha. Mau enggak mau memang harus punya banyak.

Akhirnya...jadilah saya memiliki 2 aplikasi mobile banking di hape saya. Ternyata oh ternyata... UENAAAK tenan! Guampaaang rek...
Saya enggak perlu naik motor ke ATM terdekat atau ujan-ujanan hanya untuk proses transaksi, de es be. Tinggal tetot-tetot, masukkin password dan user ID, transfer dan screen shot bukti transfer... selesai!

Ya, ya...
Where on earth have I been?
Kepada adik-adikku yang guanteng dan cantik yang senantiasa mendukung dan mendorongku menjadi lebih aktif, oye, dan cerdas dalam segala hal... terima kasih banyak!

Tons of hugs and kisses from me!

Comments

Popular posts from this blog

It’s Always God: Through Change and Growth

Unstoppable gratitude, these are the two words that define 2025, and probably 2026 and many years ahead. When I look back at early 2025, so many meaningful things happened. The second semester at UNHAN began. My children turned 10 and 8. We celebrated our 11th wedding anniversary, and my husband and I both turned 37. Many beautiful moments filled our days. Besides the ups, we also faced some downs. As a couple, we learned how to reconcile and find our rhythm again. We are constantly learning to manage our shortcomings so that the system we have built—our family—can keep working and growing. The second half of 2025 brought quite drastic changes. My husband moved to a different division at work, and we moved into our panggon , our new home in Halim Perdanakusuma. Our children advanced to years 5 and 3. I was no longer in my second semester at UNHAN, but I was trusted to serve as a Master of Ceremony and moderator for several UNHAN events. I also traveled to Pontianak for a few days with ...

The House That Carried Us Forward

I don’t think I’ve ever written about the government housing provided by the Air Force where we’re currently living. We’ve been here for almost half a year now—since June, to be exact. I still remember the day we left Malang for Jakarta: the kids and I ended up crying together. Strangely enough, that move also happened in December, as if the month itself always carries a bittersweet turning of seasons for our family. But life moves forward, and so must we. Our first home in Jakarta was in Lubang Buaya—a small house, roughly 108 square metres, with three bedrooms and two bathrooms. My mother-in-law had lived there ever since I married her son in 2014. My husband and I bought the house using a mix of our parents’ support. Technically, we still owe my parents the remaining balance. Lol. After living in Jakarta for about two and a half years, we decided to move into what we call the Panggon , or rumah dinas—a service house provided by TNI AU. Since it isn’t a Rumah Jabatan < Official Re...

Pilih(an)

Konon, menulis jurnal adalah bagian dari proses penyembuhan. Saya mengangguk setuju. Menulis jurnal , bukan menumpahkan emosi lewat status WhatsApp sambil berharap semesta ikut marah hanya karena hati kita sedang seret. Ada jurang lebar antara refleksi batin dan pamer luka di ruang publik, meski banyak yang mengacaukannya. Awalnya saya enggan menyinggung hal ini. Namun, hidup sering bercanda—niat saya membahas hal lain langsung terpelintir hanya karena saya menanggapi sebuah status WA. Rupanya respons saya tidak bertaut dengan ekspektasinya. Jadilah ia bereaksi—riuh, garang, seperti hendak menerkam sesuatu yang bahkan bukan ancaman. Saya hanya tersenyum tipis. Mungkin saya memang salah frekuensi. Ternyata, memberi perhatian pun bisa dianggap provokasi oleh orang yang sedang tidak selaras gelombang batinnya. Dan ya, mungkin energi saya sedang terlalu lincah; spontanitas saya memercik, lalu memicu dinamika yang membuat saya menghela napas dan membatin, “Ya ampun… ups .” Saya tak henda...