Skip to main content

Bhinneka [yang tidak] Tunggal Ika

Saya lahir di Medan, kemudian karena pekerjaan Ayah, kami sekeluarga pindah ke Pontianak. Pontianak sebuah kota kecil saat itu dan masih rimbun dengan hutan seingat saya.
Semasa saya kecil, orangtua -seingat saya tidak pernah memisahkan saya dengan lingkungan pertemanan Saya. Tidak pernah orangtua saya melarang berteman dengan A yang muslim, B yang Cina, atau silahkan berteman dengan yang Kristen saja.
Saya cuma ingat ketika Ayah sedang menonton acara tv lalu pada saat adzan maghrib berkumandang, Ayah minta volume tv dikecilkan atau channelnya saja diganti.
Seingat saya juga dulu banget ketika logat saya berubah karena sekolah yang mayoritas muridnya Tionghoa, Ayah memarahi saya. Ayah mau saya tetap menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Ketika saya sekolah di SMA Negeri, Ayah masih memarahi saya ketika ditemuinya saya berlogat melayu. Buat Ayah, menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar itu harga mati. Maka wajar saja jika kami anak-anaknya tidak ada yang fasih berbahasa Batak karena tidak pernah dibiasakan. Untuk sekedar mendengar, kami mengerti. Untuk menggunakannya, kami masih meraba-raba.


Saya mulai tahu adanya perbedaan non fisik etika saya duduk di bangku TK. Karena saya bersekolah di sekolah Katholik, tentu tata tertib nya pun bercirikan Katholik. Mulai dari doa-doanya, perayaan tata ibadah, dan sebagainya. Saya bertanya ke orangtua kenapa berbeda, namun karena orangtua malas menjelaskan orangtua hanya bilang: Dari dulu emang sudah beda... 
Seiring berjalannya waktu, menduduki bangku SD saya mulai merasa terkotak-kotakkan ketika temen-temen yang beragama Katholik mengikuti acara di kapel atau gereja dekat sekolah. Kami yang bukan Katholik harus menunggu di sekolah, atau dipulangkan lebih awal.
Itu baru SD. Naik ke SMP, saya pindah sekolah. Tidak lagi bersekolah di Yayasan Bruder Nusa Indah. Saya pindah ke Yayasan Katholik lain yang sarat dengan semangat kompetitifnya dan... mayoritas adalah Tionghoa. Jika di TK dan SD lama saya, persentase antara Tionghoa dan Non bisa 50:50, disini persentasenya 90:10. Saya ingat duduk di kelas 1 SMP, hanya 3 orang saja kami yang bukan Tionghoa, lainnya Tionghoa.
Tapi baik masa TK, SD dan SMP saya tidak pernah merasakan adanya perbedaan yang gimana-gimana. Maksudnya, teman-teman tidak pernah ada yang berkomentar: "Yoan bukan Katholik/Cina, jadi jangan dimasukin ke kelompok kita", atau "Jangan temenan ama Yoan karena dia bukan kayak kita."
Jika ada alasan kenapa saya enggak nyaman di sekolah tersebut karena sarat dengan competitiveness-nya di bidang prestasi serta harga jajanan di kantinnya mahal-mahal. Hehehe.
Selain itu saya merasa nyaman bersekolah disana dan ada rasa bangga tersendiri bisa bersekolah di sekolah favorit, meski ranking saya selalu berada di ranking terbuntut.
Baiklah... selepas SMP, saya memilih bersekolah di Sekolah Negeri. SMA Negeri 1. Awalnya saya memilih bersekolah di sekolah negeri berdasarkan rekomendasi dan nasehat orangtua. Kata Mama, akan lebih gampang untuk dapat PMDK jika bersekolah di negeri ketimbang swasta. Dan kebetulan sahabat saya dari sejak SD juga bersekolah di SMA 1.
Puji Tuhan, saya berhasil masuk ke sekolah tersebut. Namun, disinilah perjuangan saya beradaptasi terhadap pekatnya perbedaan non fisik yang terjadi di SMA Saya ini dulu. Semoga sekarang sudah jauh lebih baik dan nasionalis ketimbang zaman saya dulu.
Jika dulu persentase tionghoa dan non di SMP Saya 90:10, disini 10:90. Perbedaannya adalah yang non tionghoa agak rese. Kalau ada teman-teman kami yang tionghoa pasti selalu dibercandain, sebenarnya tidak diejek dengan kata-kata kasar namun seringkali disebut-sebut: Cina, Amoy , sipit, dsb dengan nada yang mengejek.
Mereka yang diejek tidak pernah membalas, cuma senyum-senyum kecut. Saya tahu persis perasaan mereka karena mereka pernah cerita ketidaksukaannya dibeda-bedakan seakan mereka warga negara kelas dua di negara ini.
Beberapa teman-teman yang tionghoa banyak juga yang berteman baik dengan saya, karena saya memang tidak pernah membahas perbedaan fisik maupun non fisiknya.
Saya juga pernah dibercandain yang menurut saya "kurang pantas" seperti: "Eh pemakan babi...", "kalau di agama kami kalian tu kafir.", dsb. Saya hanya berpikir dan bertanya dalam hati: apa yang sudah orangtua dan guru agama mereka ajarkan sampai lidah mereka bisa dengan selo-nya ngomong seperti itu?
Tapi seperti teman-teman saya yang tionghoa tadi, reaksi saya cuma tersenyum saja, hanya saja saya tidak mendongkol.
Bagi saya, untuk "mengalahkan" orang-orang berpikiran sempit dan bermentalkan suka menjatuhkan orang hanyalah dengan prestasi.
Membalas orang-orang tersebut dengan kata-kata membuat capek saja.
Ketika kuliah, saya mendapati aneka banyak kawan yang lebih beragam lagi. Dari kota megapolitan sampai pelosok desa. Dari yang ngomong lu-gua sampai yang ngomong medhok jawa kromo inggil juga ada. Dari yang batak kampung banget gayanya sampai yang modis abis.
Keberagaman tadinya saya pikir bisa membuat saya bernapas lega, tapi ternyata tidak. Disinilah justru saya merasa kian terhimpit oleh pengkotak-kotakan. Saya melihat ada kelompok teman-teman muslim yang memiliki himpunannya sendiri dan dengan frontalnya mengemukakan pendapatnya ketika melakukan dakwah di hari Jumat. Mereka tak segan-segannya mengomentari keyakinan orang lain di depan umum. Namun, perasaan tidak nyaman itu segera tertolong karena ada juga kelompok-kelompok lain tandingan yang meski beragama sama namun pemahamannya lebih sekuler dan tidak segan-segan mengomentari secara pedas kaum yang mereka kategorikan fanatik.
Jujur saja, dunia kampus menjadi arena berbahaya bagi saya. Dunia kampus sarat dengan pencarian jati diri. Kalau tidak sedari kecil diberi pemahaman yang baik dan fundamental, jangan salahkan jika di dunia kampus nanti kita mudah keikut arus, khususnya terhadap pemahaman yang jauh dari bhinneka tunggal ika alias pemahaman yang sifatnya destruktif dan memecah-belah.
Saya berhasil keluar dari dunia kampus dengan tetap menjadi apa adanya Saya, meski di kepala saya menumpuk aneka konsep baru, seperti sosialis-komunis itu tidak sepenuhnya jelek, kapitalisme itu meningkatkan daya saing, agama Kristen adalah keyakinan paling tidak masuk akal di dunia namun dengan suatu konsep yang sangat menyenangkan, dsb. Namun, kembali lagi... sedari kecil saya diajarkan tentang keberagaman. Keluarga saya pun sudah banyak yang kawin campur antar agama maupun antar suku: Melayu, Tionghoa, Dayak, dsb.
Bahkan ketika Tante saya memilih masuk Islam, reaksi orangtua saya adalah: "terserah mau agama apa, yang penting asal benar sajalah hidupnya."
Ketika saya sudah menikah dan bergabung menjadi istri prajurit, saya PIKIR tadinya keberagaman adalah sesuatu hal yang biasa, wong namanya Tentara Rakyat Indonesia. Namun, ada sesuatu yang lain yang saya rasakan bahwa tanpa dikatakan ternyata hal-hal yang menjurus terhadap "pemaksaan halus" terjadi. Dan ini jelas mengancam persatuan dan kesatuan kita.
Saya tidak bisa menggambarkannya dengan gamblang, namun saya menangkap sinyal-sinyal tersebut.
1. Ketika saya menghadap ke Bintal [pembinaan mental], pertanyaan-pertanyaan yang diajukan menyinggung tentang bagaimana pendapat saya jika agama tertentu menjadi pondasi peraturan tertentu, dll.
2. Saya melihat foto wajah ibu yang pernah menjaga sebagai Ketua Ranting maupun Ketua Cabang kami. Mulai tahun 94 kebawah, semua mengenakan jilbab. Tidak ada yang tidak menggunakan jilbab, sebelumnya tidak ada yang menggunakan aksesoris yang menyimbolkan agama tertentu. Memang peraturan telah dibuat, namun jujur saja saya tidak nyaman. Bagi saya yang bukan muslim, saya akhirnya memiliki persepsi bahwa, yang menjabat jabatan tertentu akan selalu yang mengenakan jilbab.
3. Dalam hal giat organisasi, pernah suatu kali saya menemukan kegiatan yang bersifat wajib dimana mengharuskan non muslim harus hadir di giat pengajian.
Saya berpikir, buat apa saya disana. Mengaji saja saya tidak dapat. Tetapi peraturan tersebut mulai surut, dibawah kepemimpinan Ibu Ketua tertentu.
4. Teman saya ada yang secara gamblang mengekspresikan tidak mau menyalam yang bukan muhrimnya.
Saya KAGET. Bukan apa, kalau suaminya menjabat posisi tertentu, dimana dia pun akan mengikuti posisi jabatan suaminya, apakah mungkin menghindari menjabat tangan para pria yang bukan muhrimnya di forum umum?
5. Ketika para WARA akhirnya diberi seragam bagi yang mengenakan jilbab, saya agak kecewa. Ekspektasi saya, TNI akan lepas dari simbol-simbol tertentu. Kecewa saya sama dengan ketika polisi  wanita menerima privilege untuk mengenakan seragam dengan jilbab.
Terlepas dari keamanan dan kenyamanan, bukankah sesuatu yang menjadi identitas nasional harus lepas dari atribut agama tertentu?
6. Seloroh dari Ibu Anggota yang membuat saya mengelus dada. Saya menunjukkan foto blazer etnik kepada salah satu Ibu anggota yang punya usaha menjahit. Saya minta dibuatin blazer etnik asmirandah. Begitu mendengar kata Asmirandah, beliau berseloroh: "Masih hidup orang itu?"
Awalnya saya enggak paham, namun baru saya ketahui asmirandah adalah artis yang awalnya muslim, lalu pindah menjadi kristen karena menikahi pria kristen.
Saya speechless.
Kita bisa menjadi sebegitu bencinya hanya karena seseorang berbeda keyakinan, dan menolerir orang yg melakukan kejahatan sebenarnya.
Itu baru beberapa contoh yang saya temui... dan jujur saja saya pun mulai mencoba untuk menunjukkan apa yang saya yakini. Persoalannya adalah ketika kita saling menunjukkan apa yang kita yakini, bukankah itu akan mengarahkan kita pada yang namanya gesekan?
Kita ini sudah beragam, perbedaan menjadi cara yang mudah memecah-belah kita.
Itu baru ruang lingkup terkecil. Untuk lingkup lebih besar, negara kita ini tengah menghadapi masalah tentang SARA yang begitu hebat.
Kita merdeka dari penjajah sudah 71 tahun lamanya, tapi merdeka dari penjajahan negeri sendiri kita masih jauh dari merdeka.
Saya boleh sedih kan ya?
Melihat potret bangsa saya sekarang ini dimana kita sibuk dengan isu SARA, sibuk menonjolkan betapa keyakinan kita lebih berarti daripada persatuan dan kesatuan, sementara terhadap hal-hal yang lebih besar dan lebih penting lagi kita abai.

Comments

Popular posts from this blog

It’s Always God: Through Change and Growth

Unstoppable gratitude, these are the two words that define 2025, and probably 2026 and many years ahead. When I look back at early 2025, so many meaningful things happened. The second semester at UNHAN began. My children turned 10 and 8. We celebrated our 11th wedding anniversary, and my husband and I both turned 37. Many beautiful moments filled our days. Besides the ups, we also faced some downs. As a couple, we learned how to reconcile and find our rhythm again. We are constantly learning to manage our shortcomings so that the system we have built—our family—can keep working and growing. The second half of 2025 brought quite drastic changes. My husband moved to a different division at work, and we moved into our panggon , our new home in Halim Perdanakusuma. Our children advanced to years 5 and 3. I was no longer in my second semester at UNHAN, but I was trusted to serve as a Master of Ceremony and moderator for several UNHAN events. I also traveled to Pontianak for a few days with ...

The House That Carried Us Forward

I don’t think I’ve ever written about the government housing provided by the Air Force where we’re currently living. We’ve been here for almost half a year now—since June, to be exact. I still remember the day we left Malang for Jakarta: the kids and I ended up crying together. Strangely enough, that move also happened in December, as if the month itself always carries a bittersweet turning of seasons for our family. But life moves forward, and so must we. Our first home in Jakarta was in Lubang Buaya—a small house, roughly 108 square metres, with three bedrooms and two bathrooms. My mother-in-law had lived there ever since I married her son in 2014. My husband and I bought the house using a mix of our parents’ support. Technically, we still owe my parents the remaining balance. Lol. After living in Jakarta for about two and a half years, we decided to move into what we call the Panggon , or rumah dinas—a service house provided by TNI AU. Since it isn’t a Rumah Jabatan < Official Re...

Pilih(an)

Konon, menulis jurnal adalah bagian dari proses penyembuhan. Saya mengangguk setuju. Menulis jurnal , bukan menumpahkan emosi lewat status WhatsApp sambil berharap semesta ikut marah hanya karena hati kita sedang seret. Ada jurang lebar antara refleksi batin dan pamer luka di ruang publik, meski banyak yang mengacaukannya. Awalnya saya enggan menyinggung hal ini. Namun, hidup sering bercanda—niat saya membahas hal lain langsung terpelintir hanya karena saya menanggapi sebuah status WA. Rupanya respons saya tidak bertaut dengan ekspektasinya. Jadilah ia bereaksi—riuh, garang, seperti hendak menerkam sesuatu yang bahkan bukan ancaman. Saya hanya tersenyum tipis. Mungkin saya memang salah frekuensi. Ternyata, memberi perhatian pun bisa dianggap provokasi oleh orang yang sedang tidak selaras gelombang batinnya. Dan ya, mungkin energi saya sedang terlalu lincah; spontanitas saya memercik, lalu memicu dinamika yang membuat saya menghela napas dan membatin, “Ya ampun… ups .” Saya tak henda...