Saya dimintai tolong untuk menjadi MC di kegiatan ibadah Natal sekitar 2 minggu yang lalu. Saya tidak langsung mengiyakan, cuma tertawa saja.
Saya? MC? Di ibadah Natal lagi?! Gila aja!
Respon saya begitu karena saya menyadari bahwa hidup saya masih jauh-jauhnya dari relijius. Kalau boleh dibilang, saya masih sekuler abis lah.
Respon saya begitu karena saya menyadari bahwa hidup saya masih jauh-jauhnya dari relijius. Kalau boleh dibilang, saya masih sekuler abis lah.
Rupa-rupanya Ibu Pendeta tersebut membujuk saya begitu rupa dengan embel-embel berkat Tuhan yang melimpah dalam hidup karena melayani. Saya hanya tergelak.
Bagi saya bukan masalah berkat Tuhan, tapi saya tidak cukup pede berbicara di depan orang ditambah lagi ini membawakan acara Natal.
Namun, entah kenapa suami saya tidak menunjukkan respon apa-apa, seakan menyodorkan sambil berkata: "Ini, Bu. Pake aja istri saya."
Bagi saya bukan masalah berkat Tuhan, tapi saya tidak cukup pede berbicara di depan orang ditambah lagi ini membawakan acara Natal.
Namun, entah kenapa suami saya tidak menunjukkan respon apa-apa, seakan menyodorkan sambil berkata: "Ini, Bu. Pake aja istri saya."
Saya pun akhirnya mengiyakan dengan berat hati. Hati saya langsung berat mengingat dosa-dosa dan kekurangan saya yang segudang itu.
Singkat kata, saya latihan. Latihan MC tidak mengambil banyak waktu, hanya beberapa kali saja. Setiap kali saya memandang kertas daftar lagu-lagu yang akan dibawakan, saya langsung mules.
Tapi saya mantapkan bahwa ini untuk Tuhan dan juga sebagai medan latihan bagi saya. Ya, siapa tahu nanti bisa jadi MC kondang beneran. (Bercanda, bercanda!)
Tibalah hari H. Saya hanya bilang ke Tuhan untuk pakai saya menurut kehendak Tuhan saja. Saya ga pandai membawa acara, inilah saya apa adanya Tuhan. Mampukan saya untuk bisa berdiri lama dan mampukan saya untuk ngurusin Ello juga karena kebetulan suami lagi terbang, dan rewang di rumah juga tidak datang. Nah, kebayang repotnya dengan perut hamil besar sembari mengasuh Ello dan berberes-beres mau kegiatan.
Saya menjadi MC dengan apa adanya saya. Dengan membawa catatan-catatan kecil yang menumpuk, dan daftar lagu-lagu yang mati-matian saya hapal.
Oh ya, saya belum bilang ya kalau saya ini berasal dari gereja konservatif yang hanya kenal Kidung Jemaat, itupun tidak semua lagunya saya ngeh.
Maka, ketika dihadapkan dengan lagu-lagu baru, saya pusing tujuh keliling. Meski enak dan asyik kedengarannya tapi tetap saja berbeda ketika kita yang memimpin dan membawakannya.
Boleh dikatakan meski tidak sempurna penampilan saya, tapi saya bisa membawakannya mulai dari awal hingga akhir acara.
Ajaibnya, saya tidak gemetaran. Barangkali ketika saya sudah pasrah dan terserahlah mau apapun terjadi, rasa mules dan gemetaran telah hilang.
Lalu, apa komentar-komentar yang berdatangan?
Ada yang bilang saya protokuler abis. (Maaf, Pak. Saya sepertinya sudah mulai terbiasa dengan kehidupan militer yang serba protokuler)
Ada yang bilang saya cukup bagus. (Untuk ini bolehlah saya agak tersenyum lebar)
Ada yang bilang pula saya boleh menjadi MC di kesempatan-kesempatan lainnya nanti. (Ini saya tolak mengingat perut saya yang menggendut dan juga posisi suami yang tidak bisa standby di rumah, saya merasa lumayan repot.)
Ada yang bilang saya cukup menyiapkan diri untuk menjadi MC.
Tapi, bagi saya pribadi saya masih jauh dari kata siap. Saya masih jauh dari kata bagus. Saya sadari saya tidak berdaya tanpa catatan, dan tidak berdaya dalam berkata-kata secara spontanitas. Beberapa lagu yang dinyanyikan cuma 2 bait, saya nyanyikan berulangkali entah berapa bait. Lalu, lagu-lagu natal yang biasa saya perdengarkan dan nyanyikan dari Kidung Jemaat malah terasa amat sukar untuk menarik awalnya, sehingga leher saya tercekik karena saking ketinggiannya suara yang saya ambil.
Di tengah kekurangan-kekurangan saya itu, saya telah mendoakannya kepada Tuhan. Saya tahu saya akan mengalami kekurangan dan kelemahan. Saya mendoakannya bukan agar kesalahan saya tidak tampak, bukan agar saya tampil keren dan memukau, tapi dengan adanya kekurangan saya itu, acara boleh berjalan dengan baik dan lancar. Para jemaat dan undangan boleh mendapatkan manfaat dari khotbah pendeta.
Itu saja.
Comments
Post a Comment