Kemarin anting-anting saya letakkan sembarangan. Saking malasnya mengangkat tubuh untuk menaruhnya kembali di kotak perhiasan. Saya letakkan saja di dekat jendela, dekat tempat saya tidur. Saya lupa kalau anak saya akan dengan mudahnya meraihnya, memainkannya, dan mungkin menghilangkannya.
Persis!
Paginya saya bangun, mandi, menyiapkan sarapan Ello, lalu berkemas-kemas. Saya lupa dengan anting-anting saya.
Siangnya saya bermain-main dengan Ello, lalu sesuatu yang menusuk di telapak kaki saya membuat saya berhenti bermain.
Ketika saya mengetahui benda apa yang menusuk tersebut, spontan saya kaget luar biasa.
Anting-anting saya!
Saya mulai panik.
Saya cari di tempat tidur. Tidak ada.
Saya cari setiap lapisan bantal, seprai, selimut. Tidak ada!
Saya mulai keringat dingin. Saya mulai memaki diri sendiri.
Betapa cerobohnya saya.
Saya mulai berdoa, berharap anting-anting saya ditemukan.
Bukan apa, anting pemberian Mama itu sudah lama sekali saya miliki. Apalagi kisah yang melatarbelakangi sampai Mama bisa memiliki anting tersebut sehingga bisa kemudian saya miliki.
Saya mulai mencari dengan lebih detail lagi. Menyerah bukanlah opsi. Saya harus cari sampai dapat.
Sesuatu yang menyilaukan menyembul dari sisi jendela. Anting-anting saya terjepit dengan manisnya di situ.
Syukurlah! Saya mendapatkan sepasang anting-anting mungil saya kembali.
Lama saya termenung. Terdiam dan merenung.
Saya masih berjodoh untuk memilikinya, kalau dipikir-pikir bisa saja saya lupa total. Dan barang tersebut ya... dan hilang.
Saya kini jauh lebih hati-hati dan lebih menyayangi lagi. Saya kini tahu rasanya bagaimana jika barang berharga yang nyaris hilang lalu kembali lagi. Saya kini jauh lebih perduli.
Lalu, kejadian kecil tersebut saya refleksikan dalam kehidupan saya. Untuk hal-hal yang pernah terjadi, yang pernah pergi, semuanya... ternyata adalah peristiwa-peristiwa yang membuktikan seberapa besar kegigihan usaha saya di dalamnya.
Saya bisa sejauh ini... pun karena saya gigih mau bertahan. Dan tidak pernah membiarkan kata menyerah menguasai diri saya.
Jodoh, rezeki, dan berkat yang Tuhan kasih itu berserak... saya cuma diminta mau mencari hingga ke pelosok yang tesembunyi...
Comments
Post a Comment