Skip to main content

Karena Jodoh, Rezeki, Ridho Takkan Kemana... Jika Memang Mau Berusaha Mencari.

Kemarin anting-anting saya letakkan sembarangan. Saking malasnya mengangkat tubuh untuk menaruhnya kembali di kotak perhiasan. Saya letakkan saja di dekat jendela, dekat tempat saya tidur. Saya lupa kalau anak saya akan dengan mudahnya meraihnya, memainkannya, dan mungkin menghilangkannya.

Persis!
Paginya saya bangun, mandi, menyiapkan sarapan Ello, lalu berkemas-kemas. Saya lupa dengan anting-anting saya.
Siangnya saya bermain-main dengan Ello, lalu sesuatu yang menusuk di telapak kaki saya membuat saya berhenti bermain.
Ketika saya mengetahui benda apa yang menusuk tersebut, spontan saya kaget luar biasa.

Anting-anting saya!
Saya mulai panik.
Saya cari di tempat tidur. Tidak ada.
Saya cari setiap lapisan bantal, seprai, selimut. Tidak ada!
Saya mulai keringat dingin. Saya mulai memaki diri sendiri.
Betapa cerobohnya saya.
Saya mulai berdoa, berharap anting-anting saya ditemukan.
Bukan apa, anting pemberian Mama itu sudah lama sekali saya miliki. Apalagi kisah yang melatarbelakangi sampai Mama bisa memiliki anting tersebut sehingga bisa kemudian saya miliki.

Saya mulai mencari dengan lebih detail lagi. Menyerah bukanlah opsi. Saya harus cari sampai dapat.

Sesuatu yang menyilaukan menyembul dari sisi jendela. Anting-anting saya terjepit dengan manisnya di situ.
Syukurlah! Saya mendapatkan sepasang anting-anting mungil saya kembali.

Lama saya termenung. Terdiam dan merenung.

Saya masih berjodoh untuk memilikinya, kalau dipikir-pikir bisa saja saya lupa total. Dan barang tersebut ya... dan hilang.

Saya kini jauh lebih hati-hati dan lebih menyayangi lagi. Saya kini tahu rasanya bagaimana jika barang berharga yang nyaris hilang lalu kembali lagi. Saya kini jauh lebih perduli.

Lalu, kejadian kecil tersebut saya refleksikan dalam kehidupan saya. Untuk hal-hal yang pernah terjadi, yang pernah pergi, semuanya... ternyata adalah peristiwa-peristiwa yang membuktikan seberapa besar kegigihan usaha saya di dalamnya.

Saya bisa sejauh ini... pun karena saya gigih mau bertahan. Dan tidak pernah membiarkan kata menyerah menguasai diri saya.
Jodoh, rezeki, dan berkat yang Tuhan kasih itu berserak... saya cuma diminta mau mencari hingga ke pelosok yang tesembunyi...

Comments

Popular posts from this blog

It’s Always God: Through Change and Growth

Unstoppable gratitude, these are the two words that define 2025, and probably 2026 and many years ahead. When I look back at early 2025, so many meaningful things happened. The second semester at UNHAN began. My children turned 10 and 8. We celebrated our 11th wedding anniversary, and my husband and I both turned 37. Many beautiful moments filled our days. Besides the ups, we also faced some downs. As a couple, we learned how to reconcile and find our rhythm again. We are constantly learning to manage our shortcomings so that the system we have built—our family—can keep working and growing. The second half of 2025 brought quite drastic changes. My husband moved to a different division at work, and we moved into our panggon , our new home in Halim Perdanakusuma. Our children advanced to years 5 and 3. I was no longer in my second semester at UNHAN, but I was trusted to serve as a Master of Ceremony and moderator for several UNHAN events. I also traveled to Pontianak for a few days with ...

The House That Carried Us Forward

I don’t think I’ve ever written about the government housing provided by the Air Force where we’re currently living. We’ve been here for almost half a year now—since June, to be exact. I still remember the day we left Malang for Jakarta: the kids and I ended up crying together. Strangely enough, that move also happened in December, as if the month itself always carries a bittersweet turning of seasons for our family. But life moves forward, and so must we. Our first home in Jakarta was in Lubang Buaya—a small house, roughly 108 square metres, with three bedrooms and two bathrooms. My mother-in-law had lived there ever since I married her son in 2014. My husband and I bought the house using a mix of our parents’ support. Technically, we still owe my parents the remaining balance. Lol. After living in Jakarta for about two and a half years, we decided to move into what we call the Panggon , or rumah dinas—a service house provided by TNI AU. Since it isn’t a Rumah Jabatan < Official Re...

Pilih(an)

Konon, menulis jurnal adalah bagian dari proses penyembuhan. Saya mengangguk setuju. Menulis jurnal , bukan menumpahkan emosi lewat status WhatsApp sambil berharap semesta ikut marah hanya karena hati kita sedang seret. Ada jurang lebar antara refleksi batin dan pamer luka di ruang publik, meski banyak yang mengacaukannya. Awalnya saya enggan menyinggung hal ini. Namun, hidup sering bercanda—niat saya membahas hal lain langsung terpelintir hanya karena saya menanggapi sebuah status WA. Rupanya respons saya tidak bertaut dengan ekspektasinya. Jadilah ia bereaksi—riuh, garang, seperti hendak menerkam sesuatu yang bahkan bukan ancaman. Saya hanya tersenyum tipis. Mungkin saya memang salah frekuensi. Ternyata, memberi perhatian pun bisa dianggap provokasi oleh orang yang sedang tidak selaras gelombang batinnya. Dan ya, mungkin energi saya sedang terlalu lincah; spontanitas saya memercik, lalu memicu dinamika yang membuat saya menghela napas dan membatin, “Ya ampun… ups .” Saya tak henda...