Skip to main content

Izinkanlah Aku Untuk Pulang Lagi

Tadi siang saya dan para kakak yang notabene adalah istri suami senior memutuskan untuk membawakan lagu berjudul Yogyakarta-nya Kla Project untuk acara sertijab-an Danskadron kami nanti.
Jujur, saya langsung baper, istilah anak muda sekarang.
Dari baper langsung galau ceritanya.
Lha, emange ngopo e karo lagu Jogja?
Apa ya... itu lagu memang sudah sering saya denger sejak kecil. Zaman-zamannya saya masih berseragam putih merah menuju putih biru, lagu tersebut sudah sering saya dengarkan dan nyanyikan.
Tapi.. berhubung saya belum pernah ke Jogja kala itu, jadi lagunya terdengar biasa wae.
DESEMBER 2004. Saya dan rombongan SMA Negeri 1 Pontianak study tour ke Bali & Yogyakarta. Pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Jogja.
Hanya 2 hari. Belum ada kesan yang bagaimana-bagaimana.
Cuma lesehan... lesehan... bahasa jawa... pengemis... pemusik jalanan... sekian.


2006: Jogja Menjadi Sebuah Rumah
Saya tidak pernah bermimpi untk melanjutkan studi saya di kota pelajar juga kota gudeg itu.
Dulu pikiran saya, kalau kuliah ya Jakarta atau Bandung, karena famili banyak tinggalnya di daerah Jawa Barat.
Saya mendaftar di universitas swasta seperti UNTAR & TRISAKTI. Sudah diterima dan diberi beasiswa, tapi Mama keberatan kalau saya kuliah di universitas swasta. Maklum, Mama jebolan universitas negeri.
Saya putar otak. Nyari info sana sini tentang UNPAD dan UI. Tapi belum ada pembukaan mahasiswa baru. Iseng-iseng saya lihat situs www.ugm.ac.id
Ternyata sudah ada pembukaan pendaftaran maba. Tanpa tanya ortu, iseng saya coba.
Seleksinya ada 3 tahap: tanpa pertama, seleksi nilai rapor. Hanya ranking tertentu yang bisa ikut seleksi penerimaannya. Kebetulan, nilai saya agak baik. Jadi, untuk tes tahap pertama, saya jebol. Puji Tuhan.
Untuk tes kedua, tes bakat skolastik: psikologi & matematika. Tes ketiga: wawancara.
Di tes tahap kedua ini, mau tidak mau saya harus ke Jogja.
Disitu... saya untuk kedua kalinya bertemu dengan Jogja... dengan wajah yang berbeda.
Suasana bulaksumur sarat dengan para pelajar yang masih bisa saya temui dengan sepeda onthelnya, jalan kaki, bule yang ikut kuliah, dan aroma serta suasana Jogja yang khas.
Saya ditemeni Mama untuk pelaksanaan tes tahap kedua. Deg-degan campur terkesima akan atmosfer Jogja yang... misterius.
Saya di Jogja tidak lama. Habis tes, pulang ke Pontianak.
Ndilalah yo jebol meneh.
Jadilah saya kembali ke Jogja untuk tes tahap ketiga: wawancara.
Ketiga kalinya saya ke Jogja, saya mulai kagum. Kagum bukan berarti jatuh cinta atau suka.
Saya memang mudah kagum... tapi untuk benar-benar jatuh cinta butuh dari sekedar waktu.
Saya harus tertarik dan penasaran terhadapnya.
Bak gayung bersambut. Jogja pun juga penasaran terhadap saya.
Saya lulus di tes terakhir. Saya berhak menjadi mahasiswa UGM.
* * *
Orangtua saya tidak mau saya kuliah di Jogja. Hati mereka masih berat. Mantan SMA saya juga kuliah di Jogja. Orangtua saya enggan saya balik lagi ke mantan.
Saya juga ragu karena ada teman SMA yang saya taksir juga kuliah di univ swasta di Jogja.
Awal saya di Jogja, saya sudah dirusuhi oleh masalah hati.
Tapi tidak lama, saya bisa move on dari masa SMA saya. Ternyata pria-pria Jogja dan pendatang juga tidak kalah bahkan lebih manis-manis.
Jogja is the HOME for everybody
Saya teringat pada perkataan sahabat saya, EKN. Dia benar terhadap hal bahwa Jogja merupakan sebuah tempat bagi semua orang untuk menjadi apapun yang mereka inginkan. Jogja juga menjadi tempat untuk menerima berbagai macam manusianya tanpa memandang rendah, remeh, dan apapun itu.
Jogja... memang istimewa. Ia menerima saya dengan keapa-adaan saya, dan ia sanggup membuat saya menjadi apapun yang saya inginkan karena situasi dan kondisinya senantiasa mendukung.
Saya setuju dengan perkataan sahabat saya yang lain ABP, bahwa jika ada yang mengatasnamakan Jogja menolak kaum-kaum tertentu untuk menjadi bagian dari diri Jogja, itu bukan jogja, itu oknum. Karena Jogja tidak akan pernah berkata tidak.
Jogja tidak akan pernah menolak.
Jogja menjadi sebuah tempat bagi saya dilahirkan kembali.
Disana... saya punya nama baru. Bukan Yoan, tapi Jo. Entah Jojo atau Joan, saya tidak pernah lagi dipanggil Yoan di sana.
Dan nama Jo selalu melekat akrab di telinga.
Jogja dengan segala kesederhanaan dalam kekayaan yang dimilikinya membuat saya kangen dan berharap bisa kembali lagi suatu hari nanti.
Di Jogja, saya belajar bahwa hidup tidak cukup cuma pintar. Di Jogja, saya dikasi tau bahwa materi bukanlah segalanya.
Di Jogja, saya belajar untuk punya empati, tak cukup sekedar simpati.
Di Jogja saya belajar untuk menjadi kreatif dalam segala hal di segala medan.
Jogja tidak pernah menggurui... dia tidak pernah merasa hebat sendiri.
Saya kangen Jogja.
Gudeg yang menghampar ramai pada dini hari...
Pengamen jalanan yang tidak sekedar kecrek dan nyanyi, tapi piawai bermain alat musik untuk kesenangan pribadi.
Lesehan di sepanjang selokan mataram... kopi klothoknya yang khas...
Para mahasiswanya...
Jogja... adalah miniatur negeri ini. Suatu hari saya pasti kembali... menjalin kembali silaturahmi dan berbicara lagi tentang mencapai mimpi.
Amin.
Pulang ke kotamu... ada setangkup haru dalam rindu.
Masih seperti dulu... tiap sudut menyapaku bersahabat, penuh selaksa makna...
Terhanyut aku akan nostalgi... saat kita sering luangkan waktu.
Nikmati bersama
Suasana Jogja...
Di persimpangan langkahku terhenti
Ramai kaki lima
Menjajakan sajian khas berselera
Orang duduk bersila...
Musisi jalanan mulai beraksi
Seiring laraku kehilanganmu
Di persimpangan langkahku terhenti 
Merintih sendiri... ditelan deru kotamu...
Walau kini kau tlah tiada tak kembali...
Namun kotamu hadirkan senyummu abadi...
Izinkanlah aku untuk slalu pulang lagi...
Bila hati mulai sepi tanpa terobati
-Yogyakarta, Kla Project-

Comments

Popular posts from this blog

It’s Always God: Through Change and Growth

Unstoppable gratitude, these are the two words that define 2025, and probably 2026 and many years ahead. When I look back at early 2025, so many meaningful things happened. The second semester at UNHAN began. My children turned 10 and 8. We celebrated our 11th wedding anniversary, and my husband and I both turned 37. Many beautiful moments filled our days. Besides the ups, we also faced some downs. As a couple, we learned how to reconcile and find our rhythm again. We are constantly learning to manage our shortcomings so that the system we have built—our family—can keep working and growing. The second half of 2025 brought quite drastic changes. My husband moved to a different division at work, and we moved into our panggon , our new home in Halim Perdanakusuma. Our children advanced to years 5 and 3. I was no longer in my second semester at UNHAN, but I was trusted to serve as a Master of Ceremony and moderator for several UNHAN events. I also traveled to Pontianak for a few days with ...

The House That Carried Us Forward

I don’t think I’ve ever written about the government housing provided by the Air Force where we’re currently living. We’ve been here for almost half a year now—since June, to be exact. I still remember the day we left Malang for Jakarta: the kids and I ended up crying together. Strangely enough, that move also happened in December, as if the month itself always carries a bittersweet turning of seasons for our family. But life moves forward, and so must we. Our first home in Jakarta was in Lubang Buaya—a small house, roughly 108 square metres, with three bedrooms and two bathrooms. My mother-in-law had lived there ever since I married her son in 2014. My husband and I bought the house using a mix of our parents’ support. Technically, we still owe my parents the remaining balance. Lol. After living in Jakarta for about two and a half years, we decided to move into what we call the Panggon , or rumah dinas—a service house provided by TNI AU. Since it isn’t a Rumah Jabatan < Official Re...

Pilih(an)

Konon, menulis jurnal adalah bagian dari proses penyembuhan. Saya mengangguk setuju. Menulis jurnal , bukan menumpahkan emosi lewat status WhatsApp sambil berharap semesta ikut marah hanya karena hati kita sedang seret. Ada jurang lebar antara refleksi batin dan pamer luka di ruang publik, meski banyak yang mengacaukannya. Awalnya saya enggan menyinggung hal ini. Namun, hidup sering bercanda—niat saya membahas hal lain langsung terpelintir hanya karena saya menanggapi sebuah status WA. Rupanya respons saya tidak bertaut dengan ekspektasinya. Jadilah ia bereaksi—riuh, garang, seperti hendak menerkam sesuatu yang bahkan bukan ancaman. Saya hanya tersenyum tipis. Mungkin saya memang salah frekuensi. Ternyata, memberi perhatian pun bisa dianggap provokasi oleh orang yang sedang tidak selaras gelombang batinnya. Dan ya, mungkin energi saya sedang terlalu lincah; spontanitas saya memercik, lalu memicu dinamika yang membuat saya menghela napas dan membatin, “Ya ampun… ups .” Saya tak henda...