Skip to main content

Posts

Showing posts from July, 2017

Tentang Menjadi Apa Adanya

Me: What makes you are so comfy enuff to tell me everything about your private life? Tanya saya ketika YCN menceritakan secara detail dan gamblang mengenai kehidupannya kini di luar negeri. YCN menjawabnya via Line chat: "You are one of my bestfriends I am comfortable to share with and I know you are not kinda judgmental person." NICE! Ternyata saya di matanya ya begitu itu. Entah itu pujian atau sebuah olokan mengingat beberapa waktu silam saya adalah orang yang sangat judging dan mungkin termasuk kaum yang senang membuat orang lain tidak nyaman. Tapi ya memang bila saya perhatikan orang-orang memang suka bercerita ke Saya. Bukan karena saya enak jadi tempat menuangkan cerita mereka, mungkin karena saya lebih banyak diamnya aja sekarang dan lebih suka memerhatikan. Ditambah lagi saya juga mulai malas mengomentari kehidupan orang lain, kecuali dimintai pendapatnya. Saya lebih suka mendengarkan dan mengamati. Ada semacam kepuasan pribadi ketika dapat mengenal orang hanya...

Mengapa Arogan?

Saya terlongo kaget ketika menonton video full penamparan yang dilakukan seorang Ibu (yang katanya istri eks) pejabat berbintang. Video yang tengah viral itu mempertontonkan arogansi si Ibu yang tidak mau taat pada peraturan yang berlaku. Kalau merasa kerepotan untuk melepaskan jam tangan, kacamata, atau benda-benda logam yang melekat pada tubuh ya mending tidak usah dipakai sama sekali. Gitu aja kok repot ya? Bukan tanpa alasan ketika kita diminta untuk melepaskan segala benda yang mengandung logam yang melekat di tubuh ketika hendak melalui pintu scanning pemeriksaan. Eh, apa mungkin si Ibu (yang katanya istri eks) pejabat berbintang ini merasa hampa jika tidak mengenakan seperangkat alat yang menyatakan status sosialita-nya meski sudah berstatus istri MANTAN pejabat? Mengadaptasi dari versi bahasa Inggris-nya: arrogant   berarti having or revealing an exaggerated sense of one’s own importance or abilities. Si Ibu merasa dirinya penting, dan memiliki kemampuan lebih dari M...

Malam Itu

Suara pintu diketuk. Putra pertama saya, Ello, yang pertamakali menyadari bahwa ada tamu. Baju saya ditarik Ello sambil teriak: “Mami, Papi!” Jelas bukan Papi nya anak-anak karena suami saya sedang melaksanakan misi tiga hari. Saya tergopoh-gopoh meletakkan piring berisi makan malam dan berlari membukakan pintu. Ketika pintu dibukakan, seorang wanita seumuran Ibu saya langsung menghambur menyatakan kekangenannya. Saya menyambutnya dengan mencium tangannya dan memeluknya. Saya mengenalnya sebagai seorang Ibu dari almarhum Mas Arif. Ibu memberikan plastik yang berisi ketupat, lepat (ketan dan kacang yang dikukus dalam balutan daun kelapa), dan sayur santan. Kata Ibu: “Kalau tidak suka nanti, Mbak buang saja.” Membayangkan beliau membawanya dari rumah di Jabung bersama adik almarhum ke tempat kami dengan mengendarai motor sepertinya saya juga tidak tega membuangnya. Ibu memeluk Gio, putra kedua saya, yang memang dari tadi merengek minta digendong. Dari caranya menciumi Gi...