Saya akui kelemahan terbesar saya adalah kesulitan mengendalikan emosi. Mau senang, marah, sedih, dan sebagainya akan tergambar gamblang di wajah saya. Itu menyebalkan!
Saya tidak pandai berpura-pura, jika memang saya sedang tidak mood, saya memilih mengasingkan diri dengan membaca, mendengarkan musik, tidur, nonton, atau bahkan mencari pengalihan lain seperti menulis, sibuk dengan online shop, atau berkreasi dengan hal lainnya.
Saya tidak pandai berpura-pura, jika memang saya sedang tidak mood, saya memilih mengasingkan diri dengan membaca, mendengarkan musik, tidur, nonton, atau bahkan mencari pengalihan lain seperti menulis, sibuk dengan online shop, atau berkreasi dengan hal lainnya.
Saya merasa bodoh sekali ketika saya mengizinkan faktor lingkungan mempengaruhi mood saya, tapi itulah kekurangan saya. Saya agaknya masih sangat sulit mengelola emosi saya.
Saya khawatir sebenarnya dalam mengeluarkan emosi. Kalau dulu, saya gamblang-gamblang saja mengeluarkan emosi toh hidup ya hidup saya sendiri. Tapi sekarang? Susah. Saya sudah bersuami yang notabene suami saya adalah prajurit TNI. Bukannya sok ngartis, tapi menjadi istri daripada seorang aparat negara itu kehidupannya akan selalu disorot: apakah tutur bahasanya baik? Cara berbusananya apik? Pinter membawa diri apa tidak? And so on, and so on. Setidaknya dalam lingkungan internal TNI saja, sebagai istri dari penjaga garda depan bangsa ini, kami mau tidak mau... suka maupun tidak suka harus bisa menjadi contoh bagi adik-adik kami maupun istri anggota lainnya.
Berat? Banget!
Saya berupaya keras mengurangi kecuekan saya, karena saya memang cuek orangnya. Tapi sekarang? Coba saja cuek kalau ingin suaminya dipanggil menghadap senior atau bahkan atasan lalu diceramahi panjang lebar nantinya.
Saya berupaya keras mengurangi kecuekan saya, karena saya memang cuek orangnya. Tapi sekarang? Coba saja cuek kalau ingin suaminya dipanggil menghadap senior atau bahkan atasan lalu diceramahi panjang lebar nantinya.
Buku-buku yang saya baca sepertinya masih terasa kurang, meski sudah banyak yang dibaca makin saja terasa makin bodoh. Untungnya suami juga tipe manusia penyabar, setidaknya sampai dengan detik ini.
Jika saya terlihat stress, suami tidak segan-segan untuk membantu apapun demi menenangkan saya.
Urusan anak juga begitu, di kala saya yang tidak sabar dan bawaannya ingin marah-marah saja, suami mengambil alih. Suami mau menyuapi Ello, meninabobokannya hingga tertidur pulas. Setelah saya tenang, barulah suami menasehati dan meminta saya untuk lebih tenang dan sabar terhadap Ello.
Jika saya terlihat stress, suami tidak segan-segan untuk membantu apapun demi menenangkan saya.
Urusan anak juga begitu, di kala saya yang tidak sabar dan bawaannya ingin marah-marah saja, suami mengambil alih. Suami mau menyuapi Ello, meninabobokannya hingga tertidur pulas. Setelah saya tenang, barulah suami menasehati dan meminta saya untuk lebih tenang dan sabar terhadap Ello.
Saya bersyukur untuk itu. TUHAN Maha Baik.
Suami saya diberi kesabaran dikala saya sendiri tidak sabar menghadapi diri saya ini.
Suami saya diberi kesabaran dikala saya sendiri tidak sabar menghadapi diri saya ini.
***
Menulis menjadi aktifitas favorit saya ketika saya sedang emosi, namun kreatifitas saya itu terpaksa saya tutup dan saya batasi di media sosial bernama Path, karena terlampau banyak senior yang notabene istri daripada letting suami.
Yang baik dan cerdas memang biasanya tidak ambil pusing adik-adiknya cuap-cuap apapun, tapi bagi yang rese, well... luapan emosi kita tersebut akan ditanggapi dengan sinis dan bahkan memicu baku hantam padahal tidak ada relasi apapun dengan orang tersebut.
Kita yang junior dituntut lebih sabar dan mengalah. Biasanya untuk menenangkan diri kita selalu beranggapan "wis, sing waras sing ngalah." semata-mata agar tidak memperkeruh suasana saja.
Menulis menjadi aktifitas favorit saya ketika saya sedang emosi, namun kreatifitas saya itu terpaksa saya tutup dan saya batasi di media sosial bernama Path, karena terlampau banyak senior yang notabene istri daripada letting suami.
Yang baik dan cerdas memang biasanya tidak ambil pusing adik-adiknya cuap-cuap apapun, tapi bagi yang rese, well... luapan emosi kita tersebut akan ditanggapi dengan sinis dan bahkan memicu baku hantam padahal tidak ada relasi apapun dengan orang tersebut.
Kita yang junior dituntut lebih sabar dan mengalah. Biasanya untuk menenangkan diri kita selalu beranggapan "wis, sing waras sing ngalah." semata-mata agar tidak memperkeruh suasana saja.
Menghapus path tidak menjadi solusi bagi saya karena itu hak saya, milik saya. Tapi bagi mereka yang memilih menghapusnya karena oknum tertentu, ya silahkan saja. Kalau saya pribadi, sayang orang-orangnya. Lah? Kan bisa di add lagi? Iya, memang bisa. Tapi saya malas add-add lagi. Kerjaan saya enggak melulu cuma itu.
Saya akan tetap menggunakan media sosial path untuk mengeluarkan uneg-uneg, emosi, kesukaan, de es be sewajarnya yang sekiranya tidak mengundang oknum lain berceloteh ria.
Toh saya juga punya blog, saya punya media sosial lainnya untuk mengeluarkan emosi saya..tentunya dengan sewajarnya dan sepatutnya.
Tidak lagi seperti dulu yang cuek dan main hajar bleeeh saja. Hehehe.
Toh saya juga punya blog, saya punya media sosial lainnya untuk mengeluarkan emosi saya..tentunya dengan sewajarnya dan sepatutnya.
Tidak lagi seperti dulu yang cuek dan main hajar bleeeh saja. Hehehe.
Comments
Post a Comment