"Aku aja ga nyangka jo kamu yg pinter dan cantik jadi emak2 momong anak gini..walopun kegiatan mu ibu2 jg segudang, tetep aja statusnya di rumah wkwkwkwk..sumpah deh aku ga nyangka lho dl hi hi.." aku seorang kawan saya yang lulusan HI UGM juga.
Sebut saja Wulandari yang memang nama aslinya. Saya biasa memanggilnya Wulan. Wulan ini ibu RT juga, sudah punya anak 1 berikut anak yang di dalam perutnya. Suaminya dinas di Kalimantan di sebuah perusahaan tambang.
Wulan ini juga punya usaha tas dan sepatu rajut sehingga kami pun bekerjasama satu sama lain dalam rangka upaya mencukupi dan bahkan meningkatkan kemampuan belanja kami terhadap kebutuhan maupun keinginan nafsu kami.
Singkat cerita, kami ber BBm-an di suatu malam, mulai membahas orderan-orderan berlanjut gosip seputar HI, hingga Wulan mengomentari hidup saya.
Saya lho, Pemirsaah!
Saya tidak mengira bahwa setelah sekian lama waktu berlalu, ingatannya tentang saya seperti itu.
Memang sempat saya miris hati sedih melihat ijazah saya yang teronggok manis di laminating di dalam almari dengan nilai IPK 3,66. Tapi toh tidak saya pergunakan untuk melanjutkan kuliah lagi ke jenjang yang lebih tinggi.
Sempat juga saya mendengar omongan-omongan yang agak menyentak sanubari ketika saya mulai berusaha online shop kecil-kecilan saya, orang-orang malah ngomong,"kalau cuma gini ga perlu kuliah tinggi-tinggi ya?"
Cuma seloroh memang, tapi makjlebb...
Cuma yoo kok bodoh betul saya pikir kalau saya terlalu menyeriusi omongan-omongan orang tak berotak?!
Orang-orang yang mau menukar waktu dan kesempatan yang dimilikinya untuk dimarah-marahi orang lain, yang nilai nominal gajinya ditentukan orang lain yang mana seharusnya dia bisa dan sangat bisa untuk memiliki gaji lebih dari itu...serta orang-orang yang merasa hebat dengan mengomentari orang lain adalah golongan kaum tidak berotak menurut saya.
***
***
Kehidupan ini adalah pilihan dan sekali memilih kita harus bertanggungjawab terhadap pilihan tersebut.
Berbicara tentang status, ya betul. Saya cuma ibu RT. Tapi dari segi lain, saya memiliki waktu dan kesempatan mengembangkan diri lebih banyak dari sekedar ibu RT.
Saya menyukai sebuah tulisan dari Alm. Ibu BJ Habibie. Tulisannya membuat saya percaya diri kembali bahwa menjadi ibu RT itu anugerah.
Kira-kira begini isinya:
Kira-kira begini isinya:
"MENGAPA SAYA TIDAK BEKERJA? Bukankah saya ini dokter? Memang. Dan sangat mungkin saya bekerja waktu itu. Namun saya pikir, buat apa tambahan uang dan kepuasan batin yang barangkali cukup banyak itu jika akhirnya diberikan pada seorang perawat pengasuh anak bergaji tinggi dengan risiko kami kehilangan kedekatan pada anak sendiri.
Apa artinya tambahan uang dan kepuasan profesional jika akhirnya anak saya tidak dapat saya timang sendiri, saya bentuk pribadinya sendiri? Anak saya akan memiliki ibu. Seimbangkah anak kehilangan ibu bapak. Seimbangkah orangtua kehilangan anak dengan uang dan kepuasan pribadi tambahan karena bekerja? Itulah sebabnya saya memutuskan menerima hidup pas-pasan. Tiga setengah tahun kami hidup begitu."
Saya tersenyum-senyum sendiri. Ada rasa bangga terselip. Ini pilihan hidup yang tidak akan pernah saya sesali:
Membaktikan diri terhadap suami, sebagai seorang ibu yang hidup di tanah perantauan dengan merawat anak kami dengan tangan saya sendiri, mencukupi kebutuhan diri sendiri dengan berusaha mandiri, dan berkomitmen penuh untuk meningkatkan kualitas diri sendiri.
Membaktikan diri terhadap suami, sebagai seorang ibu yang hidup di tanah perantauan dengan merawat anak kami dengan tangan saya sendiri, mencukupi kebutuhan diri sendiri dengan berusaha mandiri, dan berkomitmen penuh untuk meningkatkan kualitas diri sendiri.
Akhir pembicaraan saya dengan Wulan ditutup dengan membicarakan orderan demi orderan lagi.
Oh ya, dengan berusaha seperti ini saya pun kembali menjalin hubungan dengan teman-teman lama saya. Banyak teman juga menjadi pelanggan setia. Melayani itu memang menyenangkan jika dilakukan dengan setulus hati.
Oh ya, dengan berusaha seperti ini saya pun kembali menjalin hubungan dengan teman-teman lama saya. Banyak teman juga menjadi pelanggan setia. Melayani itu memang menyenangkan jika dilakukan dengan setulus hati.
Comments
Post a Comment