Kemarin saya enggak bisa menyembunyikan isak tangis saya ketika salah satu istri senior suami memberikan sepatah dua patah kata perpisahan karena SKEP suami sudah tidak lagi di kedinasan Skadron Udara 32.
Isi daripada kata-kata perpisahan tersebut terdengar sangat alami, tidak dibuat-buat, apa adanya, sederhana, dan sangat emosional. Meski pada awalnya terdengar jenaka namun menyimpan ketulusan dan keikhlasan yang saya kagumi. Saya belum tentu bisa sejujur dan seapa-adanya beliau.
Selisih saya dan beliau bergabung di Skadron 32 hanya terpaut 4 bulan. Beliau 4 bulan lebih awal bergabunh di tahun 2013, sementara saya baru Pebruari 2014-nya. Selama awal bergabung, saya banyak minta arahan ke beliau. Dikarenakan istri dari teman-teman letting suami yang sudah menikah belum banyak yang bergabung di Malang karena urusan pekerjaan yang belum selesai, maka saya lebih banyak bertukar pikiran ke beliau.
Kalaupun dikatakan dekat seperti sahabat rasanya tidak juga, mungkin lebih seperti saudara seperjuangan dan sepenanggungan. Saudara yang tidak melulu harus berjalan bersama-sama, saudara yang tidak perlu harus saling mengabari terus-menerus... namun ketika saling bertemu, ada keakraban yang memancar hangat dan menyatu.
Pelbagai hal yang kami hadapi bersama juga kurang lebih sama. Ketika berkegiatan pun juga seringkali dipertemukan bersama. Memang, keakraban seringkali mengikuti ketika kita mengalami kesialan bersama. Kenapa? Setidaknya kita bisa saling memahami dan mengerti sedikit banyaknya.
Kebersamaan kami juga bukan tidak tanpa gesekan. Namun, entah kenapa gesekan tersebut tak pernah membekas lama. Kesal sekarang, bisa mesra esok harinya.
Jujur, saya menyenangi beliau dan mengalami ketangguhannya dan keapa-adaannya. Kalau bicara tangguh, saya juga bisa tangguh tapi plus ngedumel... lah kalau beliau, bisa tangguh dan tanpa ngomel-ngomel. Hehe.
Kenapa-adaannya juga membuat saya kerap berdecak kagum. Saya masih sulit menjadi apa adanya. Untuk beberapa hal, saya lebih baik simpan di hati saja. Tapi kalau beliau, A ya A. B ya B.
Salut!
Sebagaimana setiap perjumpaan pasti ada perpisahan, maka kini perpisahan menjadi bagian dari kisah kami.
Kini di setiap giat tidak akan ada lagi wajahnya beliau, tidak akan ada lagi tawa dan ceria yang menghiasi dengan segala kejenakaannya beliau.
Memang... sesuatu kemudian dirindui ketika sudah tidak ada lagi.
Selamat mengabdi di kesatuan yang baru ya, Mbak ... sukses selalu buat Mbak. Maturnuwun untuk semuanya, Mbak.
Salam hormat selalu.
Comments
Post a Comment