Skip to main content

Posts

Showing posts from August, 2016

Merdeka Itu...

Hari ini genap negara saya, Indonesia, berusia 71 tahun. Sebuah usia yang boleh dikatakan tidak muda lagi alias sepuh. Usia sepuh bagi saya itu artinya matang dan bijak. Namun, sepertinya usia dan kematangan saat ini selecting berbanding terbalik. Semakin bertambahnya usia, semakin seperti anak-anak. Saya katakan demikian karena melihat kenyataan orang-orang yang saya kategorikan berusia tambah, malah banyak yang memposisikan dirinya seperti kanak-kanak yang egois, mau menang sendiri, dan minta diperhatikan. Semuanya terpusat pada diri sendiri saja. Berbicara tentang ulang tahun negara artinya lahirnya negara tersebut berawal ketika negara tersebut diklaim merdeka. Saya tak berbicara mengenai kemerdekaan negara. Saya mau bicara tentang pola pikir yang merdeka dan jiwa yang merdeka. Tadi saya sempat melihat sekilas Ahok tengah diwawancarai presenter TV. Beliau ditanyai tentang makna kemerdekaan. Menarik bahwa ketika beliau mengutarakan pendapatnya tentang merdeka. Merdeka baginya ad...

M.A.N.T.A.N

Beberapa malam yang lalu, ketika kami masih saling terjaga, suami di samping saya tengah terbaring sambil mengelus-ngelus kulit tangan saya. Saya menatapnya dan mulai membuka pembicaraan sebelum ia benar-benar pulas tertidur. "Pi, beberapa malam ini mimpiku aneh..." Saya terdiam untuk mendengar reaksinya. "Mimpi apa, Sayang?" Tanyanya lembut. "Mantan." Jawab saya. Saya berusaha menelisik reaksi dari raut wajahnya. Suami tidak bereaksi yang bagaimana-bagaimana. "Mantan yang mana, Sayang" tanyanya lagi. "Mantan yang paling banyak dosanya Mami ke dia, padahal dia ga pernah jahat ke Mami." Jawab saya sendu. "Oh, si anu..." Suami saya tetap mengelus tubuh saya. [ saya bilang anu aja, kalau saya sebut nama atau inisial bisa hancur dunia persilatan . Hehe.] "Kalau tentang mantan, aku juga sering kayak gitu. Mimpiin mantan, terutama mantan yang terakhir dan keluarganya. Aku juga banyak salahnya dulu ke dia. Tapi yah me...

Untuk Semua (Memang) Ada Waktunya

Kemarin saya enggak bisa menyembunyikan isak tangis saya ketika salah satu istri senior suami memberikan sepatah dua patah kata perpisahan karena SKEP suami sudah tidak lagi di kedinasan Skadron Udara 32. Isi daripada kata-kata perpisahan tersebut terdengar sangat alami, tidak dibuat-buat, apa adanya, sederhana, dan sangat emosional. Meski pada awalnya terdengar jenaka namun menyimpan ketulusan dan keikhlasan yang saya kagumi. Saya belum tentu bisa sejujur dan seapa-adanya beliau. Selisih saya dan beliau bergabung di Skadron 32 hanya terpaut 4 bulan. Beliau 4 bulan lebih awal bergabunh di tahun 2013, sementara saya baru Pebruari 2014-nya. Selama awal bergabung, saya banyak minta arahan ke beliau. Dikarenakan istri dari teman-teman letting suami yang sudah menikah belum banyak yang bergabung di Malang karena urusan pekerjaan yang belum selesai, maka saya lebih banyak bertukar pikiran ke beliau. Kalaupun dikatakan dekat seperti sahabat rasanya tidak juga, mungkin lebih seperti saudara...

Catatan Hari Ini.

Kesalahan membuat kita belajar. Tapi, seringkali kesalahan menghantarkan kita pada nikmat dan hikmat yang lebih baik. Pagi ini saya bangun lebih pagi. Mandi lalu siap-siap menghadiri acara rutin mingguan di kantor suami, yakni kegiatan olahraga Ibu-ibu anggota dan perwira. Ketika tiba di sana lah kok sepi? Ibu-ibu nya engga ada yang datangkah? Kok kursi plastik juga belum standby? Walah! Perasaan saya ga enak. Tiba-tiba datang Ny. Kristin Jhan Hotlan, istri daripada senior suami. Beliau berpakaian dinas polisi karena profesi beliau demikian. "Dek, ngapain?" Tanyanya. "Bukannya olahraga ya, Kak?" Tanya saya balik. "Besok, Dek. Bukan sekarang." Sambil senyum-senyum beliau menjawab. Dalam hati mungkin bertanya geli, apakah hamil membuat saya lupa ingatan? Hehehe. Saya pun salah tingkah. Hihi. Malu dan akhirnya kami berpisah pulang. Beliau ada urusan di kantor suami untuk mengurusi penyaluran dana PPAA, semacam agenda kegiatan untuk memberikan dana san...

Namanya Juga Usaha

Serius. Ga pernah kepikir sama sekali bakal jadi pebisnis. Ceileh... pebisnis! Iya. Dari dulu saya berpikir hanya jadi pekerja kerah putih: duduk-duduk ga pake keringetan lalu ngasilin duit tetap perbulannya. Alhasil saya malah jadi ibu RT dengan 1 anak plus 1 janin di kandungan, ngurusin suami, rumah tangga, dan usaha yang saya rintis sejak 2012. [Standing ovation... prok...prok] Awal 2016 saya mulai memberi atensi khusus terhadap usaha yang saya namai: Kanahaya Gallery. Why Kanahaya? Karena saya tinggal di Malang. Hubungannya? Kanahaya kalau dibalik jadi "Anakayah". Arek Malang terkenal suka membolak-balikkan kata. Dan... kenapa Anakayah? Simpel dan rada ga nyambung jawabannya, karena Anak Mama sering didenger ketimbang Anak Ayah. [Haha... garing!] Jawaban lainnya selain terkesan etnik & sound mystical, the idea of giving that name comes from my dearly good friend. She is nice & she inspires me a lot that even an evil one can change to be a saint. [Hahaha......