Sebuah kabar menggembirakan dari teman saya terdengar hari ini, tepatnya malam tadi.
Sembari cerita-cerita di kala makan malam bersama dengan para senior Navigator yang masih aktif di Lanud Abdulrachman Saleh, sebuah celetukan terdengar bahwa hasil jumpa kuker dengan Ketua Daerah PIA AG, salah satunya mengumumkan sosialisasi untuk tidak MEMBERLAKUKAN lagi pengunaan kata : Siap, Mohon Izin... karena kosakata tersebut laiknya diucapkan di kalangan kedinasan saja. Namun, penggunaannya di kalangan para istri sudah tidak diwajibkan lagi, meski penggunaan bahasa baku hukumnya masih bersifat wajib.
Sembari cerita-cerita di kala makan malam bersama dengan para senior Navigator yang masih aktif di Lanud Abdulrachman Saleh, sebuah celetukan terdengar bahwa hasil jumpa kuker dengan Ketua Daerah PIA AG, salah satunya mengumumkan sosialisasi untuk tidak MEMBERLAKUKAN lagi pengunaan kata : Siap, Mohon Izin... karena kosakata tersebut laiknya diucapkan di kalangan kedinasan saja. Namun, penggunaannya di kalangan para istri sudah tidak diwajibkan lagi, meski penggunaan bahasa baku hukumnya masih bersifat wajib.
Senang? Banget!
Akhirnyaaa... perubahan-perubahan pun terjadi, meski kecil. Namun, saya percaya perubahan tersebut membuat kita yang tadinya mengelu-elukan kesenioritasan akan mulai berangsur-angsur saling merangkul satu sama lain.
Kata-kata seperti "siap", seakan-akan MEWAJIBKAN kita untuk melakukan sesuatu dalam organisasi itu all out. Seakan-akan hidup kita ya di organisasi itu. Tidak perduli anak sudah dijemput dari sekolah apa belum, tidak perduli ada lauk di rumah, tidak perduli badan lagi remuk... yang penting itu organisasi! Tak apa anak-suami terlantar, asal organisasi berjalan lancar.
Kata-kata seperti mohon izin itu juga menunjukkan sebuah bentuk ketakutan dan kesenjangan antar senior dan junior. Ada gap yang nyata di setiap kita memulai percakapan atau memberi argumen, sehingga penting untuk selalu menyisipkan kata "mohon izin".
Mungkin dalam dunia militer, hal tersebut berlaku karena memang ada hierarki yang jelas. Tapi kalau untuk kalangan istri? Masa iya harus diberlakukan juga?
Makanya ketika saya mendapat kabar seperti itu, saya bahagia. Bahagia bahwa ada kemajuan dalam tubuh organisasi persatuan istri anggota, bahagia bahwa saya bisa lebih terbuka dalam sharing tanpa takut terbebani, bahagia karena beberapa oknum yang mengeluhkan senioritas zaman dahulu tapi berharap bahwa adik-adiknya nanti juga akan memperlakukan mereka seperti majikan , perlahan-lahan mau tidak mau akan berubah juga.
Makanya ketika saya mendapat kabar seperti itu, saya bahagia. Bahagia bahwa ada kemajuan dalam tubuh organisasi persatuan istri anggota, bahagia bahwa saya bisa lebih terbuka dalam sharing tanpa takut terbebani, bahagia karena beberapa oknum yang mengeluhkan senioritas zaman dahulu tapi berharap bahwa adik-adiknya nanti juga akan memperlakukan mereka seperti majikan , perlahan-lahan mau tidak mau akan berubah juga.
Efek dari perubahan ini?
Banyak.
Tapi seperti kata Robin Sharma, Change is hard at first. Messy in the middle, but gorgeous at the end.
Banyak.
Tapi seperti kata Robin Sharma, Change is hard at first. Messy in the middle, but gorgeous at the end.
Semoga...
Comments
Post a Comment