Skip to main content

No Longer SIAP... nor MOHON IZIN...

Sebuah kabar menggembirakan dari teman saya terdengar hari ini, tepatnya malam tadi.
Sembari cerita-cerita di kala makan malam bersama dengan para senior Navigator yang masih aktif di Lanud Abdulrachman Saleh, sebuah celetukan terdengar bahwa hasil jumpa kuker dengan Ketua Daerah PIA AG, salah satunya mengumumkan sosialisasi untuk tidak MEMBERLAKUKAN lagi pengunaan kata : Siap, Mohon Izin... karena kosakata tersebut laiknya diucapkan di kalangan kedinasan saja. Namun, penggunaannya di kalangan para istri sudah tidak diwajibkan lagi, meski penggunaan bahasa baku hukumnya masih bersifat wajib.
Senang? Banget!

Akhirnyaaa... perubahan-perubahan pun terjadi, meski kecil. Namun, saya percaya perubahan tersebut membuat kita yang tadinya mengelu-elukan kesenioritasan akan mulai berangsur-angsur saling merangkul satu sama lain.
Kata-kata seperti "siap", seakan-akan MEWAJIBKAN kita untuk melakukan sesuatu dalam organisasi itu all out. Seakan-akan hidup kita ya di organisasi itu. Tidak perduli anak sudah dijemput dari sekolah apa belum, tidak perduli ada lauk di rumah, tidak perduli badan lagi remuk... yang penting itu organisasi! Tak apa anak-suami terlantar, asal organisasi berjalan lancar.
Kata-kata seperti mohon izin itu juga menunjukkan sebuah bentuk ketakutan dan kesenjangan antar senior dan junior. Ada gap yang nyata di setiap kita memulai percakapan atau memberi argumen, sehingga penting untuk selalu menyisipkan kata "mohon izin".
Mungkin dalam dunia militer, hal tersebut berlaku karena memang ada hierarki yang jelas. Tapi kalau untuk kalangan istri? Masa iya harus diberlakukan juga?
Makanya ketika saya mendapat kabar seperti itu, saya bahagia. Bahagia bahwa ada kemajuan dalam tubuh organisasi persatuan istri anggota, bahagia bahwa saya bisa lebih terbuka dalam sharing tanpa takut terbebani, bahagia karena beberapa oknum yang mengeluhkan senioritas zaman dahulu tapi berharap bahwa adik-adiknya nanti juga akan memperlakukan mereka seperti majikan , perlahan-lahan mau tidak mau akan berubah juga.
Efek dari perubahan ini?
Banyak.
Tapi seperti kata Robin Sharma, Change is hard at first. Messy in the middle, but gorgeous  at the end.
Semoga...

Comments

Popular posts from this blog

It’s Always God: Through Change and Growth

Unstoppable gratitude, these are the two words that define 2025, and probably 2026 and many years ahead. When I look back at early 2025, so many meaningful things happened. The second semester at UNHAN began. My children turned 10 and 8. We celebrated our 11th wedding anniversary, and my husband and I both turned 37. Many beautiful moments filled our days. Besides the ups, we also faced some downs. As a couple, we learned how to reconcile and find our rhythm again. We are constantly learning to manage our shortcomings so that the system we have built—our family—can keep working and growing. The second half of 2025 brought quite drastic changes. My husband moved to a different division at work, and we moved into our panggon , our new home in Halim Perdanakusuma. Our children advanced to years 5 and 3. I was no longer in my second semester at UNHAN, but I was trusted to serve as a Master of Ceremony and moderator for several UNHAN events. I also traveled to Pontianak for a few days with ...

The House That Carried Us Forward

I don’t think I’ve ever written about the government housing provided by the Air Force where we’re currently living. We’ve been here for almost half a year now—since June, to be exact. I still remember the day we left Malang for Jakarta: the kids and I ended up crying together. Strangely enough, that move also happened in December, as if the month itself always carries a bittersweet turning of seasons for our family. But life moves forward, and so must we. Our first home in Jakarta was in Lubang Buaya—a small house, roughly 108 square metres, with three bedrooms and two bathrooms. My mother-in-law had lived there ever since I married her son in 2014. My husband and I bought the house using a mix of our parents’ support. Technically, we still owe my parents the remaining balance. Lol. After living in Jakarta for about two and a half years, we decided to move into what we call the Panggon , or rumah dinas—a service house provided by TNI AU. Since it isn’t a Rumah Jabatan < Official Re...

Pilih(an)

Konon, menulis jurnal adalah bagian dari proses penyembuhan. Saya mengangguk setuju. Menulis jurnal , bukan menumpahkan emosi lewat status WhatsApp sambil berharap semesta ikut marah hanya karena hati kita sedang seret. Ada jurang lebar antara refleksi batin dan pamer luka di ruang publik, meski banyak yang mengacaukannya. Awalnya saya enggan menyinggung hal ini. Namun, hidup sering bercanda—niat saya membahas hal lain langsung terpelintir hanya karena saya menanggapi sebuah status WA. Rupanya respons saya tidak bertaut dengan ekspektasinya. Jadilah ia bereaksi—riuh, garang, seperti hendak menerkam sesuatu yang bahkan bukan ancaman. Saya hanya tersenyum tipis. Mungkin saya memang salah frekuensi. Ternyata, memberi perhatian pun bisa dianggap provokasi oleh orang yang sedang tidak selaras gelombang batinnya. Dan ya, mungkin energi saya sedang terlalu lincah; spontanitas saya memercik, lalu memicu dinamika yang membuat saya menghela napas dan membatin, “Ya ampun… ups .” Saya tak henda...