Ada yang ikut hilang dalam bagian diri ini ketika mendapati sebuah pagiku yang indah ternyata tak turut dialami oleh saudara sebangsaku di tanah lain.
Sepertinya baru tanggal 28 Oktober kemarin Hari Sumpah Pemuda diperingati. Baru tanggal 10 November kemarin pula, peringatan Hari Pahlawan didengungkan.
Apa bangsaku ini memang bangsa pelupa? Semua hari peringatan sejarah negeri ini bisa ada cuma sekedar seremonial belaka?
Lalu lupa bahwa kenikmatan yang kita alami ini adalah hasil kerjasama.
Apa bangsaku ini memang bangsa pelupa? Semua hari peringatan sejarah negeri ini bisa ada cuma sekedar seremonial belaka?
Lalu lupa bahwa kenikmatan yang kita alami ini adalah hasil kerjasama.
Kerjasama, Kawan!
Kita merdeka BUKAN karena kecakapan dari golongan tertentu.
Kita menang melawan penjajah BUKAN karena berdoa dengan cara yang sama, melainkan berbondong-bondong meminta kepada Tuhan dengan cara berbeda. Tuhan mengabulkannya karena kita SAMA. Sama-sama berurai air mata! Sama-sama bekerjasama!
Lalu sekarang, kita berdiri berseberangan lantaran kerjasama kita telah usai.
Kemerdekaan telah diraih.
Namun, seakan tak cukup bila kita duduk bersama. Bagimu, mahkota raja cuma satu. Dan itu harus kau yang menikmati.
Kemerdekaan telah diraih.
Namun, seakan tak cukup bila kita duduk bersama. Bagimu, mahkota raja cuma satu. Dan itu harus kau yang menikmati.
Seandainya memang terbukti hasil perjuangan yang kita nikmati sekarang berasal dari suku, ras, agama tertentu, aku tak mengapa bila negara ini berpahamkan aliran penganut suatu.
Tapi aku tak percaya bila kau berkata begitu... karena sejarah yang kutahu tak seperti itu.
Tapi aku tak percaya bila kau berkata begitu... karena sejarah yang kutahu tak seperti itu.
Kalau kau memilih untuk duduk disana, maka biarlah aku duduk merayakan kehilanganmu.
Tapi perlu kau tahu, kehilanganmu tak pernah lebih mudah daripada melihat saudaraku yang lain menderita karenamu...
Bagiku, kamu itu masih aku.
Kita masih satu.
Coba kau ingat itu!
Kita masih satu.
Coba kau ingat itu!
Comments
Post a Comment