Skip to main content

Merayakan Kehilangan

Ada yang ikut hilang dalam bagian diri ini ketika mendapati sebuah pagiku yang indah ternyata tak turut dialami oleh saudara sebangsaku di tanah lain.
Sepertinya baru tanggal 28 Oktober kemarin Hari Sumpah Pemuda diperingati. Baru tanggal 10 November kemarin pula, peringatan Hari Pahlawan didengungkan.
Apa bangsaku ini memang bangsa pelupa? Semua hari peringatan sejarah negeri ini bisa ada cuma sekedar seremonial belaka?
Lalu lupa bahwa kenikmatan yang kita alami ini adalah hasil kerjasama.
Kerjasama, Kawan!

Kita merdeka BUKAN karena kecakapan dari golongan tertentu.
Kita menang melawan penjajah BUKAN karena berdoa dengan cara yang sama, melainkan berbondong-bondong meminta kepada Tuhan dengan cara berbeda. Tuhan mengabulkannya karena kita SAMA. Sama-sama berurai air mata! Sama-sama bekerjasama!
Lalu sekarang, kita berdiri berseberangan lantaran kerjasama kita telah usai.
Kemerdekaan telah diraih.
Namun, seakan tak cukup bila kita duduk bersama. Bagimu, mahkota raja cuma satu. Dan itu harus kau yang menikmati.
Seandainya memang terbukti hasil perjuangan yang kita nikmati sekarang berasal dari suku, ras, agama tertentu, aku tak mengapa bila negara ini berpahamkan aliran penganut suatu.
Tapi aku tak percaya bila kau berkata begitu... karena sejarah yang kutahu tak seperti itu.
Kalau kau memilih untuk duduk disana, maka biarlah aku duduk merayakan kehilanganmu.
Tapi perlu kau tahu, kehilanganmu tak pernah lebih mudah daripada melihat saudaraku yang lain menderita karenamu...
Bagiku, kamu itu masih aku.
Kita masih satu.
Coba kau ingat itu!

Comments

Popular posts from this blog

It’s Always God: Through Change and Growth

Unstoppable gratitude, these are the two words that define 2025, and probably 2026 and many years ahead. When I look back at early 2025, so many meaningful things happened. The second semester at UNHAN began. My children turned 10 and 8. We celebrated our 11th wedding anniversary, and my husband and I both turned 37. Many beautiful moments filled our days. Besides the ups, we also faced some downs. As a couple, we learned how to reconcile and find our rhythm again. We are constantly learning to manage our shortcomings so that the system we have built—our family—can keep working and growing. The second half of 2025 brought quite drastic changes. My husband moved to a different division at work, and we moved into our panggon , our new home in Halim Perdanakusuma. Our children advanced to years 5 and 3. I was no longer in my second semester at UNHAN, but I was trusted to serve as a Master of Ceremony and moderator for several UNHAN events. I also traveled to Pontianak for a few days with ...

The House That Carried Us Forward

I don’t think I’ve ever written about the government housing provided by the Air Force where we’re currently living. We’ve been here for almost half a year now—since June, to be exact. I still remember the day we left Malang for Jakarta: the kids and I ended up crying together. Strangely enough, that move also happened in December, as if the month itself always carries a bittersweet turning of seasons for our family. But life moves forward, and so must we. Our first home in Jakarta was in Lubang Buaya—a small house, roughly 108 square metres, with three bedrooms and two bathrooms. My mother-in-law had lived there ever since I married her son in 2014. My husband and I bought the house using a mix of our parents’ support. Technically, we still owe my parents the remaining balance. Lol. After living in Jakarta for about two and a half years, we decided to move into what we call the Panggon , or rumah dinas—a service house provided by TNI AU. Since it isn’t a Rumah Jabatan < Official Re...

Pilih(an)

Konon, menulis jurnal adalah bagian dari proses penyembuhan. Saya mengangguk setuju. Menulis jurnal , bukan menumpahkan emosi lewat status WhatsApp sambil berharap semesta ikut marah hanya karena hati kita sedang seret. Ada jurang lebar antara refleksi batin dan pamer luka di ruang publik, meski banyak yang mengacaukannya. Awalnya saya enggan menyinggung hal ini. Namun, hidup sering bercanda—niat saya membahas hal lain langsung terpelintir hanya karena saya menanggapi sebuah status WA. Rupanya respons saya tidak bertaut dengan ekspektasinya. Jadilah ia bereaksi—riuh, garang, seperti hendak menerkam sesuatu yang bahkan bukan ancaman. Saya hanya tersenyum tipis. Mungkin saya memang salah frekuensi. Ternyata, memberi perhatian pun bisa dianggap provokasi oleh orang yang sedang tidak selaras gelombang batinnya. Dan ya, mungkin energi saya sedang terlalu lincah; spontanitas saya memercik, lalu memicu dinamika yang membuat saya menghela napas dan membatin, “Ya ampun… ups .” Saya tak henda...