Beberapa waktu yang lalu terjadi demonstrasi di Negara ini, tepatnya di Jakarta. Ratusan ribu orang yang mengaku muslim yang tidak terima akan pernyataan Ahok yang seakan menista agama Islam terkait ucapannya yang menyinggung Surat Al-Maidah, turun berdemonstrasi minta agar Ahok dihukum.
Saya menyikapinya bukan dari segi Ahok salah atau benar. Ya, bagi Ahok yang tidak bermaksud menyinggung seperti yang dituduhkan, pasti merasa benar. Namun, bagi orang yang keburu jengkel dan mrungkel dengan gayanya Ahok, ditambah lagi provokasi sana-sini pasti beranggapan Ahok salah.
Terserahlah. Itu hanya masalah perspektif. Sayangnya, lagi-lagi Negara harus direpotkan sehingga mesti turun tangan memediasi masyarakat yang tengah terbagi menjadi 2 gelombang: PRO dan KONTRA.
Saya kalau jadi pihak ketiga bakalan cuma ketawa dalam hati, betapa tak bergunanya logika yang Tuhan beri kalau kita hanya repot mengurus masalah perspektif.
Terserahlah. Itu hanya masalah perspektif. Sayangnya, lagi-lagi Negara harus direpotkan sehingga mesti turun tangan memediasi masyarakat yang tengah terbagi menjadi 2 gelombang: PRO dan KONTRA.
Saya kalau jadi pihak ketiga bakalan cuma ketawa dalam hati, betapa tak bergunanya logika yang Tuhan beri kalau kita hanya repot mengurus masalah perspektif.
Saya tambah geleng-geleng kepala ketika orang beramai-ramai kirim link di Facebook. Yang satu membela Ahok habis-habisan, yang satu mengajak teman-teman untuk "menghabisi" Ahok seorang kafir yang tidak apa-apa jika dibunuh- [saya tidak paham penggunaan kata kafir ini.]
Sementara itu ada dari golongan yang rasionalis menurut saya, yang mengeluarkan pemikirannya dengan berpendapat secara santun di blog pribadi mereka. Mereka menampilkan data, pikiran yang masuk akal, dan ajakan untuk menyejukkan bangsa yang bersumbu pendek ini.
Sementara itu ada dari golongan yang rasionalis menurut saya, yang mengeluarkan pemikirannya dengan berpendapat secara santun di blog pribadi mereka. Mereka menampilkan data, pikiran yang masuk akal, dan ajakan untuk menyejukkan bangsa yang bersumbu pendek ini.
Selama membaca tautan/link yang dibagikan, saya diajak untuk berpikir bahwa fenomena apapun yang terjadi di negara ini cuma masalah politik.
Saya teringat zaman saya kuliah dimana pernah tercetus kalimat begini dari senior saya di jurusan HI: "Dari semua instrumen yang ada, isu SARA itu adalah instrumen politik yang paling mudah disusupi."
Saya teringat zaman saya kuliah dimana pernah tercetus kalimat begini dari senior saya di jurusan HI: "Dari semua instrumen yang ada, isu SARA itu adalah instrumen politik yang paling mudah disusupi."
Saya mulai membaca tren di jaringan pertemanan saya di FB. Senior maupun rekan-rekan dari TNI memilih tidak komentar apa-apa, paling cuma beberapa orang share link yang isinya mereka PRO terhadap ditindaknya Ahok. Sementara lainnya, entah memilih tidak perduli atau berhati-hati.
Teman-teman saya yang berasal dari zaman SD, SMP, dan SMA terbagi menjadi beberapa kategori: PRO Ahok dan mengimani bahwa Tuhan tetap menyertai Ahok, meyakini bahwa Ahok salah dan harus ditindaklanjuti, menghimbau dan mengajak agar adanya demo lanjutan, dll.
Teman-teman yang tidak terlalu dekat lainnya lebih frontal lagi sehingga banyak yang harus saya unfollow dari mereka karena postingannya menyakitkan mata dan pikiran Saya. Saya tidak mau memiliki pikiran pembenci. Jadi unfollow adalah opsi terbaik bagi Saya. Meng-unfriend tidak menjadi opsi karena menunjukkan rendahnya penguasaan emosi dan penerimaan saya terhadap orang yang berbeda pendapat dengan saya.
Saya cuma mau bertanya satu hal untuk mereka yang menganggap keberagaman itu pengganggu: Anda yakin tanpa keberagaman, hidup Anda akan jauh lebih baik dan berkualitas?
Sampai kapanpun kita akan menjumpai perbedaan. Perbedaan keyakinan, suku dan ras itu cuma perbedaan fisik yang tampak. Sementara ada banyak perbedaan lain yang memudahkan kita untuk terseparasi: perbedaan tingkat pendidikan, perbedaan kelas sosial, perbedaan kekayaan, dll.
***
***
Hal menarik sekaligus terkonyol yang saya temui adalah ketika Trump, secara tidak mengejutkan menjadi Presiden AS. Fadli Zon yang ikut berdemo tanggal 4 Nov kemarin yang setuju juga bahwa pemimpin haruslah dari golongan non-kafir, latah memasang swafotonya dengan Trump sambil mengucapkan selamat.
Ini menarik karena melihat aksinya di Jakarta kemarin membuat saya yakin beliau itu lebih pro pada agamanya ketimbang negaranya.
Tapi kemudian itu salah ketika ia mengucapkan selamat kepada Trump, jadi mungkin beliau itu bukan pro pada agamanya melainkan pada kepentingannya.
Ah... politik. Sungguh menggelitik.
Ini menarik karena melihat aksinya di Jakarta kemarin membuat saya yakin beliau itu lebih pro pada agamanya ketimbang negaranya.
Tapi kemudian itu salah ketika ia mengucapkan selamat kepada Trump, jadi mungkin beliau itu bukan pro pada agamanya melainkan pada kepentingannya.
Ah... politik. Sungguh menggelitik.
Satu hal lagi yang menarik sebelum saya berangkat beli nasi kuning untuk sarapan, Trump adalah orang yang mengaku rasis, tidak suka muslim, dll.
Jujur, saya tidak percaya dengan jargon-jargonnya hendak "memutihkan" Amerika Serikat lagi.
Jujur, saya tidak percaya dengan jargon-jargonnya hendak "memutihkan" Amerika Serikat lagi.
Hello, dia Businessman bukan Negarawan. Meski backingnya adalah Republik yang terkenal konservatif, tapi bukan berarti dia sepenuhnya radikal.
Namanya pebisnis pasti berhubungan dengan banyak orang dan banyak pihak dari berbagai latarbelakang ras, agama dan sebaginya.
Tapi enggak tahu juga ya kalau Republik sebagai partai pengusung ternyata memiliki kekuatan lebih powerful sehingga Trump bisa disetir.
Namanya pebisnis pasti berhubungan dengan banyak orang dan banyak pihak dari berbagai latarbelakang ras, agama dan sebaginya.
Tapi enggak tahu juga ya kalau Republik sebagai partai pengusung ternyata memiliki kekuatan lebih powerful sehingga Trump bisa disetir.
Cuma yang saya sayangkan adalah tindakan ekstrimis dari penduduk Amerika yang tidak menyukai muslim dengan cara menarik kerudung seseorang dan tidak ada tindakan hukum menunjukkan tanda-tanda yang mengarah kepada chaos. Saya menyayangkan di negara sebesar AS ternyata masih ada hal seperti ini. Sama seperti saya menyayangkan negara tercinta saya ini yang memandang bahwa satu golongan mayoritas sudah cukup menjadi pondasi bangsa. Padahal negara kita ini kan negara yang membuat negara lain iri akan kekayaaan dan keberagaman kita.
Tapi.. ya sudahlah mengingat semua ini sebenarnya cuma permainan politik dan saya menganggap politik itu bagian dari seni yang tidak bisa saya benci dan pungkiri keberadaannya, maka lebih baik kita memperhatikan dan meluruskan jika ada yang menyimpang.
Jadi, saya cuma mau bilang bagi yang gampang tersulut sumbunya, ayo banyak baca dan banyak beraktifitas sehingga tidak gampang terhasut.
Ini semua murni politik.
Jangan sampai kita saling benci, apalagi hanya karena urusan hati.
Ini semua murni politik.
Jangan sampai kita saling benci, apalagi hanya karena urusan hati.
Sebelum menutup cuap-cuap pagi ini, saya mengutip sebuah kalimat yang saya sukai yang sangat menyejukkan juga membuat saya sadar bahwa ketika saya membenci sesuatu, saya harus mampu melihat gambaran besarnya. Apa hikmah dibalik orang maupun situasi yang saya benci tersebut? Apakah mengarahkan saya kepada kebaikan atau tidak? Vice versa.
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu.
Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui."
Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui."
Comments
Post a Comment