Saya sedang mengepaki buku-buku yang sudah saya baca, lalu kemudian terbersit hasrat ingin menuliskan sedikit tentang buku.
Buku-buku yang saya kemas ini ingin saya bawa kembali ke rumah orangtua saya di Pontianak. Di sana, di kamar saya ada sebuah lemari besar. Dulu saya sering meletakkan pakaian di dalamnya, lama kelamaan ia berubah fungsi menjadi tempat tumpukan buku. Dari buki beraliran filsafat, materi kuliah, roman, komik ecek-ecek, hingga koleksi buku dari dalam maupun luar negeri.
Kecintaan saya terhadap buku mungkin belum [dan tidak] seperti teman-teman di zaman kuliah yang selain hobi baca juga sering nonton. Bacaannya mereka juga bikin keriting rambut. Bacaan saya menurut saya biasa, malah terkesan kacangan bagi mereka. Saya pernah dikasi konsumsi literatur luar. Beberapa teman membacanya hanya dalam tempo berhari-hari. Saya? Sebulan lebih beberapa minggu.
Mencerna itu sulit, Bung!
Tapi... saya menikmatinya. Membaca itu candu. Sedari dulu, setiap kali saya membaca satu halaman, saya selalu terhipnotis untuk melanjutkan lagi dan lagi halaman berikutnya.
Tak heran, saya pernah pusing keringat dingin lalu demam gara-gara membaca Harry Potter ke-5 yang tebalnya beribu halaman itu dalam tempo 2 hari 1 malam.
Saya tidak tidur.
Saya makan sedikit.
Saya tenggelam dalam khayalan karya J.K. Rowling tersebut.
Mencerna itu sulit, Bung!
Tapi... saya menikmatinya. Membaca itu candu. Sedari dulu, setiap kali saya membaca satu halaman, saya selalu terhipnotis untuk melanjutkan lagi dan lagi halaman berikutnya.
Tak heran, saya pernah pusing keringat dingin lalu demam gara-gara membaca Harry Potter ke-5 yang tebalnya beribu halaman itu dalam tempo 2 hari 1 malam.
Saya tidak tidur.
Saya makan sedikit.
Saya tenggelam dalam khayalan karya J.K. Rowling tersebut.
Saya masih ingat jelas ketika saya memenangkan setiap kompetisi yang pernah dilombakan dari SMP dan SMA dulu, uangnya selalu saya gunakan untuk beli buku.
Bahkan hingga kuliah, saya rela menyisihkan uang saku dan uang hasil kerja asdos, model, dan kerja serabutan lainnya untuk beli buku dan travelling [ini kita bahas nanti di lain kesempatan].
Bahkan hingga kuliah, saya rela menyisihkan uang saku dan uang hasil kerja asdos, model, dan kerja serabutan lainnya untuk beli buku dan travelling [ini kita bahas nanti di lain kesempatan].
Saya tidak pernah tertarik untuk beli aksesori, pakaian, tas model terbaru, de es be. Saya lebih suka beli buku.
Togamas, periplus, shopping, dan tempat penjualan buku bekas di Jogja [saya biasanya hunting di daerah Malioboro, di desa wisatanya. Saya lupa namanya. Tapi biasanya bule-bule jual buku-bukunya disitu.] menjadi tempat favorit saya. Oh ya, Gramedia juga termasuk. Khususnya troli yang ada tulisan: 50% off nya.
Percayalah, hanya Gramedia di Jogja yang menjual buku dengan harga murah parah dengan kualitas maha dahsyat. Boleh Saudara buktikan sendiri!
Togamas, periplus, shopping, dan tempat penjualan buku bekas di Jogja [saya biasanya hunting di daerah Malioboro, di desa wisatanya. Saya lupa namanya. Tapi biasanya bule-bule jual buku-bukunya disitu.] menjadi tempat favorit saya. Oh ya, Gramedia juga termasuk. Khususnya troli yang ada tulisan: 50% off nya.
Percayalah, hanya Gramedia di Jogja yang menjual buku dengan harga murah parah dengan kualitas maha dahsyat. Boleh Saudara buktikan sendiri!
Ketika saya ulangtahun, saya pasti minta buku. Buat saya, buku itu abadi.
Misalkan, mantan kasih buku. Buku takkan pernah saya buang. Terlalu berharga dan tak ternilai harganya untuk dibuang.
Buku juga menjadi tempat saya berfantasi, menangis bodoh karena merindu, buku itu pintu bagi saya terhadap kenangan dan juga masa depan.
Misalkan, mantan kasih buku. Buku takkan pernah saya buang. Terlalu berharga dan tak ternilai harganya untuk dibuang.
Buku juga menjadi tempat saya berfantasi, menangis bodoh karena merindu, buku itu pintu bagi saya terhadap kenangan dan juga masa depan.
Buku juga yang membuat saya tegar menghadapi hidup dan manusianya. Buku memperluas pandangan saya.
Buku memperlebar kesabaran saya.
Buku juga yang membuat saya sadar bahwa saya ini bodoh dan sadar letak kebodohan saya dimana serta berupaya menjadikan saya pintar namun tetap membuat saya sadar bahwa saya itu.. bodoh. Bingung kan? Saya juga bingung.
Buku memperlebar kesabaran saya.
Buku juga yang membuat saya sadar bahwa saya ini bodoh dan sadar letak kebodohan saya dimana serta berupaya menjadikan saya pintar namun tetap membuat saya sadar bahwa saya itu.. bodoh. Bingung kan? Saya juga bingung.
Koleksi buku-buku saya memang belum sebanyak teman-teman saya yang hidupnya sepertinya habis untuk membaca.
Koleksi saya masih sedikit.
Tapi uang yang sudah saya habiskan untuknya tidak sedikit. Puluhan juta mungkin sudah tersedot untuk membeli koleksi buku seri, memfotokopinya, dan mencari cara agar bisa mendapatkannya menjadi hak milik.
Saya pernah marah besar ketika teman saya tidak mengembalikan buku saya. Katanya hilang...
Saking kesalnya saya ngomong jahat ke dia dulu, "bahkan harga hidupmu tidak sebanding dengan makna buku itu bagiku."
Teman saya diam.
Kami perang dingin beberapa waktu, lalu dia datang dengan sebuah buku baru sambil meminta maaf karena teledor.
Koleksi saya masih sedikit.
Tapi uang yang sudah saya habiskan untuknya tidak sedikit. Puluhan juta mungkin sudah tersedot untuk membeli koleksi buku seri, memfotokopinya, dan mencari cara agar bisa mendapatkannya menjadi hak milik.
Saya pernah marah besar ketika teman saya tidak mengembalikan buku saya. Katanya hilang...
Saking kesalnya saya ngomong jahat ke dia dulu, "bahkan harga hidupmu tidak sebanding dengan makna buku itu bagiku."
Teman saya diam.
Kami perang dingin beberapa waktu, lalu dia datang dengan sebuah buku baru sambil meminta maaf karena teledor.
Saya pikir-pikir lagi, saya bisa seperti itu karena adanya perjuangan yang tidak kecil untuk mendapatkan buku tersebut maka ketika saya tahu buku itu hilang karena perlakuan teledor teman saya, saya marah bukan main.
Untuk sesuatu hal yang diraih dengan perjuangan, kita takkan pernah menyia-nyiakan.
Lalu, saya ingat ketika sebelum menjadi suami, saya pernah berikan buku kepadanya. Saya memang suka buku, jadi saya beri agar bisa berbagi.
Entah baginya berkesan atau tidak, tapi memang sejak saat itu kami jadi intens berhubungan via bbm dan telepon.
Bayangkan anehnya dua orang tidak pernah bertemu, hanya karena buku lalu kita tertarik untuk bertemu lalu berhubungan serius.
Mungkin kisah kami ini kalau difilmkan bisa saja lucu dan menggelitik. [Jadi, saudara produser bisa segera kontak saya untuk membicarakan royalti.]
Entah baginya berkesan atau tidak, tapi memang sejak saat itu kami jadi intens berhubungan via bbm dan telepon.
Bayangkan anehnya dua orang tidak pernah bertemu, hanya karena buku lalu kita tertarik untuk bertemu lalu berhubungan serius.
Mungkin kisah kami ini kalau difilmkan bisa saja lucu dan menggelitik. [Jadi, saudara produser bisa segera kontak saya untuk membicarakan royalti.]
Ada banyak buku menumpuk di lemari saya yang setiap saya buka lembarannya pasti dan selalu mengingatkan saya terhadap pemberinya.
Kenapa tidak bisa lupa?
Karena di buku tersebut selalu ada catatan dari si pemberi kala kita masih beriringan, masih sevisi, dan masih seirama.
Namun waktu tak menjadikan kami senada, mereka entah sudah dimana... sementara saya pun sudah dengan kehidupan saya sekarang ini.
Kenapa tidak bisa lupa?
Karena di buku tersebut selalu ada catatan dari si pemberi kala kita masih beriringan, masih sevisi, dan masih seirama.
Namun waktu tak menjadikan kami senada, mereka entah sudah dimana... sementara saya pun sudah dengan kehidupan saya sekarang ini.
Ah, asem. Jadi galau!
Hihihi... jadi kepikiran kalau nanti anak cucu saya kelak membongkar koleksi buku-buku saya dan menemukan tulisan dibawah Your Love ternyata bukan nama Papi atau kakeknya. Gawat kuadrat!!!
Hihihi... jadi kepikiran kalau nanti anak cucu saya kelak membongkar koleksi buku-buku saya dan menemukan tulisan dibawah Your Love ternyata bukan nama Papi atau kakeknya. Gawat kuadrat!!!
Yasud, intinya saya cinta buku.
Jadi kalau mau ngasih hadiah ke saya, cukup kasih saya buku.
Karena buku itu abadi...
Jadi kalau mau ngasih hadiah ke saya, cukup kasih saya buku.
Karena buku itu abadi...
Comments
Post a Comment