Jadi... beberapa waktu belakangan ini saya sering dipakai. Eitss, jangan negative thinking dulu!
Mungkin bahasa tepatnya bukan dipakai, tapi diberdayakan karena dianggap mampu.
Berawal dari menang lomba vocal group yang melibatkan ibu-ibu perwira dan bapak-bapak anggota yang memainkan alat musik dari barang-barang daur ulang, kami keluar menjadi juara 1 pada HUT PIA yang ke 59 se Lanud Abd Saleh.
Setelah menang, tawaran job pun mulai mendera... (Tsaaah!)
Mulai dari tampil pada HUT PIA puncak, berlanjut sebagai pengisi acara pada saat kuker KASAU kemarin, daaan... akan tampil lagi di acara Dharma Pertiwi di Surabaya nanti.
Setelah menang, tawaran job pun mulai mendera... (Tsaaah!)
Mulai dari tampil pada HUT PIA puncak, berlanjut sebagai pengisi acara pada saat kuker KASAU kemarin, daaan... akan tampil lagi di acara Dharma Pertiwi di Surabaya nanti.
Lelah? Pasti.
Bangga?! Otomatis.
Bangga?! Otomatis.
Terlepas dari pemberdayaan saya tadi, saya juga mau berbagi cerita dan pengalaman bagaimana saya yang biasa ini kemudian dituntut jadi serba bisa.
Bisa jadi ibu RT (masak, nyuci, ngemong Ello, dll); bisa jadi istri yang tetap senantiasa melayani dan mendampingi suami; bisa tetap kreatif membantu perekonomian keluarga, bisa aktif di keorganisasian PIA, dan syukur-syukur nantinya bisa sekolah lagi, menginspirasi dan memberi manfaat lebih banyak lagi kepada sesama.
Suatu kebanggaan dan puji syukur kehadirat Tuhan YME karena atas anugerahNya yang tidak terbatas ruang dan waktu, saya bisa terlibat di organisasi PIA Ardhya Garini Ranting 02 Cab. III Daerah 2 Skadron Udara 32 Lanud ABD Saleh, Malang. Kalau bukan gara-gara suami, saya tidak akan memiliki kesempatan untuk belajar dan mengembangkan diri menjadi serba bisa dan biasa.
Tak terasa hampir mendekati 2 tahun saya bergabung di organisasi PIA skadron 32. Awal bergabung di Maret 2014, saya langsung diberi tugas untuk tampil menari, menyanyi, nge-band megang gitar, dimasukkan dalam tim sepak bola, bola voli, dan sebagainya. Itu hanya di internal skadron saja. Di luar itu, saya menjadi wanita dan ibu tulen dengan menggelar acara arisan RT di rumah dan giat ikut arisan RT, bersimpati dan berempati dengan keluarga yang sedang berbahagia maupun sedang kemalangan.
Itu baru yang nampak dengan mata telanjang, untuk yang tidak nampak saya harus serba bisa dalam hal merendahkan diri dan hati maupun mengalah semengalah mungkin terhadap senior, mendahulukan senior dalam hal apapun, sabar, legowo, ikhlas, dan tidak sok-sokkan meski mampu atau bisa.
Bahkan di pergaulan antar teman-teman letting suami, saya belajar untuk sederhana dalam berkata-kata, berbuat dan berpikir. Tidak perlu berlebihan. Jikalau ada yang memuji, saya belajar mengucapkan terimakasih dan memberi pujian kembali.
Saya belajar untuk bisa tidak iri, dan tidak bersikap kompetitif. Prinsipnya lakukan yang terbaik dan jangan mengusik orang lain.
Saya belajar untuk bisa tidak iri, dan tidak bersikap kompetitif. Prinsipnya lakukan yang terbaik dan jangan mengusik orang lain.
Disini saya belajar untuk bisa menyenangkan orang lain. Maksudnya, bukan situ senang sini lantas susah. Itu salah!
Saya belajar untuk menyenangkan orang lain dengan itu tadi... sabar, tulus, ikhlas. Toh manfaatnya juga buat saya.
Saya belajar untuk menyenangkan orang lain dengan itu tadi... sabar, tulus, ikhlas. Toh manfaatnya juga buat saya.
Tidak mudah, tapi bukan berarti tidak bisa. Maka dari itu saya bersyukur untuk segenap pengalaman yang ada dan boleh saya rasakan. Saya bangga... bangga menjadi bagian dari PIA Ardhya Garini.
Comments
Post a Comment