Skip to main content

Resolusi 2016...dan untuk tahun-tahun mendatang yang Tuhan percayakan kelak.

1. "JANGAN MENUNGGU” yg perlu dihindari:
**********************

1. Jangan menunggu bahagia baru tersenyum, tapi tersenyumlah, maka kamu akan bahagia.
2. Jangan menunggu kaya baru bersedekah, tapi bersedekahlah, maka kamu semakin kaya.
3. Jangan menunggu termotivasi baru bergerak, tapi bergeraklah, maka kamu akan termotivasi.
4. Jangan menunggu dipedulikan orang baru kamu peduli, tapi pedulilah dengan org lain! Maka kamu akan dipedulikan ….
5. Jangan menunggu org memahami kamu baru kamu memahami dia, tapi pahamilah org itu, maka org itu akan paham dgn kamu.
6. Jangan menunggu terinspirasi baru menulis, tapi menulislah, maka inspirasi akan hadir dlm tulisanmu.
7. Jangan menunggu proyek baru bekerja, tapi bekerjalah, maka proyek akan menunggumu.
8. Jangan menunggu dicintai baru mencintai, tapi belajarlah mencintai, maka kamu akan dicintai.
9. Jangan menunggu banyak uang baru hidup tenang, tapi hiduplah dgn tenang. Percayalah bukan sekadar uang yg datang tapi juga rezeki yg lainnya.
10. Jangan menunggu contoh baru bergerak mengikuti, tapi bergeraklah, maka kamu akan menjadi contoh yg diikuti.
11. Jangan menunggu sukses baru bersyukur tapi bersyukurlah, maka bertambah kesuksesanmu.
12. Jangan menunggu bisa baru melakukan, tapi lakukanlah! Maka kamu pasti bisa!
13. Jangan menunggu waktu luang utk ber-Ibadah.
Tapi luangkan waktu utk ber-Ibadah.

2. 2016

Mengerti lebih dalam. Mendengar lebih banyak. Bicara lebih sedikit. Memaafkan yang tak mungkin. Mengakui kesalahan sendiri. Merelakan yang sudah pergi. Mengikhlaskan yang telah bahagia. Membiarkan yang tidak mampu dikendalikan. Mencintai diri sendiri. Memaafkan diri sendiri. Menerima diri sendiri.

Jatuh cinta.

Berani menghadapi yang tanda tanya. Belajar lebih keras. Bekerja lebih baik. Belajar lebih banyak. Tidur lebih nyenak. Makan lebih teratur. Olah raga sebisanya. Ngobrol dengan ibu lebih banyak. Belajar percaya pada orang lain. Belajar menerima kekurangan orang lain. Belajar mengurangi berkomentar pada tiap orang yang datang.

Pulang.

Mendengarkan musik lebih banyak. Membaca buku lebih lama. Menonton bersama teman. Tidak mengasihani diri sendiri lagi. Hemat. Belajar untuk memasak. Masak indomie bukan memasak. Merebus telur bukan keahlian. Nyinyir bukan keterampilan. Belajar tanda baca, struktur kalimat dan lebih baik menulis.

Bahagia.

Semoga.

..................

Saya repost ulang karena suka dengan kontennya. Ternyata resolusi 2016 saya banyak. Banyak!
Anw, credit to Wati Aja and Arman Dhani.

Comments

Popular posts from this blog

It’s Always God: Through Change and Growth

Unstoppable gratitude, these are the two words that define 2025, and probably 2026 and many years ahead. When I look back at early 2025, so many meaningful things happened. The second semester at UNHAN began. My children turned 10 and 8. We celebrated our 11th wedding anniversary, and my husband and I both turned 37. Many beautiful moments filled our days. Besides the ups, we also faced some downs. As a couple, we learned how to reconcile and find our rhythm again. We are constantly learning to manage our shortcomings so that the system we have built—our family—can keep working and growing. The second half of 2025 brought quite drastic changes. My husband moved to a different division at work, and we moved into our panggon , our new home in Halim Perdanakusuma. Our children advanced to years 5 and 3. I was no longer in my second semester at UNHAN, but I was trusted to serve as a Master of Ceremony and moderator for several UNHAN events. I also traveled to Pontianak for a few days with ...

The House That Carried Us Forward

I don’t think I’ve ever written about the government housing provided by the Air Force where we’re currently living. We’ve been here for almost half a year now—since June, to be exact. I still remember the day we left Malang for Jakarta: the kids and I ended up crying together. Strangely enough, that move also happened in December, as if the month itself always carries a bittersweet turning of seasons for our family. But life moves forward, and so must we. Our first home in Jakarta was in Lubang Buaya—a small house, roughly 108 square metres, with three bedrooms and two bathrooms. My mother-in-law had lived there ever since I married her son in 2014. My husband and I bought the house using a mix of our parents’ support. Technically, we still owe my parents the remaining balance. Lol. After living in Jakarta for about two and a half years, we decided to move into what we call the Panggon , or rumah dinas—a service house provided by TNI AU. Since it isn’t a Rumah Jabatan < Official Re...

Pilih(an)

Konon, menulis jurnal adalah bagian dari proses penyembuhan. Saya mengangguk setuju. Menulis jurnal , bukan menumpahkan emosi lewat status WhatsApp sambil berharap semesta ikut marah hanya karena hati kita sedang seret. Ada jurang lebar antara refleksi batin dan pamer luka di ruang publik, meski banyak yang mengacaukannya. Awalnya saya enggan menyinggung hal ini. Namun, hidup sering bercanda—niat saya membahas hal lain langsung terpelintir hanya karena saya menanggapi sebuah status WA. Rupanya respons saya tidak bertaut dengan ekspektasinya. Jadilah ia bereaksi—riuh, garang, seperti hendak menerkam sesuatu yang bahkan bukan ancaman. Saya hanya tersenyum tipis. Mungkin saya memang salah frekuensi. Ternyata, memberi perhatian pun bisa dianggap provokasi oleh orang yang sedang tidak selaras gelombang batinnya. Dan ya, mungkin energi saya sedang terlalu lincah; spontanitas saya memercik, lalu memicu dinamika yang membuat saya menghela napas dan membatin, “Ya ampun… ups .” Saya tak henda...