Skip to main content

Posts

Showing posts from 2017

Diselamati atau Tidak, Natal Tetaplah Natal

Ada yang menarik dari perayaan Natal tahun ini di Indonesia. Di tengah memanasnya suasana keberagaman di Tanah Air, toh perayaan malam Natal dan Natal kemarin dapat berlangsung dengan baik, aman, dan khusyuk. Setidaknya di Ibukota Jakarta, tepatnya di GKPO Halim Perdanakusuma - Jakarta Timur. Kemarin ketika kami hendak menuju ke gereja, berbagai elemen masyarakat dari polisi, ormas (entah Pemuda Pancasila atau FKPPI, Saya lupa), bahkan adik-adik pramuka ikut mengamankan dengan menata lalu lintas, membantu memeriksa tas yang dibawa jemaat sebelum masuk ke gereja. Saya tidak tahu apakah mereka diberi kompensasi atas bantuannya atau tidak sama sekali, bagi saya kerelaan mereka meluangkan waktu dan tenaga untuk membantu sangatlah saya apresiasi. Saya sangat terharu melihat perempuan-perempuan berjilbab berseragam ormas maupun pramuka turun tangan bahu-membahu mengamankan kegiatan ibadah kami kemarin. Sungguh Natal 2017 ini sangatlah mengharukan. Ucapan Selamat Natal Dan tahun ini pu...

Batik Ikan Arwana

Menurut Saya, pilihan-pilihan apapun yang kita buat adalah hasil dari setiap pengalaman yang pernah kita alami. Entah pengalaman tersebut berupa orang-orang yang pernah kita temui, tempat-tempat yang pernah kita kunjungi, dan berbagai hal lainnya. Sama halnya ketika saya diikutsertakan untuk memeriahkan lomba membuat batik tulis dalam rangka memperingati HUT PIA ke 61 di Lanud Abdulrachman Saleh, Malang. Dengan berbekalkan dua hari pelatihan yang cukup menguras waktu, tenaga dan pikiran kami pun diikutsertakan untuk mengikuti lomba membuat batik tulis tersebut. Saya harus berterimakasih kepada Ibu Danlanud kami, Ibu Julexi Tambayong atas kesempatan dimana saya boleh memahami bahwa membuat batik tulis itu tidak gampang. Proses tersulitnya adalah menggambar menggunakan malam (baca: lilin yang sudah dicairkan namun masih dalam keadaan panas) dengan canting. Astaga! Itu sulit sekali!Beberapa kali tangan saya terkena lelehan lilin panasnya, celana saya tercetak totol-totol lilin ya...

Cerita Tentang Seleksi CPNS Kemarin

Lama nian tak menulis, jemari dan pikiran pun lantas kaku dan gagu. Urusan keluarga, pekerjaan rumah tangga, bisnis kecil-kecilan, anak hingga kegiatan organisasi seakan menguapkan semua waktu yang tersedia dalam sehari. Yasudahlah, toh saya menulis pagi-pagi begini bukan untuk mengeluh. Tapi untuk refleksi diri. Okay, baiklah! Saya gagal untuk kali ketiga dalam seleksi CPNS kali ini. Lucunya saya gagal ini merupakan kegagalan terparah. Lha kok bisa? Iya, saya gagal di Wawasan Kebangsaan. Jika dua tes sebelumnya saya bisa memenuhi passing grade, cuma hanya karena saya bukan yang tertinggi sehingga saya tidak bisa melanjutkan ke tes berikutnya. Nah, sekarang saya tidak bisa melanjutkan ke seleksi berikutnya karena nilai saya tidak bisa memenuhi kualifikasi. Sedih! Tapi hidup harus berjalan... tapi ya tetap saja sedih. Dikarenakan parno dengan Matematika, maka saya belajar mati-matian di bagian Intelijensi Umum. Saya kemudian menganggap remeh bagian Wawasan Kebangsaan. Bagian Keprib...

#Absen

Halo, Blogku tersayang! Lama saya tak menulis, entah karena kesibukan atau kesulitan membagi waktu. Mohon maaf yang sebedar-besarnya. Ditambah lagi kini saya (sok-sokkan) belajar untuk ujian CPNS. What?! Lagi?! Hehehe, iya! Ibarat kapok sambal. Sudah kepedasan, tapi masih mau lagi. Sama! Meski sudah dua kali gagal, tetap saja saya mau terus berusaha hingga usia saya tidak diperkenankan lagi untuk mengikutinya. Sebenarnya saya mulai menikmati ritme hidup saya menjadi ibu RT yang tidak bisa juga dikategorikan leyeh-leyeh saja menerima gaji dari suami, karena aktifitas saya juga padat merayap. Meski cuma menyandang sebagai ibu RT, saya cukup umek juga dalam hal urusan rumah tangga, kegiatan organisasi persatuan istri anggota karena suami berdinas di TNI AU, juga online shop yang tengah saya geluti. Cuma namanya nazar sih ya, alias sudah berjanji pada diri sendiri dan suami bahwa selama usia saya masih diperkenankan untuk ikut tes CPNS, saya akan ikuti terus!  Lah, kalau masuk g...

Tentang Menjadi Apa Adanya

Me: What makes you are so comfy enuff to tell me everything about your private life? Tanya saya ketika YCN menceritakan secara detail dan gamblang mengenai kehidupannya kini di luar negeri. YCN menjawabnya via Line chat: "You are one of my bestfriends I am comfortable to share with and I know you are not kinda judgmental person." NICE! Ternyata saya di matanya ya begitu itu. Entah itu pujian atau sebuah olokan mengingat beberapa waktu silam saya adalah orang yang sangat judging dan mungkin termasuk kaum yang senang membuat orang lain tidak nyaman. Tapi ya memang bila saya perhatikan orang-orang memang suka bercerita ke Saya. Bukan karena saya enak jadi tempat menuangkan cerita mereka, mungkin karena saya lebih banyak diamnya aja sekarang dan lebih suka memerhatikan. Ditambah lagi saya juga mulai malas mengomentari kehidupan orang lain, kecuali dimintai pendapatnya. Saya lebih suka mendengarkan dan mengamati. Ada semacam kepuasan pribadi ketika dapat mengenal orang hanya...

Mengapa Arogan?

Saya terlongo kaget ketika menonton video full penamparan yang dilakukan seorang Ibu (yang katanya istri eks) pejabat berbintang. Video yang tengah viral itu mempertontonkan arogansi si Ibu yang tidak mau taat pada peraturan yang berlaku. Kalau merasa kerepotan untuk melepaskan jam tangan, kacamata, atau benda-benda logam yang melekat pada tubuh ya mending tidak usah dipakai sama sekali. Gitu aja kok repot ya? Bukan tanpa alasan ketika kita diminta untuk melepaskan segala benda yang mengandung logam yang melekat di tubuh ketika hendak melalui pintu scanning pemeriksaan. Eh, apa mungkin si Ibu (yang katanya istri eks) pejabat berbintang ini merasa hampa jika tidak mengenakan seperangkat alat yang menyatakan status sosialita-nya meski sudah berstatus istri MANTAN pejabat? Mengadaptasi dari versi bahasa Inggris-nya: arrogant   berarti having or revealing an exaggerated sense of one’s own importance or abilities. Si Ibu merasa dirinya penting, dan memiliki kemampuan lebih dari M...

Malam Itu

Suara pintu diketuk. Putra pertama saya, Ello, yang pertamakali menyadari bahwa ada tamu. Baju saya ditarik Ello sambil teriak: “Mami, Papi!” Jelas bukan Papi nya anak-anak karena suami saya sedang melaksanakan misi tiga hari. Saya tergopoh-gopoh meletakkan piring berisi makan malam dan berlari membukakan pintu. Ketika pintu dibukakan, seorang wanita seumuran Ibu saya langsung menghambur menyatakan kekangenannya. Saya menyambutnya dengan mencium tangannya dan memeluknya. Saya mengenalnya sebagai seorang Ibu dari almarhum Mas Arif. Ibu memberikan plastik yang berisi ketupat, lepat (ketan dan kacang yang dikukus dalam balutan daun kelapa), dan sayur santan. Kata Ibu: “Kalau tidak suka nanti, Mbak buang saja.” Membayangkan beliau membawanya dari rumah di Jabung bersama adik almarhum ke tempat kami dengan mengendarai motor sepertinya saya juga tidak tega membuangnya. Ibu memeluk Gio, putra kedua saya, yang memang dari tadi merengek minta digendong. Dari caranya menciumi Gi...

#1 Jangan Jahat Sama Orang! Kamu Enggak Pernah Tahu Apa Yang Ia Adukan ke Tuhan-nya Tentang Kamu!

Sebuah catatan pengingat. Supaya kalau Tuhan izinkan kami bisa sekolah lagi sampe S3, saya enggak mandang rendah orang lain yang tidak mengenyam bangku pendidikan.  Kalau Tuhan izinkan kami hidup berkecukupan dan syukur-syukur makmur sentosa, kami enggak memandang remeh mereka yang hidupnya pas-pasan apalagi berkekurangan. Kalau Tuhan izinkan kami berumur panjang dan sehat, kami juga tidak memandang dan berkata sinis kepada mereka yang kesehatannya terganggu dan bagi mereka yang sudah dipanggil lebih dulu. Dan untuk setiap nikmat berkat yang sudah Tuhan berikan kepada kami, kami bersedia menjadi perpanjangan tangan-Nya untuk menjadi saluran berkat bagi orang lain dan bukan memandang remeh apalagi rendah orang-orang lain. Karena... kalau kita berlaku jahat ke orang lain, kita enggak pernah tahu apa yang ia adukan ke Tuhan-nya tentang kita ...

Better Late Than Never, Jojo!

Usia saya sudah 29 tahun dan saya hitung-hitung baru 4 karya yang dicetak: 1) berupa cerita bersambung zaman SMP yang sempat dicetak di majalah sekolah. 2) Karangan mengenai Presiden Soekarno dalam rangka memperingati 100 tahun Bung Karno. Saya juara 3 se-Kalimantan Barat. Saya ingat saya dapat duit sebesar 200rb kalau tidak salah. Tahun 2001, duit sebesar itu sudah bisa beli macam-macam kan ya? 3) Saya pernah nulis di koran di rubrik Swara Kampus. Honornya 70,000 per tulisan yang dimuat. Lumayanlah buat bayar pulsa. 4) Saya menulis cerita karena diminta untuk mengisi kolom website Senyum Community. Saya menyadari tidak ada yang bisa dibanggakan dari itu semua, mengingat banyak remaja bahkan anak-anak muda zaman sekarang mampu menelurkan beratus tulisan di usia mereka yang belia. Sementara saya? Entah terlalu takut, atau terlalu banyak mikirnya dalam berkarya. Saya teringat omongan sahabat dan mantan sahabat saya untuk menulis kembali.

Bertemu dengan Manusia-manusia Sulit

Akhir-akhir ini saya sering menjumpai hal yang membuat saya agak sebal, yaitu janji yang tak ditepati dan pesan yang tidak diresponi. Sempat beberapa pikiran buruk datang menghampiri membuat saya jadi berpikiran yang tidak-tidak terhadap manusia-manusia yang macam begini ini. Pesan-pesan yang kita kirim, tidak digubris. Sementara hal macam status dan gambar profil bolak-balik diganti. Ini manusia mau apa? Begitu saya membatin. Padahal kita menghubungi bukan untuk sesuatu yang tidak penting. Tapi ah... bisa jadi baginya kita tidak sedemikian pentingnya. Yasudahlah... ~

Mei yang Mei-nyenangkan dan Mei-mbahagiakan

Siapa mengira Mei tahun 2017 ini bisa menjadi bulan yang sangat menyenangkan, padahal setahun yang lalu saya mengalami kesedihan mendalam. Ah, tak usah bahas yang sedih-sedih! Cukup bagian yang menyedihkan menjadi pembelajaran, karena kalau dilihat-lihat di cermin, ternyata muka saya aduhai JELEKnya kalau lama-lama bersedih,

I Stand Up Not For The MANY. I Stand Up For What I Think is Right!

"Saya pernah 2 kali ditolak cintanya oleh lelaki. Tapi belum pernah merasa sesedih hari ini. Ini seperti patah hati yang terakumulasi." Tweet saya tanggal 9 Mei 2017 kemarin benar-benar mencerminkan kesedihan saya yang luar biasa terhadap negara ini. Ahok akhirnya dihukum 2 tahun penjara karena dianggap menista agama. Saya tercengang! Bukan karena Ahok seorang Kristen sama seperti saya, maka saya merasa tidak adil. Saya merasa ini tidak adil karena orang-orang di luar sana yang terang-terangan menista dan tak segan mengunggah penistaan agama lain tersebut terpampang nyata di youtube MALAH bebas melenggang kangkung. Saya menangis. Marah tapi tidak tahu mau marah ke siapa. Jadilah saya marah terhadap diri saya sendiri, yang merasa tidak bisa berbuat apa-apa untuk ketidakadilan yang terjadi di negeri ini. Saya teringat ketika saya masih bersekolah di bangku SD, bahkan hingga SMA. Jika teman saya "mengolok" saya dengan memberikan simbol tanda salib semaunya sam...

ASI atau SUFOR?

Bisa memberikan asi tentu menjadi kebanggaan tersendiri bagi para ibu. Namun, ada kondisi tertentu dimana tak semua ibu bisa menyusui bayinya. Apapun pilihan ibu untuk asupan bayinya, berhak dihargai. Dan kita tidak berhak menjudge pilihan mereka, para ibu yang memberikan sufor pada bayinya. Bisa menghasilkan ASI itu rezeki. Dan  rezeki adalah hak yang Kuasa, maka tak elok kalau kita meminta disamaratakan atau bahkan mempertanyakannya. Bagi ibu lain yang diberi rezeki ASI yang berlimpah, saya percaya kita diberi anugerah rezeki di hal lain. Namun secara pribadi, saya menyatakan dukungan terhadap pemberian ASI eksklusif (maksudnya menyusui) selama 6 bulan eksklusif dan dilanjutkan hingga 2 tahun atau lebih (kalau mampu). Meski pada realitanya, saya cuma mampu memberikan ASI pada Ello hanya 1 tahun karena Ello enggan menghisap puting saya lagi dan lebih memilih meminum susu dari botol. Alasan kenapa saya mendukung ASI sebenarnya sederhana :

Normal vs SC, Sama Enaknya... Sama Sakitnya... Sama Membahagiakannya!

"Wah, hebat kamu! Salut saya kamu bisa lahiran normal dengan berat badan bayi 3.5 kilo. Kalah saya."  kata mertua saya ketika mengetahui saya berhasil melahirkan normal kemarin. Sempat terselip dalam benak saya, berarti kemarin pas saya lahiran caesar berarti mertua saya ga salut dong? :( Memang ketika mengetahui saya berhasil lahiran normal dengan jarak persis 2 tahun dari kelahiran pertama saya yang melalui proses caesar, banyak yang memberi selamat dan memuji. Alasannya, bisa dihitung dengan jari berapa banyak orang yang berhasil melahirkan normal pasca caesar dengan jarak kurun waktu 2 tahun. Idealnya, melahirkan secara normal pasca caesar harus berjarak paling tidak lebih dari 2,5 - 3 tahun. *** Jadi, melihat respon orang-orang di sekeliling saya, maka izinkan saya menarik sebuah kesimpulan begini:

Terimakasih Tuhan dan Terimakasih Bapak Jokowi

Judul tulisan saya kali ini mungkin agak ngeselin bagi sebagian orang. Kenapa harus berterimakasih dengan Jokowi? Apa saya pendukung Jokowi? Saya Jokowi lover gitu? Sabar. Saya jelaskan dulu alasan kenapa sampai saya tega menuliskan judul begitu, yang mana selain saya berterimakasih kepada Tuhan saya, saya juga berterimakasih kepada Jokowi, Bapak Presiden saya. Jadi tanggal 1 Maret kemarin saya melahirkan kembali seorang putra dengan BB (berat badan) 3,5kg dan panjang badan 50 cm. Saya melahirkannya ke dunia ini atas seizin Tuhan Yang Maha Kuasa melalui persalinan NORMAL. Iyess, normal saudaraku! Suatu prestasi setidaknya bagi saya sendiri. Di kala zaman yang semakin maju ini,  justru melahirkan melalui persalinan normal malah menjadi sebuah hal langka. Proses melahirkan SC atau melalui operasi menjadi sesuatu yang wajar saat ini. Lha sekarang wong sedikit-sedikit operasi. Barangkali hal instan dan tidak mau repot telah mendarah daging dalam diri kita. Tak cukup kebaikan...

3 Tahun Menikah Itu Rasanya...

Saya posting ini pas tanggal 22 Pebruari kemarin di laman facebook saya. Saya tag pula suami tercinta saya itu: Our Love Story: 1. Anniversary? 22 Februari 2. First date? Toko buku Shopping & Malioboro. Sepanjang jalan kita susuri dengan berjalan kaki. Saya banyak diamnya, dia banyak ceritanya. 3. How did you first meet?

Untuk Seorang Perempuan Bernama...

Yth. Ibu Veronica Basuki Tjahaja Purnama. Perkenalkan nama saya Yohana Meyridha Simamora. Seorang perempuan, Ibu, dan istri. Status kita sama, Ibu. Bedanya Ibu jauh lebih dewasa, matang, dan merupakan seorang istri pejabat yang cukup disoroti akhir-akhir ini. Kalau saya, jelas bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa, Ibu. Tidak ada yang bisa dibanggakan dari saya. Saya cuma ibu RT dan istri dari seorang abdi negara tanah air di TNI AU. Namun demikian, meski saya tidak memiliki suatu hal apapun yang bisa dibanggakan, tapi saya bangga saya bisa menemukan figur seorang perempuan seperti Ibu di negeri ini

Meruwat Indonesia dengan Sembilan Nilai Universal Ala Gus Dur

Tidak mengagetkan ketika kasus dugaan penistaan agama yang menyeret Cagub DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dan Aksi Bela Islam menjadi isu terpopuler sepanjang tahun 2016 di Tanah Air. Mengagetkan justru efek dari kelanjutan kasus tersebut menambah daftar panjang tindakan-tindakan intoleransi yang terjadi di negeri ini. Dinamika sosial dan politik Indonesia akhir-akhir ini diwarnai oleh aksi kekerasan kelompok tertentu yang ingin memaksakan kehendak dan tak menghargai perbedaan. Berbagai pertanda jelas menunjukkan bahwa pilar-pilar keindonesiaan kita, termasuk Bhinneka Tunggal Ika, terus menerus digerus. Kondisi Indonesia pada saat ini sudah mengarah pada homogenisasi. Beragam aksi intoleransi makin sering terjadi di negeri. Aksi teror terhadap tempat ibadah, penyebaran media dengan konten hoax, politisasi isu SARA, dan sebagainya.  Ini jelas tak sesuai dengan kondisi negeri, karena Indonesia itu seperti pelangi. Sayangnya, menghadapi kondisi tersebut, aparat peme...

Unwritten Rules: Do's and Don'ts for Junior

Sebenarnya ini postingan lama. Saya baru menemukannya pas bongkar-bongkar file di laptop yang saya beri nama Windu.  Saya tulis ulang di blog ini karena murni hasil pemikiran Saya. Kalau pun Saya ditegur dan dipanggil, ya ga papa. Soalnya saya butuh menuliskan apa yang saya rasakan dan pikirkan, selama hasil dari perasaan dan pikiran saya itu tidak membuat seseorang lantas menjadi gila lalu bunuh diri.

KEHILANGAN KEMBALI...

Saya selalu menyukai musim penghujan, atau minimal kondisi sehabis hujan. Efek yang ditimbulkannya; aroma tanah yang basah, jalanan aspal yang berubah menjadi abu kehitaman yang mengilap, dedaunan bahkan batang hingga ranting pepohonan berubah warna menjadi lebih gelap segar. Hal-hal ini yang selalu membuat saya kembali terkenang. Kenangan yang membuat saya hidup. Dengan mengenang saya bisa lebih menghargai hidup. Mengenang tak selalu diklasifikasikan sebagai orang-orang yang gagal move on. Jujur saja, dalam waktu kurun waktu satu tahun ternyata begitu banyak yang berubah. Tidak hanya konstelasi politik luar negeri yang berubah, dalam negeri pun banyak perubahan. Bahkan dalam kehidupan pribadi saya sendiri ternyata begitu banyak perubahan yang terjadi. Meskipun saya tidak suka membicarakan tentang kesedihan, namun transisi 2016 ke 2017 ini lebih banyak membuat saya berduka ketimbang bersukaria.

What Is Constant? CHANGE!

03 Februari 2017, namun kalender 2017 pun belum punya. Apa kata yang tepat untuk menyimpulkan saya selain susah move on? Menariknya adalah bukan hanya saya yang ternyata seperti itu. Rekan-rekan juga banyak yang belum punya kalender 2017, entah karena memang malas beli jadi tinggal nunggu pembagian saja, atau sedang riweuh alias aktifitasnya sedang padat merayap. Memang awal tahun 2017 ini, kedinasan suami disini disibukkan dengan aneka sertijab Komandan kemarin. Rangkaian kegiatan sertijab akan seabrek. Lelah? Pasti. Tapi sudah biasa. Dan lagipula hanya sekali sewaktu-waktu.