Skip to main content

We Age Not By Years, But By Stories

Kemarin Saya teleponan dengan adik perempuan Saya, ABS. Lumayan panjang dan banyak topik yang kami bicarakan, mulai dari kehamilan yang telah memasuki trimester ke III, pekerjaan, keluarga, dan angan-angan.

Nyaris tiga jam lamanya kami berbincang. Hingga kami lompat ke suatu topik yang bahkan saya pun lupa kok bisa-bisanya sampai adik saya ngomong gini, "Kalau ga nikah sama Abang, mana mungkin dirimu bisa tertata seperti ini."
Saya terdiam ketika celetukan adik saya itu keluar tanpa merasa terbebani.
"Aku aja sampe bilang ke Mama kalau aku takjub dengan perubahan Kak Yoan yang sekarang. Kalau ngingat dirimu yang dulu lalu dibandingkan dengan sekarang yang bahkan mau beranak 2, salutlah aku." Tambahnya lagi.


Baiklah. Sebagaimana yang telah diketahui bersama, saya memang orang yang menyukai kebebasan yang seringkali justru jadi kebablasan.

Please, jangan salahkan Jogja... apalagi orangtua saya. Memang sejak merantau, saya jadi semacam punya paradigma sendiri tentang hidup, yang bagi banyak orang yang kenal saya sebelum merantau adalah anak manis, cupu dan tidak pernah tidur di atas jam 11 malam, akan KAGET setelah menjumpai saya ketika kuliah.

Nakal? Enggak. Lebih bebas, iya. 
Bebas yang saya kategorikan disini antara lain:
Lebih suka jalan sana-sini, ngerjain ini-itu ketimbang nyelesain skripsi.
Kemana-mana demennya cuma bercelana pendek, kaos, dan sandal jepit.
Tidak banyak polesan karena merasa cukup pede dengan tampang minimalis.
DLL (dan lain-lainnya lupa).

Namun, semua itu berubah drastis ketika mengenal pria yang kemudian menjadi Papi dari anak-anak kami.
Berpacaran dengan Papi Ello aja sudah banyak aturan yang harus saya ikuti, dan sesuai dengan feeling saya, dengan menyetujui untuk menikah dengannya maka saya pun lebih terikat lagi dengan seabrek aturan yang membuat saya seringkali menghela napas panjang.

Begitu saya menikah dengan Papi Ello, saya secara otomatis resmi menjadi anggota PIA [Persatuan Istri Anggota] Ardhya Garini milik TNI AU.
Yep betul, suami saya adalah seorang prajurit TNI.
Suka tidak suka... mau tidak mau, saya terikat dengan sejumlah peraturan tertulis maupun tidak tertulisnya. Ada etika dalam pergaulan, protokoler yang harus diikuti, dan sebagainya dalam tubuh dan pergaulan keseharian di organisasi ini.
Bisa dibayangkan, macam apa jadinya saya yang terbiasa seenaknya sendiri tiba-tiba hidup dalam dunia serba diatur?!

Bagi saya, neraka. Tapi berbeda bagi adik saya. Tanpa saya sadari, obrolan kami kemarin mencerahkan pola pikir saya.
Dia menyatakan bahwa sekarang saya lebih terorganisir, lebih sabar, tidak lagi meledak-ledak, not just on time tapi nyaris in time, keibuan, bertanggungjawab dan segambreng hal positif lainnya.

Saya tercenung. Ah, masa sih?
Saya merasa saya masih memiliki jiwa pemberontak, serta masih suka seenaknya sendiri.
Tapi perlahan saya mulai mengiyakan perkataan adik saya:
Semalas apapun saya, toh setiap keluar dari pintu panggon [rumah dinas], saya memastikan pakaian saya sopan dan paling tidak bermake up tipis. Saya mulai berhati-hati dalam berkata-kata serta bercanda. Tidak bisa sebablas dulu lagi.
Saya belajar lebih peka dan ngayomi. Memang masih saja saya merasa kurang yang sudah saya lakukan, namun makin kesini saya belajar untuk menyeimbangkan semua. Setidaknya, berusaha menyeimbangkan antara keluarga, organisasi, dan cita-cita.

Pikir punya pikir, hampir tiga tahun saya bergabung dalam organisasi ini sebenarnya banyak hal positif yang harus saya akui berfaedah betul bagi saya. Selain disiplinnya yang tinggi, saya diajari menjadi seorang priyayi. Hihihi... saya jadi tertawa geli. Seorang saya diajari menjadi wanita tulen. Wanita beneran.
Siapa sangka, saya bisa sedikit-sedikit menata makanan di meja makan. Peletakan sendok, piring, gelas, buah-buahan, klitikan, dan sebagainya. Saya juga baru tahu bagaimana memilih buah yang baik secara tampilan dan manis di dalamnya untukdisajikan. Lalu, saya baru tahu juga kalau untuk menyajikan buah salak kepada tamu, kita tidak perlu mencuci dengan air. Cukup menyikatnya dengan sikat gigi kering agar kilapnya keluar dan membersihkan tanah-tanah yang mengitarinya.
Apa lagi ya? Oh, dalam berbusana dan berpenampilan. Saya kan orangnya cuek dan nyaris slebor. Tapi disini, saya dituntut berpenampilan baik. Tidak mesti mewah, cukup sederhana namun enak dilihat. Rambut tersisir atau diikat rapih. Wajah diberi riasan. Mau tidak mau saya belajar berdandan, Kawan!

Dalam tubuh organisai PIA AG ini, saya banyak mendapatkan kesempatan untuk belajar. Kegiatannya memang seabrek di tempat suami berdinas, tapi kegiatannya sebenarnya banyak positifnya. Disini kami belajar untuk melayani, TIDAK untuk dilayani. Saking banyaknya istri perwira yang bergabung di kesatuan suami berdinas, jadi istri anggota tidak terlalu berperan aktif (I know... enaknya...). Disini, kami yang istri-istri perwiranya yang banyak terjun untuk bekerja dan tidak berpangku tangan. Yah, hitung-hitung belajar juga kan ya bila nanti terjun di masyarakat?

Organisasi tempat saya bernaung ini kemarin ulangtahun yang ke 60, usia yang tak muda lagi. Genap berusia 60 pada tanggal 26 November 2016 kemarin. Secara singkatnya, 

PIA Ardhya Garini merupakan organisasi Persatuan Isteri Prajurit TNI Angkatan Udara.

Isteri Prajurit Angkatan Udara mutlak tidak dapat dipisahkan dari TNI Angkatan Udara, baik dalam melaksanakan tugas organisasi maupun dalam kehidupan pribadi. Oleh karena itu isteri prajurit TNI Angkatan Udara harus membantu TNI Angkatan Udara dalam menyukseskan tugasnya baik sebagai kekuatan pertahanan maupun sebagai komponen pembangunan bangsa untuk mencapai cita-cita bangsa Indonesia.

Sampai dengan saat ini PIA Ardhya Garini telah membantu Kepala Staf TNI Angkatan Udara dalam Pembinaan isteri Prajurit dan keluarganya, khusunya bidang mental, fisik, kesejahteraan dan moril. Tugas lainnya adalah mendukung kebijaksanan pimpinan TNI AU dengan membina dan mengerahkan perjuangan isteri anggota TNI AU, menciptakan rasa persaudaraan, dan kekeluargaan, rasa persatuan dan kesatuan serta kesadaran nasional.

Kegiatan PIA Ardhya Garini antara lain melakukan kegiatan di bidang organisasi, ekonomi, pendidikan, budaya dan sosial dengan persetujuan pembina utama PIA Ardhya Garini atau Pembina dan sepengetahuan Dharma Pertiwi setingkat.


Tugas Pokok PIA Ardhya Garini

Membantu Kepala Staf Angkatan Udara dalam pembinaan isteri prajurit dan keluarganya khususnya bidang mental, fisik, kesejahteraan dan moril sehingga dapat berpengaruh terhadap keberhasilan tugas prajurit.

Mendukung kebijaksanaan pemimpin TNI dengan membina dan mengarahkan perjuanganisteri anggota TNI Angkatan Udara, menciptakan rasa persaudaraan dan kekeluargaan, rasa persatuan dan kesatuan serta kesadaran nasional.


Dalam perjalanan organisasi ini, saya yakin sudah begitu banyak peran dan manfaat PIA AG dalam kehidupan keluarga TNI AU. Terlepas dari kekurangan-kekurangannya, saya lebih percaya terhadap kelebihannya. Bukan usianya yang sekedar sudah berusia 60, melainkan cerita-cerita yang turut menyertai perjuangan organisasi ini di tiap tahunnya.

Jayalah selalu para srikandi PIA Ardhya Garini dalam mendukung karir suami sebagai baktimu terhadap bangsa dan negara ini.

Comments

Popular posts from this blog

It’s Always God: Through Change and Growth

Unstoppable gratitude, these are the two words that define 2025, and probably 2026 and many years ahead. When I look back at early 2025, so many meaningful things happened. The second semester at UNHAN began. My children turned 10 and 8. We celebrated our 11th wedding anniversary, and my husband and I both turned 37. Many beautiful moments filled our days. Besides the ups, we also faced some downs. As a couple, we learned how to reconcile and find our rhythm again. We are constantly learning to manage our shortcomings so that the system we have built—our family—can keep working and growing. The second half of 2025 brought quite drastic changes. My husband moved to a different division at work, and we moved into our panggon , our new home in Halim Perdanakusuma. Our children advanced to years 5 and 3. I was no longer in my second semester at UNHAN, but I was trusted to serve as a Master of Ceremony and moderator for several UNHAN events. I also traveled to Pontianak for a few days with ...

The House That Carried Us Forward

I don’t think I’ve ever written about the government housing provided by the Air Force where we’re currently living. We’ve been here for almost half a year now—since June, to be exact. I still remember the day we left Malang for Jakarta: the kids and I ended up crying together. Strangely enough, that move also happened in December, as if the month itself always carries a bittersweet turning of seasons for our family. But life moves forward, and so must we. Our first home in Jakarta was in Lubang Buaya—a small house, roughly 108 square metres, with three bedrooms and two bathrooms. My mother-in-law had lived there ever since I married her son in 2014. My husband and I bought the house using a mix of our parents’ support. Technically, we still owe my parents the remaining balance. Lol. After living in Jakarta for about two and a half years, we decided to move into what we call the Panggon , or rumah dinas—a service house provided by TNI AU. Since it isn’t a Rumah Jabatan < Official Re...

Pilih(an)

Konon, menulis jurnal adalah bagian dari proses penyembuhan. Saya mengangguk setuju. Menulis jurnal , bukan menumpahkan emosi lewat status WhatsApp sambil berharap semesta ikut marah hanya karena hati kita sedang seret. Ada jurang lebar antara refleksi batin dan pamer luka di ruang publik, meski banyak yang mengacaukannya. Awalnya saya enggan menyinggung hal ini. Namun, hidup sering bercanda—niat saya membahas hal lain langsung terpelintir hanya karena saya menanggapi sebuah status WA. Rupanya respons saya tidak bertaut dengan ekspektasinya. Jadilah ia bereaksi—riuh, garang, seperti hendak menerkam sesuatu yang bahkan bukan ancaman. Saya hanya tersenyum tipis. Mungkin saya memang salah frekuensi. Ternyata, memberi perhatian pun bisa dianggap provokasi oleh orang yang sedang tidak selaras gelombang batinnya. Dan ya, mungkin energi saya sedang terlalu lincah; spontanitas saya memercik, lalu memicu dinamika yang membuat saya menghela napas dan membatin, “Ya ampun… ups .” Saya tak henda...