Saya lahir di Medan, kemudian karena pekerjaan Ayah, kami sekeluarga pindah ke Pontianak. Pontianak sebuah kota kecil saat itu dan masih rimbun dengan hutan seingat saya. Semasa saya kecil, orangtua -seingat saya tidak pernah memisahkan saya dengan lingkungan pertemanan Saya. Tidak pernah orangtua saya melarang berteman dengan A yang muslim, B yang Cina, atau silahkan berteman dengan yang Kristen saja. Saya cuma ingat ketika Ayah sedang menonton acara tv lalu pada saat adzan maghrib berkumandang, Ayah minta volume tv dikecilkan atau channelnya saja diganti. Seingat saya juga dulu banget ketika logat saya berubah karena sekolah yang mayoritas muridnya Tionghoa, Ayah memarahi saya. Ayah mau saya tetap menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Ketika saya sekolah di SMA Negeri, Ayah masih memarahi saya ketika ditemuinya saya berlogat melayu. Buat Ayah, menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar itu harga mati. Maka wajar saja jika kami anak-anaknya tidak ada yang fasih...