Skip to main content

2 Tahun Menikah Itu Rasanya...

LUAR BIASA!
Luar biasa masalahnya...
Luar biasa mengalahnya...
Luar biasa kelakuannya...
Luar biasa pokoknya...
22 Pebruari 2016 kemarin, pernikahan kami genap berusia dua tahun. Rasa cinta saya terhadap suami sudah berubah.
Tidak lagi seperti dahulu ketika kami masih pacaran. Ketika pacaran dahulu, rasa cinta kami sarat dengan ungkapan dan sentuhan mesra yang membuat kami langsung mabuk kepayang. Pacaran yang identik dengan bbm, sms, telepon, makan bareng, kencan, bunga, cokelat, dan aneka hadiah yang membuat pipi sering merona merah.
Ketika itu semua terpenuhi, cukup. Lalu ketika kami dilanda masalah atau salah satu berulah, kata-kata mesra dan semua yang kami lakukan ketika kami sedang romantis-romantisnya berubah menjadi amarah.
Ya, sedangkal itulah cinta kami di kala masih pacaran.
Memasuki bahtera rumah tangga, hal-hal semacam itu menjadi menggelikan. Maka wajar jika Mama saya tidak terbiasa dan menganggap Ayah saya aneh ketika Ayah menyanyikan lagu mesra dan memberikannya buket bunga. Bagi Mama, Ayah sakit jiwa.
Begitu pula dengan amarah seperti orang kesurupan di kala masa pacaran. Justru, setelah berumah tangga, ungkapan-ungkapan kasar diminimalisir. Kata-kata seloroh yang tidak laik diucapkan mulai dikurangi...
Aneh, ketika masih pacaran kita lebih sesuka hati. Setelah menikah, kita malah menjaga satu sama lain.
Dalam mengungkapkan amarah pun menjadi jauh lebih hati-hati dan rasional. Sangat menjaga betul agar kata-kata yang diucapkan tidak menyinggung hati.


Suami menjadi lebih lembut.
Saya menjadi lebih lembut.
Suami menjadi lebih bijak.
Saya menjadi lebih bijak.
***
Jikalau pernikahan orang lain mungkin adem ayem saja, tidak demikian dengan kami.
Dua tahun kami menikah, dua tahun kami sarat dengan masalah. Alurnya panjang, terlalu pelik untuk diceritakan. Yang pasti sejauh ini kami masih mampu bertahan yang kalau bukan kekuatan dari Allah Tri Tunggal, mungkin kami sudah "Bhaaay" satu sama lain.
Di usia pernikahan kami yang kedua ini, ibarat bayi yang berusia dua tahun, mulai pinter ngomong satu patah dua patah kata. Kami juga begitu. Mulai pintar untuk merangkap kata-kata terhadap pasangan kami. Ibarat bayi yang mulai merangkak dan meraba-raba, kami mulai merasakan ritme hubungan berumahtangga yang sebenarnya.
Semoga seperti laiknya tumbuh kembang bayi yang sehat, kami berharap hidup berumahtangga kami juga seperti itu...
Bertahap...
Bertingkat...
Berlanjut...
Berkualitas... amin.

Comments

Popular posts from this blog

It’s Always God: Through Change and Growth

Unstoppable gratitude, these are the two words that define 2025, and probably 2026 and many years ahead. When I look back at early 2025, so many meaningful things happened. The second semester at UNHAN began. My children turned 10 and 8. We celebrated our 11th wedding anniversary, and my husband and I both turned 37. Many beautiful moments filled our days. Besides the ups, we also faced some downs. As a couple, we learned how to reconcile and find our rhythm again. We are constantly learning to manage our shortcomings so that the system we have built—our family—can keep working and growing. The second half of 2025 brought quite drastic changes. My husband moved to a different division at work, and we moved into our panggon , our new home in Halim Perdanakusuma. Our children advanced to years 5 and 3. I was no longer in my second semester at UNHAN, but I was trusted to serve as a Master of Ceremony and moderator for several UNHAN events. I also traveled to Pontianak for a few days with ...

The House That Carried Us Forward

I don’t think I’ve ever written about the government housing provided by the Air Force where we’re currently living. We’ve been here for almost half a year now—since June, to be exact. I still remember the day we left Malang for Jakarta: the kids and I ended up crying together. Strangely enough, that move also happened in December, as if the month itself always carries a bittersweet turning of seasons for our family. But life moves forward, and so must we. Our first home in Jakarta was in Lubang Buaya—a small house, roughly 108 square metres, with three bedrooms and two bathrooms. My mother-in-law had lived there ever since I married her son in 2014. My husband and I bought the house using a mix of our parents’ support. Technically, we still owe my parents the remaining balance. Lol. After living in Jakarta for about two and a half years, we decided to move into what we call the Panggon , or rumah dinas—a service house provided by TNI AU. Since it isn’t a Rumah Jabatan < Official Re...

Pilih(an)

Konon, menulis jurnal adalah bagian dari proses penyembuhan. Saya mengangguk setuju. Menulis jurnal , bukan menumpahkan emosi lewat status WhatsApp sambil berharap semesta ikut marah hanya karena hati kita sedang seret. Ada jurang lebar antara refleksi batin dan pamer luka di ruang publik, meski banyak yang mengacaukannya. Awalnya saya enggan menyinggung hal ini. Namun, hidup sering bercanda—niat saya membahas hal lain langsung terpelintir hanya karena saya menanggapi sebuah status WA. Rupanya respons saya tidak bertaut dengan ekspektasinya. Jadilah ia bereaksi—riuh, garang, seperti hendak menerkam sesuatu yang bahkan bukan ancaman. Saya hanya tersenyum tipis. Mungkin saya memang salah frekuensi. Ternyata, memberi perhatian pun bisa dianggap provokasi oleh orang yang sedang tidak selaras gelombang batinnya. Dan ya, mungkin energi saya sedang terlalu lincah; spontanitas saya memercik, lalu memicu dinamika yang membuat saya menghela napas dan membatin, “Ya ampun… ups .” Saya tak henda...