Skip to main content

Monitoring

Sudah Juni! Wow. Luar biasa! Tak terasa sudah di pertengahan tahun 2016. 
Apa kabar resolusi 2016?
Hehehe.

Banyak hal yang saya syukuri di tahun 2016 ini yang Tuhan berikan secara cuma-cuma kepada saya: mata dan hati yang dicelikkan, rezeki yang berkelimpahan, dan jiwa yang dibesarkan.
1) Ulang Tahun yang Luar Biasa
Mei kemarin, tepatnya tanggal 26 kemarin. Saya genap berusia 28 tahun. Untuk pertama kalinya setelah saya menikah, suami saya menghadiahi saya nasi tumpeng. Tak mewah kami merayakan acara tersebut. Hanya dengan pasangan suami istri pendeta kami berdoa bersama, lalu makan dan bercengkerama. 
Lalu, orangtua saya masih memberikan ucapan selamat, adik-adik dan sahabat-sahabat terkasih masih mengingat dan mengucapkan selamat ulangtahun sembari mengirimkan video-video lucu mereka. 
Di usia saya yang ke 28 ini, saya masih bisa menikmati momen-momen bersyukur yang luar biasa. Tidak semua orang bisa menikmati momen seperti saya ini.

2) Menjadi Orang Yang Mengandalkan Tuhan Sepenuhnya
Turning point dari semua masalah dan cobaan yang menyesakkan, kami jadi sepenuhnya menyandarkan diri ke Tuhan. Tak perduli lagi omongan orang, selagi kami yakini yang kami lakukan baik dan benar, kami akan tetap jalan terus.

We cannot always throw the stones to every barking dog, right?
Dan kami lebih menjadi apa adanya saja. Tak lagi muluk-muluk harus menjadi ini itu.
Kami melakukan apa yang kami sukai dengan tidak menyakiti orang lain, dan melakukan yang bahkan tidak kami sukai dengan setulus ikhlas.
Kami menyadari orang tidak menyukai kami karena mungkin kami pernah berlaku tidak baik, dan bisa jadi mendukakan hati mereka. Kami tidak berkemampuan menjelaskan segala sesuatunya kepada mereka. Citra jelek yang telah melekat menjadi pemicu bagi kami agar kami mampu melakukan yang terbaik. Berusaha lagi untuk melakukan yang baik. Bukan untuk mengubah pendapat orang lain, tapi untuk mengubah kami.

3) Bahagia... dengan 'Porsi' yang Ada
Yang diberikan Tuhan untuk kami nikmati.
Rasanya melegakan... sungguh. Menyadari bahwa yang sudah kita terima selama ini baik dan cukup. Ya, kalau besok kurang kan bisa minta lagi kepada Tuhan yang kami imani dan yakini.

Adakah Amen, Saudara-saudara?

Comments

Popular posts from this blog

It’s Always God: Through Change and Growth

Unstoppable gratitude, these are the two words that define 2025, and probably 2026 and many years ahead. When I look back at early 2025, so many meaningful things happened. The second semester at UNHAN began. My children turned 10 and 8. We celebrated our 11th wedding anniversary, and my husband and I both turned 37. Many beautiful moments filled our days. Besides the ups, we also faced some downs. As a couple, we learned how to reconcile and find our rhythm again. We are constantly learning to manage our shortcomings so that the system we have built—our family—can keep working and growing. The second half of 2025 brought quite drastic changes. My husband moved to a different division at work, and we moved into our panggon , our new home in Halim Perdanakusuma. Our children advanced to years 5 and 3. I was no longer in my second semester at UNHAN, but I was trusted to serve as a Master of Ceremony and moderator for several UNHAN events. I also traveled to Pontianak for a few days with ...

The House That Carried Us Forward

I don’t think I’ve ever written about the government housing provided by the Air Force where we’re currently living. We’ve been here for almost half a year now—since June, to be exact. I still remember the day we left Malang for Jakarta: the kids and I ended up crying together. Strangely enough, that move also happened in December, as if the month itself always carries a bittersweet turning of seasons for our family. But life moves forward, and so must we. Our first home in Jakarta was in Lubang Buaya—a small house, roughly 108 square metres, with three bedrooms and two bathrooms. My mother-in-law had lived there ever since I married her son in 2014. My husband and I bought the house using a mix of our parents’ support. Technically, we still owe my parents the remaining balance. Lol. After living in Jakarta for about two and a half years, we decided to move into what we call the Panggon , or rumah dinas—a service house provided by TNI AU. Since it isn’t a Rumah Jabatan < Official Re...

Pilih(an)

Konon, menulis jurnal adalah bagian dari proses penyembuhan. Saya mengangguk setuju. Menulis jurnal , bukan menumpahkan emosi lewat status WhatsApp sambil berharap semesta ikut marah hanya karena hati kita sedang seret. Ada jurang lebar antara refleksi batin dan pamer luka di ruang publik, meski banyak yang mengacaukannya. Awalnya saya enggan menyinggung hal ini. Namun, hidup sering bercanda—niat saya membahas hal lain langsung terpelintir hanya karena saya menanggapi sebuah status WA. Rupanya respons saya tidak bertaut dengan ekspektasinya. Jadilah ia bereaksi—riuh, garang, seperti hendak menerkam sesuatu yang bahkan bukan ancaman. Saya hanya tersenyum tipis. Mungkin saya memang salah frekuensi. Ternyata, memberi perhatian pun bisa dianggap provokasi oleh orang yang sedang tidak selaras gelombang batinnya. Dan ya, mungkin energi saya sedang terlalu lincah; spontanitas saya memercik, lalu memicu dinamika yang membuat saya menghela napas dan membatin, “Ya ampun… ups .” Saya tak henda...