Skip to main content

Posts

Showing posts from 2018

Hidup Bukanlah Melulu Tentang Kompetisi

The one you are compete with is yourself! Kira-kira begitu kata-kata dari orang bijak yang saya lupa siapa pencetus pertama kalinya. Saya lahir dan besar dengan lingkungan yang selalu  menyuruh saya untuk menjadi pemenang, bahwa saya ini adalah bagian dari sel pemenang dari sekian milyaran sel lainnya. Pemahaman bahwa dunia ini adalah ajang kompetisi adalah hal yang terus-menerus ditanamkan dan ditelan oleh alam bawah sadar saya, sehingga seringkali timbul ketakutan jika saya kalah dari orang lain, jika saya lebih lambat/lebih bodoh/lebih miskin/dan lebih-lebih lainnya yang sarat dengan hal negatif lainnya dari orang lain.  Saya takut kalau saya lebih bodoh. Saya takut kalau saya kalah cantik. Saya takut kalau saya kalah pintar. Saya takut kalau saya terlihat lebih miskin. ... dibandingkan dengan... orang lain. Ketakutan atau kekhawatiran tersebut membuat saya tidak tenang dan tidak santai dalam menerima hidup ini. Padahal bisa hidup saja merupakan suatu...

Kebijaksanaan dari Air

Waktu seringkali menjadi musuh bagi ingatan.  Maka, sebelum waktu itu tiba memunahkan semua ingatan saya, izinkan saya menggoreskannya dalam bentuk sebuah catatan. Saya baru saja mandi. Seger! Airnya bening sehingga dasar bak mandi kelihatan. Byurr...byurrr... lebih dari 5 gayung saya siramkan ke tubuh demi memastikan badan saya telah terguyur semua oleh air. Sembari bersenandung, memori menghantarkan saya ke ingatan masa kecil saya di Pontianak. Saat itu saya barangkali masih duduk di bangku SD, bahkan hingga SMP bisa dipastikan air di kamar mandi rumah di Pontianak tidak akan pernah bisa sebening ini.  Saya masih ingat dulu kalau sudah musim kemarau, air ledeng akan berubah rasa menjadi payau. Rasa payau itu seperti air larutan oralit. Maklum saja, PDAM di Pontianak dan mungkin saja di daerah mayoritas Kalimantan menggunakan sumber air dari sungai yang diolah sedemikian laik sehingga bisa dialirkan. Tapi, jujur saja jika dibandingkan dengan air yang saya pakai mandi ...

Tetap Bersemangat

"Saya suka liat Ibu! Penuh semangat selalu!" "Ibu cantik selalu semangaaaaat!" "Suka nengok semangat Ibu!" dan sebagainya-dan sebagainya Mereka, Ibu-ibu anggota tempat kesatuan suami berdinas mengenal saya sebagai perempuan yang bersemangat. Jujur, disebut sebagai perempuan bersemangat adalah prestasi bagi saya. Ketika kita bersemangat, kita menularkan hal positif kepada orang-orang di sekitar kita. Ketika kita bersemangat, hal yang tampak berat mendadak ringan dan kita malah tidak terlihat lelah sama sekali.  "Tetap Bersemangat" menjadi semboyan Sekolah Katholik Santo Petrus dibawah Yayasan Pendidikan Kalimantan, sekolah saya dulu zaman SMP. ( Di depan sekolah ini persis ada jual eskrim. Rasanya enak banget! Namanya eskrim angie. Oke, lanjut!) Sebagai manusia biasa, saya bisa saja mengeluh. Daftar keluhan saya banyak pastinya, entah itu tentang kondisi yang saya hadapi, orang yang saya temui, bahkan kondisi dan orang yang tidak s...

Mengeluh VS Mensyukuri

Saya punya berjuta alasan kenapa saya bisa mengeluh. Tapi lucunya akhir-akhir ini saya lebih sering ditampar dan disadarkan untuk berhenti mengeluh. Kejadian-kejadian di Tanah Air, bahkan peristiwa yang saya alami ataupun saudara-saudara dan rekan saya alami menjadi pengingat diri bahwa mengeluh tiada gunanya . Belum selesai air mata kita akan bencana alam yang ditimpa keluarga dan saudara kita di Lombok beberapa bulan lalu, kita harus kembali mendengar kabar dukacita dari keluarga dan saudara kita di kawasan Palu, Donggala dan sekitarnya. Saya membayangkan betapa panik meradang bagi mereka yang merantau jauh dari daerah gempa. Harap dan cemas terbungkus dalam doa supaya keluarga mereka baik-baik saja meski komunikasi terputus. Para korban yang harus kehilangan harta benda, orang-orang yang mereka cintai, organ tubuh, bahkan nyawa mereka sendiri. Kalau sudah begini, harusnya kita sadar. Bila alam bisa berbicara , alam memang tak butuh manusia . Kita yang paling membutuhkanny...

Sebuah Berkat di Tengah Cobaan

Suami saya memasuki ruang terapi untuk kesekian kalinya. Saya masih menunggui dirinya dengan setia dan mesra di deretan bangku panjang di depan meja panjang bertanda Loket Karcis Rehabilitasi Medik di RSSA. Setahun lebih sudah suami saya menderita bells palsy. Penyakit yang disebabkan virus yang terjadi pada wajah yang terpapar angin atau AC sehingga menyebabkan sebelah wajah bisa kaku. Penyakit tersebut tidak berbahaya, tapi cukup bikin resah. Sampai saat ini suami belum kunjung sembuh juga. Tapi tulisan ini tidak akan memuat tentang bagaimana mencoba sabar menghadapi semua, saya malah mau cerita tentang bagaimana saya akhirnya memahami bahwa ini adalah bagian dari cara Tuhan mendewasakan dan memesrakan kami berdua. 😊 *** Saya dan RS, inisial nama suami saya tergolong dua manusia paket cepat kilat yang memutuskan berumahtangga. Oktober 2011 memutuskan menjalin hubungan serius setelah sebulan saja berkenalan. Lalu Februari 2014 memutuskan berumahtangga. Tidak seperti pas...

Sesulit Apa?

Pagi tadi dibuka dengan kegiatan arisan rutin PIA AG 02-3/D.II Skadron Udara 32. Jadwal dimulainya kegiatan diumumkan  jam 7.30 namun dalam pelaksanaannya baru jam 8.40 terealisasi. Entah memang sengaja diumumkan waktunya demikian sebagai strategi demi mengantisipasi kecenderungan kita sebagai Ibu-ibu yang sering terlambat atau... kita yang terlalu toleran terhadap keterlambatan? ((Silahkan tanya pada diri kita masing-masing, bukan pada rumput yang bergoyang sayang!)) Jadi, kita sudah kalah 1 poin tentang masalah waktu. :) Kemudian, sesudah giat berakhir saya kembali menyayangkan kita yang meletakkan sampah di bawah tempat duduk kita atau di depan atau bahkan di samping kursi duduk. Kita kesulitan untuk membuang sampah di tempat sampah yang hanya beberapa langkah kaki dari tempat duduk kita. Padahal ada 2 tempat sampah terpampang nyata, MyLov. Ditambah lagi, tadi saya ketemu dengan kawan yang berprofesi sebagai dosen di sebuah PTN favorit Malang. Kita share sedikit dan ngompol ...

When You're Wrong, Can You Admit It? #MyFAQ

Not everyone is blessed with the capacity to ask for forgiveness. It is a common thing happened when you are on the right side, you are not hesitant to be more vocal. But, on the contrary if you're the wrong one, you tend to hide the truth and prefer to be silent. What is so wrong to admit your own fault and ask for others forgiveness? We are one big nation with religious-labelled country, we also come from various culture, yet we have still difficulty to admit if were wrong? What such a big self-ego we have! Not to mention anyone but I often seeing people who completely done wrong things, they blame the situations or other people for the mistakes they did. They come from a well-educated family, but to simple lil thing called admitting they are wrong, they CAN'T!!! Sorry not sorry, those people aren't worth befriending with anyone. The life we currently living is not always about you. We live side by side to support the system... and if you keep blaming others and hav...

Sesuatu Tentang Malang

"Menurutmu mana yang lebih enak: Jogja atau Malang?" Tanya Mama suatu sore ketika kami sedang berkendara berdua di tengah keramaian Malang. Saya terdiam. Merenung untuk membandingkan dua kota bersejarah ini. Bagaimanapun dua kota ini bukan kota-kota yang pernah terpikirkan untuk saya singgahi dalam kurun waktu lama. Dua kota ini semacam takdir untuk saya pernah huni. "Hmm, mana ya Ma..." saya mulai sulit berkata-kata, ibarat orang terjebak dalam nostalgia mantan yang lama. "Sepertinya Malang lebih nyaman." Celetuk Mama. Saya mengernyitkan dahi. "Bagian mananya?" Tanya saya pertanda tak setuju. "Liat saja betapa banyaknya bangunan gereja di sini. Gereja dan Masjid bisa tinggal berdampingan tanpa huru hara." jawab Mama. Seketika itu juga saya terdiam. Membenarkan pernyataan beliau namun masih dalam posisi berpikir. Saya mengingat masa-masa hidup di Jogja sekitar 10-12 tahun silam. Saya membayangkan betapa murah da...

Are You Sure To Consider Yourself As A Family?

Living in the kind of world filled with the junior and senior term makes me questioning the real purpose of having it into our interaction between other wives within Wives Association (WA). If the aim of maintaining that kind of interaction is to gain respect from your so-called junior, believe me it won't work and if it does it will be temporary.  I can't describe my disagreement to situation which there is a disparity between senior and junior, especially if the disparity aims to humiliate the ones you think you can fiercely intimidate. I think I'm enough to see the un evenness keeps on happening in our surroundings. I also can't stand to people who complains about their senior actions to them, BUT once they are in the position, they just DO the same thing! They instantly forget their feelings when they were in junior position.  Another situation also makes me want to puke every time there is someone saying "we are family". Being a family is not t...

Karena Hasil Takkan Menghianati Usaha Maka Tenanglah, Wahai Jiwa!

Tulisan terakhir saya bulan Mei, berarti selama bulan Juni saya absen menulis. Duh, dimana kekonsistenan saya? ((Ngomong sama diri sendiri.)) Saya tidak pernah mau menganggap diri sok sibuk, menulis seharusnya seperti bernapas. Ada keberlangsungan, keharusan dan keteraturan. Tapi yah mau gimana lagi, memasuki bulan Juni dan bahkan hingga saat ini, saya merasa berkejaran dengan waktu. Mau nyalahin siapa kalau sudah begini? Tidak ada selain menjalaninya sepenuh hati, dan selalu berstrategi setiap menghadapi orang dan hari yang baru. ((Lalu zurhaaat ciyeeee!)) Jadi  selama tidak menulis secara teratur, saya kemana aja? Hm, saya berproses. Seperti biasa, saya memanfaatkan waktu dengan berproses. Caranya? Saya persulit diri saya sendiri. Untuk melihat sejauh mana otak saya dan tubuh saya ini bersinergis dan bekerjasama dalam mencari solusi. Memasuki bulan Juni kemarin, saya disibukkan dengan kegiatan persiapan PESPARANI (Pesta Paduan Suara Gerejani) dalam ruang lingkup TNI AU...

Masih Bertumbuh

Finally! The year I have been waiting for has come for real! 2018. Tahun dimana saya berusia GENAP 30 tahun.  Jujur saja, awalnya saya sempat termasuk dalam golongan kaum yang merasa sudah sangat tua sekali ketika menginjak kepala 3. Apalagi ditambah dengan reaksi sebagian besar orang yang terang-terangan menyatakan bahwa ketika kita menginjak usia kepala 3 artinya kita sudah berumur, sudah tua, dan sebagainya dan sebagainya. Bahkan ekspresi ngenyek menyebalkan juga Saya terima dari suami tercinta saya. Katanya,"Selamat ulangtahun, Sayang! Kamu sudah TUA! Hahaha." sambil tergelak bahagia.  Saya dan suami memang terpaut 1 bulan saja jaraknya. Saya lebih tua 1 bulan, dan itu pula yang memberikan saya semacam otoritas lebih untuk mengomeli dirinya ketika dia melakukan kesalahan. Hehehe. Baiklah, kembali ke angka 30! Saya perlahan mulai menerima bahwa saya memang tidak muda lagi. Maksudnya begini, ketika saya berusia 30 artinya saya memasuki fase dimana saya tidak bi...

Sebuah Renungan Untuk Seorang Saya

by. NAJWA SHIHAB (Bacalah sampai selesai) Adik-adik remaja sekalian, jika kalian masih bercita-cita jadi PNS, biar besok2 hidup terjamin sampai tua, maka itu cita-cita generasi luama sekali, orang tua kita dulu, SMA angkatan 70-80 mungkin masih begitu. Jika kalian bercita-cita jadi karyawan BUMN, biar gaji bagus, pensiun ada, besar pula, maka itu juga generasi lama, paman-paman, tante-tante kita dulu, SMA angkatan 90-an, itu cita-citanya. Jika kalian bercita-cita jadi karyawan multi nasional company, perusahaan swasta besar, biar bisa tugas di luar negeri, tunjangan dollar, itu juga cita-cita kakak-kakak kita dulu, yang SMA angkatan 2000-an. Kalian adalah generasi berbeda..Kalian adalah yang SMP, SMA, atau kuliah di tahun 2010 ke atas. Seharusnya kalian tidak bercita-cita seperti itu lagi. Kalian adalah warga negara dunia, tersambung dengan seluruh sudut dunia. Apa cita-cita kalian? Jadilah pekerja kreatif, wiraswasta, profesi pekerjaan bebas, dan pekerjaan2 yang menakjubkan ...

Pada Hari Minggu Tanggal 13 Mei 2018, Aksi Teroris Meledakkan Tiga Gereja di Surabaya

Yang membikin saya sedih bukan karena korban jiwa yang jatuh bergelimpangan karena saya percaya mereka akan mendapatkan surga yang mereka imani, baik pelaku maupun korban. Yang membikin hati ini pedih adalah memikirkan bagaimana mereka yang masih hidup, hidup dengan sebuah kenyataan bahwa mereka akan dikenal sebagai anak-anak, istri, suami, dan keluarga korban yang meninggal karena diledakkan teroris.

GOD Has Another Plan

It's quite funny, lately I become a very faithful person because for every problem I can't solve, GOD seems has always another plan for me. This is a mystery I can't ever solve! Look, I never blaming others for what I am feeling or thinking. It's merely just because I am a think-harder. Anyway, I become rationalist lately. I take everything based on my logical thinking. For instance, if I really want something, I have to push myself to get what I want. But, I always think for its probability. How many percentage of probability I can get it?? What is other option if I can't pass it? Thoughts like that keep on circling my thinking.  But there have always been times when I already gave my best shot, something took over. Something that has never been on my thinking popped up and it directed me to move again.  There's always be a time for me to surrender to think. Whenever I think it's hard to think, I let HIM to take over. Whenever I stop to care, I l...

A Quote From JFK

" Tampaknya saya perlu menjelaskan sekali lagi, bahwa yang saya pentingkan bukan soal iman gereja apa yang saya yakini, karena hal itu hanya penting bagi diri saya sendiri, tetapi yang saya pentingkan adalah soal Amerika seperti yang saya yakini. Saya percaya pada sebuah negara Amerika, yang melakukan pemisahan gereja dan negara menjadi sesuatu yang mutlak, yang tidak memungkinkan seorang imam Katolik mendikte presidennya --seandainya presiden itu seorang Katolik --tentang bagaimana harus bertindak. Dan tidak boleh ada seorang Pendeta Protestan pun yang akan memerintahkan jemaatnya untuk memilih calon yang ia pilih. " John F. Kennedy on Leadership, hal. 53-54 Oleh John A. Barnes

Do Good, Be Good

Sulit bagi siapapun untuk tetap berbuat baik ketika mengetahui orang yang tadinya dianggap baik dan bisa dipercaya ternyata justru kebalikannya. Siapapun akan kecewa dan memilih untuk berubah sikap. Tapi apakah itu solusi yang bisa menjadikan dunia lebih baik? Kalau solusi untuk mendamaikan hati sendiri, mungkin bisa. Tapi percayalah itu hanya sementara. Ketika saya "diceritain" ada orang yang ngomongin A, B, C tentang saya,  saya memilih untuk tidak mau mengetahui orang tersebut. Saya tidak mau saya berubah sikap terhadapnya. Dan lagipula, apakah dengan mengetahui dan mengklarifikasi akan menjadikan dunia lebih baik? Don't feed the gossip ! Sometimes clarifying gossip means feeding . Jadi biarkan saja... anggap tidak pernah terjadi apapun. Sulit? Banget. Tapi bukan berarti tidak bisa. :) We Cannot Please Anyone Betul! Semua orang punya kepala dan pasti punya pemikirannya masing-masing. Dan tidak semua orang bisa menerima apa yang sudah kita katakan, pikirkan dan ...

Tentang Perduli

A : Ada yang mau aku bicarain, tapi kuatirnya ga ada waktu lain. Jadi disini aja ya. B : Apaan? (Kepo ) A : Sekedar masukan karena aku sering dengar orang ngomong kalau kamu itu... B : Siapa yang ngomong? Aku ga mau dengar kalau aku ga tau orangnya! (Mendadak 3N : nyamber, nyolot, ngamuk) A : Ya kamu dengar dulu. Ini kan masukan. (Jadi agak emosi juga) B : (EH!RH#RRJ#@Y#)*YYH (Tetep ga terima, lalu mendadak diam.) A : (Pengin ikutan ngamuk juga. Kenapa juga saya harus ngomong, mending masa bodoh sajalah.) *** Bener! Jadi orang peduli itu serba salah. Susah. Karena kebanyakan manusia itu inginnya didengar, bukan mendengar. Dan benar juga, bahwa negativity infects anyone easily. Tuhan menciptakan manusia dengan 1 mulut dan 2 telinga agar kita banyak mendengar, bukannya kata-kata yang terlontar. Zaman NOW, perduli itu adalah perilaku yang dianggap langka, sikap masa bodoh malah menjadi sesuatu yang... normal. Bagi orang lain, mungkin bersikap perduli itu yah dua ha...

Jadi Istri Prajurit Itu Sulit. Kau Takkan Kuat, Biar Aku Saja. (part ONE)

Hari Minggu, 8 April kemarin, Saya seorang diri mengantarkan putra kedua kami untuk dibaptis. Lho, suaminya kemana? Suami saya mendadak didaulat untuk melaksanakan misi RANSUS RI 1 ke Sorong. Ah ya, suami saya itu seorang prajurit. Jadi mohon maaf saja, untuk urusan negara selalu ia nomorsatukan. Bicara tentang menomorsatukan, pikir punya pikir saya merasa kelewatan apabila saya memaksakan agar suami saya bisa mengikuti atau menghabiskan waktu bersama selalu dengan saya dan keluarga. Karena faktanya adalah suami saya bukanlah milik saya, dia milik negara. Selama suami saya masih berdinas, disitulah saya harus bersedia menjadi nomor sekian dalam hidupnya. Wah, hebat! Kakak sanggup dan kuat! Percayalah. Saya masih belajar menerima semuanya itu dengan lapang dada. ((Lapang Dada Sheila On 7  pun dilantunkan)). JUJUR saja, manis-manis dan serunya percintaan itu ya ketika kita masih pacaran. Setelah menikah, beuuuh... kalau air mata ini dikumpulkan, mungkin sudah bisa bergal...

Kita Yang Takkan Pernah Siap

Ada hal unik yabg terjadi pagi tadi di WA grup alumni SMA. Seorang rekan berinisial E menuliskan ulang berita yang didapatnya, informasinya kuranglebih mengenai betapa tidak adilnya sikap mayoritas kepada minoritas di negara tersebut. Lalu E ini diperingatkan bahwa jika ingin memposting berita tersebut sebaiknya di grup lain, tapi E ini ngotot. Tujuan E mempostingnya untuk menyuarakan dan mengajak rekan-rekan lainnya ( mungkin lho ya ) agar memiliki simpati yang sama dan mengecam aksi yang dilakukan mayoritas di negara tersebut. Kami yang tidak memiliki ide yang sama cenderung diam. Tapi ada yang menarik. Satu orang berinisial P mengambil suara. Dia bersuara. P yang notabene sudah harus hidup di negara lain sejak 2007, hidup dengan kultur budaya lain, dan harus hidup dengan orang-orang yang bukan lagi berbeda kepercayaan tentang Tuhan TAPI memilih tidak ber-TUHAN -- mengajak E berdiskusi melalui jaringan pribadi. Tak lama E memilih keluar dari grup kami itu. Selanjutnya rekan-reka...

Kita Takkan Pernah Bisa Bersikap Biasa Saja Pada Orang Yang Pernah Membuat Kita Yakin Bahwa Hidup Bak di Negeri Dongeng Itu Mungkin.

Saya menggambarkan Maret ini sebagai puncak dari kenangan dan kemenangan. Kenangan, entah itu sedih-senang-lucu-aneh-menggelikan, dsb. Kemenangan akan perasaan demi perasaan yang pernah menghantui. Bulan ini adalah waktu dimana perasaan saya sempat khawatir akan banyak hal, sementara itu logika saya mengajak sebaliknya. *** Dari adik saya baru saya tahu kalau seorang kawan lama telah kehilangan sosok wanita yang dicintai dan diidolakannya. Wanita itu saya kenal. Kami tak pernah bertemu, berjabat tangan bahkan menciumnya. Kami hanya pernah mendengar suara satu sama lainnya. Hangat dan sangat ... batak! Saya takkan mampu menjabarkannya karena saya tau itu akan membuat luka kembali menganga. Saya tak tau apakah kawan saya itu pernah singgah mampir ke halaman saya ini atau tidak, tapi izinkanlah saya untuk mengucapkan turut berdukacita sebagai seorang yang pernah mengenalnya dekat. Saya takkan pernah mampu untuk menjamahnya secara personal lagi karena ini masalah janji saya dengan diri...

Sebuah Kegelisahan Seorang Istri Prajurit TNI (which is me, others IDK)

Malam ini saya tidak bisa tidur. Bukan karena tidak mau, tapi tidak bisa. Saya sempatkan menuliskannya agar keresahan di sanubari ini bisa terobati sedikit. Sebenarnya isu ini berulangkali singgah di kepala, tapi hati saya masih meragu apakah menuliskannya atau tidak? Malam ini saya tulis saja. Kalaupun mau dikomplain, ya silahkan kita beradu argumen. Memang ini yang saya rasakan dan resahkan. Yuk mari! Sempat saya goreskan keresahan saya ini di cuitan saya di akun twitter saya @sinaga_mrs . Ngeliat ada istri prajurit TNI ga mau nyalam pria yang bukan muhrimnya bikin aku berpikir. Ada yang aneh, tapi aku engga tahu menjelaskannya mesti gimana. Memang ada yang aneh. Bagaimana bisa seseorang yang mengaku sebagai istri prajurit tapi dalam prakteknya membuat perbedaan perlakuan atas dalil agama tertentu? Saya tidak bisa menarasikannya lebih jauh karena keterbatasan kosakata. Saya hanya berpikir, ketika kita terjun ke dalam suatu instansi/institusi, sebut saja seperti dalam dun...

Kartu Kuning Bagi Pemakai Jas Kuning

Kuning artinya hati-hati. Sebuah tanda peringatan yang diberikan kepada pemakai jalan, dan kepada pemain sepak bola apabila dinilai melakukan tindakan yang dapat menciderai. Kemarin santer di dunia jagat maya seorang mahasiswa dari PTN terkenal se-Indonesia mendadak terkenal karena gagah berani memberi kartu kuning kepada orang nomor 1 di Indonesia. Terlepas mas ini punya sentimen khusus kepada Bapak Presiden atau rasa kemanusiaannya tergugah mendengar kasus gizi buruk di belahan Indonesia bagian timur, sehingga membuatnya harus memberi kartu kuning Bapak Presiden. Alih-alih saya menganggapnya gila mutlak. Buat apa dia kasi kartu kuning? Dia pikir dia wasit dan Bapak Presiden itu pesepakbola? Apa dia berhalusinasi tengah berada di gelandang permainan sepak bola?! Anda boleh pede karena menjadi mahasiswa PTN favorit yang menyandang nama Indonesia di belakangnya. Anda boleh berbangga hati karena anda ketua BEM. Tapi ingat kapasitas anda, Bung. Anda "ketua BEM". Anda tidak ...

Anak Sehat, Anak Kuat

"Karena pemahaman yang salah, temen-temen saya ga mau mengimunisasikan anak-anaknya. Alasannya haram. Saya berharap mereka melek informasi dan mau mengimunisasikan anak-anaknya lagi. Bukan apa, anak-anak saya kan bergaulnya dengan anak-anak mereka yang ga mau diimunisasi. Kalau mereka terjangkiti gimana?" Jelas saya ke temen saya yang sebut saja namanya Angela pada saat ceramah mengenai penyakit difteri di lingkungan TNI AU tadi pagi. Angela tertawa sambil menggeleng. "Ya Allah kejamnya, Mbak." Ujarnya menanggapi pernyataan saya yang dipertegas dengan pertanyaan itu. Saya bukan pelopor gerakan pro vaksin. Saya bukan bermaksud melawan mereka yang tergolong komunitas antivaks yang belakang santer terdengar. Saya cuma ibu dua anak yang ingin mempersiapkan generasi saya kuat dalam menghadapi dunia. Dan kita harus sepakat bahwa sehat dan kuat itu setali tiga uang. Jadi saya kesal sekali ke para ibu yang menganggap sepele imunisasi. Batuk rejan alias difteri yang ke...

Menjaga Silaturahmi Menjadi Menjaga Diri Sendiri

Menyapa harusnya tak membuat harimu rusak. Tapi kemarin seharian saya merenung karena menyapa seseorang. Sapaan saya via whatsapp tidak dibalas. Karena malas berpikir yang tidak-tidak ya sudah, saya delete chat saja. Saya mencoba untuk tidak berasumsi jelek. Saya pikir mungkin dia sibuk sehingga tidak memiliki waktu untuk membalas chat saya. (Sementara recent updates WA nya gencar yess!) Menyapa meski isi sapaan tak seberapa signifikan mengindikasikan bahwa masih ada perhatian dan masih ada niat untuk menjaga tali silaturahmi. Menyapa merupakan bentuk komunikasi dengan harapan yang disapa akan memberikan umpan balik. Sederhananya, komunikasi itu 2 arah. Kalau cuma 1 arah itu informasi. Menjaga tali silaturahmi itu penting. Biar tidak slek, kata orang-orang. Dan persis! Di zaman yang makin 'jedun' ini, orang-orang bahkan saya jadi gampang sensi-an. Makanya saya menjaganya dengan berusaha bersikap bersahabat. Tapi kalau yang disikapi baik malah pongah dan jumawa, ya saya mund...

My Great Grateful List

Awal 2017 saya membuat kesepakatan dengan diri saya sendiri, yakni untuk menuliskan setiap berkat nikmat Tuhan yang saya terima dan memasukkannya ke dalam My Grateful Jar, sebuah toples bekas pembagian kue lebaran. Yang menginspirasi saya melakukan ini adalah untuk mengurangi sifat mengeluh yang sudah mendarah daging dalam diri saya. Hasilnya? Cukup membuat saya berdecak kagum bagaimana Tuhan, Sang Pemberi Kehidupan, bekerja dalam hidup saya. Saya akan menuliskan kembali apa-apa saja yang sudah Tuhan berikan yang menurut saya WAJIB saya masukkan dalam hal yang membuat saya bersyukur. 1. Januari - Tanggal 10 adalah misi pertama suami di tahun 2017. Misinya ke Pontianak, dan karenanya ortu saya bisa nitipin makanan khas Pontianak berikut masakan Mama: sambel pete tempe & tahu, ikan tuna goreng, buah-buahan seperti manggis, rambutan, pisang, jeruk sambel, dan pete mentah! Yeheeey... bahagia rasanya punya Mama yang perhatian di kala anaknya sedang ngidam (padahal uda hamil tua). -...