Beberapa malam yang lalu, ketika kami masih saling terjaga, suami di samping saya tengah terbaring sambil mengelus-ngelus kulit tangan saya. Saya menatapnya dan mulai membuka pembicaraan sebelum ia benar-benar pulas tertidur.
"Pi, beberapa malam ini mimpiku aneh..." Saya terdiam untuk mendengar reaksinya.
"Mimpi apa, Sayang?" Tanyanya lembut.
"Mantan." Jawab saya. Saya berusaha menelisik reaksi dari raut wajahnya. Suami tidak bereaksi yang bagaimana-bagaimana.
"Mantan yang mana, Sayang" tanyanya lagi.
"Mantan yang paling banyak dosanya Mami ke dia, padahal dia ga pernah jahat ke Mami." Jawab saya sendu.
"Oh, si anu..." Suami saya tetap mengelus tubuh saya. [saya bilang anu aja, kalau saya sebut nama atau inisial bisa hancur dunia persilatan. Hehe.]
"Kalau tentang mantan, aku juga sering kayak gitu. Mimpiin mantan, terutama mantan yang terakhir dan keluarganya. Aku juga banyak salahnya dulu ke dia. Tapi yah memang enggak jodoh mau diapakan?" Suami menjawab.
"Iya, Pi. Tapi kalau mantanku ini ga pernah sama sekali nuntut aku buat balik ke dia, ga pernah juga kan ngerusuhi Papi. Dia sama sekali ga berbuat apa-apa. Malah dia tetap baik banget dan aku enggak bisa dengan orang yang udah baik seperti itu..." Saya hampir menangis.
"Aku cuma berharap, Pi. Tuhan kasih aku kesempatan buat membalas perbuatan baik mantan dulu entah bagaimana lah caranya. Aku yakin Tuhan pasti memberikan kesempatan untuk menebusnya. Aku berterimakasih juga sama Papi. Waktu Papi bilang dalam hubungan kita sekarang, kita sama-sama komit untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama dengan mantan dulu." Saya pun tenggelam dalam pelukan suami.
Kami pun mulai bercengkrama ke topik yang lain. Saya menatap suami saya yang luar biasa ini. Hampir 5 tahun lamanya kami saling mengenal, dan kami masih saling menjaga satu sama lain. Jujur saja, ini menjadi hubungan terlama saya selama pernah mengenal pria.
Satu hal yang saya kagumi dari suami saya, ia tak pernah tertarik untuk mengetahui bagaimana saya dulu meski saya yang luar biasa penasarannya dengan pribadinya yang dulu. Baginya, tak masalah saya bukan yang pertama baginya, asalkan menjadi yang terakhir dan selamanya, itu sudah lebih dari cukup.
Comments
Post a Comment