Skip to main content

Selamat Tinggal... Kenangan!

AB 3163 UQ adalah no plat motor saya merk Honda Suprafit velg racing dengan tahun pembuatan tahun 2007. Saya ingat persis waktu itu orangtua saya cuma kasih saya uang Rp 9,000,000-an untuk beli motor sebagai  moda saya selama kuliah di Yogyakarta.
Uang tersebut hanya cukup membeli motor suprafit 2007 dengan velg jari-jari biasa sementara saya naksirnya velg racing.
Saking naksirnya saya waktu itu, saya rela enggak makan yang enak-enak dan mulai menabung sehingga saya akhirnya bisa membeli motor keinginan saya yang waktu itu dibanderol Rp 12,600,000 harganya.



Motor putih gagah saya itu saya beri nama: Carpe Diem.
Saya mah gitu orangnya, kalau sudah cinta terhadap sesuatu. Sesuatu yang tak bisa bernafas, makan, maupun berkembang biak tersebut pun akan saya beri nama.
Persis awal tahun 2007, tepatnya di bulan Maret, motor tersebut menemani saya wira-wiri ke kampus, ke tempat les, pacaran, bahkan keliling Jogja hingga ngacir sampai ke Semarang.

 Motor tersebut adalah saksi dengan siapa saja saya pernah pacaran ataupun siapa saja gebetan saya dulu. (Widiiiw). Kenangan yang melekat di motor tersebut banyak sehingga saya berat sungguh melepaskannya.

Tapi... saya harus melepaskannya karena keharusan. Sebab mempertahankannya kini bukanlah pilihan.

Sejak saya pindah ke Malang mengikuti suami dinas, motor pun saya angkut ke Malang. Namun, seiring berjalannya waktu ternyata saya mulai kerepotan sendiri mengurus pajak dan sebagainya nanti. Pilihannya cuma satu: Saya harus kembalikan ke Yogya.
Soalnya saya enggak mau repot juga ngurus kepindahan plat no baru dari Yogyakarta ke Malang. Saya mikirnya udah ribet aja kalau harus pakai acara ke samsat buat gosok mesin dan gosok apalagi itu namanya. Akhirnya, saya pun berniat menjual motor saya tersebut.
Saya mulai menghubungi teman-teman lama saya di Yogyakarta untuk menanyakan apakah ada kenalan maupun saudara mereka berminat terhadap Carpe Diem.

Tak mesti menunggu lama, motor saya itu langsung diminta untuk segera tiba di Yogyakarta. Carpe Diem sudah waktunya berpindah kepemilikan.
Yah, namanya masih sayang... tentunya berat sekali bagi saya melepaskan tumpukan kenangan yang sesekali muncul setiap kali saya melihat Carpe Diem.
Motor saya itu enggak pernah aneh-aneh. Enggak pernah jatuh. Selalu diservis. Selalu disayang... Selalu dibersihin...

Untuk terakhir kalinya kemarin, saya bawa Carpe Diem untuk diservis. Semua dicek. Aman! Lalu saya bawa ia untuk dicuci.
Tanpa saya sadari air mata saya menitik. Sudah sembilan tahun lamanya Carpe Diem bersama saya. Dalam waktu sembilan tahun itu begitu banyak kenangan yang Carpe Diem bawa dalam diamnya...

Carpe Diem adalah saksi bisu dimana saya pernah masih naksir kawan SMA saya yang kebetulan kuliah di Yogya juga, padahal saya baru pacaran dengan seorang pria yang baik hati dan luar biasa. Lalu, masa-masa dimana kami putus nyambung lalu putus - balik hingga benar-benar putus, Dimana saya sempat ogah-ogahan menyelesaikan skripsi, mencari jati diri saya, lalu menemukan lagi seorang pria yang kemudian menjadi suami saya, de es be. Itu semua saya lakukan dengan menggunakan Carpe Diem. Carpe Diem adalah saksi bisu transisi saya yang sangat anak-anak, tumbuh menjadi ABG labil hingga menjadi perempuan dewasa yang kemudian belajar melepaskan dan menyadari kapan akhirnya berkata tidak.

Merelakan kepergian Carpe Diem artinya merelakan sembilan tahun waktu saya bersamanya untuk sesuatu yang lebih baik. Semoga. Amin.

Dengar-dengar juga Carpe Diem hendak digunakan sebagai alat gojek di Yogyakarta oleh saudara teman saya. Apapun itu semoga Carpe Diem bisa bermanfaat.

Selamat tinggal, Carpe Diem....

Comments

Popular posts from this blog

It’s Always God: Through Change and Growth

Unstoppable gratitude, these are the two words that define 2025, and probably 2026 and many years ahead. When I look back at early 2025, so many meaningful things happened. The second semester at UNHAN began. My children turned 10 and 8. We celebrated our 11th wedding anniversary, and my husband and I both turned 37. Many beautiful moments filled our days. Besides the ups, we also faced some downs. As a couple, we learned how to reconcile and find our rhythm again. We are constantly learning to manage our shortcomings so that the system we have built—our family—can keep working and growing. The second half of 2025 brought quite drastic changes. My husband moved to a different division at work, and we moved into our panggon , our new home in Halim Perdanakusuma. Our children advanced to years 5 and 3. I was no longer in my second semester at UNHAN, but I was trusted to serve as a Master of Ceremony and moderator for several UNHAN events. I also traveled to Pontianak for a few days with ...

The House That Carried Us Forward

I don’t think I’ve ever written about the government housing provided by the Air Force where we’re currently living. We’ve been here for almost half a year now—since June, to be exact. I still remember the day we left Malang for Jakarta: the kids and I ended up crying together. Strangely enough, that move also happened in December, as if the month itself always carries a bittersweet turning of seasons for our family. But life moves forward, and so must we. Our first home in Jakarta was in Lubang Buaya—a small house, roughly 108 square metres, with three bedrooms and two bathrooms. My mother-in-law had lived there ever since I married her son in 2014. My husband and I bought the house using a mix of our parents’ support. Technically, we still owe my parents the remaining balance. Lol. After living in Jakarta for about two and a half years, we decided to move into what we call the Panggon , or rumah dinas—a service house provided by TNI AU. Since it isn’t a Rumah Jabatan < Official Re...

Pilih(an)

Konon, menulis jurnal adalah bagian dari proses penyembuhan. Saya mengangguk setuju. Menulis jurnal , bukan menumpahkan emosi lewat status WhatsApp sambil berharap semesta ikut marah hanya karena hati kita sedang seret. Ada jurang lebar antara refleksi batin dan pamer luka di ruang publik, meski banyak yang mengacaukannya. Awalnya saya enggan menyinggung hal ini. Namun, hidup sering bercanda—niat saya membahas hal lain langsung terpelintir hanya karena saya menanggapi sebuah status WA. Rupanya respons saya tidak bertaut dengan ekspektasinya. Jadilah ia bereaksi—riuh, garang, seperti hendak menerkam sesuatu yang bahkan bukan ancaman. Saya hanya tersenyum tipis. Mungkin saya memang salah frekuensi. Ternyata, memberi perhatian pun bisa dianggap provokasi oleh orang yang sedang tidak selaras gelombang batinnya. Dan ya, mungkin energi saya sedang terlalu lincah; spontanitas saya memercik, lalu memicu dinamika yang membuat saya menghela napas dan membatin, “Ya ampun… ups .” Saya tak henda...