Sial, aku galau lagi. Akibat menikmati lagu-lagu indie yang membangkitkan memori. Aku paling benci saat ingatan lama kembali menyeruak, mendesak, dan membuat sesak. Betul, aku memang susah melupakan. Bagi kalian yang pernah merasa sakit kutinggalkan, percayalah waktu kan mengobatinya. Tapi waktu yang sama itu tak pernah berpihak padaku. Dia memang berlalu, tapi jejaknya penuh duri: membesat, mengiris bak sembilu. Pelan-pelan aku tersiksa oleh ingatan, terutama tentang kalian yang kubayangkan hanya bisa diam terpaku tanpa tahu kenapa aku pergi dulu. Aku pergi begitu saja, menutup pintu tanpa suara, dan meninggalkan kalian dengan ribuan tanya yang tak pernah kujawab. Saat itu, aku merasa akulah pusat semesta: merasa paling benar, paling tersakiti, dan merasa kepergianku adalah hak yang tak perlu diperdebatkan. Aku terlalu pengecut untuk sekadar berucap "maaf." Aku menangis bukan karena ingin kembali ke masa itu, tapi karena aku akhirnya menyadari betapa berharganya ketulusan ya...
Unstoppable gratitude, these are the two words that define 2025, and probably 2026 and many years ahead. When I look back at early 2025, so many meaningful things happened. The second semester at UNHAN began. My children turned 10 and 8. We celebrated our 11th wedding anniversary, and my husband and I both turned 37. Many beautiful moments filled our days. Besides the ups, we also faced some downs. As a couple, we learned how to reconcile and find our rhythm again. We are constantly learning to manage our shortcomings so that the system we have built—our family—can keep working and growing. The second half of 2025 brought quite drastic changes. My husband moved to a different division at work, and we moved into our panggon , our new home in Halim Perdanakusuma. Our children advanced to years 5 and 3. I was no longer in my second semester at UNHAN, but I was trusted to serve as a Master of Ceremony and moderator for several UNHAN events. I also traveled to Pontianak for a few days with ...