Waktu seringkali menjadi musuh bagi ingatan. Maka, sebelum waktu itu tiba memunahkan semua ingatan saya, izinkan saya menggoreskannya dalam bentuk sebuah catatan. Saya baru saja mandi. Seger! Airnya bening sehingga dasar bak mandi kelihatan. Byurr...byurrr... lebih dari 5 gayung saya siramkan ke tubuh demi memastikan badan saya telah terguyur semua oleh air. Sembari bersenandung, memori menghantarkan saya ke ingatan masa kecil saya di Pontianak. Saat itu saya barangkali masih duduk di bangku SD, bahkan hingga SMP bisa dipastikan air di kamar mandi rumah di Pontianak tidak akan pernah bisa sebening ini. Saya masih ingat dulu kalau sudah musim kemarau, air ledeng akan berubah rasa menjadi payau. Rasa payau itu seperti air larutan oralit. Maklum saja, PDAM di Pontianak dan mungkin saja di daerah mayoritas Kalimantan menggunakan sumber air dari sungai yang diolah sedemikian laik sehingga bisa dialirkan. Tapi, jujur saja jika dibandingkan dengan air yang saya pakai mandi ...