Skip to main content

Normal vs SC, Sama Enaknya... Sama Sakitnya... Sama Membahagiakannya!

"Wah, hebat kamu! Salut saya kamu bisa lahiran normal dengan berat badan bayi 3.5 kilo. Kalah saya." kata mertua saya ketika mengetahui saya berhasil melahirkan normal kemarin.
Sempat terselip dalam benak saya, berarti kemarin pas saya lahiran caesar berarti mertua saya ga salut dong? :(
Memang ketika mengetahui saya berhasil lahiran normal dengan jarak persis 2 tahun dari kelahiran pertama saya yang melalui proses caesar, banyak yang memberi selamat dan memuji. Alasannya, bisa dihitung dengan jari berapa banyak orang yang berhasil melahirkan normal pasca caesar dengan jarak kurun waktu 2 tahun.
Idealnya, melahirkan secara normal pasca caesar harus berjarak paling tidak lebih dari 2,5 - 3 tahun.
***

Jadi, melihat respon orang-orang di sekeliling saya, maka izinkan saya menarik sebuah kesimpulan begini:
  1. Bagi mereka kaum hawa yang pernah merasakan lahiran normal (meski tidak semua) barangkali akan memandang agak remeh terhadap kaum hawa yang melahirkan secara SC atau melalui proses caesar.
  2. Sebaliknya, kaum hawa yang melahirkan harus melalui proses SC (lagi-lagi, meski tidak semua) barangkali menjadi tidak PD, merasa belum menjadi ibu yang utuh, dan "iri" terhadap mereka yang bisa melahirkan secara normal.
  3. NAMUN, bagi kaum hawa yang telah merasakan SC maupun lahiran normal akan setuju dengan judul di atas. Dan saya termasuk dalam kelompok kaum hawa ini.

Bagi saya pribadi, lahiran normal maupun SC sama enaknya dan sama sakitnya. Mengingat bayi yang saya lahirkan lumayan besar bobot badan dan lingkar kepalanya, maka jangan heran ketika dokter yang menangani dengan santainya melakukan tindakan episiotomi[1] terhadap miss V saya. Sakit? Tidak sama sekali karena fokus saya adalah mengeluarkan sang bayi. Namun, ketika bayi sudah keluar dan daerah miss V dijahit diobras, aduh... rasanya luar biasa PEDAS! Pasca diobras itupun saya masih harus 1 minggu-an menahan sakit ngilu dan takut luar biasa untuk BAK[2] maupun BAB[3].

Satu minggu lamanya saya menahan cenat-cenut dan pedas yang luar biasa, apalagi ketika saya hendak membersihkan miss V, setiap kali menyentuh permukaannya saya cuma bisa bilang, "Ya Tuhan! Ini bentuknya kok enggak jelas begini." 
BAB maupun BAK merupakan mimpi buruk saya selama 1 minggu pasca melahirkan kemarin. Saya juga serba salah mau duduk, baring, dan berdiri. 
Namun, semuanya itu hanya saya rasakan selama kurang lebih 1 minggu saja. Setelah itu, saya merasa jauh lebih baik dan lebih fit serta rasa cenat-cenut pun sirna. PUJI TUHAN!

Kalau dibandingkan dengan CS kemarin, saya merasa sakit hanya ketika obat biusnya sudah kehilangan efek biusnya. Barulah saya merasakan cenat-cenut pedas di bagian otot perut saya. Tapi untuk BAK maupun BAB, saya lancar-lancar saja. Cuma memang selama 1 bulan persis, saya terbaring lemah dan harus menahan sakit pedes yang luar biasa pasca melahirkan dengan operasi.
Saya ingat waktu itu saya beberapa kali meninju dinding ketika saya tidak berdaya berdiri karena menahan sakit. 
Melahirkan normal maupun SC prinsipnya cuma 1, yakni KUDU BANYAK BERGERAK agar melatih otot-otot yang sempat tegang agar rileks kembali. Bergeraknya bukan bergerak sembrono, namun bergerak-gerak kecil guna melatih otot-otot yang ada.

Melahirkan secara normal juga mengesankan bagi saya ketimbang SC, karena pada saat melahirkan suami standby disamping saya terus. Kalau SC kemarin, suami tidak diperkenankan untuk memasuki ruangan operasi karena selain tidak disediakan ruangan, suami juga tidak berani melihat istrinya dikoyak-koyak perutnya.
Berbeda dengan lahiran normal kemarin, suami melihat saya berkeringat dingin dan meremas pegangan tempat tidur dengan kuat demi menahan rasa sakit. Syukurlah, saya tidak pakai acara teriak-teriak dan jambak suami seperti kebanyakan cerita orang lainnya yang melahirkan. Soalnya kasian orang-orang yang mendengar teriakan saya dan kasian juga suami saya. Hehehe...
Tapi entah kenapa ya, suami kelihatan lebih so sweet saja pasca saya melahirkan. Mungkin efek melihat perjuangan istrinya melahirkan kali ya? Hehehe...

Kalau ditanya, mana yang lebih enak antara lahiran normal atau SC, saya pikir sama saja. SC enak di awal, ga enak di akhirnya. Tapi ini tergantung juga ya, karena ada beberapa dokter dan RS yang semakin canggih sehingga pasca operasi pun kita tidak merasakan sakit lagi. Nah, untuk dapat merasakan fasilitas ini siap-siap saja dengan budget sekian puluh juta. Kalau di Malang, kisaran operasi SC dengan fasilitas wah dan tanpa rasa sakit antara 30-37 juta. 
Sementara itu, lahiran normal pedes sakitnya di awal saja setelah itu kita bebas beraktifitas kembali.

Terlepas dari pro dan kontra SC ataupun normal, saya pikir toh dua-duanya sama membahagiakannya karena pada akhirnya sama-sama melihat bayi yang kita lahirkan.
Jadi, kembali kepada pilihan masing-masing saja karena bagi saya yang sudah pernah melahirkan normal maupun SC, semua sama enaknya... sama sakitnya... dan sama membahagiakannya.

Cheers...


Masih di ruang bersalin,
suami langsung mengabadikannya.
Dan entah kenapa saya langsung pose saja. x-)

Catatan:
[1] Episiotomi. Episiotomy (/ɛˌpiːziːˈɔːtʌmiː/) adalah sebuah irisan bedah melalui perineum yang dilakukan unuk memperlebar vagina dengan maksud untuk membantu proses kelahiran bayi.
[2] BAK = Buang Air Kecil
[3] BAB = Buang Air Besar

Comments

Popular posts from this blog

It’s Always God: Through Change and Growth

Unstoppable gratitude, these are the two words that define 2025, and probably 2026 and many years ahead. When I look back at early 2025, so many meaningful things happened. The second semester at UNHAN began. My children turned 10 and 8. We celebrated our 11th wedding anniversary, and my husband and I both turned 37. Many beautiful moments filled our days. Besides the ups, we also faced some downs. As a couple, we learned how to reconcile and find our rhythm again. We are constantly learning to manage our shortcomings so that the system we have built—our family—can keep working and growing. The second half of 2025 brought quite drastic changes. My husband moved to a different division at work, and we moved into our panggon , our new home in Halim Perdanakusuma. Our children advanced to years 5 and 3. I was no longer in my second semester at UNHAN, but I was trusted to serve as a Master of Ceremony and moderator for several UNHAN events. I also traveled to Pontianak for a few days with ...

The House That Carried Us Forward

I don’t think I’ve ever written about the government housing provided by the Air Force where we’re currently living. We’ve been here for almost half a year now—since June, to be exact. I still remember the day we left Malang for Jakarta: the kids and I ended up crying together. Strangely enough, that move also happened in December, as if the month itself always carries a bittersweet turning of seasons for our family. But life moves forward, and so must we. Our first home in Jakarta was in Lubang Buaya—a small house, roughly 108 square metres, with three bedrooms and two bathrooms. My mother-in-law had lived there ever since I married her son in 2014. My husband and I bought the house using a mix of our parents’ support. Technically, we still owe my parents the remaining balance. Lol. After living in Jakarta for about two and a half years, we decided to move into what we call the Panggon , or rumah dinas—a service house provided by TNI AU. Since it isn’t a Rumah Jabatan < Official Re...

Pilih(an)

Konon, menulis jurnal adalah bagian dari proses penyembuhan. Saya mengangguk setuju. Menulis jurnal , bukan menumpahkan emosi lewat status WhatsApp sambil berharap semesta ikut marah hanya karena hati kita sedang seret. Ada jurang lebar antara refleksi batin dan pamer luka di ruang publik, meski banyak yang mengacaukannya. Awalnya saya enggan menyinggung hal ini. Namun, hidup sering bercanda—niat saya membahas hal lain langsung terpelintir hanya karena saya menanggapi sebuah status WA. Rupanya respons saya tidak bertaut dengan ekspektasinya. Jadilah ia bereaksi—riuh, garang, seperti hendak menerkam sesuatu yang bahkan bukan ancaman. Saya hanya tersenyum tipis. Mungkin saya memang salah frekuensi. Ternyata, memberi perhatian pun bisa dianggap provokasi oleh orang yang sedang tidak selaras gelombang batinnya. Dan ya, mungkin energi saya sedang terlalu lincah; spontanitas saya memercik, lalu memicu dinamika yang membuat saya menghela napas dan membatin, “Ya ampun… ups .” Saya tak henda...