Menurut Saya, pilihan-pilihan apapun yang kita buat adalah hasil dari setiap pengalaman yang pernah kita alami. Entah pengalaman tersebut berupa orang-orang yang pernah kita temui, tempat-tempat yang pernah kita kunjungi, dan berbagai hal lainnya.
Sama halnya ketika saya diikutsertakan untuk memeriahkan lomba membuat batik tulis dalam rangka memperingati HUT PIA ke 61 di Lanud Abdulrachman Saleh, Malang. Dengan berbekalkan dua hari pelatihan yang cukup menguras waktu, tenaga dan pikiran kami pun diikutsertakan untuk mengikuti lomba membuat batik tulis tersebut.
Saya harus berterimakasih kepada Ibu Danlanud kami, Ibu Julexi Tambayong atas kesempatan dimana saya boleh memahami bahwa membuat batik tulis itu tidak gampang. Proses tersulitnya adalah menggambar menggunakan malam (baca: lilin yang sudah dicairkan namun masih dalam keadaan panas) dengan canting.
Astaga! Itu sulit sekali!Beberapa kali tangan saya terkena lelehan lilin panasnya, celana saya tercetak totol-totol lilin yang membeku, dan belum lagi punggung saya pegal serta kaki saya kesemutan.
Kondisi tersebut mencerahkan saya bahwa mulai dari hari ini saya akan menawar batik dengan harga sewajarnya, tidak gila-gilaan dan kesejahteraan pembatik saya harus juga diperhitungkan, khususnya para pembatik tulis.
Baiklah. Setelah mengalami 3 hari yang cukup menguras tenaga, waktu dan pikiran yakni 2 hari pelatihan, dan 1 hari lomba. Datang pagi, pulang menuju petang sebanyak tiga kali, maka pemenang lomba pun diumumkan. JELAS, saya tidak mendapatkan juara apapun. Saya sadar diri lah. Wong memang batik saya tidak ada menariknya ketimbang batik-batik yang lain. Saking saya putus asanya melihat beberapa kali kain saya ketumpahan tetesan lilin panas yang keluar dari canting karena terlalu panas, maka saya putuskan untuk memblok semua kain saya agar batiknya jadi warna putih saja warna dasarnya. (Hehehe...)
Waktu itu saya gambar ikan arwana pada batik saya. Kenapa ikan arwana? Pertama, ikan arwana ini paling jelas bentuknya ketimbang ikan-ikan lainnya dengan kapasitas saya yang ga bisa gambar yang gimana-gimana. Kedua, ikan arwana ini adalah ikan yang menjadi ciri khas daerah saya di Kalimantan Barat. Ikan ini tergolong ikan yang mahalnya minta ampun, khususnya yang berwara kuning kemerahan. Dulu saya punya yang keperakan, sudah gede dan panjang, cuma mati karena stress dan lupa dikasih makan. Oh ya, makanannya ikan ini kami kasih kalau enggak jangkrik, kecoak, atau cicak.
Ikan arwana ini termasuk kategori ikan buas. Bisa lompat juga. Makanya hati-hati, jangan pernah sekali-kali memasukkan jari tangan ke dalam akuarium karena nanti bisa dicaplok.
Lalu, kenapa jumlahnya cuma dua? Pertama, saya ingat anak-anak laki-laki saya di rumah: Ello dan Gio. Hahaha, bercanda! Bukan itu, saya cuma sempat ngegambarnya 2 saja. Karena waktunya kurang. Hiks!
Dengan kapasitas saya yang benar-benar apa adanya itu akhirnya saya menuntaskan batik ikan arwana saya. Meski tidak juara, saya puas. Puas-nya adalah saya akhirnya menyelesaikan tugas saya sebagai perwakilan dari PIA AG 03-2/D.II Skadron Udara 32. Hehehe...
Tak dinyana tak diduga.
Rupanya pada perayaan puncak HUT PIA ke 61 kemarin, ada sesi juara favoritnya. Dan batik ikan arwana keluar sebagai juara favorit. Jujur saja, saya tidak tahu istimewanya dimana sehingga batik saya ini keluar sebagai juara favorit. Hehehe. Tapi saya senang sekali karena saya dapat tas batik dan anyaman pandan decoupage yang cantiknya bukan main.

Comments
Post a Comment