Suara
pintu diketuk. Putra pertama saya, Ello, yang pertamakali menyadari bahwa ada
tamu. Baju saya ditarik Ello sambil teriak: “Mami, Papi!” Jelas bukan Papi nya
anak-anak karena suami saya sedang melaksanakan misi tiga hari.
Saya
tergopoh-gopoh meletakkan piring berisi makan malam dan berlari membukakan
pintu. Ketika pintu dibukakan, seorang wanita seumuran Ibu saya langsung
menghambur menyatakan kekangenannya. Saya menyambutnya dengan mencium tangannya
dan memeluknya.
Saya
mengenalnya sebagai seorang Ibu dari almarhum Mas Arif. Ibu memberikan plastik
yang berisi ketupat, lepat (ketan dan kacang yang dikukus dalam balutan daun
kelapa), dan sayur santan. Kata Ibu: “Kalau tidak suka nanti, Mbak buang saja.”
Membayangkan
beliau membawanya dari rumah di Jabung bersama adik almarhum ke tempat kami
dengan mengendarai motor sepertinya saya juga tidak tega membuangnya.
Ibu
memeluk Gio, putra kedua saya, yang memang dari tadi merengek minta digendong.
Dari caranya menciumi Gio, saya paham beliau kangen dengan cucunya. Tak
habis-habisnya beliau mendaratkan ciuman di pipi Gio. Saya berjuang menahan
haru. Bukan apa. Saya tengah memandang seorang Ibu dari rekan letting suami AAU
2011 yang telah lebih dulu pergi meninggalkan kami karena kecelakaan pesawat
Hercules di Wamena, 18 Desember 2016 silam. Saya membayangkan betapa hancur
hatinya karena kepergian putra yang beliau banggakan dan barangkali merupakan
putra yang diharapkan dapat menjadi tumpuan keluarga. Menjadi orangtua saja
merupakan hal sulit, apalagi melepas kepergian sang anak menghadap Sang Khalik
lebih dahulu.
Perjumpaan
kami tak lama. Sekitar 30 menitan. Beliau bercerita sekilas tentang nasibnya.
Meski tidak menceritakannya secara detail, saya berusaha menarik garis
besarnya.
Ketika
beliau pulang, beliau mengusap kaca rumah dinas yang dulu ditempati almarhum
yang kebetulan tetangga kami persis di perumahan komplek.
“Le,
Ibu pulang dulu ya.” Katanya.
Mereka
pulang. Saya menunggu hingga bayangan mereka hilang di tengah kegelapan malam.
Air mata saya menitik. Malam ini saya diingatkan kembali oleh Tuhan melalui
orang lain...
Malang, 4 Juli 2017
Comments
Post a Comment