Skip to main content

KEHILANGAN KEMBALI...



Saya selalu menyukai musim penghujan, atau minimal kondisi sehabis hujan. Efek yang ditimbulkannya; aroma tanah yang basah, jalanan aspal yang berubah menjadi abu kehitaman yang mengilap, dedaunan bahkan batang hingga ranting pepohonan berubah warna menjadi lebih gelap segar. Hal-hal ini yang selalu membuat saya kembali terkenang.

Kenangan yang membuat saya hidup. Dengan mengenang saya bisa lebih menghargai hidup. Mengenang tak selalu diklasifikasikan sebagai orang-orang yang gagal move on.
Jujur saja, dalam waktu kurun waktu satu tahun ternyata begitu banyak yang berubah. Tidak hanya konstelasi politik luar negeri yang berubah, dalam negeri pun banyak perubahan. Bahkan dalam kehidupan pribadi saya sendiri ternyata begitu banyak perubahan yang terjadi. Meskipun saya tidak suka membicarakan tentang kesedihan, namun transisi 2016 ke 2017 ini lebih banyak membuat saya berduka ketimbang bersukaria.


Sebuah Kehilangan Kembali & Pelajaran yang Menyertai
18 Desember 2016. Rasanya baru kemarin, saya bangun pagi-pagi sekali mendapati sebuah pesan dari suami terkasih bahwa ada kecelakaan pesawat terjadi di Wamena, Papua sehingga suami dan kru lainnya waktu itu belum bisa berangkat dari Halim PK menuju Malang. Namun, saya tak mau menangis. Saya tak mau lekas percaya dengan apa yang dikatakan suami. Lalu saya stel TV. Berita belum ada yang muncul. Saya tarik nafas panjang dan berjalan pagi bersama anak saya, Ello. Sepanjang perjalanan mengitari komplek, saya jumpai Indri yang menatap saya dengan tatapan kaku tidak seperti biasa. Saya tersenyum simpul lalu berjalan kembali. Dua rumah senior saya jumpai sudah ramai dengan mobil-mobil. Meski dalam hati kecil saya sudah berbicara bahwa kecelakaan memang benar terjadi, tapi saya masih keras kepala menunggu berita resmi di TV.

TV pun memberitakan bahwa memang telah terjadi kecelakaan, namun belum menampilkan gambar konkrit pesawatnya. Hingga benar-benar saya melihat tampilan sebuah pesawat Hercules A-1334 jatuh di Wamena yang menewaskan sahabat, abang, dan saudara terkasih. Kehilangan yang begitu cepat ternyata tak pandang suku, agama, warna kulit, bentuk wajah, pangkat, jabatan, dan sebagainya. Tak mudah melepaskan ingatan akan wajah para air crew yang senantiasa dijumpai sehari-hari. Air mata saya baru tumpah ketika saya melihat istri-istri senior saya dan terutama istri letting saya, Ny. Devi Mitha Arif Prayoga berteriak untuk menyusul suaminya terkasih. Hati saya ikut hancur. Sebuah kehilangan saja sudah menorehkan luka, kehilangan berikutnya ini hanya membuka luka lama kembali. Penyembuhannya takkan mudah. Sakitnya akan bertambah.

Siapapun, bahkan suami saya sendiri bisa saja tewas dalam kecelakaan pesawat. Lantas saya teringat perkataan Ayah saya:”kita semua akan melalui jalan yang sama, hanya temponya saja yang berbeda.” Sebuah kata-kata yang mengendap dalam pikiran saya. Setiap kali saya melihat kemalangan terjadi, perkataan Ayah saya menyadarkan saya bahwa saya pun bisa saja mengalami hal tersebut.

Saya menyadari bahwa pekerjaan suami saya ini memang bukan pekerjaannya manusia normal. Menjadi seorang tentara alias penjaga garda depan tanah air saja sudah membuktikan ketidaknormalannya. Ditambah lagi pekerjaan suami saya sebagai air crew, yang tugasnya memang di udara. Menjaga kedaulatan dan ketahanan angkasa Tanah Air. Dan saya yang memilihnya menjadi suami dan ayah dari anak-anak saya juga membuktikan bahwa saya pun ternyata tidak normal.

Rasa bangga yang berlebihan dalam diri saya tadinya berubah menjadi rasa hormat dan mencintai suami lebih lagi karena we never know when the last good-bye is. Masalah yang tidak terlalu penting, tidak perlu dibesar-besarkan sehingga tidak membebani rumah tangga dan membebani suami dalam menjalankan tugas.

2017 ini saya tak mengharapkan yang berlebihan selain menjadi istri yang baik dan benar dalam mendukung karir suami serta menjadi ibu yang patut bagi kedua anak laki-laki saya. (1 masih di perut, menunggu keluar.) Mohon doanya.


Comments

Popular posts from this blog

It’s Always God: Through Change and Growth

Unstoppable gratitude, these are the two words that define 2025, and probably 2026 and many years ahead. When I look back at early 2025, so many meaningful things happened. The second semester at UNHAN began. My children turned 10 and 8. We celebrated our 11th wedding anniversary, and my husband and I both turned 37. Many beautiful moments filled our days. Besides the ups, we also faced some downs. As a couple, we learned how to reconcile and find our rhythm again. We are constantly learning to manage our shortcomings so that the system we have built—our family—can keep working and growing. The second half of 2025 brought quite drastic changes. My husband moved to a different division at work, and we moved into our panggon , our new home in Halim Perdanakusuma. Our children advanced to years 5 and 3. I was no longer in my second semester at UNHAN, but I was trusted to serve as a Master of Ceremony and moderator for several UNHAN events. I also traveled to Pontianak for a few days with ...

The House That Carried Us Forward

I don’t think I’ve ever written about the government housing provided by the Air Force where we’re currently living. We’ve been here for almost half a year now—since June, to be exact. I still remember the day we left Malang for Jakarta: the kids and I ended up crying together. Strangely enough, that move also happened in December, as if the month itself always carries a bittersweet turning of seasons for our family. But life moves forward, and so must we. Our first home in Jakarta was in Lubang Buaya—a small house, roughly 108 square metres, with three bedrooms and two bathrooms. My mother-in-law had lived there ever since I married her son in 2014. My husband and I bought the house using a mix of our parents’ support. Technically, we still owe my parents the remaining balance. Lol. After living in Jakarta for about two and a half years, we decided to move into what we call the Panggon , or rumah dinas—a service house provided by TNI AU. Since it isn’t a Rumah Jabatan < Official Re...

Pilih(an)

Konon, menulis jurnal adalah bagian dari proses penyembuhan. Saya mengangguk setuju. Menulis jurnal , bukan menumpahkan emosi lewat status WhatsApp sambil berharap semesta ikut marah hanya karena hati kita sedang seret. Ada jurang lebar antara refleksi batin dan pamer luka di ruang publik, meski banyak yang mengacaukannya. Awalnya saya enggan menyinggung hal ini. Namun, hidup sering bercanda—niat saya membahas hal lain langsung terpelintir hanya karena saya menanggapi sebuah status WA. Rupanya respons saya tidak bertaut dengan ekspektasinya. Jadilah ia bereaksi—riuh, garang, seperti hendak menerkam sesuatu yang bahkan bukan ancaman. Saya hanya tersenyum tipis. Mungkin saya memang salah frekuensi. Ternyata, memberi perhatian pun bisa dianggap provokasi oleh orang yang sedang tidak selaras gelombang batinnya. Dan ya, mungkin energi saya sedang terlalu lincah; spontanitas saya memercik, lalu memicu dinamika yang membuat saya menghela napas dan membatin, “Ya ampun… ups .” Saya tak henda...