Saya terlongo
kaget ketika menonton video full penamparan yang dilakukan seorang Ibu (yang
katanya istri eks) pejabat berbintang. Video yang tengah viral itu
mempertontonkan arogansi si Ibu yang tidak mau taat pada peraturan yang
berlaku. Kalau merasa kerepotan untuk melepaskan jam tangan, kacamata, atau
benda-benda logam yang melekat pada tubuh ya mending tidak usah dipakai sama
sekali. Gitu aja kok repot ya? Bukan tanpa alasan ketika kita diminta untuk
melepaskan segala benda yang mengandung logam yang melekat di tubuh ketika
hendak melalui pintu scanning pemeriksaan. Eh, apa mungkin si Ibu (yang katanya
istri eks) pejabat berbintang ini merasa hampa jika tidak mengenakan
seperangkat alat yang menyatakan status sosialita-nya meski sudah berstatus
istri MANTAN pejabat?
Mengadaptasi
dari versi bahasa Inggris-nya: arrogant
berarti having or revealing an exaggerated sense of one’s own
importance or abilities. Si Ibu merasa dirinya penting, dan memiliki
kemampuan lebih dari Mbak yang ditamparnya. Apapun alasannya, berkata kasar dan
bahkan melakukan tindak kekerasan sangatlah tidak pantas! Apalagi ini dilakukan
oleh istri dari (eks) pemangku jabatan di negara ini. Yang harusnya lebih paham
akan peraturan, malah justru yang melanggar peraturan tersebut. Apa karena sang
suami telah lama tidak menjabat, maka si istri langsung lupa? Kok rasanya juga
tidak mungkin!
Bercerita
mengenai pengalaman saya selama tiga tahun lima bulan ini mendamping suami yang
kebetulan berprofesi sebagai prajurit, saya sering mendengar juga cerita dari
mbak-mbak senior mengenai “kerasnya” zaman dahulu dimana kita harus manut penuh
dan tidak boleh memberikan pendapat, apalagi menyanggah perintah dan permintaan
Mbak-mbak yang senior. Ada semacam pola berantai juga (yang tidak saya sukai)
yakni ketika Mbak yang lebih senior memberi perintah kepada Mbak yang klik-nya
dibawahnya, Mbak yang diberi perintah ini sepertinya merasa BERHAK untuk
memberikan perintah lagi kepada Mbak yang dibawahnya untuk dikerjakan. Menurut
saya, pola seperti ini juga menunjukkan arogansi . Selain arogan, juga tidak
efektif dan efisien. Apa pernah terpikirkan bagaimana pertanggungjawaban yang
melaksanakan tugas ketika tugas yang diberikan ternyata tidak sesuai dengan
yang diminta pihak pertama? Ketika tugas yang dilaksanakan salah, lalu siapa
yang disalahkan? Tak lain tak bukan adalah pihak terakhir yang diberikan tugas.
Padahal bisa jadi, kesalahan bukan terletak di pihak terakhir, melainkan karena
instruksi yang sudah tidak lengkap. Ingat, semakin banyak campur tangan,
biasanya fokus makin melebar dan makin tidak sesuai arahan.
Tanpa bermaksud
menyalahkan pendelegasian atau hal meminta tolong, namun seringkali permintaan
tolong dari senior bermakna perintah. Budaya inilah yang bisa menjadi bibit
arogansi. Karena terpola dan terbiasa di ruang lingkup militer yakni menerima
perintah dari atasan, dan memberi perintah kepada yang kita anggap lebih rendah
pangkatnya, membuat kita lupa bahwa suatu waktu mau tidak mau dan suka tidak
suka, kita akan kembali ke kehidupan sipil. Dimana kehidupan dunia sipil adalah
kehidupan rimba yang sebenarnya (menurut saya lho ya.) Orang tidak perduli anda
siapa, orang selalu punya cara untuk merisak anda. Lihat saja, sosial media
yang tidak pandang bulu dalam hal membully. Hehehe.
Saya sampai
sekarang masih asing ketika Bapak-bapak berseragam yang pangkatnya di lengan
memberi hormat kepada saya setiap kali saya melewati pintu gerbang provost,
atau Ibu-ibu anggota maupun anggota suami yang selalu menyapa saya dengan
sapaan: “Izin, Ibu...” atau “Siap, Ibu. Izin kami bla...bla...”. Lha, jangankan
Ibu anggota, para istri adik suami saya yang lebih junior dari kami ketika
bersikap sangat kaku dan (terlalu) hormat membuat saya gelisah sendiri. Saya
pikir perbedaan saya dengan para istri adik junior suami hanyalah karena suami
saya diterima dan lulus lebih dahulu saja. Selebihnya ya tidak ada. Sama juga
dengan Bapak-bapak atau anggota lainnya yang berpangkat di lengan. Hanya karena
suami saya diterima saja di akademi yang membedakan dirinya dengan mereka.
Lainnya? Tidak ada. Lantas, apa pantas kemudian kita menggolongkan diri kita
bagian dari kelas 1, sementara mereka adalah golongan kelas ke sekian? Jelas
TIDAK PANTAS, menurut saya.
Jadi kembali ke
kasus Ibu (yang katanya istri eks) pejabat berbintang itu, mungkin beliau
terlalu mendalami perannya sebagai istri persatuan “ini-itu” zaman dulu. Lalu
lupa bahwa begitu suaminya pensiun ada dunia lain yang mesti dihadapinya. Dan
dunia itu tidak pernah pandang bulu. Lantas, mengapa masih bertingkah arogan?
Malang,
7 Juli 2017
Comments
Post a Comment