Saya posting ini pas tanggal 22 Pebruari kemarin di laman facebook saya. Saya tag pula suami tercinta saya itu:
2. First date?
Toko buku Shopping & Malioboro. Sepanjang jalan kita susuri dengan berjalan kaki. Saya banyak diamnya, dia banyak ceritanya.
Janjian ketemu untuk pertamakali setelah BBm-an, SMS & telponan di Malioboro. Saya dari Monjali, dia dari Babarsari. Sama-sama menggunakan Transjogja. Bedanya saya turun di halte deket Shopping, dia di seberangnya. Lalu kami berdua nyasar karena telepon & SMS nya tidak saya angkat. Hingga saya berhasil "dijemput paksa" dari Toko buku Shopping, komplek Taman Pintar di daerah Gondomanan.Toko buku Shopping & Malioboro. Sepanjang jalan kita susuri dengan berjalan kaki. Saya banyak diamnya, dia banyak ceritanya.
4. What is "your song" together?
Sebenarnya enggak ada. Dia penggila Kerispatih ketika Sammy Simorangkir masih bergabung. Saya sukanya Afgan zaman itu.
Mungkin cuma "Terimakasih Cinta" by Afgan yang dinyanyikan pas wedding.
Sebenarnya enggak ada. Dia penggila Kerispatih ketika Sammy Simorangkir masih bergabung. Saya sukanya Afgan zaman itu.
Mungkin cuma "Terimakasih Cinta" by Afgan yang dinyanyikan pas wedding.
5. Do you remember the first movie?
Final Destination V. Sungguh suatu kesalahan menonton film tersebut waktu itu.
Final Destination V. Sungguh suatu kesalahan menonton film tersebut waktu itu.
9. Who was interested first?
Keduanya. Sama-sama tertarik, tapi banyak yang dipertimbangkan. [Tsaaah...]
Keduanya. Sama-sama tertarik, tapi banyak yang dipertimbangkan. [Tsaaah...]
23. Siapa yang mengenalkan kalian?
My SHS friend named Uray Bas Hari alias Ray, alias temen lettingnya dia juga di Akademi.
My SHS friend named Uray Bas Hari alias Ray, alias temen lettingnya dia juga di Akademi.
♡★♡★♡★
22 Pebruari 2017 kemarin usia pernikahan kami persis menginjak 3 tahun. Tiga tahun sudah kami berumahtangga, mengecap susah gembira duka dan suka serta tangis dan tawa berbarengan. Dalam kurun waktu 3 tahun itu pula, kami berdua banyak mencapai hal bersamaan dan saling barter kelebihan serta kekurangan.
Kalau ditanya apa hal mengesankan selama berumahtangga yang tiga tahun ini? Saya menjawab: masalah demi masalah yang datang malah terasa biasa dan bukanlah suatu alasan untuk bertengkar (semoga, amin!)
FAKTA bahwa profesi suami yang tidak wajar plus menyadari bahwa bukan tidak mungkin suami bisa dipanggil oleh Sang Khalik sewaktu-waktu, membuat saya yang tadinya (mungkin) seringkali menuntut menjadi lebih sadar diri. Daripada menuntut, lebih baik memaksimalkan potensi diri untuk mencapai apa yang dicita-citakan. Setidaknya kita berusaha ketimbang menuntut yang berakhir dengan kekecewaan.
FAKTA bahwa profesi suami yang tidak wajar plus menyadari bahwa bukan tidak mungkin suami bisa dipanggil oleh Sang Khalik sewaktu-waktu, membuat saya yang tadinya (mungkin) seringkali menuntut menjadi lebih sadar diri. Daripada menuntut, lebih baik memaksimalkan potensi diri untuk mencapai apa yang dicita-citakan. Setidaknya kita berusaha ketimbang menuntut yang berakhir dengan kekecewaan.
Di usia pernikahan kami yang ketiga ini pula, kami dikaruniai seorang putra (lagi). Jadi keluarga kecil kami ini telah berjumlah 4 orang: Papi, Mami, dan 2 orang anak laki-laki.
Please, jangan dikompori untuk punya anak perempuan lagi karena kami sudah bersepakat untuk menjadi catur keluarga. Meski awalnya ingin sekali memiliki anak perempuan, namun ketika Tuhan mengaruniakan yang tidak kita inginkan, kami YAKIN ini sudah yang terbaik yang boleh kami terima.
Please, jangan dikompori untuk punya anak perempuan lagi karena kami sudah bersepakat untuk menjadi catur keluarga. Meski awalnya ingin sekali memiliki anak perempuan, namun ketika Tuhan mengaruniakan yang tidak kita inginkan, kami YAKIN ini sudah yang terbaik yang boleh kami terima.
Saya sering melemparkan canda ketika teman-teman menggodai kami agar mau nambah 1 lagi anak perempuan. Jawab saya: "2 anak cukup. Kalau mau anak perempuan, ntar menantu aja. Lagian kami kayaknya diharuskan buat cinta menantu nantinya."
Jujur saja, semakin bertambahnya usia pernikahan kami, kami makin mengisolasi diri dari "ketertarikan untuk menjadi seperti orang lain."
Maksudnya begini... misalkan ada orang beli mobil baru, kami yang dulunya pengenan, sekarang berubah menjadi lebih tenang dan mampu mengerem diri. Kami yang tadinya konsumtif, sekarang lebih menentukan apa yang menjadi skala prioritas keluarga (ahsekk...)
Maksudnya begini... misalkan ada orang beli mobil baru, kami yang dulunya pengenan, sekarang berubah menjadi lebih tenang dan mampu mengerem diri. Kami yang tadinya konsumtif, sekarang lebih menentukan apa yang menjadi skala prioritas keluarga (ahsekk...)
Untuk urusan saling mendukung, kami tidak semata-mata mendukung yang membutakan atau menulikan indera.
Kami mendukung dengan rasio.
Ketika suami ingin A, saya akan menimbang untung ruginya. Lalu menawarkan solusi. Saya hadir sebagai 2nd opinionnya. Begitu pula dengannya.
Kami mendukung dengan rasio.
Ketika suami ingin A, saya akan menimbang untung ruginya. Lalu menawarkan solusi. Saya hadir sebagai 2nd opinionnya. Begitu pula dengannya.
Jujur saja, saya tidak menduga saya belum merasa bosan padahal sudah 3 tahun berumahtangga dan hampir 6 tahun mengenalnya.
Padahal saya adalah tipe pembosan sejati, gampang berkata-kata, telat mikirnya, dan tidak menyukai kondisi yang stagnan.
Padahal saya adalah tipe pembosan sejati, gampang berkata-kata, telat mikirnya, dan tidak menyukai kondisi yang stagnan.
Namun bersama suami saya ini, saya berubah. Saya mengubah diri saya. Ketika saya mulai merasa jenuh, entah karena sikapnya atau kata-katanya, saya langsung mengenang pertama kali kami bertemu.
Rasanya tiba-tiba ada sengatan listrik lembut yang mencubit memori saya sehingga menarik bibir saya untuk tersenyum kembali. Lalu, saya pandangi wajah anak-anak kami dan wajahnya. Suka tidak suka, bosen tidak bosen... hey pria ini adalah bapak dari anak-anak yang saya lahirkan.
Di dalam tubuh anak-anak saya ada DNA suami saya.
Rasanya tiba-tiba ada sengatan listrik lembut yang mencubit memori saya sehingga menarik bibir saya untuk tersenyum kembali. Lalu, saya pandangi wajah anak-anak kami dan wajahnya. Suka tidak suka, bosen tidak bosen... hey pria ini adalah bapak dari anak-anak yang saya lahirkan.
Di dalam tubuh anak-anak saya ada DNA suami saya.
Selain itu juga, saya belajar mencintai suami saya secara realistis. Kenyataan bahwa suami takkan pernah menjadi milik saya seutuhnya (mengingat profesi suami saya sebagai penjaga garda depan negara ini) membuat saya semakin mencintainya. Mengetahui apapun bisa terjadi pada suami saya, mencintainya semaksimal mungkin sehingga tiada penyesalan di kemudian hari menjadi satu-satunya opsi yang saya jalani hari demi hari.
Terimakasih, Suamiku Papi Ello dan Gio. Semoga perjalanan kita ini berlangsung abadi. Semoga...
Comments
Post a Comment