Skip to main content

3 Tahun Menikah Itu Rasanya...

Saya posting ini pas tanggal 22 Pebruari kemarin di laman facebook saya. Saya tag pula suami tercinta saya itu:
Janjian ketemu untuk pertamakali setelah BBm-an, SMS & telponan di Malioboro. Saya dari Monjali, dia dari Babarsari. Sama-sama menggunakan Transjogja. Bedanya saya turun di halte deket Shopping, dia di seberangnya. Lalu kami berdua nyasar karena telepon & SMS nya tidak saya angkat. Hingga saya berhasil "dijemput paksa" dari Toko buku Shopping, komplek Taman Pintar di daerah Gondomanan.
♡★♡★♡★
22 Pebruari 2017 kemarin usia pernikahan kami persis menginjak 3 tahun. Tiga tahun sudah kami berumahtangga, mengecap susah gembira duka dan suka serta tangis dan tawa berbarengan. Dalam kurun waktu 3 tahun itu pula, kami berdua banyak mencapai hal bersamaan dan saling barter kelebihan serta kekurangan.
Kalau ditanya apa hal mengesankan selama berumahtangga yang tiga tahun ini? Saya menjawab: masalah demi masalah yang datang malah terasa biasa dan bukanlah suatu alasan untuk bertengkar (semoga, amin!)
FAKTA bahwa profesi suami yang tidak wajar plus menyadari bahwa bukan tidak mungkin suami bisa dipanggil oleh Sang Khalik sewaktu-waktu, membuat saya yang tadinya (mungkin) seringkali menuntut menjadi lebih sadar diri. Daripada menuntut, lebih baik memaksimalkan potensi diri untuk mencapai apa yang dicita-citakan. Setidaknya kita berusaha ketimbang menuntut yang berakhir dengan kekecewaan.
Di usia pernikahan kami yang ketiga ini pula, kami dikaruniai seorang putra (lagi). Jadi keluarga kecil kami ini telah berjumlah 4 orang: Papi, Mami, dan 2 orang anak laki-laki.
Please, jangan dikompori untuk punya anak perempuan lagi karena kami sudah bersepakat untuk menjadi catur keluarga. Meski awalnya ingin sekali memiliki anak perempuan, namun ketika Tuhan mengaruniakan yang tidak kita inginkan, kami YAKIN ini sudah yang terbaik yang boleh kami terima.
Saya sering melemparkan canda ketika teman-teman menggodai kami agar mau nambah 1 lagi anak perempuan. Jawab saya: "2 anak cukup. Kalau mau anak perempuan, ntar menantu aja. Lagian kami kayaknya diharuskan buat cinta menantu nantinya."
Jujur saja, semakin bertambahnya usia pernikahan kami, kami makin mengisolasi diri dari "ketertarikan untuk menjadi seperti orang lain."
Maksudnya begini... misalkan ada orang beli mobil baru, kami yang dulunya pengenan, sekarang berubah menjadi lebih tenang dan mampu mengerem diri. Kami yang tadinya konsumtif, sekarang lebih menentukan apa yang menjadi skala prioritas keluarga (ahsekk...)
Untuk urusan saling mendukung, kami tidak semata-mata mendukung yang membutakan atau menulikan indera.
Kami mendukung dengan rasio.
Ketika suami ingin A, saya akan menimbang untung ruginya. Lalu menawarkan solusi. Saya hadir sebagai 2nd opinionnya. Begitu pula dengannya.
Jujur saja, saya tidak menduga saya belum merasa bosan padahal sudah 3 tahun berumahtangga dan hampir 6 tahun mengenalnya.
Padahal saya adalah tipe pembosan sejati, gampang berkata-kata, telat mikirnya, dan tidak menyukai kondisi yang stagnan.
Namun bersama suami saya ini, saya berubah. Saya mengubah diri saya. Ketika saya mulai merasa jenuh, entah karena sikapnya atau kata-katanya, saya langsung mengenang pertama kali kami bertemu.
Rasanya tiba-tiba ada sengatan listrik lembut yang mencubit memori saya sehingga menarik bibir saya untuk tersenyum kembali. Lalu, saya pandangi wajah anak-anak kami dan wajahnya. Suka tidak suka, bosen tidak bosen... hey pria ini adalah bapak dari anak-anak yang saya lahirkan.
Di dalam tubuh anak-anak saya ada DNA suami saya.
Selain itu juga, saya belajar mencintai suami saya secara realistis. Kenyataan bahwa suami takkan pernah menjadi milik saya seutuhnya (mengingat profesi suami saya sebagai penjaga garda depan negara ini) membuat saya semakin mencintainya. Mengetahui apapun bisa terjadi pada suami saya, mencintainya semaksimal mungkin sehingga tiada penyesalan di kemudian hari menjadi satu-satunya opsi yang saya jalani hari demi hari.
Terimakasih, Suamiku Papi Ello dan Gio. Semoga perjalanan kita ini berlangsung abadi. Semoga...

Comments

Popular posts from this blog

It’s Always God: Through Change and Growth

Unstoppable gratitude, these are the two words that define 2025, and probably 2026 and many years ahead. When I look back at early 2025, so many meaningful things happened. The second semester at UNHAN began. My children turned 10 and 8. We celebrated our 11th wedding anniversary, and my husband and I both turned 37. Many beautiful moments filled our days. Besides the ups, we also faced some downs. As a couple, we learned how to reconcile and find our rhythm again. We are constantly learning to manage our shortcomings so that the system we have built—our family—can keep working and growing. The second half of 2025 brought quite drastic changes. My husband moved to a different division at work, and we moved into our panggon , our new home in Halim Perdanakusuma. Our children advanced to years 5 and 3. I was no longer in my second semester at UNHAN, but I was trusted to serve as a Master of Ceremony and moderator for several UNHAN events. I also traveled to Pontianak for a few days with ...

The House That Carried Us Forward

I don’t think I’ve ever written about the government housing provided by the Air Force where we’re currently living. We’ve been here for almost half a year now—since June, to be exact. I still remember the day we left Malang for Jakarta: the kids and I ended up crying together. Strangely enough, that move also happened in December, as if the month itself always carries a bittersweet turning of seasons for our family. But life moves forward, and so must we. Our first home in Jakarta was in Lubang Buaya—a small house, roughly 108 square metres, with three bedrooms and two bathrooms. My mother-in-law had lived there ever since I married her son in 2014. My husband and I bought the house using a mix of our parents’ support. Technically, we still owe my parents the remaining balance. Lol. After living in Jakarta for about two and a half years, we decided to move into what we call the Panggon , or rumah dinas—a service house provided by TNI AU. Since it isn’t a Rumah Jabatan < Official Re...

Pilih(an)

Konon, menulis jurnal adalah bagian dari proses penyembuhan. Saya mengangguk setuju. Menulis jurnal , bukan menumpahkan emosi lewat status WhatsApp sambil berharap semesta ikut marah hanya karena hati kita sedang seret. Ada jurang lebar antara refleksi batin dan pamer luka di ruang publik, meski banyak yang mengacaukannya. Awalnya saya enggan menyinggung hal ini. Namun, hidup sering bercanda—niat saya membahas hal lain langsung terpelintir hanya karena saya menanggapi sebuah status WA. Rupanya respons saya tidak bertaut dengan ekspektasinya. Jadilah ia bereaksi—riuh, garang, seperti hendak menerkam sesuatu yang bahkan bukan ancaman. Saya hanya tersenyum tipis. Mungkin saya memang salah frekuensi. Ternyata, memberi perhatian pun bisa dianggap provokasi oleh orang yang sedang tidak selaras gelombang batinnya. Dan ya, mungkin energi saya sedang terlalu lincah; spontanitas saya memercik, lalu memicu dinamika yang membuat saya menghela napas dan membatin, “Ya ampun… ups .” Saya tak henda...