Skip to main content

Terimakasih Tuhan dan Terimakasih Bapak Jokowi

Judul tulisan saya kali ini mungkin agak ngeselin bagi sebagian orang. Kenapa harus berterimakasih dengan Jokowi? Apa saya pendukung Jokowi? Saya Jokowi lover gitu?
Sabar. Saya jelaskan dulu alasan kenapa sampai saya tega menuliskan judul begitu, yang mana selain saya berterimakasih kepada Tuhan saya, saya juga berterimakasih kepada Jokowi, Bapak Presiden saya.
Jadi tanggal 1 Maret kemarin saya melahirkan kembali seorang putra dengan BB (berat badan) 3,5kg dan panjang badan 50 cm. Saya melahirkannya ke dunia ini atas seizin Tuhan Yang Maha Kuasa melalui persalinan NORMAL.
Iyess, normal saudaraku! Suatu prestasi setidaknya bagi saya sendiri. Di kala zaman yang semakin maju ini,  justru melahirkan melalui persalinan normal malah menjadi sebuah hal langka. Proses melahirkan SC atau melalui operasi menjadi sesuatu yang wajar saat ini. Lha sekarang wong sedikit-sedikit operasi.
Barangkali hal instan dan tidak mau repot telah mendarah daging dalam diri kita.
Tak cukup kebaikan Tuhan yang mengizinkan saya lahiran normal, Tuhan kasih saya rezeki lain: saya melahirkan TANPA mengeluarkan uang sepeser apapun.
Saya dan suami cuma bawa badan, koper, dan map berisi dokumen untuk keperluan administrasi.
Padahal kami sudah sedia uang untuk persalinan. Meski tidak yakin bisa lahiran normal, ada sekian persen dalam diri saya yang INGIN sekali bisa melahirkan normal. Saya ingin merasakan sakitnya, cenat-cenutnya, kontraksi demi kontraksi yang ditimbulkan si baby.
Pasca melahirkan, Suami pun bersibuk ria menyelesaikan hal-hal yang berkaitan administrasi. Betapa kagetnya kami ketika kami dipersilahkan pulang tanpa tagihan sama sekali.
Bingung? Banget.
Seingat saya, ketika Ello putra pertama kami lahir di RSIA Puri Bunda melalui proses SC, kami nombok kurang lebih Rp 1,2 juta-an. Saya lupa persisnya berapa nominalnya.
Dengan asumsi melihat harga persalinan SC 2 tahun lalu serta melihat tingkat inflasi tanah air (tsaah), maka kami menyiapkan dana lebih untuk kelahiran putra kedua kami, Gio. Just in case kalau persalinan kali ini sama-sama harus SC.
Ternyata persalinan normal boleh saya nikmati, dan ternyata... tidak dipungut biaya sama sekali karena : 1) menggunakan BPJS, 2) Fasilitas kesehatan BPJS yang tersedia tidak kami kutak-katik alias tidak kami naikkan kelas kamarnya., 3) Kondisi saya normal sehingga tidak perlu obat tambahan ini itu lagi.
BPJS atas nama saya ini berfungsi dengan baik. Oleh karena itu izinkan saya berterimakasih pula kepada Bapak Jokowi dan seluruh pegawai instansi BPJS yang bekerja menyukseskan program kesehatan ini.
Bagi kami, BPJS ini sangat membantu kami khususnya dalam hal penyediaan fasilitas kesehatan. Tak terbayangkan berapa rupiah terkuras langsung jika kami tidak memiliki BPJS pada saat kami sedang sakit.
Jadi, tidak salah bukan ketika saya mengucapkan terimakasih kepada Tuhan dan kepada Bapak Presiden saya, Jokowi untuk nikmat kemudahan dan kelancaran yang boleh kami terima?

Comments

Popular posts from this blog

It’s Always God: Through Change and Growth

Unstoppable gratitude, these are the two words that define 2025, and probably 2026 and many years ahead. When I look back at early 2025, so many meaningful things happened. The second semester at UNHAN began. My children turned 10 and 8. We celebrated our 11th wedding anniversary, and my husband and I both turned 37. Many beautiful moments filled our days. Besides the ups, we also faced some downs. As a couple, we learned how to reconcile and find our rhythm again. We are constantly learning to manage our shortcomings so that the system we have built—our family—can keep working and growing. The second half of 2025 brought quite drastic changes. My husband moved to a different division at work, and we moved into our panggon , our new home in Halim Perdanakusuma. Our children advanced to years 5 and 3. I was no longer in my second semester at UNHAN, but I was trusted to serve as a Master of Ceremony and moderator for several UNHAN events. I also traveled to Pontianak for a few days with ...

The House That Carried Us Forward

I don’t think I’ve ever written about the government housing provided by the Air Force where we’re currently living. We’ve been here for almost half a year now—since June, to be exact. I still remember the day we left Malang for Jakarta: the kids and I ended up crying together. Strangely enough, that move also happened in December, as if the month itself always carries a bittersweet turning of seasons for our family. But life moves forward, and so must we. Our first home in Jakarta was in Lubang Buaya—a small house, roughly 108 square metres, with three bedrooms and two bathrooms. My mother-in-law had lived there ever since I married her son in 2014. My husband and I bought the house using a mix of our parents’ support. Technically, we still owe my parents the remaining balance. Lol. After living in Jakarta for about two and a half years, we decided to move into what we call the Panggon , or rumah dinas—a service house provided by TNI AU. Since it isn’t a Rumah Jabatan < Official Re...

Pilih(an)

Konon, menulis jurnal adalah bagian dari proses penyembuhan. Saya mengangguk setuju. Menulis jurnal , bukan menumpahkan emosi lewat status WhatsApp sambil berharap semesta ikut marah hanya karena hati kita sedang seret. Ada jurang lebar antara refleksi batin dan pamer luka di ruang publik, meski banyak yang mengacaukannya. Awalnya saya enggan menyinggung hal ini. Namun, hidup sering bercanda—niat saya membahas hal lain langsung terpelintir hanya karena saya menanggapi sebuah status WA. Rupanya respons saya tidak bertaut dengan ekspektasinya. Jadilah ia bereaksi—riuh, garang, seperti hendak menerkam sesuatu yang bahkan bukan ancaman. Saya hanya tersenyum tipis. Mungkin saya memang salah frekuensi. Ternyata, memberi perhatian pun bisa dianggap provokasi oleh orang yang sedang tidak selaras gelombang batinnya. Dan ya, mungkin energi saya sedang terlalu lincah; spontanitas saya memercik, lalu memicu dinamika yang membuat saya menghela napas dan membatin, “Ya ampun… ups .” Saya tak henda...