Skip to main content

Mei yang Mei-nyenangkan dan Mei-mbahagiakan

Siapa mengira Mei tahun 2017 ini bisa menjadi bulan yang sangat menyenangkan, padahal setahun yang lalu saya mengalami kesedihan mendalam. Ah, tak usah bahas yang sedih-sedih! Cukup bagian yang menyedihkan menjadi pembelajaran, karena kalau dilihat-lihat di cermin, ternyata muka saya aduhai JELEKnya kalau lama-lama bersedih,

Jadi bagaimana ceritanya bulan Mei ini menjadi bulan yang sangat membahagiakan?
Begini ceritanya... nyaris 4 minggu saya meninggalkan Malang dan suami. Saya tinggalkan mereka awal Mei lalu, kemudian pergi ke kota Pontianak, tempat dimana saya dibesarkan.
Awalnya suami juga agak berat ketika saya berencana ke Pontianak. Itupun sebenarnya tanpa direncanakan sebelumnya. Hanya karena suami mengatakan bahwa tanggal 1 Mei nanti ada pesawat Hercules-nya skadron 32 dari Malang menuju Yogyakarta (ADI), Bandung (Husein), Jakarta (Halim) lalu Pontianak (SPO). Suami menginfokan mengingat saya memang suka nitip-nitip barang ke Pontianak. Entah itu buku, tumpukan pakaian-pakaian, dan bahkan minuman sari apel.Namun hari itu entah kesambet apa sehingga saya minta saya saja yang dipaketkan ke Pontianak.
Suami sempat agak lama juga meng-ACC, hanya saja setelah saya jelaskan panjang dan lebar alasan mengapa saya ingin sekali pulang, barulah suami tercinta saya itu memberikan restunya di malam sebelumnya dan menerbitkan SIJ alias Surat Izin Jalan. Jadilah saya berangkat bersama dua putra saya: Ello (2th, 2bulan) dan Gio (2bulan).

Mami yang Rock N' Roll
Sebelum keberangkatan, saya tidak diantar suami karena suami ada misi yang berbeda di hari itu. Saya berangkat ke DAU hanya dengan menggunakan motor matic saja. Saya minta tolong rewang saya untuk menggendong Gio, sementara Ello duduk di belakang saya diapit rewang yang duduk paling belakang. Sementara saya yang mengendarai motor. Tas-tas saya tumpuk di depan dan saya jepit dengan kaki saya.
Anak-anak sudah saya persiapkan segala sesuatunya: popok cadangan, baju ganti cadangan buat Ello dan Gio, alas untuk berganti, minuman, camilan, dan makanan berat, semacam pashmina untuk menyusui Gio, dan sebagainya.
Banyak teman dan bahkan orangtua saya sendiri bilang saya nekat berjalan jauh dengan membawa dua orang anak yang usianya masih kecil-kecil. 
Pikir saya, bawaan saya toh enggak banyak-banyak amat dan lagipula saya mengefisienkan waktu yang ada juga.
Memang tidak ada kata TIDAK BISA untuk sesuatu yang telah diniatkan!

Pesawat berangkat tepat pukul 9.00 pagi. Tiba di Pontianak sekitar pukul 16.00. Capek? Banget! Senang? PASTINYA! Siapa yang tidak senang bisa kembali ke kota dimana saya dibesarkan dengan penuh memori indah. (Tsaaaah!)
Setibanya di Pontianak kami dijemput oleh adik laki-laki saya, GTS. Mama dan Ayah tidak bisa menjemput karena ada urusan di kebun.

Kaget juga sih melihat perkembangan kota yang dulu saya rasa kecil. Padahal Mei tahun lalu toh saya juga kesini karena adik saya, ABS, menikah.
Kota Pontianak yang dulu saya kenal nyaris tidak saya kenal lagi melihat toko-toko besar dan cafe-cafe standar kota Megapolitan berjubel banyaknya di seputaran jalan-jalan dekat rumah.
Rumah orangtua saya yang dulunya tenang dan nyaman, berubah menjadi tegang dan membikin tidak kerasan. Bagaimana tidak? Bunyi klakson kendaraan, knalpot digeber-geber, ditambah laju deru kendaraan yang jumlahnya berhamparan tidak karuan membikin bising.
Saya pikir kota ini sudah sangat maju, terlihat dari Indomaret yang cuma beberapa langkah dari rumah orangtua saya. Belum lagi di depan rumah ini persis ada banyak ruko yang berisi bimbel lah, tempat latihan muaythai, zoya, sate, stiker mobil, dll.
Betapa mudahnya semua berubah hanya dalam hitungan waktu singkat, batin saya.

Tiga Minggu di PONTIANAK... Ngapain Aja?
Sebenarnya satu minggu pertama di Pontianak saya bisa dibilang enggak ngapa-ngapain selain makan, tidur, merawat anak-anak. Itu saja. Niat untuk keluar sana-sini juga enggak ada. Paling sesekali beli eskrim Angi dan jajan bakso.
Nah, kalau ada saudara atau rekan yang bertandang ke Pontianak, JANGAN mau dibawain atau minta oleh-oleh hanya berupa minuman lidah buaya. Pontianak KHAS nya tidak hanya itu, ada BANYAK! Coba kerupuk basah. Ini makanan terbuat dari ikan dan tepung. Mirip pempek, tapi yang membedakan adalah di pengolahannya. Kalau pempek digoreng, kerupuk basah ini dikukus. Bisa juga sih digoreng, tergantung selera. Saus kerupuk basah ini juga berupa saus kacang, tidak menggunakan bahan cuka seperti pempek pada umumnya. Untuk soal rasa, hmmm... bolelah diadu.
Oleh-oleh lain boleh dicoba adalah eskrim Angi. Terletak di Jalan K.S. Tubun, di depan sekolah Santu Petrus (saya SMP dulu disit, lho!) 
Eskrimnya sebenarnya biasa seperti es dung-dung. Namun racikan santan, krim, susu, dan aroma rasanya itu terasa PAS sekali. Tidak eneg dan enak! Pengemasannya juga canggih. Bisa dibawa ke luar kota dan tahan dalam kemasannya selam kurang lebih 8 jam perjalanan tanpa dibuka ya. Setelah tiba di tempat tujuan hendaknya kemasan dibuka lalu pisahkan sterefoamnya dan freezer-kan. Bisa juga semua pengemasannya dibekukan, namun akan memakan tempat lebih banyak. Rasanya ada banyak: durian, cempedak (semacam nangka), green tea, vanilla, strawberry dan cokelat.
Err, ini kenapa saya jadi bahas makanan ya? Baiklah, intinya adalah jika saudara datang ke Pontianak, pesan saya cuma 1: JANGAN PERNAH LEWATKAN WISATA KULINER nya! Disini juaranya kuliner. Semua masakan nusantara yang sudah dinaturalisasi di Pontianak akan berubah menjadi sebuah rasa yang unik dan berkesan sepanjang masa. 
Sebagai wilayah yang kebanyakan penduduknya adalah suku Dayak, Melayu, etnik Cina, dan pendatang (sebut saja batak, bugis, jawa, padang, dan lainnya), mengolah dan mencipta makanan sehingga bisa diterima di semua lidah adalah KEHARUSAN. Maka jangan heran jika anda akan gendut bila lama tinggal di Pontianak. Hehehe.

Oke, cukup bicara tentang makanan!
Saya sendiri sebenarnya tidak terlalu kangen makanan dan jajanan di kota Pontianak. Saya justru kangen masakannya Mama. Saya bersyukur bisa melihat Mama dan Ayah masih dalam keadaan sehat dan bahagia. Mengecap masakan Mama, melihat Ayah masih aktif membetulkan perangkat peralatan, melihat Ayah dan Mama masih dipusingkan dengan urusan kebun dan galeri dan semua-semuanya. 
Oh ya, Mama juga punya keahlian baru yang sangat ISTIMEWA. Mama sekarang jago bikin kue nastar. Tak ada kue nastar seenak punya Mama, karena resepnya cuma 1: selai nanasnya BANYAK! Yaiyalah bisa banyak, wong nanas di Pontianak berbuah terus. Harganya juga cuma 5-10rb per 3 buah. Yang perbuahnya bisa sepaha manusia dewasa alias gede-gede. Untuk buah-buahan tropis, kalimantan barat sepertinya jagonya karena wilayah dan iklimnya cocok serta tanahnya tanah gambut yang kaya mineral.

Err, sepertinya saya belum bisa move on juga dari topik seputar makanan ya? Hehehe.
Baikslah! Nah, di Pontianak ini juga, saya mendapat rekanan kenalan baru yakni RKB atau Rumah Kreatif BUMN. Tempat ini menjadi salah satu loncatan baru untuk Kanahaya Gallery nantinya. Sempat juga saya di interview, hihi... sudah macam pengusaha kondang saja saya merasa. Dan memang sih setelah hasil wawancara kemarin diliput dan dimasukkan di laman web nasional, suka tidak suka... senang atau tidak, nama saya, gallery, no telepon dan alamat rumah telah terpampang NYATA di dalamnya. Sehingga saya harus mempersiapkan aneka barang dan galeri offline segera di Pontianak. Jadi, saya enggak akan bisa leyeh-leyeh santai kayak di pantai lagi, mengingat ada seabrek tugas dan tanggung jawab yang menanti. (Doakan saya, Manteman!)

Selama di Pontianak, selain mengurusi jahitan pakaian untuk ready stocknya kita yang terdiri dari batik dan tenun khas daerah, saya menyempatkan diri juga ke Dekranasda Kalbar. Sembari memfoto motif yang akan menjadi cikal bakal motif batik khas daerah Kalbar nantinya juga saya suka melihat hasil kerajinannya. Untuk sesuatu yang sifatnya etnik dan unik, saya suka!

Di Pontianak juga saya bertemu dengan kawan-kawan lama semasa SMA dan teman-teman gereja. Saya bukan tipe orang yang suka bergeng jadi saya tidak punya teman geng dulu. Saya berteman dengan semua orang, tidak suka mengelompok, dan tidak suka terkesan eksklusif.
Nah, beruntungnya saya adalah teman-teman saya ini terdiri dari berbagai golongan, latar belakang, agama dan suku yang berbeda dari saya. Oh ya, saya cinta PERBEDAAN! Perbedaan yang menjadikan kita kaya. Persamaan seringkali justru mengarahkan kita kepada persaingan. Dan persaingan ujung-ujungnya akan menghasilkan perselisihan.

Kuranglebih 3 minggu kami menghabiskan waktu di Pontianak, tanggal 24 Mei nya kami sudah bertolak ke Jakarta. This trip led us to go to our home in Lubang Buaya... dan itu pake pesawat sipil. Puji Tuhan, kita dapat tiketnya murah! HAHAHA!!!

Jakarta, The Current Capital City of Indonesia
Karena keterbatasan saya dalam memomong anak-anak, maka saya memohon bantuan orangtua untuk menemani. Syukurnya Mama dan Ayah bersedia menemani, serta mereka juga ternyata hendak membenahi rumah di Bogor yang sudah lama tidak dihuni. Syukur-syukur nanti ada yang mau mengontrak rumah yang pernah kami tinggali meski tak lama.
Di rumah Lubangbuaya, kami langsung disambut mertua dengan masakan enak-enaknya. Aih! Makan lagi! Jarum timbangan pun kian condong ke kanan yess... Hehehe.

Selama di Jakarta, saya sempat bertemu dengan istri para rekan seletting suami. Ada 2 orang. Yang 1 kebetulan memang dinas di Jakarta, dan yang 1 lagi dinas di Papua namun karena hendak lahiran, maka ia memilih untuk tinggal di rumah mertua di Ciracas.
Puji Tuhan bisa mengenal istri para rekan letting suami. Meski tidak bisa terlalu lama mengobrol, namun setidaknya bisa mengetahui profil dan pengalaman berdinas di daerah lain tentunya menambah khazanah saya sebagai seorang istri prajurit.

Naaaah, di Jakarta ini juga saya bertemu dengan Abang saya. Literally, he is not my brother from same parents, cuma karena sejak dari TK, SD, SMP dan entah bagaimana bisa se-SMA juga makanya kita bisa dekat hingga saat ini. Usia kita cuma terpaut 7 bulan. Iyess, doi lebih tua 7 bulan dari Saya. Sebagai seorang abang dan juga sahabat, setiap kali kata yang keluar dari mulutnya selalu membawa manfaat luar biasa bagi tumbuh kembang mental dan spiritual saya, oh ya... intelektual saya juga dink.
Pola pandangnya sebagai seorang pria membuat saya jadi jauh lebih berasional ketimbang memakai perasaan saya sendiri. Jadi, tanggal 26 Mei kemarin dimana saya PAS 29 tahun usianya, abang saya ini VYRBS yang menemani saya semalaman di ruang tamu di rumah Lubang Buaya. Kita hanya bicara...bicara...dan bicara sampai-sampai anak saya yang pertama, Ello, tertidur di pangkuan saya.
Kami berbicara mengenai hidup, target, kesulitan dalam berumahtangga (err, this one is absolutely funny considering he doesn't maried yet.), dan banyak hal lainnya.
Banyak juga sebenarnya quotes bagus dari pembicaraan-pembicaraan kita semalam suntuk. Ah yaa, saya orangnya suka berbicara mengenai apapun.

The Day We Went Back Home
29 Mei 2017. Kami kembali ke Malang yang adem dengan menggunakan pesawat Hercules lagi dari Halim. Saya bahagia bisa bertemu dengan para air crew yang berulangkali melaksanakan misi dengan selamat dan tanpa kurang suatu apapun.

Tentunya lebih membahagiakan lagi ketika bertemu dengan Papi-nya anak-anak dan panggon dinas tempat kami sementara bernaung.
Ngomong-ngomong, Malang asyik banget nih setibanyak kami disini. Ademnya rek bikin pengin narik selimut melulu...
Hehehe...



Comments

Popular posts from this blog

It’s Always God: Through Change and Growth

Unstoppable gratitude, these are the two words that define 2025, and probably 2026 and many years ahead. When I look back at early 2025, so many meaningful things happened. The second semester at UNHAN began. My children turned 10 and 8. We celebrated our 11th wedding anniversary, and my husband and I both turned 37. Many beautiful moments filled our days. Besides the ups, we also faced some downs. As a couple, we learned how to reconcile and find our rhythm again. We are constantly learning to manage our shortcomings so that the system we have built—our family—can keep working and growing. The second half of 2025 brought quite drastic changes. My husband moved to a different division at work, and we moved into our panggon , our new home in Halim Perdanakusuma. Our children advanced to years 5 and 3. I was no longer in my second semester at UNHAN, but I was trusted to serve as a Master of Ceremony and moderator for several UNHAN events. I also traveled to Pontianak for a few days with ...

The House That Carried Us Forward

I don’t think I’ve ever written about the government housing provided by the Air Force where we’re currently living. We’ve been here for almost half a year now—since June, to be exact. I still remember the day we left Malang for Jakarta: the kids and I ended up crying together. Strangely enough, that move also happened in December, as if the month itself always carries a bittersweet turning of seasons for our family. But life moves forward, and so must we. Our first home in Jakarta was in Lubang Buaya—a small house, roughly 108 square metres, with three bedrooms and two bathrooms. My mother-in-law had lived there ever since I married her son in 2014. My husband and I bought the house using a mix of our parents’ support. Technically, we still owe my parents the remaining balance. Lol. After living in Jakarta for about two and a half years, we decided to move into what we call the Panggon , or rumah dinas—a service house provided by TNI AU. Since it isn’t a Rumah Jabatan < Official Re...

Pilih(an)

Konon, menulis jurnal adalah bagian dari proses penyembuhan. Saya mengangguk setuju. Menulis jurnal , bukan menumpahkan emosi lewat status WhatsApp sambil berharap semesta ikut marah hanya karena hati kita sedang seret. Ada jurang lebar antara refleksi batin dan pamer luka di ruang publik, meski banyak yang mengacaukannya. Awalnya saya enggan menyinggung hal ini. Namun, hidup sering bercanda—niat saya membahas hal lain langsung terpelintir hanya karena saya menanggapi sebuah status WA. Rupanya respons saya tidak bertaut dengan ekspektasinya. Jadilah ia bereaksi—riuh, garang, seperti hendak menerkam sesuatu yang bahkan bukan ancaman. Saya hanya tersenyum tipis. Mungkin saya memang salah frekuensi. Ternyata, memberi perhatian pun bisa dianggap provokasi oleh orang yang sedang tidak selaras gelombang batinnya. Dan ya, mungkin energi saya sedang terlalu lincah; spontanitas saya memercik, lalu memicu dinamika yang membuat saya menghela napas dan membatin, “Ya ampun… ups .” Saya tak henda...